Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Penjaga Palu Dewa
Satu hari berlalu, Su Yu akhirnya membuka matanya. Fondasinya sudah mantap, jadi relatif aman jika terkena tekanan. Ia bangkit perlahan, merasakan setiap otot di tubuhnya merespons lebih cepat daripada sebelumnya.
Xioutian yang tertidur lelap di lantai altar segera terjaga. Burung kecil itu menggeliat, lalu mengepakkan sayapnya dan terbang mendekati tuannya.
"Tuan, apa kau akan memulainya sekarang?" tanyanya sambil menatap wajah Su Yu dengan cemas.
Su Yu mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. Matanya tertuju ke arah tangga ujian ketiga yang ujungnya tertutup kabut hitam pekat.
"Benar. Aku tidak akan menunda lebih lama lagi."
Xioutian ikut menatap ke atas. Kabut hitam itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang berani mendekat. Burung tersebut menoleh kembali ke arah tuannya.
"Aku benar-benar berharap kau berhasil, Tuan."
Su Yu melangkah mendekati anak tangga pertama.
"Terima kasih. Tunggu aku kembali."
"Baik. Hati-hati." Seru Xioutian sambil mengepakkan sayapnya sekali, lalu mendarat kembali di lantai altar.
Su Yu mengangguk pelan tanpa menoleh. Begitu telapak kakinya menapaki undakan pertama, sesuatu yang janggal langsung menyentuh kesadarannya. Tekanan yang seharusnya menghantam tubuhnya justru terasa sangat lemah, nyaris seperti tiupan angin halus.
Ia mengernyitkan dahi, tetapi tidak berhenti. Langkahnya justru semakin cepat. Anak tangga kedua, ketiga, kelima, kesepuluh... semuanya terlewati tanpa hambatan berarti.
Xioutian yang menyaksikan dari bawah membelalakkan matanya. "Tuan sudah mencapai tangga kelima puluh... bahkan dia berlari!"
Su Yu memang berlari. Kekuatan di kakinya terasa ringan, seolah-olah ada energi tak terlihat yang mendorong tubuhnya ke atas. Dalam sekejap, ia sudah melewati tangga kedelapan puluh. Namun di titik itulah langkahnya mulai melambat secara drastis.
"Ugh... apa ini..."
Tubuhnya mendadak terasa berat, seperti ada gunung yang perlahan menimpanya dari atas. Ia memaksakan diri melangkah ke tangga kedelapan puluh satu, lalu kedelapan puluh dua. Setiap pijakan kini membutuhkan usaha luar biasa.
Xioutian dari bawah hanya bisa melihat samar. "Sukurlah... kupikir akan mudah terus sampai atas. Ternyata tekanan sesungguhnya baru dimulai di sana."
Sementara itu Su Yu terus berjuang.
Pada tangga kesembilan puluh, ia tidak mampu lagi berdiri. Kedua lututnya jatuh ke permukaan batu, lalu ia mulai merangkak. Tempurung lututnya terasa seperti akan retak, sendi-sendinya seolah-olah hendak terlepas dari tempatnya. Darah mulai mengalir dari kedua telapak tangan dan lututnya yang menjadi tumpuan.
"Aku... tidak boleh... berhenti..." desisnya dengan napas tersengal.
Ia merangkak melewati tangga kesembilan puluh satu, sembilan puluh dua, sembilan puluh tiga... Setiap undakan memeras sisa tenaganya. Kabut hitam di sekelilingnya semakin pekat, menelan pandangan ke arah bawah maupun atas. Su Yu tidak bisa lagi melihat apa pun kecuali pijakan batu di hadapannya.
Xioutian yang menunggu di altar hanya bisa memandangi kabut hitam yang kini menutupi sosok tuannya sepenuhnya.
"Tuan... kau pasti bisa..."
Di dalam kabut itu, Su Yu terus merangkak dengan sisa kesadaran yang nyaris padam. Pada tangga kesembilan puluh sembilan, tubuhnya sempat terhenti. Kedua lengannya bergetar hebat, keringat bercampur darah membasahi batu di bawahnya.
"Ayo... bangkitlah..."
Ia mendorong tubuhnya ke depan dengan sisa tenaga terakhir. Satu undakan lagi... Satu undakan terakhir...
Tap!
Telapak tangannya menyentuh lantai datar.
"Akhirnya..."
Su Yu lalu merangkak hingga sepenuhnya di altar, lalu ia tengkurap, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang tenggelam. Setelah beberapa saat, ia mencoba bangkit dengan susah payah. Kedua lengannya gemetar, tetapi ia berhasil berdiri tegak, kemudian menatap sekelilingnya.
Altar itu tidak kosong seperti yang ia duga. Di tengahnya berdiri sebongkah batu abu-abu persegi, dan di atasnya melayang palu hitam kemerahan yang memancarkan aura kuno nan berat. Palu itu tampak sunyi, tetapi ada getaran aneh yang keluar darinya, seperti dengungan lebah raksasa yang tak kasat mata.
Wush!
Pria tua itu muncul di samping palu tersebut. Wajahnya tidak lagi tenang seperti sebelumnya. Kali ini ada seringai lebar terukir di bibirnya.
"Selamat karena berhasil menyelesaikan tiga ujian sekaligus." Suaranya terdengar berbeda, lebih dalam dan penuh kemenangan. "Dan... terima kasih banyak."
Su Yu menatap pria itu dengan kening berkerut. Sebelum sempat ia menjawab, empat rantai hitam tiba-tiba meluncur dari udara di belakangnya.
Klak!
Rantai-rantai itu tidak menembus dagingnya, tidak pula menghasilkan darah. Mereka masuk begitu saja ke dalam tubuh Su Yu dan mengikatnya dari dalam. Pemuda itu tersentak hebat, kedua matanya melebar sempurna.
"Arghhh!"
Teriakannya menggema ke seluruh ruangan. Ia menoleh ke belakang, melihat rantai-rantai itu mencengkeram punggungnya, lalu kembali menatap ke depan dengan napas memburu.
"Senior... apa arti semua ini?!" bentaknya dengan suara yang bercampur kemarahan dan kepanikan.
Pria itu tidak menjawab. Tangannya terentang ke samping, ekspresinya berubah menjadi sangat puas.
"Hahahaha... akhirnya... akhirnya aku terbebas dari belenggu abadi! Hahahaha!"
Tawa itu memenuhi seluruh aula. Lalu rantai serupa menampakkan wujudnya, yang menancap di punggung pria tersebut. Satu per satu rantai itu terlepas, jatuh ke lantai batu dengan suara keras.
Klang!
Klang!
Klang!
Begitu rantai terakhir putus, tubuh tua pria itu berubah di hadapan mata Su Yu. Keriput di wajahnya lenyap, rambut putihnya berubah hitam pekat, posturnya menegak menjadi pria muda awal tiga puluhan yang gagah. Matanya tajam seperti elang, sementara aura yang keluar dari tubuhnya begitu menekan hingga Su Yu nyaris terjatuh.
Su Yu mengertakkan gigi melihat perubahan itu. Ia mulai menghubungkan semua petunjuk sejak awal. Suara panggilan yang hanya ia dengar. Tawaran warisan karena dianggap terpilih. Sikap pria tua itu yang tidak marah ketika Xioutian berlaku lancang. Senyum-senyum aneh yang sesekali muncul. Semuanya kini menjadi jelas.
"Jadi benar," ucap Su Yu dengan suara yang bergetar oleh amarah. "Kau ternyata menjebak kami sejak awal."
Pria itu berhenti menatap tubuhnya sendiri, lalu mengalihkan pandangannya kepada Su Yu. "Tidak sepenuhnya. Buktinya kau mendapatkan warisan teknik sebelumnya."
Mata Su Yu menyipit. "Lalu untuk apa semua ini? Apa maksudnya terbebas dari belenggu abadi?"
Pria itu menurunkannya tangannya, lalu menyilangkan kedua lengannya di depan dada. "Bocah, kau terlalu penasaran. Tapi baiklah, sebagai penjaga yang baru, kau berhak tahu kebenarannya."
Pria itu menunjuk ke arah palu hitam kemerahan yang masih melayang diam di atas batu abu-abu persegi. Ujung jarinya hampir tidak menyentuh permukaan palu itu, tetapi aura dingin langsung merambat ke seluruh ruangan.
"Kau harus menjadi penjaga palu ini sampai harta tersebut kembali ke sisi sang dewa agung."
Su Yu terpaku mendengar kalimat itu. "Penjaga? Aku tidak pernah menyetujui hal seperti ini."
Pria itu tersenyum tipis, tetapi kali ini senyumnya tidak hangat. "Dewa tida butuh persetujuanmu. Kau sudah terikat. Rantai yang masuk ke dalam tubuhmu itu adalah rantai penjaga, ciptaan para dewa dari zaman awal. Selama palu itu belum kembali ke sisi pemiliknya, kau akan tetap terikat di dalam tempat ini."
Su Yu mengepalkan kedua tangannya. Amarah dan penyesalan bercampur di dalam dadanya, tetapi ia tidak menyerah. "Berapa lama aku harus tinggal di sini?"
Pria itu mengangkat bahu dengan sikap acuh. "Sampai palu itu memutuskan untuk pergi. Bisa sepuluh tahun atau seribu tahun. Tidak ada yang tahu."
Xioutian yang masih berada di bawah tiba-tiba berseru dari kejauhan. Suaranya terdengar samar, tetapi mengandung kemarahan yang jelas.
"Tuan apa yang terjadi?!"
Pria muda itu menoleh ke arah suara Xioutian, lalu tertawa kecil. "Hehe, burung kecilmu sangat berisik. Apakah kau ingin aku membungkamnya untuk selamanya?"
Su Yu segera menggeleng. "Jangan sentuh dia."
"Baiklah. Kalau begitu, kau yang harus belajar menerima peran barumu."
Pria itu melangkah mundur beberapa langkah, lalu tubuhnya mulai memudar.
"Mulai hari ini, tidak ada lagi ujian atau pilihan. Kau adalah penjaga Palu Dewa Agung... Terimalah takdirmu."
Su Yu berdiri membisu. Rantai di punggungnya terasa seperti menyesuaikan diri ke tubuhnya, tetapi kedua matanya tidak menunjukkan ketertarikan.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔