Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

— BENCI YANG MULAI TERLIHAT

Sejak malam itu, suasana rumah berubah.

Tidak ada lagi tuduhan tentang gelang.

Tidak ada lagi pertengkaran besar.

Namun bagi Nadira, justru sikap Bu Ratih dan Rani terasa semakin berbeda.

Mereka tidak lagi menyindir secara terang-terangan.

Mereka hanya berhenti bersikap ramah.

Pagi itu, Nadira turun ke ruang makan.

Bu Ratih sudah duduk bersama Rani.

“Selamat pagi, Bu.” sapa Nadira pada ibu mertuanya.

Bu Ratih hanya mengangguk tanpa menjawab sapaan Nadira

Rani bahkan tidak menoleh.

Nadira menarik kursi.

Belum sempat duduk, Arga muncul dari belakang.

“Pagi,sayang." sapa Arga pada Nadira.

Nadira tersenyum.

“Pagi.” balas Nadira.

Arga langsung duduk di sebelah istrinya.

“Sudah sarapan?”

“Belum.”

Arga mengambilkan makanan untuk Nadira.

Rani yang melihat itu langsung meletakkan sendoknya lebih keras dari seharusnya.

Bu Ratih menatap putranya.

“Arga.”

“Hm?”

“Sejak kapan kamu begitu memperhatikan Nadira?”

Arga menoleh.

“Sejak dia jadi istriku.”

Jawaban itu membuat Rani terdiam.

Bu Ratih tersenyum tipis.

“Dulu kamu tidak seperti ini.”

“Dulu aku salah.”

“Jadi sekarang semuanya harus tentang Nadira?”

Arga mengerutkan kening.

“Bukan begitu.”

“Tapi kelihatannya begitu.”

Nadira meletakkan sendoknya.

“Bu, kalau keberadaan saya membuat Ibu tidak nyaman, saya bisa—”

“Tidak usah.”

Arga langsung memotong.

“Nadira tidak perlu pergi ke mana-mana.”

Bu Ratih menatap putranya.

“Lihat?”

“Apa?”

“Kamu selalu membelanya.”

Arga menarik napas.

“Aku bukan membela. Aku hanya tidak mau istriku diperlakukan tidak adil.”

Rani akhirnya bersuara.

“Kalau begitu kami yang tidak adil, Kak?”

Arga menatapnya.

“Rani…”

“Aku cuma bertanya.”

Rani tersenyum, tetapi matanya terlihat kesal.

“Sejak Kak Nadira datang, Kakak berubah.”

Nadira terdiam.

Arga justru menjawab dengan tenang.

“Memang.”

Rani terkejut.

“Dan itu bukan salah Nadira.”

Arga menggenggam tangan istrinya di bawah meja.

“Aku yang berubah karena aku sadar banyak hal.”

Rani menunduk.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Bu Ratih melihat putrinya.

Kemudian berkata pelan,

“Sudahlah, Rani.”

Mereka berdua bangkit dari meja.

Sebelum pergi, Rani berhenti di belakang Nadira.

Ia berbisik cukup pelan agar hanya Nadira yang mendengar.

“Jangan pikir kamu sudah menang.”

Nadira menoleh.

Rani sudah berjalan pergi.

Siangnya, Nadira berada di kamar ketika Bu Ratih masuk tanpa mengetuk.

“Nadira.”

“Iya, Bu?”

Bu Ratih berdiri di depan pintu.

“Mulai sekarang, jangan terlalu ikut campur dalam urusan keluarga kami.”

Nadira terdiam.

“Saya tidak pernah bermaksud ikut campur.”

“Sejak kamu datang, Arga semakin jauh dari kami.”

Nadira menghela napas.

“Arga bukan menjauh karena aku,bu.”

Bu Ratih menatapnya tajam.

“Kamu selalu punya jawaban.”

“Aku hanya mengatakan yang kenyataan.” jawab Nadira membela diri.

“Justru itu yang Ibu tidak suka.”

Nadira menatap mertuanya.

“Kalau Ibu tidak menyukai aku, aku tidak bisa memaksa.”

Bu Ratih tersenyum dingin.

“Bagus kalau kamu sadar.”

Ia berbalik.

Namun sebelum keluar, Bu Ratih berkata,

“Jangan berharap semua orang di rumah ini akan menerima kamu.”

Pintu tertutup.

Nadira duduk diam.

Ia tidak menangis.

Tidak juga marah.

Ia hanya merasa lelah.

Beberapa menit kemudian, Arga masuk.

Melihat wajah istrinya, ia langsung bertanya,

“Siapa yang datang?”

“Nggak ada.”

“Nadira.”

Nadira tersenyum kecil.

“Ibumu.”

Arga menghela napas.

“Ibu bilang apa?”

“Tidak penting.”

Arga duduk di sampingnya.

“Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, ceritakan.”

Nadira menatapnya.

“Kalau aku cerita, kamu akan marah.”

“Mungkin.”

“Dan aku tidak mau kamu bertengkar lagi dengan keluargamu.”

Arga menggenggam tangannya.

“Aku bisa menghadapi keluargaku sendiri.”

Nadira tersenyum tipis.

Namun di luar kamar, Rani berdiri diam.

Ia mendengar semuanya.

Tangannya mengepal.

Rasa bersalah yang dulu sempat muncul kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Kebencian.

Bukan lagi karena gelang.

Bukan lagi karena kesalahannya terbongkar.

Tetapi karena Rani merasa Nadira telah mengambil satu-satunya orang yang selama ini selalu berdiri di sisi kakaknya.

Dan kali ini, Rani tidak berniat meminta maaf.

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!