Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita yang Belum Tuntas
Pagi itu udara terasa sangat sejuk, menyapu sisa dingin malam yang masih menyelimuti kawasan kaki bukit. Kabut tipis masih bergelayut di antara pepohonan, menyembunyikan puncak-puncak bukit yang menjulang di kejauhan. Cahaya matahari baru saja mulai menembus celah-celah daun, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang jatuh miring ke tanah berlumut. Suasana pagi itu begitu tenang, begitu damai, seakan alam di sekitar mereka sedang berusaha menyembunyikan segala sesuatu yang aneh dan mengerikan di balik keindahannya.
Raka, Laras, dan seluruh anggota kru berjalan perlahan menuju kawasan Kampung Pitu. Langkah mereka tidak lagi terburu-buru seperti hari sebelumnya. Kini mereka datang dengan ketenangan yang baru, disertai rasa hormat dan kehati-hatian yang lebih dalam. Mereka tahu bahwa tempat ini bukan sekadar lokasi syuting biasa tempat ini menyimpan kisah nyata, duka nyata, dan rahasia yang mungkin takkan pernah sepenuhnya terungkap.
Sesampainya di depan rumah Pak Tua Suryo, mereka melihat lelaki tua itu sudah berdiri di ambang pintu, seakan sudah menunggu kedatangan mereka sejak fajar menyingsing. Di sampingnya berdiri Bu Wiyati, dengan wajah yang tampak cemas namun tetap menyambut mereka dengan senyum tipis yang tulus.
"Kalian datang lebih awal dari yang kuduga," ucap Pak Tua Suryo pelan, suaranya terdengar berat namun tidak lagi penuh peringatan seperti hari sebelumnya. "Silakan masuk. Kita duduk dulu."
Mereka masuk ke dalam rumah yang sama seperti kemarin. Teh hangat dan pisang rebus kembali tersaji di meja kayu panjang itu, seakan tuan rumah sudah tahu bahwa mereka akan datang pagi ini. Namun kali ini, tidak ada yang merasa canggung atau takut untuk menyentuh hidangan itu. Mereka merasa diterima, merasa dihormati, dan itu membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi jauh lebih terbuka.
"Kemarin kalian masuk ke rumah itu," ucap Pak Tua Suryo setelah mereka semua duduk tenang. "Dan aku tahu, kalian tidak hanya melihat dinding dan lantai. Kalian merasakan sesuatu. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Benar, bukan?"
Raka mengangguk pelan. "Benar, Pak. Kami melihat dan merasakan hal-hal yang membuat kami semakin ingin tahu. Tapi kami juga ingin tahu lebih banyak dari Bapak tentang keluarga Candra Wijaya. Tentang bagaimana mereka hidup di sini, dan bagaimana akhirnya mereka pergi tanpa meninggalkan jejak. Kami ingin mendengar cerita yang sebenarnya, bukan sekadar kabar yang berputar di luar."
Pak Tua Suryo menatap ke luar jendela, ke arah tujuh rumah yang berjejer rapi, lalu pandangannya beralih ke arah rumah kedelapan yang terlihat samar di balik pepohonan. Ia menghela napas panjang, napas yang membawa beban bertahun-tahun, sebelum akhirnya mulai bercerita.
"Mereka datang bertahun-tahun yang lalu," mulainya pelan, suaranya rendah namun jelas terdengar di ruangan yang hening itu. "Pak Candra Wijaya, istrinya Bu Isma, dan dua anak mereka Arlan Wijaya, anak sulung yang saat itu sudah remaja, dan Ardita Iriyani Wijaya, yang masih duduk di bangku sekolah menengah. Mereka pindah dari Jakarta karena Pak Candra ingin mencari tempat yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari polusi dan kebisingan. Ia mendengar tentang tempat ini, tentang ketenangan yang ada di sini, dan jatuh cinta pada tanah ini sejak pertama kali melihatnya."
"Apakah Bapak sudah memperingatkan mereka sejak awal?" tanya Laras lembut, tidak ingin terdengar menuduh.
"Sudah, tentu saja," jawab Pak Tua Suryo perlahan. "Kami semua warga sini sudah datang menemui mereka sebelum mereka mulai membangun rumah. Kami jelaskan aturan leluhur hanya boleh ada tujuh rumah, tujuh kepala keluarga. Kami katakan bahwa tanah ini sudah memiliki keseimbangan yang tidak boleh diganggu. Tapi Pak Candra tertawa mendengar kata-kata itu. Ia bilang zaman sudah berubah, tidak ada hal mistis yang perlu ditakuti. Ia bilang ia sudah membeli tanah itu secara sah, dan ia berhak membangun rumah di atasnya sesuai keinginannya. Kami tidak bisa melarang lebih jauh lagi. Tanah itu memang sudah miliknya secara hukum."
"Dan sejak rumah itu selesai dibangun, hal-hal aneh mulai terjadi?" tanya Raka.
"Tidak seketika itu juga," jawab Bu Wiyati yang sejak tadi mendengarkan dalam diam, kini ikut berbicara dengan suara pelan namun penuh perasaan. "Awalnya semuanya tampak baik-baik saja. Mereka keluarga yang ramah. Bu Isma sering berkunjung ke rumah warga, berbagi makanan, bertanya tentang tanaman dan buah-buahan yang tumbuh di sekitar sini. Arlan, anak laki-lakinya, kadang membantu warga memanen kayu bakar atau membersihkan jalan setapak. Dan Ardita... gadis kecil itu sangat manis dan sopan. Sering kulihat dia duduk di beranda rumahnya sambil menulis di buku tebal, seakan sedang menulis cerita. Dia selalu tersenyum setiap kali kami berpapasan."
Bu Wiyati berhenti sejenak, menelan ludah seakan ada yang mengganjal di tenggorokannya. "Namun perlahan-lahan, perubahan itu mulai terlihat. Bu Isma mulai jarang keluar rumah. Wajahnya yang dulu ceria perlahan menjadi pucat dan murung. Arlan yang dulu ramah mulai menjadi pendiam dan mudah marah. Dan Ardita... gadis itu sering terlihat duduk sendirian di beranda sampai larut sore, menatap ke arah hutan di belakang rumahnya dengan tatapan kosong, seakan sedang berbicara dengan seseorang yang tidak bisa kami lihat."
"Apakah mereka pernah menceritakan apa yang mereka rasakan di dalam rumah itu?" tanya Bu Sari dengan lembut.
"Pernah, sekali saja," jawab Pak Tua Suryo perlahan, matanya menatap lurus ke depan seakan melihat kembali kejadian lama itu. "Suatu sore Pak Candra datang ke rumahku. Wajahnya tampak bingung dan cemas. Ia bilang bahwa setiap malam, selalu terdengar suara langkah kaki di lantai atas, padahal semua anggota keluarganya sudah tidur di lantai bawah. Ia bilang pintu-pintu yang sudah dikunci rapi sering kali ditemukan terbuka pagi harinya. Dan yang paling membuatnya gelisah benda-benda kecil di rumah itu sering berpindah tempat tanpa ada yang menyentuhnya. Sendok, buku, alat tulis, kadang hilang berhari-hari lalu muncul kembali di tempat yang tidak terduga."
"Apakah Bapak menyarankannya untuk meninggalkan rumah itu?" tanya Raka.
"Aku menyarankannya, ya," jawab Pak Tua Suryo dengan nada sedih. "Tapi harga dirinya terlalu tinggi. Ia bilang itu hanya imajinasi karena kelelahan, atau mungkin ada hewan yang masuk ke rumahnya. Ia tidak mau mengakui bahwa ia salah. Ia tidak mau mengakui bahwa aturan leluhur itu ada alasannya."
"Dan kemudian... mereka hilang?" tanya Laras pelan, suaranya hampir berbisik.
Pak Tua Suryo mengangguk pelan. "Pagi itu, seperti biasa, warga mulai beraktivitas. Namun rumah kedelapan itu sunyi. Tidak ada suara pintu yang terbuka, tidak ada suara orang berbicara, tidak ada asap dari dapur. Beberapa hari kami biarkan dulu, berpikir mungkin mereka pergi berkunjung ke kerabat. Tapi setelah seminggu tidak ada kabar, aku dan beberapa warga memberanikan diri mendekati rumah itu. Pintu depan tidak dikunci. Saat kami masuk, semuanya masih ada di tempatnya. Pakaian, peralatan makan, barang-barang pribadi semuanya masih ada. Seakan mereka pergi sebentar dan akan kembali. Tapi sampai sekarang, belum ada yang kembali."
Keheningan menyelimuti ruangan itu cukup lama. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Cerita itu begitu sederhana namun begitu berat, begitu menyedihkan, dan begitu penuh dengan tanda tanya yang takkan pernah terjawab sepenuhnya.
"Apakah ada yang pernah membuka buku-buku catatan mereka?" tanya Raka akhirnya, memecah keheningan. "Atau menemukan tulisan yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
Pak Tua Suryo menggeleng pelan. "Kami tidak berani mengambil apa pun di dalam rumah itu. Kami merasa itu bukan hak kami. Buku-buku itu masih ada di tempatnya, di atas meja di lantai dua. Di tempat Ardita biasa duduk menulis. Biarlah apa yang ditulisnya tetap di sana, menunggu orang yang berhak membacanya."
Raka menatap mata Pak Tua Suryo, dan di saat itu ia mengerti. Lelaki tua itu tahu. Ia tahu bahwa mereka akan menemukan buku itu. Ia tahu bahwa cerita itu belum selesai ditulis. Dan diam-diam, ia berharap bahwa kehadiran mereka akan membantu menyelesaikan apa yang tertunda selama bertahun-tahun itu.
"Terima kasih sudah bercerita kepada kami, Pak," ucap Raka tulus, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat. "Kami berjanji akan menghormati setiap benda, setiap ruangan, dan setiap kenangan yang ada di rumah itu. Kami tidak akan merusak apa pun, dan kami tidak akan memaksa rahasia yang belum ingin terungkap."
"Pergilah," ucap Pak Tua Suryo pelan, sambil mengangguk ke arah pintu. "Tapi ingat pesanku jangan terlalu lama di dalam sana. Karena semakin lama kalian berada di dalam rumah itu, semakin besar kemungkinan rumah itu juga mulai melihat ke dalam diri kalian."
Mereka semua bangkit berdiri, berjalan keluar rumah dengan hati yang penuh rasa hormat sekaligus rasa tanggung jawab yang semakin besar. Cerita yang mereka dengar pagi itu bukan sekadar cerita horor untuk film. Itu adalah kisah nyata sebuah keluarga yang pernah hidup, tertawa, berharap, lalu hilang tanpa jejak. Dan sekarang, tanpa mereka sadari, kisah itu perlahan mulai menyatu dengan kisah mereka sendiri.
Saat mereka berjalan menuju rumah kedelapan untuk kedua kalinya, langkah kaki mereka terasa lebih berat namun lebih bermakna. Di dalam rumah itu, di atas meja kayu di lantai dua, buku harian Ardita masih tertutup sebagian, menunggu untuk dibaca. Dan di antara baris-baris tulisannya yang belum terungkap, tersimpan jawaban yang mungkin akan mengubah segalanya bukan hanya bagi cerita film mereka, tetapi juga bagi setiap orang yang berani masuk ke dalam rumah itu.