Indonesia
NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Jejak yang Tak Ada

Ruangan sidang bergemuruh dengan bisikan-bisikan cemas, dan Ji Ming merasakan tatapan curiga dari puluhan tetua sekte mulai mengarah padanya seperti beban yang mencekik.

"Ketua Dewan," Su Mei berkata, melangkah maju dengan tenang meski situasi semakin genting, "izinkan aku mengajukan satu permintaan sederhana sebelum Dewan mengambil kesimpulan apa pun dari tuduhan ini."

Ketua Dewan mengangguk, meski wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran. "Silakan."

"Kalau benar seseorang telah dimanipulasi menggunakan kekuatan jiwa, seperti yang dituduhkan saksi ini," Su Mei menjelaskan, suaranya jelas dan penuh keyakinan, "maka akan ada jejak nyata yang tertinggal—benang-benang jiwa halus yang menempel pada kesadaran korban, bisa dideteksi oleh siapa pun yang cukup terlatih dalam seni pengukiran jiwa, sama seperti bekas luka yang tertinggal setelah pertarungan fisik. Manipulasi semacam itu tidak menghilang tanpa jejak."

Tetua Feng mengangguk setuju, melangkah maju di samping Su Mei. "Aku sudah mempraktikkan seni ini selama lebih dari tiga ratus tahun kehidupan, termasuk masa-masa kelam saat beberapa dari sekte kami benar-benar melakukan manipulasi semacam itu terhadap korban yang tak bersalah. Aku tahu persis seperti apa jejak itu terlihat, dan aku bersedia memeriksa saksi ini di hadapan seluruh Dewan sebagai bukti."

Deng Wei, yang sejak tadi berdiri dengan sikap ketakutan yang meyakinkan, tiba-tiba tampak sedikit goyah, matanya melirik cepat ke arah tetua berjubah gelap yang telah mengajukannya sebagai saksi.

"Aku—aku tidak yakin pemeriksaan semacam itu diperlukan," Deng Wei berkata, suaranya kini terdengar sedikit kurang meyakinkan dibanding sebelumnya. "Traumaku terlalu berat untuk diperiksa lagi—"

"Kalau tuduhanmu benar," Ketua Dewan memotong tegas, matanya kini menyipit penuh perhatian, "pemeriksaan ini akan membuktikan kebenaran klaimmu tanpa keraguan, dan akan memastikan keadilan bagimu. Kalau kau menolak, Dewan akan mulai mempertanyakan validitas kesaksianmu sendiri."

Tekanan di ruangan itu terasa semakin berat, semua mata kini beralih dari Ji Ming menuju Deng Wei yang mulai berkeringat deras meski udara aula cukup sejuk.

"Baik... baiklah," Deng Wei akhirnya berkata, suaranya gemetar, jelas terjebak antara mengaku atau menjalani pemeriksaan yang akan membongkar kebohongannya secara pasti.

Tetua Feng melangkah mendekat, tangannya terangkat perlahan, kekuatan jiwanya yang telah terlatih selama tiga abad mulai menyalurkan sensasi halus untuk membaca kesadaran Deng Wei—bukan menyerang atau memanipulasi, hanya merasakan, seperti jari yang menyentuh permukaan air untuk merasakan riaknya.

Setelah beberapa saat yang terasa sangat panjang, Tetua Feng menurunkan tangannya, menatap Ketua Dewan dengan wajah tegas.

"Tidak ada jejak apa pun," ia mengumumkan dengan suara yang menggema jelas ke seluruh aula. "Tidak ada benang jiwa, tidak ada bekas manipulasi apa pun dalam kesadaran pria ini. Kesaksiannya adalah kebohongan murni."

Aula itu meledak dalam gemuruh bisikan yang jauh lebih keras dari sebelumnya, dan Deng Wei, menyadari kebohongannya telah terbongkar sepenuhnya di hadapan seluruh Dewan, terjatuh berlutut, air matanya kini benar-benar tulus—bukan lagi akting, melainkan ketakutan nyata akan konsekuensi yang menantinya.

"Aku dibayar," ia mengaku cepat, suaranya putus asa, "seseorang membayarku sangat banyak untuk bersaksi seperti ini. Aku tidak tahu apa-apa tentang pemuda ini sebenarnya—aku hanya diberi cerita untuk dihafal dan dibayar untuk mengucapkannya dengan meyakinkan!"

"Siapa yang membayarmu?" Ketua Dewan bertanya tegas, suaranya kini penuh kemarahan yang terkendali.

Deng Wei menunjuk gemetar ke arah tetua berjubah gelap yang telah mengajukannya sebagai saksi—yang kini, menyadari rencananya telah terbongkar total, mencoba melangkah mundur menuju pintu keluar terdekat.

"Tahan dia," Ketua Dewan memerintahkan tegas kepada penjaga aula yang segera bergerak mengepung tetua tersebut sebelum ia sempat melarikan diri.

Di tengah kekacauan itu, Ji Ming menatap Yun Xia yang tersenyum kecil kepadanya, sebuah senyum lega yang mengatakan lebih banyak daripada kata-kata apa pun—informasi dari Han Lie semalam telah menyelamatkan mereka pada momen paling kritis.

Ketua Dewan mengangkat tangannya, meminta ketenangan kembali ke seluruh aula yang masih bergemuruh. "Sidang akan dilanjutkan setelah tetua yang terlibat dalam kesaksian palsu ini diinterogasi secara terpisah. Untuk sementara, tuduhan terhadap Ji Ming resmi dicabut sepenuhnya, dan Dewan akan melanjutkan mempertimbangkan bukti-bukti asli yang telah dipaparkan sebelumnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!