Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sementara di seberang meja, Chana dan Filio duduk membeku seperti dua patung es.
Keduanya tidak berani bersuara sama sekali. Lingkaran hitam di bawah mata Filio membuktikan gadis itu tidak bisa tidur semalaman karena paranoid. Sepanjang sarapan, Filio hanya mengaduk-aduk bubur di mangkuknya tanpa selera, sesekali melirik Tania dengan tatapan penuh rasa takut yang berusaha ia tutupi.
Chana yang pergelangan tangannya masih sedikit ngilu di balik lengan bajunya, menelan ludah susah payah. Di dalam benaknya, hanya ada satu prioritas utama, menyelamatkan masa depan Filio.
Begitu sarapan selesai dan Ameer berpamitan berangkat ke kantor bersama Danin, Chana langsung menarik tangan Filio.
"Kita ke rumah sakit sekarang juga!" bisik Chana panik begitu mobil Ameer meninggalkan gerbang mansion. "Kita harus periksa USG rahim dan tes darahmu di dokter spesialis kandungan terbaik sebelum racun itu merusak semuanya!"
Satu jam kemudian, di sebuah ruang praktek dokter spesialis kandungan ternama di rumah sakit swasta Jakarta Pusat...
Chana duduk di kursi pasien dengan napas kembang kempis, meremas tas mahalnya erat-erat, sementara Filio baru saja turun dari ranjang pemeriksaan USG dengan wajah tegang menanti vonis buruk. Tangannya terasa dingin dan jantung nya berdetak tidak karuan karena rasa takut yang berlebihan.
"Dokter... bagaimana keadaan putri saya?" tanya Chana dengan suara gemetar hebat, siap mendengar kabar buruk tentang kerusakan dinding rahim anaknya. "Apa ada tanda-tanda kerusakan jaringan atau racun berbahaya di sistem reproduksinya?!"
Dokter paruh baya itu mengerutkan kening heran, lalu menatap hasil USG dan lembar hasil tes laboratorium cepat di tangannya sambil tersenyum menenangkan.
"Nyonya Chana, Anda terlalu cemas," jelas sang dokter dengan ramah. "Hasil USG dan laboratorium Nona Filio menunjukkan kondisi yang luar biasa sehat. Rahimnya bersih, dinding rahimnya sempurna, dan tidak ada jejak zat toksik atau racun apa pun di dalam aliran darahnya."
Chana dan Filio seketika membelalakkan mata lebar-lebar.
"A-apa?! Tidak ada racun sama sekali, Dok?!" pekik Chana tak percaya, menyentakkan tubuhnya ke depan. "Dokter yakin tidak salah periksa?!"
"Sangat yakin, Nyonya," balas dokter itu sambil terkekeh pelan. "Satu-satunya zat pekat yang kami temukan dalam lambungnya hanyalah konsentrasi multivitamin dosis tinggi dan asam folat yang sangat baik untuk daya tahan tubuh. Putri Anda hanya sedikit lelah dan stres saja."
DEG!...
Darah Chana dan Filio seketika terasa tersiram air es. Keduanya saling tatap dalam keheningan yang luar biasa membingungkan.
Mereka sama sekali tidak tahu... bahwa sejak kemarin sore di dapur, Tania dengan kelihaian dan kecepatan tangannya yang terlatih, sudah lebih dulu membuang isi botol racun milik Chana ke lubang pembuangan, lalu menggantinya dengan vitamin yang ada di kamar Taniza.
Tania tahu betul rencana busuk Chana, dan sengaja menukar minumannya tadi malam bukan untuk membunuh Filio, melainkan untuk mempermainkan mental ibu dan anak itu sampai mereka kalang kabut dan ketakutan setengah mati.
Saat Chana dan Filio melangkah keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai dan pikiran yang berputar hebat, ponsel Chana bergetar di dalam tasnya.
Sebuah pesan singkat dari nomor baru masuk ke layarnya.
"Bagaimana hasil periksa kandungannya, Tante Chana? Filio sehat, kan? Anggap saja rasa mual dan panik semalam adalah hadiah perkenalan kecil dariku. Nikmati harimu, Tante..."
Chana mematung di lorong rumah sakit, mencengkeram ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa ngeri yang teramat pekat kembali merayapi dadanya saat menyadari betapa licin, cerdas, dan mengerikannya lawan yang kini sedang mereka hadapi di dalam rumah mereka sendiri.
____
Setibanya di Mansion Hasanuddin, Filio melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor lantai dua. Rasa malu, jengkel, dan dendam usai dipermainkan di rumah sakit menyatu menjadi amarah yang membakar jiwanya. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia dan ibunya dibuat kalang kabut hanya karena sebuah permainan mental.
Begitu sampai di depan kamar Tania, Filio memutar gagang pintu perlahan. Pintu itu ternyata tidak terkunci. Dengan langkah sepelan kucing, Filio menyusup masuk.
Suara gemericik air samar-samar terdengar dari arah kamar mandi utama yang pintunya terbuka sedikit. Tania sendiri tidak terlihat di area tempat tidur, gadis itu rupanya sedang berada di dalam walk-in closet, berdiri memandangi deretan pakaian di lemari sembari memikirkan gaun kasual mana yang cocok untuk ia kenakan saat keluar mansion nanti. Sebelum berganti pakaian, Tania sudah menyiapkan air hangat dan busa berlimpah di dalam bathtub, berniat merilekskan otot-otot tubuhnya yang baru saja usai berolahraga ringan di dalam kamar.
Filio melirik ke arah walk-in closet, lalu melangkah pelan menuju kamar mandi.
Di sana, ia melihat bathtub porselen putih raksasa yang terisi penuh oleh air hangat berbusa tebal. Senyuman licik yang sarat akan kebencian perlahan terukir di wajah Filio. Matanya tertuju pada sebuah alat pemanas air portabel bertenaga listrik tinggi yang terhubung dengan kabel sambungan di dekat wastafel.
Tanpa membuang waktu, Filio meraih kabel dialiri arus listrik itu, lalu dengan sangat hati-hati mencelupkan konduktornya ke dalam air bathtub yang penuh busa. Air hangat yang tampak menenangkan itu kini telah berubah menjadi jebakan maut bertengangan tinggi yang siap menyengat siapa saja yang menyentuhnya.
Filio menyeringai puas. "Rasakan ini, Tania... Mari kita lihat apa kamu masih bisa bersikap sok berani setelah tersengat listrik ini!" batinnya penuh dendam.
Namun, Filio sama sekali tidak menyadari satu hal.
Di balik celah cermin walk-in closet, Tania telah memantau setiap gerak-gerik sepupunya itu sejak pertama kali langkah kakinya menginjak lantai kamar. Tania menyaksikan bagaimana jemari Filio merangkai jebakan sengatan listrik tersebut dengan raut wajah penuh dengki.
Bukannya panik, Tania justru menyunggingkan senyuman dingin yang teramat pekat.
Brak!...
Tania keluar dari walk-in closet, menghentakkan pintu kayu kamar mandi dengan sangat keras, lalu memutar kunci di atasnya hingga terdengar suara klek yang menggema tajam di dalam ruangan bernuansa marmer tersebut.
Filio terperanjat hebat! Ia berbalik cepat, matanya membelalak lebar melihat Tania kini berdiri tegar di depan pintu yang terkunci rapat.
"T-Tania...?" panggil Filio dengan suara gemetar, tergagap oleh kaget yang mendadak.
Tania tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju perlahan, sangat pelan, namun setiap pijakan kakinya terasa bagaikan derap langkah algojo yang siap mencabut nyawa. Sepasang mata jernih milik Tania menatap Filio tanpa berkedip, sebuah tatapan yang amat dingin, gelap, dan memancarkan aura mengerikan yang sanggup meremukkan keberanian siapa pun.
"Mau ke mana, Filio?" bisik Tania dengan suara yang sangat rendah dan halus, namun menggema penuh ancaman di balik dinding kamar mandi yang tertutup.
Filio mundur perlahan. Rasa percaya dirinya runtuh seketika saat melihat dominasi mutlak di wajah Tania. "K-kamu... jangan mendekat! Jangan macam-macam, ya!"
Tania terus melangkah mendekat, mengunci setiap sudut ruang gerak Filio. Dalam ketakutannya yang kian membuncah, Filio makin terdesak mundur tanpa memperhatikan pijakan kakinya di lantai marmer yang licin akibat percikan busa.
Sret!
Tumit kaki Filio tersandung pinggiran bathtub. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, melayang ke udara, lalu...
BYUR!.....
di tunggu unboxing nya Thor 🤭🤭🥰🥰