Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketauan

“Kamu sendiri sudah makan?”

Adira yang sedang memegang sendok berhenti sebentar. “Nanti saya akan makan.”

Areksa langsung menatapnya. “Kamu bawel karena saya belum makan. Sekarang kamu malah belum makan.”

“Saya gampang, Tuan.”

“Kamu sedang menyusui.” Areksa mengernyit. “Justru kamu harus banyak makan.”

Adira hendak menjawab, tetapi Areksa lebih dulu menghentikan pekerjaannya.

Ia menutup laptopnya, lalu mengambil sendok dari tangan Adira.

“Kamu juga harus makan.”

“Tapi—”

“Jangan banyak ‘tapi’ terus, Adira.”

Areksa mengambil sedikit makanan. “Buka mulut.”

Adira menatapnya tidak percaya. Kini justru dirinya yang disuapi.

“Mas…”

“Buka.”

Dengan sedikit malu, Adira akhirnya membuka mulut dan menerima suapan itu.

Areksa tersenyum tipis. “Nah. Bisa, kan?”

Adira menghela napas kecil. “Biar saya pakai tangan saja. Jangan sendok."

“Kenapa?”

“Itu sendok Tuan. Saya nggak mau Tuan—”

Areksa memotong ucapannya. “Nggak mau saya apa?”

Adira menunduk. “Jijik.”

Areksa justru tertawa kecil. “Jijik?”

Adira mengangguk pelan.

Areksa menggeleng sambil tersenyum. “Saya bahkan sudah mencium kamu.” Tatapannya membuat Adira semakin salah tingkah. “Untuk apa saya jijik hanya karena bekas sendok makan kamu?”

Ia kembali menyodorkan sendok itu kepadanya. “Lagipula, kalau saya bisa makan dari sendok yang sama dengan kamu, kamu juga bisa.”

Seketika pipi Adira memerah.

Ia buru-buru membuka mulut untuk menerima suapan berikutnya agar tidak perlu menjawab.

Melihat wajahnya yang semakin merah, senyum Areksa justru semakin lebar.

“Kenapa mukanya merah?”

“Panas.”

“AC-nya dingin.”

Adira langsung meliriknya. “Mas…”

“Iya, iya.” Areksa menahan tawanya. “Makan saja.”

Adira akhirnya menurut.

Setelah selesai makan, Adira segera merapikan semua peralatan makan.

Ia memasukkan kembali wadah-wadah makanan ke dalam tas yang dibawanya.

“Kalau begitu saya pulang duluan. Saya takut Non Aretha nangis.”

Adira baru saja hendak berbalik ketika Areksa menahan lengannya.

“Tunggu, Adira.”

Adira menoleh. “Ada apa?”

“Duduk dulu.”

“Tuan bicara saja.”

Areksa menghela napas. “Ck.”

Tanpa banyak bicara, ia menarik Adira mendekat hingga perempuan itu duduk di pangkuannya. Secara refleks, kedua tangan Areksa melingkar di pinggang Adira untuk menahannya agar tidak kehilangan keseimbangan.

Adira langsung terkesiap. Jarak mereka kini begitu dekat.

“Saya turun saja.” Ia mencoba bergeser.

"Kenapa sih tinggal duduk aja."

“Oke, saya duduk. Tapi tidak di sini.”

“Santai saja, Adira.”

“Gimana saya bisa santai kalau posisinya begini?”

Areksa tersenyum tipis. “Ini hukuman untuk kamu karena terus memanggil saya Tuan.”

Adira menatapnya bingung.

“Saya sudah pernah bilang kan? Kalau kamu masih memanggil saya seperti itu, kamu akan dapat hukuman.”

“Y-ya sudah. Ini sudah dihukum.” Adira menelan ludah. “J-jadi tolong lepasin.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Saya mau bicara dulu. Masalahnya kamu selalu menghindar.”

Adira akhirnya menyerah. “Y-ya sudah. Cepat bicara, Mas.”

Panggilan itu membuat ekspresi Areksa sedikit melunak.

“Saya mau minta maaf. Untuk ucapan saya kemarin.”

Areksa menarik napas. “Saya tau saya sudah bicara kasar dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan buat kamu. Maaf.”

Areksa melanjutkan. “Bukan karena saya tidak suka kamu memakai barang Aruna. Barang-barang itu memang punya nilai sentimental buat saya, Dira. Sangat berarti. Bukan semata-mata karena itu milik Aruna. Tapi karena barang-barang itu menyimpan kenangan yang sangat penting buat saya.”

Adira perlahan mengangkat wajah.

“Dan saya tau ucapan saya soal kamu yang saya sebut sebagai orang baru itu juga salah.”

Areksa menatapnya dalam-dalam. “Saya minta maaf.”

Adira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Iya. Sudah saya maafin, Mas.”

“Benarkah?”

“Iya. Jadi bisa saya lepas sekarang?”

Namun Areksa justru masih menatapnya. “Kamu maafin saya karena begini kan?”

“Karena bagaimana?”

“Karena saya menahan kamu di sini.” Sudut bibir Areksa terangkat tipis. “Setelah ini kamu akan menghindari saya lagi.”

“Enggak.”

“Kalau begitu, tatap saya dan bilang kamu sudah memaafkan saya.”

Adira terdiam. Kemudian perlahan ia mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu.

“Sudah saya maafin, Mas,” ucap Adira pelan. “Dan saya tidak akan menghindar lagi.”

Areksa tidak menjawab.

Begitu pula Adira.

Tatapan mereka bertahan cukup lama.

Kali ini Adira tidak berusaha mengalihkan pandangannya.

Seolah ada sesuatu dalam tatapan Areksa yang membuatnya sulit bergerak.

Areksa perlahan mendekat.

Jarak di antara mereka semakin tipis hingga Adira dapat merasakan hembusan napasnya di wajah.

Adira tidak mundur.

Dan ketika Areksa akhirnya mengecup bibirnya dengan lembut, Adira hanya memejamkan mata.

Awalnya, Areksa hanya berniat memberikan satu kecupan singkat kepada istrinya.

Namun, entah kenapa, setiap kali berada sedekat ini dengan Adira, ia selalu merasa sulit untuk segera menjauh.

Areksa melumat bibir Adira, menyesapnya lembut. "Buka mulutmu, sayang."

Entah kenapa, Adira malah menurut. Ia membuka mulutnya agar Areksa bebas bermain disana.

Kedua tangannya yang semula berada di pinggang Adira, salah satunya berpindah ke belakang tengkuk Adira untuk memperdalam ciumannya.

Areksa tidak berniat melepaskan ciuman itu. Cukup lama mereka saling bertukar saliva.

Hingga di tengah kedekatan mereka, pintu ruangan Areksa tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.

“Kak Reksa!”

Suara itu membuat Areksa dan Adira spontan menoleh.

Felicia berdiri di ambang pintu.

Matanya membulat ketika melihat Adira yang baru saja bangkit dari pangkuan Areksa. Wajah Felicia seketika berubah.

Ia mengenal perempuan itu.

Babysitter yang selama ini merawat keponakannya.

Perempuan yang selama ini mengaku sebagai sahabat mendiang kakaknya.

“Adira?”

Adira langsung menundukkan wajah. Jantungnya berdegup kencang karena malu dan panik.

Berbeda dengannya, Areksa justru tetap tenang.

Felicia berjalan cepat mendekati mereka. “Kamu!”

Adira terkejut ketika Felicia menunjuknya.

“Kamu berani menggoda Kak Reksa?”

“Felicia,” tegur Areksa.

Namun Felicia tidak menghiraukannya.

“Kamu sadar siapa dia?” bentaknya kepada Adira. “Dia suami Kak Aruna!”

“Kamu datang ke rumah kami sebagai babysitter, pura-pura baik, pura-pura peduli sama Aretha, lalu sekarang malah berani mendekati Kak Reksa?”

“Felicia, cukup.”

“Belum cukup!”

Felicia menatap Adira dari atas ke bawah dengan penuh penghinaan. “Aku sudah menduga sejak awal perempuan seperti kamu pasti punya maksud lain.”

“Felicia!” suara Areksa terdengar lebih tegas.

“Tapi aku benar, kan?” Felicia kembali menatap Adira. “Kamu bilang kamu sahabat Kak Aruna. Sahabat macam apa yang setelah kakakku meninggal malah mendekati suaminya?”

Adira menggenggam ujung bajunya. “Saya tidak—”

“Tidak apa?” Felicia memotong. “Mau bilang kamu tidak menggoda Kak Reksa? Aku baru saja melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!”

Areksa melangkah mendekat. “Felicia, jangan bicara sembarangan.”

“Kenapa Kak Reksa membelanya terus?”

“Karena kamu sudah keterlaluan.”

Felicia tertawa sinis. “Tentu saja Kak Reksa membelanya. Perempuan seperti dia memang pandai membuat laki-laki merasa kasihan.”

“Kamu cuma babysitter,” lanjut Felicia. “Jangan merasa karena tinggal di rumah ini lalu kamu punya kedudukan yang sama dengan kami.”

“Cukup!”

“Kamu tau nggak, Adira? Kak Aruna itu jauh lebih baik daripada kamu. Dia istri Kak Reksa. Dia bagian dari keluarga ini. Sedangkan kamu?”

Felicia mendekat. “Kamu siapa? Kamu cuma orang luar yang kebetulan dibutuhkan karena Aretha mau menyusu padamu. Jangan pernah berpikir kamu bisa menggantikan posisi Kak Aruna.”

“Felicia.” Areksa memperingatkannya lagi.

Namun Felicia masih terbawa emosi.

“Aku bahkan sudah duga dari pertama kamu datang. Wajah polos, bicara lembut, pura-pura nggak tahu apa-apa. Ternyata semuanya cuma cara supaya Kak Reksa memperhatikan kamu.”

Ia kembali menatap Adira. “Menjijikkan.”

Adira tersentak.

Felicia kemudian mengangkat tangannya.

Namun sebelum tangannya sempat menyentuh wajah Adira, Areksa langsung menangkap pergelangan tangannya.

“Cukup!” Suara Areksa kali ini benar-benar keras.

Felicia membeku. “Lepaskan tanganku Kak Reksa.”

“Tidak sebelum kamu tenang.”

“Kak Reksa membela dia?”

“Saya membela orang yang tidak pantas kamu hina.”

Felicia menatap Areksa dengan tidak percaya. “Kenapa? Karena dia sudah berhasil membuat Kak Reksa tergila-gila padanya?”

Areksa terdiam sejenak. Kemudian ia melepaskan tangan Felicia dengan tegas.

“Karena dia istri saya.”

Felicia membeku.

Adira pun perlahan mengangkat wajahnya.

“Apa?”

Areksa menatap Felicia tanpa sedikit pun ragu. “Saya sudah menikah dengan Adira.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Felicia seperti kehilangan kata-kata. “Menikah…?”

“Iya.”

Areksa berdiri di samping Adira. “Adira bukan babysitter. Bukan perempuan yang sedang mencoba menggoda saya.”

Ia menatap Felicia tajam. “Dia istri saya.”

***

Beberapa menit sebelumnya, Felicia sudah berada di lantai tempat ruangan Areksa berada.

Ia sebenarnya datang karena ada sesuatu yang ingin dibicarakannya dengan sang kakak ipar. Namun, baru beberapa langkah menuju ruangan Areksa, Chandra langsung menghampirinya.

“Maaf, Nona Felicia. Pak Areksa sedang ada urusan.”

Felicia berhenti. “Urusan apa?”

“Saya kurang tau, Nona. Tapi untuk sementara Bapak tidak ingin diganggu.”

Felicia mengerutkan kening. “Aku cuma mau bicara sebentar.”

“Kalau begitu mungkin nanti saja, Nona.”

“Kenapa harus nanti?”

Chandra tetap berdiri di depan pintu. “Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan tugas.”

Felicia mulai merasa ada sesuatu yang aneh.

Biasanya, jika dirinya datang menemui Areksa, Chandra tidak pernah sampai menghalanginya seperti ini.

“Ada siapa di dalam?”

Chandra terdiam sesaat. “Tidak ada siapa-siapa.”

Jawaban itu justru membuat kecurigaan Felicia semakin besar.

“Kalau memang nggak ada siapa-siapa, kenapa aku nggak boleh masuk?”

“Nona Felicia—”

“Aku cuma mau bicara sama Kak Reksa.”

Chandra kembali mencoba menghalangi.

Namun Felicia semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan darinya.

“Aku masuk sebentar.”

“Nona, tunggu—”

Felicia tetap membuka pintu. Dan langkahnya langsung terhenti. Matanya membulat.

Di dalam ruangan itu, ia melihat Areksa bersama Adira.

Babysitter keponakannya. Perempuan yang selama ini tinggal di rumah keluarga Dirgantara.

Perempuan yang selalu bersikap polos di hadapan semua orang.

Dan sekarang Felicia melihatnya begitu dekat dengan Areksa.

“Kak Reksa!”

***

“Istri? Sejak kapan?!” Felicia menatap Areksa dengan tidak percaya.

“Sebulan yang lalu.”

“Kenapa tidak ada yang tau?”

“Itu urusan saya, bukan urusan kamu, Fel.”

Felicia menggeleng, masih sulit menerima kenyataan itu. “Kak, yang benar saja! Dia bahkan nggak pantas menggantikan Kak Aruna.”

Tatapan Areksa langsung berubah. “Terus menurut kamu siapa yang pantas?”

Felicia terdiam sesaat. “Ya… aku mungkin.”

Areksa justru terkekeh kecil.

Tawa yang terdengar begitu mengejek hingga membuat wajah Felicia berubah.

“Kamu pikir saya bodoh?”

Felicia mengerutkan kening. “Maksud Kak Reksa apa?”

Areksa melangkah mendekat. “Kamu kan yang mencampurkan obat perangsang ke minuman saya waktu pesta itu.”

Deg!

1
Syti Sarah
selmat ya Adira 😍😍
sunaryati jarum
Selamat atas kehamilannya Adira, semoga bayi dan kamu sehat.Thoor segera kuak kalau Adira itu Little girl nya Areksa,agar rasa insecure Adira hilang.
Fegajon: iya 2 bab lagi, tenang aja😎
total 1 replies
Syti Sarah
mungkin Adira hamil kli ya
sunaryati jarum
Coba jika kamu tidak mengharapkan dinikahi Areksa,kamu tidak mempermasalahkan pernikahan Adira dan Areksa Felicia,itu juga karena olahmu yang ingin menjebak Areksa.Memang Adira itu mungkin jodoh Areksa setelah Aruna.
anakkeren
rasain lo fel
sunaryati jarum
Kau yang memberi obat perangsang tapi Adira yang digagahi Areksa.Lagia Adira itu orang yang selama ini dicari Areksa.Jepit dan liontin Aruna,itu milik Adira dari Areksa, maka Areksa mengira Aruna little girl nya
Syti Sarah
rasain kamu fel,ktahuan kn akal licik kamu
sunaryati jarum
Jika tahu Adira little girl kamu,kamu menyesal telah membentaknya.Jika kau mencintai Adira kenapa bisa tertarik pada Aruna.Semoga kalian makin dekat dan terungkap bahwa kamu cinta pertama suamimu
Fegajon: sebentar lagi ka
total 1 replies
sunaryati jarum
Areksa padahal barang itu milik Adira sebelum diberikan kepada Aruna
Syti Sarah
waaah,cri Msalah mmang ya kamu reksa
sunaryati jarum
Sedikit demi sedikit little girl nya dekat,pasti nanti sangat bahagia
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!