Indonesia
NovelToon NovelToon
DAMAR: Si Pemandu Arwah

DAMAR: Si Pemandu Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Perangkap

Dinding-dinding batu tebal peninggalan abad ke-19 berdiri kokoh melingkupi kompleks Benteng Tua Willem. Di bawah naungan langit malam Sektor Tiga yang tanpa bintang, bangunan tua itu tampak seperti raksasa tidur yang diselimuti lumut dan trauma masa lalu.

Udara di sekitarnya terasa amat dingin, menusuk hingga ke tulang Damar saat armada 000 melindas lantai pelataran utama yang berbatu koral.

"Sektor Benteng Tua!" seru Damar melalui mikrofon, memecah keheningan yang tegang setelah perdebatannya dengan Madam Helga. "Lokasi pertahanan bersejarah sekaligus tempat transit khusus untuk rombongan Mayor van Der Berg."

Mayor van Der Berg berdiri dari kursinya. Tangannya bertumpu kaku pada gagang pedangnya, matanya yang memancarkan pendar kebiruan menatap lurus keluar jendela.

Luka bakar di pipinya bergetar pelan, merespons kenangan pahit yang tersimpan di balik tembok-tembok tebal tersebut.

"Pelataran tengah," bisik van Der Berg, suaranya serak dan berat. "Di sanalah Batalyon saya mengepung posisi terakhir ... sebelum semuanya hancur."

Madam Helga melangkah keluar dari balik gorden hitamnya. Kipas sutranya mengapit kaku di jemari. Meskipun ketegangan antara dirinya dan Damar telah mencair, aura waspada yang pekat menyelimuti gerak-geriknya.

"Ada yang salah dengan tempat ini, Damar," kata Madam Helga pelan. Matanya menyipit, memperhatikan kabut hitam rapuh yang mengambang tidak alami di atas struktur benteng. "Aroma sihir di udara ini ... bukan peninggalan arwah lokal."

Sebelum Damar sempat merespons, sebuah getaran hebat menghantam lantai Armada 000.

BOOM!

Roda-roda raksasa bus mendadak terkunci mati. Mesin gaib berdentum keras, memercikkan api kebiruan sebelum akhirnya mati total.

Seluruh lampu indikator di dalam bus padam seketika, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh pendar redup tubuh para penumpang hantu.

BRRRRRRRINNGG!

Empat pilar cahaya berwarna keperakan meledak dari empat sudut pelataran benteng! Cahaya itu menjulang tinggi ke udara, lalu saling terhubung membentuk kubah jaring energi berbentuk belah ketupat yang mengurung seluruh area benteng dan menyegel Bus 000 di titik tengahnya.

"Perangkap!" jerit Marlina panik, merapatkan tubuhnya ke kursi.

"Seluruh penumpang, tetap di posisi masing-masing!" teriak Damar kencang seraya memegang tiang panggung agar tidak jatuh.

Di luar bus, di atas panggung batu bekas menara pengintai benteng, melayang sosok Gabriel. Pria berjas abu-abu keperakan itu berdiri anggun seraya memutar tongkat peraknya.

Di belakangnya, puluhan agen Eternity Horizon berseragam taktis kelabu berdiri mengepung pelataran dengan memegang segel perak penyegel jiwa.

"Selamat datang di jebakan taktis kalian, Last Trip Express!" Tawa Gabriel bergema nyaring, diproyeksikan oleh sihir penguat suara. "Apa kalian menyukai arena baru kalian? Segel Empat Pilar Aether—dibuat khusus untuk menetralisir entitas tingkat tinggi!"

Madam Helga menggeram dingin. Wajah cantiknya mengeras kaku oleh amarah mutlak. "Musang tengik tidak tahu diri!"

Madam Helga mengibaskan gaun hitamnya, melayang keluar menembus pintu bus yang terbuka secara paksa. Kipas sutranya terbuka penuh, memancarkan gelombang sihir keemasan yang sangat besar ke arah kubah perak di atasnya.

"Hancur!" bentak Madam Helga, melemparkan bilah api sihir raksasa.

BLAR!

Namun, bukannya menghancurkan kubah perak tersebut, ledakan sihir Madam Helga justru terserap sepenuhnya oleh jaring energi Aether. Empat pilar di sudut benteng berkilat terang, lalu memantulkan kembali gelombang energi tersebut dalam bentuk rantai-rantai perak beracun yang meluncur deras menghantam Madam Helga!

CRACK!

"Aargh!" rintih Madam Helga keras.

Rantai-rantai perak gaib membelit kedua pergelangan tangan, leher, dan pinggang Madam Helga, mengunci tubuh anggunnya di udara.

Pendar sihir keemasan yang biasanya menyelimuti sang pemilik agen seketika padam, tergantikan oleh segel keperakan yang menggerogoti energi gaibnya.

"Madam!" jerit Damar histeris dari pintu bus. Ia hendak berlari keluar, namun gelombang tekanan energi Aether menolak tubuh manusianya, membuatnya terpental kembali ke dalam interior bus.

"Jangan bodoh, Helga!" Tawa Gabriel pecah, penuh kemenangan dan keangkuhan. "Segel Aether ini dirancang khusus oleh Dewan Gaib Pusat untuk menyegel pemilik agen yang membangkang! Semakin keras kau menggunakan kekuatan sihirmu, semakin dalam rantai itu menyedot daya hidupmu sampai kau menjadi patung batu tanpa jiwa!"

Madam Helga tergantung di udara, napas gaibnya terengah-engah. Wajahnya memucat dramatis, matanya yang tajam menatap Gabriel dengan kebencian yang mendalam.

Namun, secara refleks, tatapan mata Madam Helga beralih menatap Damar di pintu bus, sebuah tatapan yang untuk pertama kalinya memancarkan keputusasaan dan rasa cemas akan keselamatan sang pemandu.

"D-Damar," lirih Madam Helga lemah dari udara, suaranya nyaris tak terdengar. "La-lari ... bawa bus ini ... keluar ...."

Gabriel melayang turun, mendarat perlahan di pelataran batu di depan Bus 000. Para agen Eternity Horizon merapat, mengarahkan tongkat penyegel mereka ke arah jendela-jendela bus.

"Permainan selesai, Pemikat Jiwa Amatir," kata Gabriel dingin seraya menunjuk ke arah Damar dengan tongkat peraknya. "Tanpa sihir wanita itu, kau cuma seorang manusia lemah yang terperangkap di alam mati. Serahkan seluruh manifes penumpang dan kunci Armada 000 sekarang juga, atau aku akan membiarkan agen-agenku meleburkan seluruh arwah di dalam bus itu menjadi energi mentah!"

Di dalam bus, kepanikan massal meledak seketika.

"Kekuatan Madam Helga disegel!"

"Bagaimana ini? Kita tidak punya pelindung lagi!"

"Kita akan dileburkan!"

Rombongan hantu menangis dan menjerit histeris. Hawa ketakutan pekat memenuhi bus, membuat suhu udara turun ke titik beku. Bahkan Marlina memeluk lututnya di sudut kursi, gemetaran hebat melihat ancaman agen-agen berseragam di luar.

Damar berdiri perlahan di panggung bus, mengusap siku tangannya yang memar akibat terpental tadi. Jantung manusianya berdegup kencang seperti drum perang. Rasa takut yang sangat besar mencoba merayap masuk ke dalam pikirannya.

Madam Helga tertangkap. Mesin bus mati. Sihir pelindung hilang. Dan musuh mengepung dari segala arah.

Dalam hitungan detik, posisi Last Trip Express berada di titik terendah sepanjang sejarahnya.

Damar merogoh saku kemejanya, menarik keluar jam saku Chrono-Compass. Jam emas perak itu berdetik tidak teratur—tik ... tik ... tik ...—pendar cahayanya meredup karena pengaruh segel Aether.

Damar menatap jam tersebut, lalu beralih menatap Madam Helga yang tergantung terikat rantai di udara, dan akhirnya menatap puluhan wajah hantu yang menggantungkan nasib mereka padanya.

‘Kalau Madam gak bisa pakai sihir ... maka cuma strategi dan kepemimpinan manusia yang tersisa buat nyelametin tempat ini,’ batin Damar.

Ketakutan di mata Damar mendadak sirna, tergantikan oleh tatapan mata yang dingin, terfokus, dan penuh tekad.

"Mayor van Der Berg!" panggil Damar dengan suara kencang dan tegas, memotong riuh jeritan para hantu.

Mayor van Der Berg langsung menegakkan tubuhnya, melangkah maju ke panggung depan seraya memberi hormat. "Siap, Petugas Damar!"

"Segel musuh mengunci energi sihir dan mesin," kata Damar cepat, matanya menyapu seluruh peta tata letak Benteng Tua yang terukir di lembar itinerary-nya. "Tapi segel Aether itu cuma bekerja berdasarkan transmisi energi gaib buatan! Bangunan Benteng Tua ini punya struktur saluran drainase bawah tanah dan lorong parit kuno yang bebas dari pilar energi!"

Mata Mayor van Der Berg membelalak. "Saluran air Batalyon ...."

"Tepat sekali!" tegak Damar. "Mayor tau setiap jengkal lorong bawah tanah benteng ini! Kita tidak butuh sihir buat membalas mereka ... kita butuh strategi perang taktis!"

Damar berbalik menatap seluruh penumpang bus, mengambil kembali clipboard-nya dan menekan tombol pengeras suara darurat yang beroperasi dengan baterai internal.

"Dengarkan saya, Semuanya!" seru Damar lantang, suaranya menggelegar menembus ketakutan para arwah. "Madam Helga sudah bertaruh nyawa untuk melindungi kita sampai titik ini! Sekarang giliran kita yang menyelamatkan Madam dan membawa bus ini pulang! Apakah kalian mau menyerah begitu saja pada penindas berjas abu-abu di luar sana?"

"TIDAK!" seru Pak Indra dari barisan belakang, berdiri dengan api keemasan yang mulai menyala kembali di dadanya.

"Kami tidak mau dileburkan!" tambah Marlina, berdiri di samping Pak Indra.

"Bagus!" tegas Damar. Ia menunjuk Mayor van Der Berg. "Mulai detik ini, komando taktis pergerakan berada di bawah Mayor van Der Berg dan saya! Kita akan membongkar perangkap musuh dari dalam!"

Mayor van Der Berg menarik pedang perwiranya dari sarungnya. Bunyi CRING! berdenting nyaring di seluruh interior bus. Pendar kebiruan dari tubuh sang komandan membara terang, dipenuhi semangat tempur yang telah tertidur selama seratus tahun.

"Batalyon Evakuasi Armada 000!" teriak van Der Berg menggelegar. "Dengarkan instruksi Komandan kalian dan Petugas Damar! Kita rebut kembali benteng ini!"

Di luar bus, Gabriel yang menanti kepasrahan Damar mendadak mengerutkan alisnya saat melihat pintu Armada 000 terbuka lebar, bukan untuk menyerah, melainkan memuntahkan gelombang arwah yang kini bergerak dalam formasi militer kaku di bawah pimpinan seorang pemandu tur.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
baru tahu
judulnya gantii yaa 🤔
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
alangkah ajaib nya
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat jalan pak Tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kepuasan seorang manusia yg berguna bagi sesama nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
yaa pasti rinduu laah pak tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!