Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Berita yang menyebar
Matahari baru saja menanjak tinggi ketika sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di lobby utama gedung Dewangga Group. Anita Baskoro melangkah keluar dengan gaya anggun nan angkuh, memamerkan gaun rancangan desainer lokal serta tas brand ternama di lengannya. Rasa penasaran yang sudah membakar dadanya sejak kemarin tak bisa ditahan lagi, ia harus melihat secara langsung siapa sosok wanita yang disebut sebagai istri oleh Adrian Dewangga.
Dengan langkah mantap, Anita mendekati meja resepsionis utama di lobi.
"Selamat pagi, Mbak," panggil Anita dengan senyum mengada-ada. "Saya mau bertemu dengan Pak Adrian Dewangga, ada di ruangannya?"
Resepsionis muda itu tersenyum ramah. "Selamat pagi, Mbak. Apakah sudah membuat janji pertemuan sebelumnya?"
Anita mengibaskan tangannya malas. "Belum ada. Saya langsung datang saja, tolong beri tahu Pak Adrian."
"Mohon maaf sekali, Mbak. Pak Adrian hari ini jadwalnya sangat padat dan saat ini sedang memimpin rapat penting," jelas resepsionis dengan nada sopan namun tegas. "Untuk bertemu dengan beliau, Mbak harus membuat jadwal pertemuan terlebih dahulu melalui Sekretarisnya."
Anita mendesah kecewa, melipat kedua tangannya di dada. Namun, sebelum berbalik pergi, rasa penasaran yang terpendam di kepalanya mendadak meluap.
"Oh iya, Mbak... Saya mau tanya sekalian," bisik Anita memajukan badannya. "Siapa sih nama istri Pak Adrian?"
"Hah? Istri?" Resepsionis itu mengerutkan alisnya bingung, matanya berkedip polos. "Maaf, Mbak... Setahu saya, Pak Adrian itu belum menikah."
"Lho, kok belum menikah?!" celetuk Anita tak sabar. "Kemarin Pak Adrian sendiri yang bilang saat meeting dengan ibu saya kalau beliau sudah punya istri!"
"Tapi... sampai detik ini belum ada pemberitahuan atau berita resmi apapun mengenai hal itu Mbak," sahut resepsionis itu jujur.
Anita mendecih pelan, menatap resepsionis itu dengan pandangan meremehkan. "Ih! Karyawannya kok malah tidak tahu apa-apa sih! Ya sudah, permisi!"
Anita memutar tubuhnya dan pergi begitu saja meninggalkan lobi dengan kekesalan yang membuncah.
Namun, ia sama sekali tidak menyadari akibat dari lontaran kalimatnya. Begitu sosok Anita menghilang di balik pintu kaca lobi, dua orang resepsionis dan beberapa staf operasional yang kebetulan melintas di sekitar area resepsionis langsung saling berpandangan dengan mata membelalak lebar.
"Eh, kamu dengar tidak tadi?!" bisik salah satu staf heboh. "Cewek cantik tadi bilang Pak Adrian sendiri yang mengaku sudah punya istri!"
"Demi apa?! Masa sih Pak Adrian sudah nikah tapi kita tidak ada yang tahu?"
"Pasti nikahnya privat banget! Siapa ya istrinya? Jangan-jangan anak konglomerat?"
Dalam hitungan menit, kabar angin itu merambat liar dari mulut ke mulut, menyebar menyusuri koridor, lift, hingga ke ruang-ruang kerja di seluruh gedung Dewangga Group.
.
.
Ruang rapat utama lantai eksekutif...
Sesi diskusi panjang bersama klien baru saja resmi ditutup. Rombongan klien telah melangkah keluar meninggalkan ruangan. Kini, hanya tersisa Adrian dan Nayla di dalam ruangan berpendingin udara yang hening tersebut.
Nayla berdiri di sisi meja rapat, sibuk menata dan merapikan tumpukan berkas dokumen yang berserakan ke dalam map kulitnya.
Tiba-tiba, dari arah belakang, dua lengan tegap merengkuh pinggangnya dengan sangat lembut. Tubuh jangkung Adrian menempel rapat di punggung Nayla, menyandarkan dagunya di bahu empuk sang istri.
"Mas...?" panggil Nayla tersentak pelan, menghentikan kegiatannya.
"Sebentar saja, Sayang..." bisik Adrian penuh kehangatan, menghirup aroma wangi vanila dari leher istrinya. "Aku ingin mengisi energi."
Nayla terkekeh pelan, rasa hangat membanjiri dadanya. Namun, matanya melirik cemas ke arah pintu kaca ruang rapat. "Tapi... nanti kalau ada staf atau orang lain yang melintas dan melihat bagaimana, Mas?"
"Tidak akan ada yang berani masuk sembarangan, Sayang," sahut Adrian santai, semakin mempererat dekapan tangannya. "Mungkin OB baru akan masuk kemari dua puluh menit lagi untuk membersihkan ruangan."
Adrian mengecup pelipis Nayla lama, lalu berbisik lembut, "Bagaimana perasaanmu sekarang, Sayang? Sudah lebih tenang?"
Nayla mempertahankan posisinya membiarkan Adrian terus mendekapnya dari belakang. Nayla perlahan mengusap lembut tangan Adrian yang melingkar di pinggangnya.
"Sudah jauh lebih baik, Mas... Terima kasih banyak ya," tutur Nayla tulus. Namun, raut cemas tipis menyusup di wajah ayunya. "Tapi... soal pembatalan lahan Pak Baskoro tadi... apa tidak akan memicu masalah besar untuk proyek perusahaan, Mas?"
Adrian menyunggingkan senyuman tipis nan menawan, mengusap rahang lembut istrinya. "Sama sekali tidak akan ada masalah, Sayang. Kita hanya perlu mencari lokasi baru yang lebih bagus. Tenang saja, semuanya dalam kendaliku."
Pria itu kemudian memutar posisi tubuh Nayla perlahan, mendorongnya lembut hingga punggung berisi Nayla bersandar pada tepi meja rapat kayu yang kokoh. Adrian mengikis jarak, mengungkung tubuh istrinya dengan kedua tangan tegapnya di sisi meja.
Melihat tatapan mata Adrian yang kian menggelap dipenuhi gairah, Nayla yang paham langsung menyilangkan kedua tangannya di dada dengan pipi merona merah.
"Mas... jangan di sini..." bisik Nayla malu-malu, menahan dada suaminya.
"Sedikit saja, Sayang..." pinta Adrian dengan suara rendah yang begitu dalam dan memikat.
Nayla akhirnya pasrah. Ia menurunkan tangannya, membiarkan Adrian menundukkan kepala dan mendaratkan bibirnya di atas bibir lembut Nayla.
Ciuman itu bermula dengan sangat lembut, namun perlahan berubah menjadi makin dalam dan penuh rasa kepemilikan. Adrian memagut bibir istrinya dengan begitu intim, menyalurkan seluruh rasa cinta dan kerinduan yang tak terbalas selama bertahun-tahun. Nayla memejamkan matanya rapat-rapat, meremas kain kemeja di dada Adrian demi menopang kakinya yang mendadak lemas.
Adrian seolah enggan melepaskan tautan manis itu, membiarkan waktu bergulir dalam kehangatan gairah mereka.
Cklek!
Pintu ruang rapat mendadak terdorong terbuka tanpa ketukan!
"Pak Adrian! Untuk makan siang mau dipesankan soto atau..."
Kalimat Rio terputus seketika di udara. Langkah kakinya membeku tepat di ambang pintu.
Matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan dewasa di mana bos besarnya sedang menempel rapat mencium sang sekretaris di atas meja rapat.
"ASTAGA!" pekik Rio refleks.
Dengan sigap, Rio langsung menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan telapak tangan. Namun... jari-jemarinya sengaja direnggangkan lebar-lebar agar mata usilnya tetap bisa mengintip adegan romantis nan langka tersebut.
Sret!
Nayla yang kaget setengah mati langsung mendorong dada Adrian kuat-kuat. Wajahnya membara merah padam hingga ke ujung telinga. Dengan panik, Nayla merapikan tatanan rambut dan kemejanya yang sedikit berantakan, lalu menjangkau map berkasnya dengan jemari gemetaran.
"A-anu... saya... saya sudah ditunggu oleh Mira untuk makan siang di luar! Saya permisi dulu, Pak!" cicit Nayla tanpa berani menatap muka siapa pun. Ia melesat cepat berlari keluar ruangan melewati Rio yang masih mengintip di balik jemarinya.
Adrian berdiri melipat tangannya di dada, melayangkan tatapan tajam nan mematikan ke arah asisten pribadinya itu. Suaranya terdengar begitu dingin dan menekan.
"Rio... Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu dulu?"
Rio buru-buru menurunkan tangannya, membungkuk-bungkuk panik namun raut wajahnya tak bisa menyembunyikan cengiran jahil yang luar biasa lebar.
"A-aduh! Maafkan saya, Pak Adrian! Maaf seribu maaf!" seru Rio berpura-pura merasa bersalah.
Namun di dalam hati kecilnya, Rio tertawa meledak-ledak kegirangan. 'Hahaha! Kalau saya pakai ketuk pintu dulu, saya mana bisa dapat kesempatan emas melihat pemandangan se-hot ini?! Pokoknya habis ini Mbak Mira harus tahu! Ini modal bagus buat menangin taruhan ke Paris! Hahaha!'
.
.
Nayla berjalan setengah berlari menyusuri koridor menuju area pantry dan ruangan Marketing untuk menemui Mira. Dadanya masih berdegup kencang bagaikan genderang perang akibat ciuman panas di ruang rapat serta rasa malu karena tertangkap basah oleh Rio.
Namun, saat melintasi selasar sepi di dekat dispenser utama, langkah kaki Nayla mendadak pelan tatkala mendengar suara bisikan heboh beberapa staf wanita yang sedang berkumpul di sudut koridor.
"Eh, beneran! Tadi cewek cantik yang datang ke lobi bilang sendiri kalau Pak Adrian itu sudah nikah!" seru seorang staf berlipstik merah dengan mata membelalak.
"Hah?! Seriusan?! Tapi kok disembunyiin rapat-rapat banget, ya?" timpal temannya penasaran. "Pasti istrinya dari kalangan anak pengusaha atau model terkenal kelas atas nih! Makanya dijaga banget privasinya sama Pak Adrian!"
"Iya lah! Yang jelas ekspektasiku tinggi banget! Istrinya pasti cantik luar biasa, langsing, mulus, berkelas, dan anggun banget! Ya pokoknya tipe-tipe wanita impian para miliarder lah!"
Staf berlipstik merah itu terkekeh sinis, menyenggol lengan temannya. "Ya iyalah! Nggak mungkin banget kan kalau istrinya Pak Adrian itu orang seperti Bu Nayla, sekretarisnya sendiri? Mana masuk selera Pak Adrian! Lihat saja bentuk tubuhnya Bu Nayla, jauh banget dari kata elegan atau cantik!"
Gelak tawa bernada meremehkan seketika bergaung renyah di koridor tersebut.
Nayla berdiri mematung di balik pilar. Ia meremas ujung blazernya.
Namun, alih-alih menangis atau tenggelam dalam rasa minder seperti dulu... Nayla menarik napas panjang. Mengingat bagaimana Adrian memeluknya, menciumnya penuh kehangatan, membanggakannya, serta mengutamakannya di atas proyek penting... sudut bibir Nayla perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat anggun.
Nayla menegakkan bahunya, melangkah maju melewati kerumunan staf tersebut dengan raut wajah tenang dan kepala terangkat mencoba membangun kepercayaan diri.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️