Indonesia
NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Restoran bernuansa kayu yang tidak jauh dari gedung perkantoran itu tampak tidak terlalu padat.

Anton memilihkan meja di dekat sudut ruangan yang sedikit lebih tenang, memberikan privasi yang nyaman di tengah riuhnya jam makan siang.

Aisha sangat canggung duduk berhadapan dengan Anton, ini pertama kali baginya makan berdua dengan lawan jenis.

"Kamu... mau pesan apa, Aisha?" tanya Anton memecah keheningan.

Aisha mengangkat pandangannya sekejap, menatap buku menu yang ada di tangannya dengan raut sedikit ragu. "Mmm... Pak Anton, kalau boleh tahu, kira-kira menu yang halal apa aja, ya sini?"

Anton tersentak pelan, lalu menepuk dahi ringannya. "Ah! Maafkan saya, Aisha... Saya sampai lupa memperhatikan hal itu. Sebentar, ya."

Dengan sigap, Anton melambaikan tangan memanggil pelayan restoran yang berdiri tak jauh dari meja mereka.

"Excuse me," panggil Anton ramah saat pelayan pria berkemeja putih itu menghampiri.

"Yes, Sir. Are you ready to order?" tanya pelayan tersebut bersiap mencatat.

"Yes, but before that, saya mau tanya dulu. Menu mana saja yang diolah halal, atau setidaknya bebas dari bahan babi dan alkohol?" tanya Anton dengan jelas dan penuh perhatian

Pelayan itu tersenyum mengerti dan mengangguk. "Of course, Sir. Untuk menu seafood seperti Grilled Salmon dan Seafood Marinara kita, sama sekali tidak menggunakan alkohol atau bahan dari babi. Koki kami juga memasaknya secara terpisah."

"Bagaimana, Aisha? Grilled salmon sepertinya aman. Kamu suka salmon?" tanya Anton lembut memutar pandangannya ke Aisha.

"Suka kok, Pak Anton. Grilled salmon saja kalau begitu," sahut Aisha tersenyum dan mengangguk pelan.

"Oke, kalau begitu pesan dua porsi Grilled Salmon, dan minumnya dua gelas lemon tea hangat ya," pesan Anton pada pelayan.

"Baik, Pak. Dua Grilled Salmon dan dua lemon tea hangat. Tunggu sekitar lima belas menit ya. Terima kasih," ujar pelayan itu sopan lalu berlalu meninggalkan meja .

Setelah pelayan berlalu meninggalkan meja mereka, suasana kembali hening.

"Aisha..." panggil Anton pelan.

"Yes, Sir?"

"Di luar kantor begini, tidak perlu terlalu kaku," ujar Anton ramah, mencoba memberikan rasa nyaman. "Anggap saja kita ini teman mengobrol biasa, bukan bos dan bawahan."

Aisha tersenyum tipis dengan nada penuh kesopanan. "Iya, Pak... Terima kasih."

Anton berdehem pelan, lalu menatap Aisha dengan raut ragu bercampur penasaran. "Mmm... sebenarnya dari tadi ada satu hal yang bikin saya penasaran."

"Penasaran soal apa ya, Pak?"

"Soal pengajuan cuti kamu," Anton agak ragu memilih kata-kata. "Maksud saya... kamu kan baru bergabung baru sebulan lebih di kantor ini. Saya cuma penasaran aja, apakah... kamu ambil cuti karena ingin menikah di Indonesia?"

Aisha yang sedang memegang gelas air putih seketika tersedak pelan. Pipinya langsung merona merah mendengar tebakan mendadak dari atasannya itu.

"A-aduh, sama sekali nggak, Pak!" Bantah Aisha sambil menggelengkan kepala. "Kenapa Bapak bisa berpikiran sampai ke sana?"

Anton menahan senyum, berusaha tetap tenang. "Haha, ya... tidak apa-apa, saya cuma mengira-ira aja. Biasanya kalau ada karyawan yang buru-buru ambil cuti, opsinya kalau tidak ada urusan keluarga mendesak, ya acara pernikahan."

"Sama sekali bukan acara nikahan kok, Pak," kekeh Aisha pelan.

"Saya sudah kangen banget sama keluarga di Indonesia. Sejak wisuda dari kampus di sini beberapa bulan lalu, saya belum sempat pulang sama sekali. Kangen masakan Ibu, kangen suasana rumah... pokoknya kangen rumahlah."

Anton mengangguk-angguk paham. "Oh, begitu... Saya pikir ada urusan mendesak atau persiapan penting lainnya. Tapi sangat bisa dimaklumi. Berada di negeri orang sendirian memang pasti ada kalanya merasa kesepian dan rindu rumah."

"Bener banget, Pak!" sahut Aisha spontan, suaranya mulai terdengar lebih lepas dan alami. " Di sini mau cari sambal asli saja susahnya minta ampun."

Anton meledak dalam tawa kecil yang renyah.

"Ah, soal makanan pedas! Saya sering mendengar rekan-rekan dari Asia Tenggara mengeluhkan hal yang sama. Makanan di sini terlalu tawar untuk lidah kalian, ya?"

"Bukan tawar lagi, Pak, tapi rasanya kayak ada yang kurang gitu!" jawab Aisha terkekeh geli.

"Setiap kali makan di resto sini, dalam hati saya selalu mikir: 'Coba ada sambal terasi, pasti lebih mantap.'"

"Wah, sambal terasi? Saya pernah dengar namanya, tapi belum pernah berani coba," balas Anton antusias. "Kapan-kapan kalau kamu balik dari cuti, boleh dong dibawakan sedikit untuk sampel?"

"Boleh banget, Pak! Nanti saya bawakan racikan khusus buatan Ibu saya. Tapi awas ya, Bapak jangan kapok kalau lidahnya kerasa terbakar," goda Aisha dengan senyum manisnya.

Kecanggungan yang semula membentang seperti tembok tebal perlahan-lahan luruh total. Obrolan mereka mulai mengalir sangat luwes dan menyenangkan.

Anton ternyata sosok yang sangat ramah, humoris, dan pendengar yang baik di luar mode manajernya. Sementara Aisha yang pada dasarnya ceria namun tetap tahu etika, mulai merasa nyaman menimpali setiap obrolan.

Tak lama kemudian, hidangan grilled salmon dan lemon tea hangat diantarkan ke meja mereka.

"Selamat makan, Aisha," kata Anton ramah, menggeser piring ke arah Aisha.

"Selamat makan, Pak. Terima kasih banyak ya, Pak," balas Aisha tulus.

Mereka menikmati makanan sambil menyelinginya dengan obrolan ringan tentang kebudayaan Indonesia, pengalaman Anton saat pertama kali menjadi manajer, hingga topik-topik kasual yang membuat keduanya berkali-kali tertawa bersama.

Aisha tak lagi merasa tertekan, dan Anton pun sangat menikmati momen langka bisa duduk berdua serta melihat tawa lepas dari gadis berhijab itu.

Namun, di tengah-tengah keceriaan makan siang mereka, ponsel Anton yang tergeletak di atas meja bergetar. Layarnya menampilkan nama Direktur Utama.

Anton melirik layar ponselnya, dan raut wajahnya seketika berubah agak serius. "Maaf sebentar ya, Aisha. Ini dari Pak Direktur."

"Oh, iya Pak, silakan diangkat," tutur Aisha santai.

"Halo, selamat siang, Pak... Ya? Sekarang?... Tapi saya sedang—... Baik, baik Pak. Lima belas menit lagi saya langsung ke sana. Baik, terima kasih, Pak."

Anton mematikan sambungan telepon dengan desah napas berat.

"Aisha... aduh, maafkan saya," ujar Anton dengan nada yang tidak enak hati.

"Direksi mendadak mengadakan unplanned meeting dengan investor luar negeri sepuluh menit lagi. Saya harus hadir untuk mempresentasikan data umum."

Aisha langsung meletakkan gelasnya dan tersenyum memahami situasi. "Eh, nggak apa-apa, Pak! Perintah direksi jelas lebih penting."

"Tapi saya merasa tidak tega meninggalkan kamu sendirian di sini... Padahal makan siangnya belum selesai," kata Anton cemas. Ia memegang pinggiran meja, enggan berdiri.

"Aduh, santai aja, Pak" sahut Aisha. "Makanan saya juga sudah mau habis kok. Nanti setelah selesai saya bisa jalan kembali ke kantor sendiri. Jaraknya kan cuma dua menit berjalan kaki."

"Beneran tidak apa-apa?" tanya Anton memastikan sekali lagi.

"Iya, Pak . Beneran," kekeh Aisha pelan untuk meyakinkan atasannya.

"Malah Bapak yang harus buru-buru sekarang, nanti terlambat, lho."

Anton melirik jam tangannya, lalu mengangguk pasrah. Ia dengan sigap mengeluarkan dompetnya, melambaikan tangan pada pelayan, dan langsung menyelesaikan seluruh tagihan makan siang mereka di tempat.

"Saya sudah bayar semuanya ya," kata Anton seraya merapikan jasnya.

"Aisha... terima kasih banyak untuk obrolan menyenangkan siang ini. Saya minta maaf sekali harus pergi duluan."

"Sama-sama, Pak Anton. Sukses untuk meeting-nya ya, Pak," balas Aisha berdiri sebentar dan mengangguk santun.

Setelah sosok atasannya itu menghilang di balik pintu kaca, Aisha kembali duduk di kursinya.

"Alhamdulillah....Akhirnya.." Ucapnya menarik napas lega.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!