Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Arga menarik nafas dalam-dalam. Ia melangkah beberapa langkah lagi untuk tepat berada di samping Faresta. Tangannya yang sedikit gemetar merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam.

Arga menyerahkan flashdisk itu kepala Faresta.

Faresta sendiri sempat ragu untuk mengambilnya, entah mengapa perasaannya seketika tidak sanggup untuk melihat satu kebenaran lagi.

“Saya sengaja menyimpan salinan ini secara terpisah. Mereka berhasil menghapus bukti sebelumnya, tapi tidak dengan yang ini.”

Setelah mendengar penjelasan barusan. Faresta mengerti jika satu bukti ini adalah yang paling penting, sampai Arga harus memisahkan dari bukti yang lain.

Setelah memikirkan beberapa saat, Faresta akhirnya menerima flashdisk itu dan langsung memberikannya pada salah satu anggota kepolisian.

Penyidik mulai memasukkan flashdisk itu ke laptop. Beberapa detik kemudian folder itu muncul di layar besar ruang rapat.

Hanya ada satu folder video disana. Dan saat video di putar suasana di dalam ruang rapat itu kembali hening untuk yang kesekian kalinya.

Dalam video itu awalnya hanya sebuah ruang pertemuan biasa. Di dalamnya ada Dio, Liya, kepala keuangan dan beberapa perwakilan dari Virel Group.

Namun, video itu jelas terlihat berbeda dari video sebelumnya. Beberapa petinggi perusahaan mulai mengernyit.

Setelah beberapa menit wajah mereka mulai emosi, saat mendengar percakapan yang ada di video itu. Rencana-rencana licik yang akan menghancurkan Halvar Group.

Video terus diputar sampai memperlihatkan seorang pria masuk dengan langkah tenang. Wajahnya terlihat jelas saat kamera menangkapnya dari samping.

Dan saat itulah… tubuh Faresta menegang. Tatapannya terpaku pada layar, rasa tidak percaya seketika menghantui perasaannya. Bahkan ia mulai meragukan penglihatannya, hingga beberapa kali menggosok kedua matanya.

“Tidak mungkin,” gumamnya.

Pria dalam rekaman video itu tersenyum. Senyuman yang seharusnya tidak pernah ia lihat lagi setelah bertahun-tahun.

“Adrian..."

Video berhenti diputar. Tubuh Faresta melemas. Ia terduduk kembali di kursinya dengan tatapan kosong, masih berusaha mencerna apa yang baru saja dilihatnya.

Sementara itu, di sudut ruangan, Dio menundukkan kepala, tidak ada keberanian lagi untuk menatap orang-orang yang ada di ruangan itu.

“Jadi benar, kalian bekerja sama dengan pihak luar.” ujar salah satu petinggi perusahaan dengan suara serak yang menahan emosi.

"Kalian bertiga benar-benar pengkhianat. Saya tidak habis pikir, jika sampai kalian tidak ketahuan... Maka kita semua yang akan jatuh," sahut salah satu dari mereka dengan lantang. Ekspresinya merah padam disertai dengan deru nafas yang lebih cepat.

Liya menggigit bibirnya kuat-kuat. “Bukan seperti itu,” bantahnya cepat.

Namun tak ada lagi yang mempercayainya. Bukti yang ditampilkan sudah lebih dari cukup.

Polisi yang sejak tadi mengamati jalannya rapat akhirnya melangkah maju.

“Sekarang kalian bertiga, dimohon untuk kooperatifnya mengikuti proses penyelidikan lebih lanjut.”

“Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini! Aku tidak bersalah!” Liya berteriak, ia terus menggeleng, air matanya bahkan mengalir deras di sertai rasa panik akan bayangan jeruji besi yang nanti menjadi tempat tinggalnya yang baru.

“Tidak bersalah?” Salah satu petinggi perusahaan itu melemparkan map berisi bukti ke wajah Liya. “Semua bukti sudah jelas dan anda masih ingin mengelak.”

Liya mulai meronta saat polisi itu menangkapnya.

“Dio! Katakan sesuatu!”

Namun Dio hanya diam. Tatapannya kosong menatap dinginnya lantai ruang rapat. Seluruh tenaganya telah habis. Membela diri pun rasanya sudah tidak mungkin.

Melihat reaksi rekannya, Liya semakin panik. “Dio!”

“Aku sudah selesai. Perusahaan yang Adrian janjikan tidak berhasil aku dapatkan, dan sekarang justru harus berurusan dengan polisi,” gumamnya.

Kalimat itu seketika membuat Liya membeku.

Sementara itu, kepala keuangan memilih menundukkan kepala tanpa perlawanan.

Polisi mulai menggiring ketiganya keluar.

Saat tepat berada di ambang pintu, langkah Dio berhenti. Pria itu menatap mantan atasannya beberapa detik. Ada rasa bersalah yang samar terlihat di matanya.

“Adrian mungkin sudah pergi saat ini. Pria itu memiliki banyak cara untuk tidak muncul di depanmu,” ucap Dio sebelum akhirnya kembali melangkah pergi.

Melihat situasi yang mulai terkendali, petinggi perusahaan satu persatu berpamitan meninggalkan ruangan. Ada gurat kebahagiaan di wajah mereka karena akhirnya masalah pengkhianatan itu selesai.

Setidaknya, kerugian besar itu tidak benar-benar terjadi dan menghancurkan perusahaan mereka.

Tak butuh waktu lama hingga ruang rapat yang semula penuh orang kembali lengang.

Faresta masih duduk di tempatnya. Tatapannya tertuju pada layar yang telah lama menggelap.

“Kakak?”

Lucas yang baru tiba beberapa saat sebelumnya segera menghampiri Faresta. Ia sempat melihat rekaman tersebut saat tiba di ambang pintu. Meski tidak melihat sepenuhnya, itu sudah cukup untuk membuatnya memahami perasaan Faresta saat ini.

Faresta mengusap wajahnya pelan sebelum menyandarkan tubuh ke kursi. “Aku pikir dia sudah mati.”

Kalimat itu membuat Lucas terdiam, ia juga sempat berfikir hal yang sama dengan Faresta.

“Jadi benar dia dalangnya?” tanya Lucas pelan.

Faresta tertawa pelan. Namun, tawa itu justru terdengar pahit.

“Aku harap bukan," lirihnya pelan.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Nama Adrian seolah membawa mereka kembali pada kenangan yang selama ini terkubur.

“Apa kalian sudah selesai mengenang masa lalu? Bukankah ada orang yang kondisinya jauh lebih mengkhawatirkan saat ini?”

Faresta dan Lucas serempak menoleh.

Elara berdiri di dekat Arga yang masih berusaha bertahan dengan wajah pucat dan tubuh penuh luka.

“Kak Lucas itu seorang dokter, kan?” Elara menatap Lucas dengan kening berkerut.

“Kalau begitu, berhentilah bertindak seperti pasien dan lakukan pekerjaanmu,” ujar Elara dengan sedikit kesal.

Lucas terkesiap, ini pertama kalinya ia mendengar nada kesal dari suara Elara. Sejak mengenal gadis itu, Elara selalu bicara dengan tenang. Bahkan terkadang terlalu tenang sampai sulit untuk menebak apa yang sebenarnya ia pikirkan.

Lucas terkekeh pelan, sambil menggelengkan kepala. “Baiklah, Nona Elara.”

Pria itu kemudian berjalan mendekati Arga. “Ayo ikut dengan ku. Aku akan memeriksa kondisimu yang mengenaskan ini.”

Arga tampak sedikit canggung, tetapi ia tetap mengangguk dan mengikuti Lucas keluar dari ruang rapat.

“Kakak ingin menemui pria itu?” tanya Elara sesaat setelah kepergian Lucas dan Arga.

“Entahlah.” Faresta menatap layar gelap yang sempat memperlihatkan wajah sahabat lamanya.

“Kalau pria itu tidak segera dibereskan, akan ada kekacauan lagi yang mungkin jauh lebih besar.”

Faresta mengernyit. “Maksudmu?”

“Dia… menyimpan dendam dengan keluarga Halvar.”

Mendengar itu, Faresta segera menegakkan tubuhnya. “Itu tidak mungkin.”

“Itu sangat mungkin,” sahut Elara tenang. “Kakak bisa periksa latar belakang keluarga Virel. Lalu coba ingat kembali perselisihan apa yang dulu pernah terjadi antara keluarga mereka dan keluarga Halvar.”

Faresta terdiam. Ia tau ucapan Elara bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, gadis itu berbalik dan menghilang dari hadapannya.

“Tunggu, Elara—”

Kalimat Faresta terhenti. Tatapannya menyapu ruangan kini kosong, hanya ada dirinya seorang di dalamnya.

“Elara?”

Merasa tidak ada jawaban, pria itu hanya bisa memijit pelipisnya pelan.

“Lagi?” Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya. “Setelah mendengar dari mama, sekarang aku melihatnya secara langsung.”

Faresta menggeleng pelan sebelum kembali menatap layar gelap itu lagi.

Kali ini pikirannya tidak lagi tertuju pada Elara yang tiba-tiba menghilang. Melainkan pada Adrian, nama yang baru saja kembali menghantui masa lalunya.

Jika benar apa yang dikatakan Elara… maka masalah yang mereka hadapi hari ini mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

1
lily
menarik.. semoga sampai tamat
Pawon Ana
elara ini lempeng ya ekspresinya....kayak tidak punya emosi🤔
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!