Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Nyawa Ibu yang Dipertaruhkan

Malam di desa perbatasan jatuh dengan hening yang mencekam. Reno berdiri di gubuk kayu tua tempat ibunya dirawat, menatap wajah wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya sendirian dalam kemiskinan dan hinaan. Ibu Reno — Siti Rahayu — kini terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya, wajahnya pucat seperti kertas, napasnya terengah-engah tidak beraturan. Tiga hari yang lalu kondisinya mulai membaik, tapi tiba-tiba malam ini memburuk drastis tanpa alasan yang jelas.

Dokter yang ditugaskan merawatnya berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat dan ketakutan. Saat Reno menoleh padanya dengan tatapan tajam penuh pertanyaan, pria itu langsung berlutut di lantai tanah, gemetar hebat.

“Maafkan aku, Reno… aku tidak punya pilihan. Mereka datang kemarin malam. Mereka mengancam akan membunuh seluruh keluargaku kalau aku tidak memberikan suntikan yang memperlambat kerja jantung ibumu. Mereka bilang… kalau kau tidak melakukan apa yang mereka perintahkan, suntikan berikutnya akan membuat ibumu tidak pernah bangun lagi.”

Reno mengepalkan tangannya erat sampai buku-buku jarinya memutih. Darah mendidih di seluruh pembuluh tubuhnya. Ia tahu siapa yang melakukan ini. Sisa-sisa jaringan Pak Surya yang belum tertangkap, yang kini dipimpin oleh orang yang lebih kejam dan licik. Mereka tidak menyerah. Mereka hanya mencari titik lemah yang paling menyakitkan untuk menusuknya.

Tepat saat itu, telepon genggam di saku jaketnya berdering. Nomor tidak dikenal. Reno mengangkatnya dengan tangan gemetar menahan amarah yang siap meledak.

“Bagaimana perasaanmu sekarang, Reno Darmawan?” suara pria di ujung telepon terdengar dingin dan penuh kemenangan. “Lihat ibumu yang sekarat di sana. Semua ini terjadi karena kau terlalu bodoh memilih memihak keluarga Saraswati daripada orang yang bisa memberimu segalanya.”

“Apa yang kau mau?” suara Reno parau, berusaha sekuat tenaga tidak berteriak di depan ibunya yang masih setengah sadar.

“Mudah. Tiga hari dari sekarang, keluarga Saraswati akan mengirimkan truk berisi bantuan peralatan pertanian dan dana pembangunan desa. Kau akan mengalihkan truk itu ke jalur yang sudah kami siapkan. Biarkan kami mengambil semuanya, dan biarkan kami menyebarkan berita bahwa keluarga Saraswati menipu penduduk desa dengan barang-barang palsu. Cukup itu saja. Setelah itu, ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik, sembuh total, dan kalian berdua akan mendapatkan uang cukup untuk pergi ke mana pun kalian mau. Hidup tenang selamanya.”

“Dan kalau aku menolak?”

Pria di telepon tertawa sinis.

“Kalau kau menolak, besok pagi ibumu akan meninggal karena serangan jantung mendadak. Dan setelah itu… kami akan membunuh gadis kecil kesayanganmu, Lala Saraswati, satu per satu anggota keluarganya, dan terakhir kau sendiri. Pikirkan baik-baik. Kau punya tiga hari untuk memutuskan.”

Telepon ditutup secara tiba-tiba. Reno menjatuhkan ponselnya ke lantai kayu dengan bunyi gedebuk. Ia berjalan mendekati tempat tidur ibunya, lalu berlutut di sampingnya, menahan tangis yang mendidih di tenggorokan. Tangannya gemetar menyentuh tangan dingin ibunya yang penuh bekas luka kerja keras seumur hidup.

“Ibu… apa yang harus aku lakukan?” bisiknya hancur berkeping-keping. Air mata akhirnya menetes deras membasahi kain sprei. “Aku tidak mau mengkhianati mereka. Lala… dia sudah percaya padaku. Keluarga Saraswati sudah memberiku kesempatan kedua untuk menjadi orang baik. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Ibu meninggal karena kebodohanku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Ibu.”

Wanita tua itu membuka matanya perlahan. Ia melihat penderitaan di wajah putranya, dan dengan sisa tenaga yang ada, ia meremas tangan Reno lemah-lemah.

“Nak… jangan… jangan lakukan hal yang salah demi Ibu. Ibu sudah tua. Sudah waktunya Ibu pergi. Tapi kau masih muda. Jangan rusak masa depanmu hanya demi menyelamatkan Ibu. Jadilah orang baik… seperti yang selalu Ibu ajarkan.”

Reno menggeleng keras-keras, menangis semakin kencang.

“Tidak! Aku tidak bisa hidup tanpa Ibu! Aku tidak bisa!”

Tiga hari berikutnya, Lala merasakan ada yang sangat berubah pada Reno. Pria yang biasanya selalu ada di sampingnya, selalu memperhatikannya dengan tatapan penuh perhatian, kini mulai menjaga jarak. Ia sering menghilang berjam-jam tanpa memberi kabar, tatapannya selalu kosong dan penuh beban, dan setiap kali Lala mencoba bertanya apa yang terjadi, Reno selalu menghindar dengan alasan sibuk mengurus urusan desa.

Sore itu, Lala menemukan Reno duduk sendirian di tepi jurang, tempat mereka dulu duduk bersama saat Lala merasa paling sedih dan ditolak penduduk desa. Langkah Lala mendekat perlahan, lalu duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa dulu. Ia hanya membiarkan angin sore berhembus di antara mereka, berharap Reno akan terbuka dengan sendirinya.

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku,” kata Lala pelan akhirnya, memecah keheningan. “Aku bisa merasakannya. Apa yang terjadi, Reno? Apakah ada yang mengancammu? Kita bisa bicara pada Ayah dan Ibu. Mereka pasti bisa membantumu.”

Reno menoleh padanya. Untuk sesaat, Lala melihat betapa hancurnya hati pria itu di balik tatapan matanya yang berusaha keras tampak tenang. Ada air mata yang hampir tumpah, tapi Reno segera menahannya kembali dan memalingkan wajah.

“Tidak ada apa-apa. Hanya urusan pribadi yang harus kuselesaikan sendiri. Kau tidak perlu ikut campur.”

Jawaban dingin itu menusuk hati Lala dalam-dalam. Ia merasakan sesuatu yang rapuh di antara mereka mulai retak.

“Kita bukan orang asing lagi, Reno. Kita sudah melewati banyak hal bersama. Mengapa kau masih menutup diri dariku? Apakah kau tidak percaya padaku?”

Reno berdiri tiba-tiba, punggungnya membelakangi Lala. Suaranya terdengar kaku dan asing, sama sekali bukan suara pria yang biasa berbicara lembut padanya.

“Percaya? Percaya itu mahal, Lala. Dan aku tidak punya hak untuk memilikinya. Lupakan saja apa yang terjadi antara kita selama ini. Aku cuma pengawal yang ditugaskan menjagamu. Tidak lebih dari itu. Setelah urusan di sini selesai, kita akan kembali ke posisi masing-masing. Kau putri konglomerat, aku cuma orang rendahan yang tidak punya masa depan. Jangan pernah berharap lebih dari itu.”

Setelah mengatakan itu, Reno melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Lala yang masih duduk terpaku di tempatnya, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia tidak mengerti mengapa Reno berubah sedrastis ini hanya dalam beberapa hari. Apakah semua perhatian, semua kebaikan, semua tatapan penuh perasaan itu hanyalah kepura-puraan belaka? Apakah dia benar-benar salah menaruh kepercayaan pada pria ini?

Sementara itu, di kediaman utama Jakarta, Agung dan Larasati menerima laporan dari tim pengintai yang mereka tugaskan mengawasi keadaan di desa. Wajah keduanya langsung berubah serius saat membaca laporan tentang ancaman terhadap ibu Reno dan perintah untuk mengalihkan truk bantuan.

“Mereka memojokkan Reno,” kata Larasati berat sambil meletakkan kertas laporan di atas meja. “Dia terjepit di antara nyawa ibunya dan kesetiaan pada kita. Ini bukan soal pengkhianatan. Ini soal pilihan yang mustahil.”

Agung berdiri di depan jendela kaca besar, menatap hamparan kota Jakarta yang sibuk di bawahnya. Matanya memancarkan pemahaman yang mendalam — ia tahu persis bagaimana rasanya terjebak dalam pilihan yang tidak ada jalan keluarnya. Teringat kembali bertahun-tahun lalu saat dia harus menyembunyikan identitas aslinya dari Larasati, terjepit antara janji pada neneknya dan cinta pada wanita yang paling ia cintai. Rasanya seperti dihimpit dinding yang bergerak menutup dari segala arah, tidak ada ruang untuk bernapas.

“Aku pernah berada di posisinya, Laras,” bisik Agung pelan, suaranya penuh simpati. “Terjebak antara dua hal yang sama-sama penting. Tidak ada pilihan yang benar. Semua pilihan terasa salah dan menyakitkan.”

Ia berbalik menatap istrinya, tatapannya tegas dan penuh tekad.

“Tapi kita tidak akan membiarkan Reno menghadapinya sendirian. Dulu aku harus melewati masa sulitku sendirian karena aku tidak percaya pada siapa pun. Sekarang… kita akan menjadi orang yang dia percayai. Kita akan menyelamatkan ibunya, dan kita akan menjebak orang-orang yang berani mengancam keluarga kita lagi.”

Larasati bangkit berdiri, berjalan mendekat dan menggenggam tangan suaminya erat-erat.

“Apa rencanamu?”

“Kita kirimkan truk bantuan seperti yang dijadwalkan. Tapi kita ganti isinya dengan barang-barang yang tidak berharga, dan kita siapkan pasukan keamanan khusus di sepanjang jalan. Biarkan Reno mengalihkan truk itu ke jalur yang mereka siapkan. Biarkan mereka berpikir rencananya berhasil. Saat mereka semua berkumpul untuk melihat hasil curiannya… saat itulah kita tutup perangkapnya. Sekalian, kita bawa tim medis terbaik kita untuk menyelamatkan ibunya secara diam-diam sebelum mereka sempat melakukan apa pun lagi.”

Larasati mengangguk mantap. Namun ada kekhawatiran lain yang mengganjal di hatinya.

“Bagaimana dengan Lala? Dia pasti sangat terluka dengan perubahan sikap Reno. Kita harus memberitahunya sedikit tentang apa yang terjadi. Jangan biarkan dia berpikir Reno benar-benar meninggalkannya.”

Agung menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya lelah.

“Nanti. Setelah semua aman. Kita tidak boleh mengambil risiko bocornya rencana ini. Lala harus terlihat tidak tahu apa-apa agar Reno tidak curiga bahwa kita sudah mengetahui segalanya. Biarkan dia terluka sebentar… demi keselamatan semua orang.”

Malam sebelum hari pengiriman truk bantuan, Reno menyelinap diam-diam ke kamar Lala. Gadis itu sudah tertidur lelap, tapi wajahnya masih tampak sedih bahkan dalam tidurnya, bekas air mata masih terlihat jelas di pipinya. Reno berdiri di tepi tempat tidur, menatapnya lama sekali dengan tatapan penuh cinta dan penyesalan yang mendalam.

Ia tahu besok dia akan melakukan hal yang akan membuat Lala membencinya selamanya. Ia tahu dia akan dianggap pengkhianat, orang jahat yang memanfaatkan kepercayaan keluarga Saraswati. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Nyawa ibunya dipertaruhkan. Dan dia tidak bisa kehilangan satu-satunya keluarga yang dia miliki.

“Maafkan aku, Lala,” bisik Reno pelan, air matanya menetes jatuh membasahi seprai di dekat wajah gadis itu. “Aku tidak punya jalan lain. Aku berharap suatu hari nanti kau bisa memaafkanku. Bahkan kalau kau tidak pernah mau melihat wajahku lagi setelah ini… setidaknya ketahuilah bahwa setiap detik yang kuhabiskan bersamamu adalah detik terindah dalam hidupku yang hina ini.”

Ia membungkuk perlahan, mencium kening Lala sangat lembut seperti menyentuh barang paling rapuh di dunia. Ciuman perpisahan. Ciuman yang penuh cinta yang tidak akan pernah sempat ia ucapkan dengan kata-kata.

Setelah itu, Reno pergi dengan langkah berat, tidak menoleh ke belakang lagi. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu yang tertutup, Larasati yang sengaja datang malam itu untuk mengawasi keadaan berdiri diam di sudut lorong yang gelap, menyaksikan semuanya. Air mata wanita itu menetes juga melihat penderitaan pemuda itu. Ia tahu Reno bukan orang jahat. Dia hanya korban dari keadaan yang kejam. Dan besok, mereka akan menyelamatkannya dari kubangan yang sedang dia masuki sendiri.

Hari pengiriman tiba. Truk bantuan berangkat dari gudang desa dengan pengawalan ketat yang sengaja dibuat tampak longgar oleh tim keamanan Agung. Reno mengendarai motor di depan rombongan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Di persimpangan jalan, ia tiba-tiba memberi isyarat tangan, dan truk itu berbelok ke jalur sempit yang menuju hutan — persis seperti yang diperintahkan musuh.

Di tempat persembunyian mereka, sekelompok pria bersenjata menunggu dengan wajah penuh kemenangan. Mereka yakin rencana mereka berhasil sepenuhnya. Namun saat pintu truk dibuka, bukan peralatan pertanian atau uang yang mereka temukan. Yang ada hanyalah tumpukan karung berisi pasir dan batu.

Sebelum mereka sempat menyadari bahwa mereka telah dijebak, suara sirene polisi dan deru mesin mobil pengawal terdengar dari segala arah. Tim khusus Agung mengepung mereka dengan cepat. Pertempuran singkat tak terelakkan, tapi tidak berlangsung lama. Semua anak buah jaringan Pak Surya yang tersisa berhasil ditangkap, termasuk pemimpin mereka yang mencoba melarikan diri.

Sementara itu, tim medis khusus yang dikirim Larasati berhasil menyelinap masuk ke gubuk tempat ibu Reno dirawat. Mereka membawa wanita itu dengan ambulans rahasia menuju rumah sakit terbaik di Jakarta, memberikan penawar racun yang tepat untuk menetralkan suntikan berbahaya yang diberikan dokter paksa sebelumnya. Nyawa ibu Reno akhirnya terselamatkan tepat pada waktunya.

Di hutan, Reno berdiri diam di tengah kekacauan. Ia melihat semua musuh ditangkap satu per satu, dan ia menyadari bahwa semuanya ini adalah jebakan yang disiapkan dengan sempurna. Keluarga Saraswati sudah mengetahui segalanya. Dan mereka tidak menghukumnya. Sebaliknya, mereka justru menyelamatkan ibunya dan memberinya jalan keluar dari pilihan yang mustahil.

Agung berjalan mendekat dari arah belakang, berdiri tepat di samping pemuda yang masih terpaku kaget itu. Ia tidak marah. Tatapannya justru penuh pengertian dan kehangatan.

“Kau tidak perlu memikul beban itu sendirian, Nak. Aku pernah di posisimu. Aku tahu betapa beratnya. Tapi ingat — mulai sekarang, kau bukan lagi sendirian. Kita adalah keluarga. Dan keluarga saling menjaga, bukan membiarkan salah satu anggotanya terjebak dalam kegelapan sendirian.”

Reno menoleh menatap Agung. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya meledak juga. Ia berlutut di depan pria itu, menangis tersedu-sedu karena campuran rasa syukur, lega, dan penyesalan yang mendalam.

“Terima kasih… terima kasih banyak, Pak. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan keluarga kalian dengan apa.”

Agung mengangkatnya berdiri, lalu memeluk bahu pemuda itu erat-erat.

“Balas dengan menjadi pria yang baik. Jaga tanah ini. Jaga orang-orang di sini. Dan yang paling penting… jaga putriku. Dia sangat mencintaimu, Reno. Dan aku tahu kau juga mencintainya. Jangan pernah sia-siakan cinta yang tulus seperti itu. Itu adalah harta paling berharga yang bisa diberikan Tuhan pada seseorang.”

Di kejauhan, Lala berdiri di samping ibunya, menyaksikan semuanya. Air matanya mengalir deras — tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata lega dan bahagia. Ia akhirnya mengerti mengapa Reno berubah dingin padanya. Ia bukan meninggalkannya. Dia sedang berjuang sendirian untuk melindungi orang yang dicintainya, dan sekarang… dia selamat.

Reno menoleh, dan matanya bertemu dengan mata Lala. Tidak ada lagi jarak di antara mereka. Tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi beban yang ditanggung sendirian. Hanya ada cinta yang tumbuh lebih kuat setelah melewati badai yang hampir memisahkan mereka selamanya.

Dan di kejauhan yang jauh, di sebuah gedung tinggi di pusat kota Jakarta, seseorang menonton laporan penangkapan kelompok itu di layar televisi dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Pria itu memutar gelas anggur merah di tangannya perlahan, lalu tersenyum tipis yang penuh bahaya.

“Bagus. Anak buah yang lemah sudah dibersihkan. Sekarang giliran permainan yang sebenarnya dimulai. Mari kita lihat seberapa kuat keluarga Saraswati ini saat menghadapi musuh yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.”

Ia menekan tombol interkom, suaranya rendah namun penuh perintah:

“Hubungi investor asing kita. Beritahu mereka Rencana C siap dilaksanakan. Kita mulai dari sektor keuangan. Hancurkan fondasi kekayaan mereka terlebih dahulu. Sebelum kita menghancurkan hati mereka.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!