Indonesia
NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:805
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ksatria Magang Tingkat 2

Carl melangkah mundur, membukakan pintu kayu tua yang berderit nyaring di tengah keheningan desa.

Di sampingnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah kusam dan senyum yang dipaksakan berdiri menunduk.

"Tuan, ini adalah kamar yang telah kami siapkan," kata Carl dengan nada rendah yang bergetar.

"Maaf, mungkin tempat ini agak kotor dan tidak sebaik penginapan di kota. Saya harap kedua ksatria tetap menyukainya."

Simon memindai setiap sudut ruangan sempit itu, yang hanya berisi dua kamar tidur dan 1 lampu minyak kecil.

"Tidak apa-apa. Kami hanya menginap sehari," jawab Simon dengan suara yang tenang.

"Jika Tuan butuh sesuatu, Anda bisa memberitahu saya atau istri saya di bawah," tambah Carl sembari membungkuk pelan.

"Baiklah, aku mengerti," kata Simon singkat. "Terima kasih."

Carl memberikan anggukan terakhir sebelum berbalik pergi bersama wanita itu. Begitu langkah kaki mereka menjauh, Gogo langsung melempar tasnya ke lantai dan terbatuk-batuk hebat.

"Uhuk! Uhuk! Astaga, Simon! Banyak sekali debu di sini," keluh Gogo sembari mengibas-ngibaskan tangannya di udara.

"Apakah mereka tidak pernah membersihkan tempat ini selama bertahun-tahun?"

"Bertahanlah, Gogo. Kita cuma sehari di sini," kata Simon sembari berjalan menuju jendela.

Namun, pandangannya mendadak terpaku pada noda gelap yang meresap di celah lantai kayu dekat tempat tidur.

"Apa ini?"

Warnanya merah agak cokelat kehitaman, tidak salah lagi, ini adalah darah yang sudah lama mengering!

"Darah?" Bisik Simon.

Gogo mendekat, wajahnya memucat saat menyadari apa yang dilihat Simon.

"Simon... itu darah? Mengapa kau tetap bersikeras kita menginap di sini padahal kau tahu desa ini sangat aneh?" bisik Gogo dengan nada cemas.

Simon tidak menoleh. Ia tetap waspada.

"Jika kita lari sekarang, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini." Kata Simon.

"Kau benar, tapi aku sedikit takut." Gogo mengaruk tangannya.

"Kenapa takut? Kita kan ksatria, apa yang perlu di takuti ksatria?"

Simon melihat Gogo sedikit tertawa.

.....

Sementara itu di ruangan lain, seorang wanita paruh Baya itu dan Carl sedang berbincang.

Wanita itu mencengkeram lengan Carl dengan kuat, wajahnya menunjukkan kegelisahan.

"Carl, apakah benar-benar aman membiarkan dua ksatria itu tinggal di sini? Mereka tampaknya adalah prajurit yang terlatih. Bagaimana jika rencana kita gagal?" bisik wanita itu dengan suara tertahan.

Carl menyeringai tipis, gigi ompongnga terlihat menyeramkan, memperlihatkan aura gelap yang berbeda dari sosok kepala desa yang ramah tadi.

"Tenanglah. Kita punya Edie di sini. Dia juga seorang ksatria, apakah kamu lupa? Dengan Edie disini apa yang kamu takutkan."

Wanita paruh Baya itu juga akhirnya inggat bahwa tuan Edie juga ikut dalam acara ini.

"Benar, Edie adalah ksatria magang tingkat 3, 1 langkah lagi menuju ksatria formal, dengan kekuatan tuan Edie seorang ksatria rendahan tidak mungkin bisa mengalahkannya."

"Lagipula aku tidak sebodoh itu membiarkan Meraka menetap," Carl memperlihatkan sebuah botol kecil di hadapan wanita paruh baya itu.

"Kita akan membuat jamuan untuk mereka terlebih dahulu sembari mencampurkan obat tidur dengan dosis tinggi ini ke dalam minuman mereka. Setelah mereka tidak berdaya, kita akan menyeret mereka ke altar dan mengorbankan mereka kepada Dewi Sunyi."

"Adapun jika gagal, masih ada Edie yang mengurusnya" senyum jahat Carl

Malam hari tiba dengan cepat, menyelimuti Desa Maple dalam kegelapan yang menekan.

[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]

Simon dan Gogo sedang berlatih teknik pernafasan masing-masing.

Tubuh Simon memukur udara, sebelum kemudian tubuhnya jauh mengeliuk seperti ular.

[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]

Di sebelahnya Gogo sedang berlatih teknik pernafasan keluarganya, itu adalah teknik pernafasan Badak Batu , milik keluarga Stone, efek dari metode ini adalah tubuh bisa sekuat batu yang keras.

Tuk! tuk!

Suara ketukan pintu yang teratur memecah meditasi Simon dan Gogo,

Mereka berenti melakukan meditasi.

Gogo membuka pintu dan mendapati wanita paruh baya tadi berdiri di sana membawa lampu minyak.

"Tuan-tuan ksatria, makan malam sudah siap di bawah. Suami saya sudah menunggu," ucap wanita itu dengan nada monoton.

Gogo menoleh ke Simon menunggu jawaban, Simon mengangguk memberi isyarat pada Gogo untuk tetap tenang.

"Baiklah, tunggu sebentar kami akan siap-siap." Kata Gogo.

Setelah Mereka siap, mereka bertiga turun bersama ke bawah.

Sesampainya di sana , mereka berdua melihat ruang makan yang hanya diterangi beberapa lilin serta makanan yang cukup sederhana.

Perhatian Simon teralih ke tempat duduk di samping Carl, ia melihat Carl duduk bersama seorang pria lain yang tampak kekar dengan senyum lebar ia mengangguk kepada Simon.

"Silakan duduk, Tuan-tuan! Ini adalah hidangan terbaik yang bisa kami sajikan di tengah wabah ini," sambut Carl.

"Terimakasih, pak Carl maaf merepotkan" kata Simon.

"Tidak merepotkan, tidak merepotkan, ayo duduk dulu." Kata Carl sambil membantu melonggarkan kursi untuk Simon dan Gogo.

Sesi makan malam itu berjalan dengan percakapan yang terasa sangat panjang dan kaku. Carl terus menceritakan tentang kesulitan desa, sementara Edie sering kali menatap otot lengan Simon dengan pandangan lapar yang aneh.

"Jadi, bagaimana rasanya melatih teknik pernapasan di bawah naungan Baron?" tanya Edie sembari memotong dagingnya dengan kasar.

"Kudengar latihan itu sangat menyiksa fisik bagi seorang ksatria."

Simon menyesap minumannya hanya sedikit.

"Latihan memang berat, tapi dunia ini jauh lebih berat bagi mereka yang lemah," jawab Simon singkat.

'menarik' Pikir Edie.

"Hoo, begitu kah, aku harap aku bisa menjadi ksatria seperti kalian." Kata Edie sambil menuangkan minuman ke Simon.

"Kamu pasti bisa" kata Simon.

Setelah selesai makan, mereka kembali ke kamar.

Belum lama duduk, Gogo tiba-tiba memegangi perutnya.

"Aduh, Simon... aku kebelet pipis. Efek sup tadi sepertinya mulai terasa."

"Astaga apakah perlu ku temenin?" Tanya Simon dengan khawatir.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri, baiklah ke belakang sebentar, ya," pamit Gogo terburu-buru keluar ruangan.

Simon berdiri diam di tengah ruangan, merasakan firasat buruk.

Benar saja.

Tiba-tiba, suara teriakan Gogo yang ketakutan memecah kesunyian malam.

"TOLONGG! SIMON!"

Mendengar itu Simon segera menendang pintu kamarnya hingga hancur dan berlari keluar.

Di lorong remang menuju bagian belakang rumah, ia melihat Gogo sudah terkapar tidak sadarkan diri di tanah.

"Gogo!" Teriak Simon.

Lima pria mengenakan jubah hitam pekat dengan simbol aneh mengepung tubuh Gogo.

"Siapa kalian?!, apa yang kalian lakukan pada Gogo?" Tanya Simon.

Melihat Simon datang, para pria berjubah itu langsung menghunus belati beracun mereka.

"Satu lagi tumbal yang segar! kamu akan menjadi berikutnya!" teriak salah satu dari mereka sembari menerjang Simon.

Melihat pria di depannya menyerang, ia segera menghindari serangan pria itu dengan lincah.

Sshhh...

Simon meliuk menghindari tebasan belati, lalu membalas dengan pukulan bertenaga yang menghancurkan tulang rusuk penyerang pertama.

"Ahh!" Teriak pria berjubah itu.

[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]

Pria lainnya kaget dengan kekuatan Simon.

"Dia seorang ksatria, mari serang besama!" 4 sisa lainnya menyerang Simon secara membabi buta.

Melihat gerombolan itu, Simon tersenyum, 'bagus ini memudahkanku'

Simon bergerak bagai bayangan di antara sisa penyerang lainnya, setiap gerakannya sangat presisi dan mematikan, mengenai titik vital lawan, tidak perlu memakai pedang hanya tinju nomor 1.

[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]

Segera arus deras energi menyelimuti Simon, energi kekerasan ini menempa tubuh Simon, terakhir kali hal ini terjadi saat dirinya naik menjadi ksatria magang.

Simon memukul bangunan di sampingnya.

Bumm!

Tembok itu segera retak, dan meninggalkan bekas pukulan Simon.

"Luar biasa, jadi ini kekuatan ksatria magang tingkat 2, kekuatan fisik meningkat lebih tinggi dari sebelumnya!"

"Kekuatanku rata-rata telah mencapai 3000 pon!"

'Buka panel'

Nama: Simon Blake

Pekerjaan: Ksatria Magang Tingkat 2

Keterampilan:

Pernafasan Ular Hitam (Menengah): 0/300 Pedang Silang (Dasar): 5/200.

Astaga batasan ketrampilan tempur ku makin hari makin gila, aku harus mengumpulkan kemahiran pernafasan ular hitam hingga 300 poin untuk meningkatkannya lagi?

"Tidak bisa lagi dengan cara normal, aku harus ke pasar gelap setelah misi ini selesai!"

Setelah menumbangkan kelima pria itu dalam waktu singkat, Simon segera mengangkat tubuh Gogo yang pingsan ke atas bahunya.

"Sialan... Gogo, kau benar-benar harus diet. Berat badanmu ini hampir membunuhku," untung saja aku baru di promosikan." keluh Simon sembari terengah-engah menahan beban tubuh rekannya itu.

Simon melompat keluar melalui jendela belakang, tepat ketika ia keluar suara keras terdengar.

"Cari mereka! Mereka tidak mungkin lari jauh!" teriak suara Carl yang penuh amarah.

Ups!

Simon segera bersembunyi di balik rimbunnya semak-semak di pinggiran hutan, menjauh dari rumah Carl.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki ramai terdengar mendekat.

"Obat tidurnya seharusnya sudah mulai bereaksi sekarang! Mereka pasti akan segera lumpuh di tengah jalan! Jangan biarkan tumbal berharga ini lepas!" Kata Carl

"Baik tuan Carl !!" Jawab beberapa orang berjubah hitam.

"Ternyata makanannya sudah di racuni?!, sial bro sepertinya kita harus tetap disini"

Simon segera mengecek tubuhnya, dan tidak menemukan hal aneh.

"Tapi, kenapa sekarang aku tidak pingsan seperti gogo? Apakah karena racun itu telah di tekan akibat promosiku tadi?"

Simon tetap diam dalam kegelapan, matanya yang merah mengawasi gerak-gerik para anggota sekte yang sedang mencarinya di bawah cahaya obor. Ia tahu, ini akan menjadi malam yang sulit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!