Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
****
Satu bulan berlalu sejak riuhnya godaan jahil Lilianne di paviliun kaca mansion. Waktu berjalan membawa perubahan drastis dalam lingkar sosial dinasti mereka. Di atas sofa beludru ruang tengah, Lilianne bersandar santai seraya menikmati semangkuk buah prem hitam langka dan beri liar impor yang segar. Jemari lentiknya mengusap layar ponsel pintar, menampilkan beberapa foto yang dikirimkan oleh kedua sahabatnya.
Ukiran senyum miring yang anggun menghiasi bibir merona sang nyonya besar. Di layar, tampak foto Rafael Djojodiningrat yang melangkah gagah mendampingi Valeria di sebuah jamuan gala dinner eksklusif. Kakak keduanya itu secara terang-terangan melancarkan courtship gaya bangsawan yang intens dan protektif, membuat Valeria tak lagi berkutik. Sementara itu, foto lain memperlihatkan Gabriel yang terduduk tenang di sebuah pameran seni privat bersama Clarissa, terlibat diskusi hangat mengenai lukisan klasik bernilai miliaran rupiah.
"Rupanya perkelahian kecil di paviliun kaca waktu itu membuahkan hasil," gumam Lilianne pelan, terkekeh anggun melihat perkembangan manis romansa kakak-kakaknya.
Namun, mengesampingkan kebahagiaan para sahabatnya, batin Lilianne sendiri masih diliputi gejolak yang sukar dijelaskan. Meskipun peristiwa trauma dan insiden racun Widya telah dibersihkan secara mutlak, Lilianne mendadak diliputi rasa kesal yang tak beralasan pada Arya Sena. Bukannya membaik, perang dingin yang ia lancarkan justru terasa makin kekanak-kanakan. Lilianne mendadak rentan berubah suasana hati, mudah sensitif, dan sering bersikap merajuk layaknya anak kecil yang menginginkan perhatian mutlak—sebuah perubahan sikap yang teramat kontras dibanding keanggunan dinginnya yang biasa.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam tatkala deru mesin sedan hitam berpenjagaan ketat terdengar berhenti di pelataran.
Raden Mas Arya Sena melangkah masuk menembus pintu ganda mansion. Tubuh tegapnya yang terbalut jas kustom abu-abu gelap tampak sedikit lelah usai menyelesaikan negosiasi akuisisi lintas negara. Namun, keletihannya seketika menguap tatkala netra kelamnya menangkap pendar lampu remang di ruang keluarga lantai atas.
Dengan langkah tegap yang halus di atas marmer, Arya menaiki tangga menuju area pribadi mereka. Pria itu menyingkap pintu ganda kamar utama perlahan, dan alangkah terkejutnya ia tatkala menemukan Lilianne masih terduduk bersandar di atas ranjang king size, memegang majalah mode tanpa menyentuh kasurnya.
Arya menghentikan langkahnya sejenak, alis tegasnya bertaut heran. "Lilianne? Kenapa belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam."
Lilianne tidak menoleh penuh, hanya melirik sekilas dari balik halaman majalahnya. "Belum ngantuk," sahut Lilianne seadanya, suaranya mengalun datar, ketus, namun terselip nada merajuk yang halus.
Arya menghembuskan napas pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang amat hangat. Sejak malam penyatuan mereka satu bulan lalu, Arya tak pernah lagi mau mengalah tidur di kamar sayap timur. Meskipun Lilianne telah berulang kali menyuruh suaminya kembali ke ruang kerja demi mempertahankan benteng gengsinya, Presdir Soerjoatmodjo itu selalu menemukan seribu satu alasan untuk tetap menyelinap tidur di ranjang yang sama—memeluk dan menempel pada tubuh permaisurinya sepanjang malam dengan alasan ingin memastikan Lilianne tidak kedinginan.
Arya melepaskan kancing jasnya, menaruh arloji mewah di meja rias, lalu melangkah mendekati tepi tempat tidur. Pria jangkung itu memiringkan tubuhnya, hendak meraih tubuh ramping istrinya untuk memberikan kecupan penenang yang biasa ia lakukan setiap kali pulang beraktivitas.
"Saya minta maaf karena pulang terlambat, Sayang. Pertemuan di holding sedikit memanjang—"
"Mas Arya, stop! Jangan mendekat!" pangkas Lilianne mendadak, suara melengking tipisnya memotong kalimat Arya secara drastis.
Arya membeku seketika di tempatnya. Satu kakinya bertumpu di tepi ranjang, tangannya terulur di udara. "Ada apa, Lilianne?"
Saat Arya memajukan tubuhnya satu digit lagi untuk meraih pergelangan tangan istrinya, aroma khas yang melekat di tubuh Arya—perpaduan parfum leather-tobacco berkelas, kehangatan keringat maskulin, dan rempah pekat—menyapu mendadak ke dalam indra penciuman Lilianne.
Seketika itu juga, isi perut Lilianne serasa bergejolak hebat!
Rasa mual yang teramat parah dan tajam mendadak menyeruak naik menghantam tenggorokannya. Wajah anggun Lilianne seketika pucat pasi. Ia refleks menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya hijau jernihnya membelalak kesakitan.
"Ugh... Hoeek!"
"Lilianne?!" seru Arya panik luar biasa. Keangkuhan sang Presdir luluh seketika saat melihat istrinya dorong tubuhnya keluar dari kasur.
Lilianne tidak sempat memprotes. Dengan rasa mual yang membakar dada, ia turun dari kasur secara terburu-buru, melangkah setengah berlari menuju kamar mandi utama.
Brak!
Pintu kamar mandi terdorong. Lilianne berlutut di depan wastafel marmer hitam, meluapkan mual hebat yang meremas perut rata di balik gaun satinnya—Hoeek... khh! Namun, alih-alih makanan, yang keluar hanyalah cairan asam lambung yang bening dan menyiksa tenggorokannya.
Arya bergegas berlutut di samping Lilianne tanpa peduli kemeja mewahnya yang mulai kusut. Jemari kekarnya yang gemetaran memegangi rambut blonde Lilianne agar tidak terkena bilasan air, sementara tangan sebelahnya memijat lembut tengkuk leher dan punggung halus istrinya dengan ketelitian penuh cemas.
"Ssshh... keluarkan semuanya, Sayang... Keluarkan," bisik Arya parau, raut wajah tampannya diliputi ketakutan murni. "Di mana yang sakit? Perutmu? Dadamu?"
"Ugh... hoeek!" Lilianne menyiram wastafel dengan air dingin, tubuhnya lemas terkulai pasrah di dalam dekapan dada bidang Arya yang menopang berat badannya dari belakang.
Napas Lilianne tersengal-sengal memburu, dahi mulusnya dibasahi peluh dingin. Namun, saat Arya mencoba menundukkan kepala untuk mencium keningnya dan membantunya berdiri, bau aroma tubuh Arya kembali terhirup oleh Lilianne.
Lilianne refleks mendorong dada tegap Arya dengan sisa tenaganya yang lemah. "Mas Arya... menjauh! Bau sekali!"
Arya tersentak hebat, matanya membelalak tak percaya. "B-bau? Lilianne, saya baru saja memakai parfum favoritmu..."
"Tidak mau! Bau parfummu membuatku mual parah!" seru Lilianne merajuk seraya menyembunyikan wajahnya di balik lengan tangannya sendiri, matanya berkaca-kaca ditelan rasa ngilu dan kelelahan. "Pergi mandi sekarang... ganti kemejamu! Jangan dekat-dekat aku!"
Melihat reaksi menantunya yang begitu sensitif, tidak rasional, dan tiba-tiba membenci aroma tubuh suaminya sendiri, sebuah pemikiran intuitif yang teramat dahsyat mendadak melintas di dalam benak Arya Sena.
Memori tentang perbincangan ibunya—Ibu Gayatri—serta tanggal siklus bulanan Lilianne yang terlambat hampir dua minggu seketika meledak tajam di kepalanya.
Jantung sang Presdir mendadak berdegup dengan ritme yang sangat kencang, bukan karena cemas akan penyakit, melainkan oleh gelombang harapan dan keharuan yang mendalam.
*****
BERSAMBUNG
Hmmm jangan jangan xixiixix nungguin yaa...
Hai man teman, gimana nih cerita author satu ini, apakah kalian menikmatinya hmmmm
Tolong komen kasih saran kritik atau masukan apapun untuk author bisa memperbaikinya dan semangat nulisnya yaa xixixixi ..
Lopp you semuanya
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
i got you 🔥🔥🔥
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥