Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Kalung Emas yang Terputus
Keesokan paginya, Ibu meletakkan seember cucian di depan pintu kamarku.
"Bangun."
Aku baru tidur menjelang subuh. Ketika membuka pintu, ember itu hampir tersenggol kakiku. Isinya seprai, tirai ruang tamu, dan pakaian dari kamar Mbak Laras.
"Mesin cuci masih bisa dipakai," kataku.
"Yang halus dicuci tangan. Biar kamu punya kegiatan daripada mengarang cerita."
Ayah keluar dari kamar. "Endang, jangan mulai lagi."
"Aku menyuruh anak di rumah membantu. Salah?"
"Aku ada jadwal melihat kos," kataku.
"Tidak jadi."
"Ibu nggak bisa membatalkan jadwalku."
"Selama kamu masih tinggal di rumah ini, bisa. Setelah fitnah kemarin, Ibu nggak akan membiarkan kamu keluyuran sesuka hati."
Aku menatap wajahnya. "Aku sudah minta maaf."
"Maaf tidak menghapus aib. Budhe Sari sampai nggak bisa tidur. Mbakmu menangis semalaman."
Pintu kamar Mbak Laras tetap tertutup. Sejak pertemuan berakhir, ia tidak bicara kepadaku lagi.
Ketika aku membawa ember ke belakang, pintu itu akhirnya terbuka. Mbak Laras keluar dengan mata bengkak dan pakaian yang sama seperti kemarin. Ia mengikuti sampai dekat mesin cuci.
"Sekar."
Aku berhenti.
"Mas Damar meneleponku tadi malam," katanya. "Dia bilang kita sebaiknya menunda pembicaraan sampai semua tenang."
"Dia masih nggak menjawab pertanyaan Mbak?"
"Dia bilang nggak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan."
Jari-jariku menekan tepi ember. "Lalu Mbak percaya?"
"Kamu sendiri mengaku bohong. Aku harus percaya yang mana?"
Aku ingin mengatakan percayalah pada ketakutanku. Percayalah pada cara aku selalu mencari pintu setiap Damar masuk ruangan. Percayalah pada calon suamimu yang tidak pernah bisa mengatakan tidak dengan satu kalimat sederhana.
"Percaya apa yang membuat Mbak bisa tidur," jawabku.
Wajahnya terluka. "Kamu kejam."
"Aku lelah."
"Aku juga. Pernikahanku dipertaruhkan, semua kerabat membicarakan kita, dan adikku menolak menjelaskan."
"Aku sudah mencoba menjelaskan."
"Tidak. Kamu melempar tuduhan, lalu menariknya. Itu bukan penjelasan."
Ia benar, dan kebenaran itu menyakitkan. Aku menurunkan ember ke lantai. "Kalau aku bicara lagi, Ibu akan bilang aku mengarang. Pakdhe akan bicara soal nama baik. Damar akan bilang aku stres. Apa Mbak akan mendengarkan sampai selesai?"
Mbak Laras membuka mulut, tetapi suara Ibu memanggil dari depan.
"Laras, jangan ladeni dia!"
Keraguan hanya melintas sebentar di wajah kakakku. Tetap saja aku melihatnya.
"Aku butuh waktu," katanya.
"Aku juga."
Ia kembali ke kamar. Pintu tertutup, tidak dibanting, tetapi bunyinya tetap seperti sesuatu yang dikunci dari sisi lain.
"Kalau begitu aku pergi setelah mencuci."
"Kamu tidak pergi ke mana-mana. Ibu sudah menelepon Bulik Yah. Kalau tingkahmu terus begini, kamu tinggal di rumahnya beberapa minggu. Biar ada yang mengawasi dan mengajarimu sopan santun."
Aku hampir mengira salah dengar. "Ibu mau mengirimku ke rumah kerabat seperti anak kecil?"
"Kalau kamu bersikap seperti anak kecil, ya."
"Aku dua puluh dua tahun."
"Umur tidak membuatmu dewasa."
Ayah berdiri di antara kami. "Tidak ada yang mengirim Sekar ke mana pun."
Ibu menatap suaminya. "Kamu mau dia tinggal di sini setelah mencoba menghancurkan pernikahan Laras?"
"Pernikahan itu belum terjadi," jawabku.
"Dengar! Dia masih berharap batal."
Aku mengambil ember agar tanganku tidak melakukan hal lain. Air dingin di belakang rumah membuat jemari mati rasa. Ibu terus menemukan pekerjaan: menyikat kamar mandi, membersihkan kaca, mengangkat kotak seserahan yang sebenarnya sudah rapi.
Menjelang siang, surel dari Bu Maya masuk.
Keputusan akhir ditunda karena perusahaan sedang meninjau ulang kebutuhan posisi.
Bukan penolakan, tetapi bukan jalan keluar juga. Aku menatap pesan itu sampai huruf-huruf kabur. Kemudian Ibu memanggil dari ruang depan dan menyuruhku menyajikan teh untuk Budhe Sari yang datang lagi.
Perempuan itu duduk di sofa bersama Mbak Laras. Begitu melihatku, pembicaraan berhenti.
"Sudah lebih tenang?" tanyanya.
Aku meletakkan cangkir. "Sudah."
"Kamu harus banyak istigfar. Tuduhan seperti kemarin berat sekali. Kalau sampai keluar, bukan cuma nama Mas Damar yang rusak. Nama Mbakmu juga."
"Namaku bagaimana?"
Budhe Sari berkedip. "Kamu yang mengakui bohong."
Mbak Laras menunduk. Ibu datang mengenakan kalung emas koleksi Dewi. Ia sengaja memilih perhiasan itu, mungkin untuk mengingatkan semua orang pada kehormatan yang diberikan Damar kepada keluarga kami.
"Sekar nggak memikirkan nama baik," katanya. "Dia hanya memikirkan diri sendiri."
"Aku sudah melakukan semua pekerjaan yang Ibu minta sejak pagi. Apa lagi?"
"Nah, dihitung lagi."
"Karena Ibu terus berkata aku nggak berguna."
"Kegunaan bukan cuma mencuci baju. Lihat Mbakmu. Karena dia punya prestasi dan tahu membawa diri, keluarga ini dihormati. Kalung ini bukti calon menantu menghargai kami."
Jemarinya menyentuh emas di leher.
Kalung yang dibuka berulang kali saat Lebaran. Kalung yang memantulkan wajahku ketika aku duduk tanpa hadiah. Kalung yang dipakai Ibu untuk menimbang nilai dua anaknya.
"Itu hadiah Damar," kataku. "Bukan hasil prestasi Mbak Laras."
"Dia memberi karena Laras pantas mendapat laki-laki seperti dia."
Mbak Laras berdiri. "Bu, jangan."
"Kenapa? Ini kenyataan. Ada anak yang memberi kebanggaan, ada yang memberi malu."
Sesuatu di dadaku berhenti berjuang.
Aku menatap Ibu lama. "Kalau begitu, lepaskan aku."
"Apa?"
"Kalau aku cuma memberi malu, biarkan aku pindah. Aku akan cari kerja, bayar hidupku sendiri, dan nggak mengganggu siapa pun."
"Enak saja. Setelah kami membiayai kuliahmu, kamu pergi begitu dapat pekerjaan?"
"Jadi aku harus membayar dengan hidupku?"
"Jangan dramatis. Kamu dikirim ke Bulik Yah sampai sikapmu benar."
Ibu meraih lenganku. Aku refleks menarik diri. Genggamannya mengenai rantai tipis di leherku, tempat kunci laci tergantung. Rantai itu tertarik dan menyakiti tengkuk.
"Lepaskan!"
"Ikut Ibu. Kita kemas barangmu."
Ayah buru-buru memisahkan kami. Budhe Sari ikut berdiri. Mbak Laras memanggil Ibu, tetapi semua suara tumpang tindih.
Tanganku mencari sesuatu untuk menjaga keseimbangan.
Jemariku meraih kalung emas di leher Ibu.
Tarikan terjadi hanya satu detik.
Pengaitnya patah.
Untaian emas terlepas, menghantam lantai, lalu pecah menjadi bagian-bagian kecil. Liontin dan manik emas berhamburan di antara kaki kami. Satu bulatan menggelinding di bawah sofa. Yang lain berhenti dekat sandal Mbak Laras.
Ruangan menjadi sunyi.
Ibu menyentuh leher kosongnya. "Kamu..."
"Aku nggak sengaja."
"Kamu merusaknya!"
Ia berlutut memungut manik-manik dengan tangan gemetar. "Kamu tahu berapa harganya? Ini hadiah Mas Damar. Dasar anak nggak tahu terima kasih!"
Aku memandang emas yang tersebar.
Pada Lebaran, satu kalung utuh membuat Ibu menangis bahagia sementara ketiadaan hadiah untukku dianggap wajar. Kini kalung yang sama terputus di antara kami, dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin membantu merangkainya kembali.
"Keluar," kata Ibu.
Ayah menoleh. "Endang."
"Keluar dari rumah ini! Kalau dia membenci keluarga ini sampai merusak semuanya, suruh pergi!"
"Aku memang akan pergi."
Suaraku tenang. Ketenangan itu bahkan mengejutkanku sendiri.
Aku masuk kamar dan menarik ransel dari atas lemari. Dua stel pakaian, laptop, dokumen kelulusan, obat, dan amplop uang Ayah kumasukkan. Tanganku sempat menyentuh meja dengan laci terkunci.
Kunci masih tergantung di leher.
Gelang giok dan sisa teh ada di dalam, pikirku. Aku tidak sanggup membuka laci di tengah keributan. Foto serta catatan sudah tersimpan di surel. Aku akan kembali bersama Ayah untuk mengambil sisanya ketika rumah lebih tenang.
Aku tidak tahu laci itu sebenarnya sudah kehilangan benda paling pentingnya.
Mbak Laras berdiri di pintu. "Sekar, jangan pergi begini."
"Ibu menyuruhku."
"Ibu sedang marah."
"Ibu selalu marah. Aku selalu diminta menunggu sampai beliau tenang. Kapan giliranku boleh tenang?"
Matanya memerah. "Ke mana kamu mau pergi?"
"Aku punya tempat."
"Rumah Rangga?"
Aku tidak menjawab.
"Kalau kamu pergi ke sana sekarang, semua orang akan bilang tuduhan kemarin memang karena kamu ingin bebas bersama laki-laki lain."
"Mereka sudah memutuskan aku pembohong. Tinggal di sini nggak akan mengubahnya."
Aku mengangkat ransel. Mbak Laras menyingkir perlahan, wajahnya menunjukkan luka yang tak mampu lagi kutenangkan.
Sebelum keluar kamar, kukirim satu pesan kepada Rangga.
Aku pergi dari rumah.
Balasannya muncul sebelum layar sempat padam.
Kirim lokasi. Aku jemput.
Aku menolak jemputan, tetapi membagikan posisi langsung. Setidaknya kali ini ada seseorang di luar rumah yang tahu ke mana aku bergerak dan tidak akan membiarkanku menghilang sendirian.
Di ruang depan, Ibu masih memungut emas. Budhe Sari membantunya. Ayah berdiri dekat pintu dengan mata basah.
"Sekar," katanya. "Tunggu Ayah. Ayah antar."
"Kalau Ayah ikut, Ibu akan menyalahkan Ayah."
"Biar."
Aku ingin menerima. Namun jika Ayah pergi bersamaku, pertengkaran baru akan pecah. Aku memeluknya cepat.
"Aku kabari kalau sudah sampai."
"Uangmu cukup?"
"Cukup."
Ia menggenggam pundakku. "Pulang kapan pun kamu mau. Rumah ini juga rumahmu."
Di belakangnya, Ibu tertawa pahit. "Rumahnya? Setelah dia merusak barang orang?"
Aku melepaskan pelukan.
Pintu depan terbuka. Udara siang menyentuh wajah. Beberapa tetangga sedang berdiri di seberang jalan, jelas tertarik oleh suara keributan.
Untuk sekali ini aku tidak menunduk.
Aku berjalan melewati mereka dengan ransel di bahu, di bawah matahari sore itu. Di belakangku, manik-manik emas masih beradu saat dipungut dari lantai.
Setiap bunyi kecil itu terdengar seperti satu ikatan yang putus.
Aku tidak tahu apakah akan diizinkan kembali.
Namun untuk pertama kalinya, rasa sakit karena meninggalkan rumah lebih ringan daripada rasa lega karena akhirnya memilih diriku sendiri.