Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:88.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Ketika Takdir Mengambil Alih

Mobil yang membawa Jayadi, Cepi, dan Caca melaju meninggalkan tempat pernikahan.

Beberapa saat suasana di dalam mobil cukup tenang sampai Cepi tiba-tiba mendengus. "Dasar pelit."

Jayadi yang duduk di kursi depan sebelah pengemudi menoleh. "Siapa yang pelit?"

"Ayah pikir aja sendiri," sahut Cepi dengan nada kesal.

Jayadi masih belum mengerti siapa yang dimaksud istrinya hingga suara wanita itu kembali terdengar.

"Masa melamar anak orang cuma bawa pakaian, sepatu, sama perhiasan buat nikah." Cepi melipat tangan di dada. "Seloyang bolu pun gak ada."

Jayadi menghela napas. "Bu, gaun, sepatu, dan satu set perhiasan yang diberikan itu bukan barang murah."

"Ya tetap saja." Cepi masih merasa kurang. "Kalau memang keluarga kaya, masa ngasihnya cuma begitu?"

Jayadi menoleh sekilas ke belakang. "Sudahlah. Jangan banyak menuntut."

Caca yang duduk di samping ibunya ikut menyahut. "Tapi yang Ibu bilang ada benarnya, Yah. Setidaknya bisa kasih sesuatu buat keluarga pengantin."

Jayadi hendak menjawab, tetapi suara lain lebih dahulu terdengar.

"Maaf kalau saya lancang."

Semua orang langsung diam.

Sopir yang sejak tadi fokus menyetir akhirnya berbicara. "Tapi setahu saya, toko dan rumah yang sekarang kalian tinggali merupakan peninggalan keluarga mendiang istri pertama Pak Jayadi."

Cepi mengerutkan dahi.

Sopir melanjutkan dengan nada tetap tenang. "Termasuk biaya kuliah Nona Aynara. Selama ini, kalau tidak salah, sebagian besar kebutuhan pendidikannya juga berasal dari beasiswa, dan hasil kerja keras Nyonya muda sendiri."

Jayadi langsung terdiam. Caca yang tadi hendak menyahut ikut membisu.

Sopir melirik kaca spion sebentar. "Jadi menurut saya, keluarga Wicaksono sudah memberikan lebih dari cukup hari ini."

Cepi mulai tidak nyaman.

Namun sopir belum selesai. "Kalau boleh jujur, saya justru heran kenapa setelah semua yang Nona Aynara terima dari keluarganya sendiri, masih ada yang merasa pemberian keluarga Wicaksono kurang."

Suasana di dalam mobil seketika menjadi hening.

Caca menundukkan wajah. Ia tahu apa yang dikatakan sopir itu ada benarnya.

Jayadi pun tidak membantah. Selama ini ia memang tidak pernah mengeluarkan banyak uang untuk biaya kuliah Aynara. Putrinya mendapatkan beasiswa dan bekerja sambil kuliah. Namun, mendengar semua itu diucapkan oleh orang lain membuat wajahnya terasa panas.

Cepi mengepalkan tangan. "Siapa bilang kami meminta?"

Sopir kembali fokus pada jalan. "Saya hanya menyampaikan yang saya tahu, Bu."

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Justru keheningan setelahnya terasa jauh lebih menyakitkan bagi Cepi.

Caca yang tadi begitu yakin ibunya benar kini tidak lagi bersuara.

Sementara Jayadi hanya menghela napas pelan. Dalam hati, ia tahu satu hal. Sopir itu tidak sedang menghina keluarganya. Ia hanya mengatakan kenyataan yang selama ini mereka abaikan.

***

Sementara itu, sebuah mobil hitam melaju meninggalkan tempat pernikahan menuju Aksara Group.

Wicaksono duduk di kursi belakang. Tongkatnya tersandar di samping tubuh, sementara ponsel berada di dekat telinganya.

"Pak Gunadi."

"Ya, Tuan," jawab Gunadi yang berada di seberang sambungan telepon.

"Setelah bulan madu, berikan kartu ATM kepada Aynara," ujar Wicaksono.

Gunadi terdiam sesaat. "Kartu ATM, Tuan?"

"Ya." Wicaksono menyandarkan punggungnya.

"Berapa nominal saldonya, Tuan?" tanya Gunadi yang sedang berada di kantor, duduk di balik meja kerjanya.

Wicaksono berpikir sejenak. "Isi dengan lima ratus juta."

Gunadi mengangkat alis. "Dan setiap bulan?"

"Transfer dua puluh lima juta ke rekening itu. Nominalnya sama setiap bulan," jelas Wicaksono.

"Baik, Tuan." Gunadi kemudian bertanya dengan hati-hati. "Kalau boleh bertanya... kenapa bukan Tuan Muda saja yang memberikannya kepada Nyonya Muda?"

Wicaksono menghela napas kasar. "Karena aku tidak yakin anak itu akan memerhatikannya."

Ia menatap keluar jendela. "Aku tidak mau cucu menantuku kekurangan uang belanja hanya karena Aksa terlalu sibuk dengan dirinya sendiri."

Gunadi tersenyum tipis. "Baik, Tuan."

Wicaksono terdiam sejenak sebelum kembali berkata, "Dan soal jabatan CEO."

"Ya, Tuan?" Suara Gunadi berubah serius.

"Jika dalam enam bulan Aynara belum hamil," Wicaksono menjeda kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan. "naikkan Aksa menjadi CEO."

Mata Gunadi sedikit membesar. "Tapi bukankah Tuan mengatakan jabatan itu akan diberikan setelah Nyonya Muda hamil?"

"Itu hanya alasan agar dia mau menikah dan bertanggung jawab." Wicaksono kembali memandang keluar jendela. "Selama ini kinerja Aksa sebenarnya cukup baik. Dia memahami perusahaan, mampu mengambil keputusan, dan beberapa proyek yang ditanganinya juga berhasil."

Nada suaranya berubah tegas. "Masalahnya hanya satu. Dia terlalu manja dan tidak disiplin."

Gunadi memutar pena di jarinya. "Jadi menurut Tuan, Tuan Muda sudah cukup pantas?"

"Sudah." Wicaksono mengangguk pelan. "Kalau dia tidak bisa belajar bertanggung jawab setelah menikah, berarti aku salah menilainya."

"Baik, Tuan. Saya akan mengurus semuanya." Gunadi baru saja selesai berbicara ketika—

TIIIIINNNNN!

Suara klakson panjang memekakkan telinga. Wicaksono spontan menoleh ke depan.

"Ada apa—"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—

BRAK!

Benturan keras mengguncang seluruh mobil. Tubuh Wicaksono terhempas ke samping. Ponsel terlepas dari tangannya. Suara pecahan kaca dan logam beradu memenuhi telinga. Mobil mereka berputar setelah dihantam kendaraan lain yang terpental ke arah mereka.

Wicaksono mencoba membuka mata, namun pandangannya mulai kabur. Suara Gunadi dari ponsel yang terjatuh terdengar samar.

"Tuan! Tuan Wicaksono!"

Wicaksono ingin menjawab, tetapi tubuhnya terasa semakin berat.

Pandangan terakhirnya hanya menangkap langit dari balik kaca mobil yang retak. Lalu semuanya menjadi gelap.

 

...🔸🔸🔸...

...“Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita terima, sampai lupa menghargai begitu banyak hal yang sudah diberikan.”...

...“Keserakahan membuat pemberian sebesar apa pun terasa kurang, sementara rasa syukur mampu membuat hal sederhana terasa begitu berarti.”...

...“Kita sering baru menyadari nilai sebuah kebaikan setelah orang yang memberikannya tidak lagi berada di sisi kita.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Wicaksono mengejar perawat, Gunadi mengambil alih bayi dari gendongan dokter.

Perawat terus berlari, bayi dalam gendongannya menangis kencang.
Perawat gila ngga ada takut-takutnya lari menuju jalan raya.

Tahu yang pada mengejar semakin dekat, perawat nekat menyeberang jalan raya yang padat kendaraan.

Duuuuh gila benar si perawat melempar bayi ke arah jalan raya.
Anonim
Wicaksono dan Gunadi terlambat - pintu lift tertutup. Mereka segera menuju tangga darurat untuk mengejar perawat yang membawa kabur dua bayi.

Dokter yang menunggu di depan lift, begitu pintu lift terbuka mendengar tangisan bayi dari dalam.

Perawat membawa salah satu bayi melompat keluar dari lift. Dia berlari tak peduli ada dokter yang bertanya dia mau ke mana.

Dokter mengambil bayi yang satunya terbaring di lantai.

Gila tuh perawat.
Anonim
Asti sebagai Ibu punya firasat nggak enak.

Ternyata itu awal dari hilangnya Arsa.

Wicaksono dan Gunadi saat itu baru mengunjungi Asti yang baru melahirkan.

Asti memaksa ingin melihat bayi kembar yang baru dilahirkan di ruang bayi, walaupun sudah dilarang oleh Gunadi.

Mereka bertiga menuju ruang bayi. Langkah Asti mendadak berhenti ketika melihat seorang perawat keluar dari ruang bayi sambil menggendong dua bayi.

Perawat membawa kedua bayi dengan langkah cepat dan masuk ke dalam lift, tidak peduli dengan teriakan mereka.
Kyky ANi
pasti,,mau menjodohkan cucunya,,
Kyky ANi
Hai,,kak Nana aku hadir ka,,, ma'af telat,,
Anonim
Aksa punya kembaran yang dinyatakan meninggal. Apa bayi Arsa telah ditukar oleh seseorang ?

Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.

Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.

Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Anonim
Regan yang sedang berada di taman rumah sakit, dadanya terasa nyeri sejak melihat Asti menangis.

Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.

Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.

Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.

Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.

Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Anonim
Berkas-berkas yang dibawa Gunadi untuk diperiksa Regan, sudah diperiksa semua.

Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.

Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.

Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.

Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Anonim
Regan ingin pulang, merasa sudah baik dan tidak ada keluhan apapun.

Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.

Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Anonim
Doni menyuruh seseorang mengunggah kecelakaan yang menimpa Aksa.

Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.

Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Anonim
Doni mengusik keluarga Wicaksono dengan menyuruh seseorang untuk menyebarkan kabar tentang kondisi Aksa Wicaksono setelah kecelakaan.

Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.

Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Doni nanti musuhnya Regan. G
Anonim
Gunadi sudah berada di ruangan dokter yang menangani Aksa.


Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.

Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.

Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.

Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.

Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.

Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Anonim
Andai kakek Wicaksono sadar dari koma, beliau pasti bisa langsung mengenali cucunya.

Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.

Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.

Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.

Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.

Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Anonim
Asti juga merasa ada yang janggal. Aksa aekarang seperti bukan dirinya.

Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Anonim
Aynara emosinya mudah tersulut setiap berada di dekat Aksa. Apalagi melihat wajah Aksa, ia langsung ingat semua perkataan yang sangat menyebalkan.

Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.

Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.

Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Anonim
Regan seperti tak habis pikir, Aynara bisa memaafkan Aksa.

Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.

Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.

Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.

Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.

Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Anonim
Aynara selesai mengetik nomornya di ponsel Regan. Untuk memudahkan berkomunikasi.

Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.

Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.

Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.

Aynara memaafkan Aksa.
Anonim
Aynara datang, Asti belum pergi.

Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.

Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.

Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.

Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.

Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.

Aynara menyelesaikan ceritanya.

Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Anonim
Regan dengan ponselnya menghubungi Joseph ketika Asti baru di dalam kamar mandi.

Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.

Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.

Juga tentang pekerjaan Aksa.

Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Anonim
Doni anaknya Ria, gundiknya ayahnya Aksa yang mencelakai Aksa ya.

Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!