Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 19 - Nanti
Di saat Ashlyn pergi bersama kepala pelayan menuju kamar utama untuk membersihkan diri, Ethan memilih untuk tidak kembali ke kamar yang sama.
Ethan berjalan menuju kamar lain untuk membersihkan tubuh. Setelah seharian menghadiri pertemuan yang panjang, Ethan memang membutuhkan waktu untuk membersihkan diri sekaligus menenangkan pikirannya.
Beberapa waktu kemudian, Ethan kembali ke kamar dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia hanya mengenakan handuk kimono yang terikat rapi di pinggangnya. Namun baru beberapa langkah memasuki kamar utama, langkah Ethan mendadak terhenti.
Ashlyn ternyata baru selesai mandi juga. Sebelumnya Ashlyn menghabiskan waktu yang lama di dalam kamar mandi, lalu kenapa sekarang jadi cepat sekali? Padahal Ethan pikir mereka tak akan bertemu dalam keadaan seperti ini. Harusnya Ashlyn keluar setelah ia selesai memakai baju.
Tapi sekarang gadis itu duduk di depan meja rias dengan rambut panjang yang masih basah dan tubuh yang juga terbungkus handuk kimono. Kepala pelayan sedang membantunya mengeringkan rambut, sementara Ashlyn hanya duduk diam dengan wajah polos.
Tatapan Ethan seketika terhenti.
Entah mengapa melihat pemandangan itu darrah di tubuhnya terasa mengalir lebih cepat. Pemandangan sederhana itu seharusnya tidak berarti apa-apa, tetapi melihat Ashlyn dalam keadaan seperti itu setelah semua kejadian hari ini membuat Ethan mendadak merasa tidak nyaman dengan pikirannya sendiri.
Ethan segera menjernihkan pikiran. "Ashlyn," panggil Ethan
Gadis itu langsung menoleh dengan senang, kini dia hapal betul suara suaminya. "Suamiku!"
Ethan berusaha mempertahankan wajah tenangnya. "Kenapa kamu sudah selesai?"
"Ashlyn mandi dengan Bibi, Ashlyn tidak nakal."
Kepala pelayan tersenyum kecil. "Benar Jenderal, Nona sangat patuh."
Ethan mengangguk tipis. Tatapannya kembali pada Ashlyn hanya sepersekian detik sebelum segera beralih kepada kepala pelayan. "Urus dia sampai selesai."
"Baik, Jenderal."
Ashlyn langsung mengangguk. "Ashlyn akan patuh."
Ethan mengangkat alis tipis. "Kenapa tiba-tiba sangat patuh?" tanyanya, sebab biasanya Ashlyn akan lebih dulu banyak tanya.
"Karena Ashlyn ingin jadi istri yang pintar." Ashlyn menjawab tanpa ragu.
Kepala pelayan yang mendengar jawaban itu hampir tersenyum. Sementara Ethan hanya menghela napas pelan. "Kalau begitu dengarkan Bibi."
"Iya."
"Dan pakai pakaianmu."
"Iya." Ashlyn benar-benar tidak membantah sedikit pun. Ia bahkan langsung mengikuti kepala pelayan untuk mengenakan pakaian malam.
Ethan memperhatikan dari jauh, kemudian mengembuskan napas perlahan. Setidaknya kali ini Ashlyn tidak membuat keadaan menjadi semakin sulit.
Beberapa saat kemudian Sander akhirnya kembali ke mansion dengan membawa sebuah box freezer besar berisi eskrim. Kedatangan dengan box tersebut sontak membuat para pelayan geger. Sander rasa-rasanya bukan membeli eskrim, tapi berniat membuka usaha.
"Jenderal," panggil Sander saat dilihatnya sang jenderal yang juga baru tiba di rumah tengah. "Saya sudah kembali."
Ethan melihat benda di ruang tengah yang sangat aneh.
"Saya tidak tahu Nona Ashlyn menyukai rasa apa. Jadi saya membeli satu box eskrim"
Ethan mengerutkan kening.
Sander buru-buru menjelaskan, "Daripada saya salah memilih rasa, saya pikir lebih aman membeli beberapa sekaligus."
Box yang dibawanya memang cukup besar. Bahkan jika hanya untuk Ashlyn, jumlahnya jelas terlalu banyak.
Ethan memandang box tersebut beberapa saat.n"Kamu membeli sebanyak ini?" tanya Ethan yang juga merasa keheranan.
"Jenderal sendiri yang meminta beberapa rasa."
Ethan tidak bisa membantah.
Sander kemudian mendorong box itu semakin mendekati sang tuan itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat berbagai macam es krim dengan beberapa rasa dan bentuk yang berbeda.
Tidak lama kemudian Ashlyn muncul bersama kepala pelayan. Begitu matanya melihat kotak tersebut, wajahnya langsung berubah cerah. "Es krim!"
Ashlyn berlari kecil mendekat, tetapi kepala pelayan buru-buru memegang tangannya. "Nona, pelan-pelan."
Ashlyn berhenti, lalu berjalan lebih hati-hati. Ia menatap isi kotak dengan mata berbinar. "Banyak sekali."
Sander tersenyum kecil. "Nona bisa memilih."
Ashlyn memandang satu per satu es krim yang tersedia. Namun bukannya langsung mengambil untuk dirinya sendiri, ia justru menoleh kepada para pelayan yang berdiri di sekitar ruangan.
"Semua boleh makan," ucap Ashlyn, karena baginya tak mungkin menghabiskan semua eskrim ini sendirian.
Para pelayan saling berpandangan.
Ashlyn tersenyum. "Bibi kepala pelayan juga boleh, semuanya boleh."
Kepala pelayan terlihat tersentuh mendengar perkataan itu, bahkan Ethan yang tidak ditawari pun ikut tersentuh juga. Selama ini rasanya Ashlyn tidak pernah memiliki sesuatu yang bisa ia bagikan kepada orang lain. Bahkan makanan pun harus menunggu sisa orang lain.
Dan kini ketika mendapatkan satu box penuh es krim, hal pertama yang terpikir olehnya justru membaginya.
"Terima kasih, Nona," jawab kepala pelayan dengan lembut.
Ashlyn mengangguk bahagia.
Namun sebelum Ashlyn mengambil terlalu banyak, suara Ethan terdengar dari belakang. "Satu."
Ashlyn langsung menoleh. "Satu apa, Suamiku?"
"Kamu hanya boleh makan satu."
"Kenapa?" Wajah Ashlyn langsung berubah bingung.
"Karena kamu belum makan malam."
Ashlyn memandang kotak es krim, kemudian menatap Ethan lagi. Untuk sesaat ia tampak ingin bertanya lebih banyak. Namun kemudian Ashlyn mengingat sesuatu. Ia ingin menjadi istri yang pintar agar bisa mandi bersama sang suami. Dan Istri yang pintar harus mendengarkan suaminya. Karena itu Ashlyn langsung mengangguk.
"Baik," jawab Ashlyn.
Ethan sedikit terkejut melihat kepatuhan itu, dimana Ashlyn yang banyak tanya?
Ashlyn mengambil satu es krim dengan hati-hati, lalu duduk di sofa sambil tersenyum bahagia. "Yang ini saja."
Ethan mengangguk. "Setelah makan malam, kalau masih mau kamu boleh ambil satu lagi."
Mata Ashlyn langsung berbinar. "Benarkah?"
"Iya."
"Suamiku baik sekali." Ashlyn tersenyum lebar.
Sander yang berdiri tidak jauh dari sana hanya bisa menghela napas dalam hati. Ia mulai memahami satu hal. Ternyata es krim bukan hanya membuat Ashlyn bahagia. Es krim juga sepertinya menjadi senjata paling ampuh untuk membuat gadis itu patuh dan tidak banyak tanya.
Sementara Ethan hanya berdiri memperhatikan Ashlyn yang mulai menikmati es krimnya dengan wajah sangat bahagia.
Ruang tengah mansion yang biasanya begitu sunyi, kini dipenuhi suara kecil Ashlyn yang sesekali tertawa. Dan anehnya, Ethan tidak merasa terganggu sedikit pun.
"Sudah selesai!" ucap Ashlyn bahagia.
"Hem, cuci tanganmu dan kita makan malam."
"Baik Suamiku."
"Kamu patuh sakali," puji Ethan yang malah merasa bangga.
"Tentu saja, karena aku ingin jadi istri yang pintar. Nanti kalau sudah pintar kita bisa mandi bersama!"
"Uhuk uhuk!" kini giliran Sander yang terbatuk-batuk.