Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Lobelia

Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.

Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.

Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.

Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.

Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Malam menjelang serangan Enzo terasa luar biasa senyap. Kediaman itu berada dalam mode tempur yang sunyi: lampu-lampu luar telah diredupkan seminimal mungkin dan para petugas keamanan bergerak seperti arwah di antara semak-semak. Victoria tertidur gelisah di kamar sebelah, kelelahan setelah pertikaian dengan Alessandra. Namun di balkon sayap timur, dua sosok mengamati cakrawala.

Dante duduk di sebuah kursi besi tempa, membersihkan pistol Beretta-nya dengan gerakan berirama yang nyaris menghipnotis. Di sisinya, duduk bersila di lantai, León mengamatinya. Bocah itu memandang senjata tersebut bukan dengan takut, melainkan dengan ketajaman yang sama seperti seorang murid menatap gurunya.

"Papa," ujar León, memecah keheningan. Suaranya kecil, tetapi sarat kesungguhan yang tak selayaknya dimiliki bocah lima tahun. "Apa Papa orang jahat?"

Tangan Dante berhenti. Logam dingin senjata itu seakan terasa lebih berat dari biasanya. Ini bukan pertama kalinya seseorang mengajukan pertanyaan itu padanya, tetapi biasanya datang dari musuh sebelum ajal atau dari hakim di ruang sidang. Kalau datang dari perpanjangan darahnya sendiri, itu jenis penghakiman yang berbeda.

Dante meletakkan pistolnya di atas meja kaca dan mencondongkan tubuh ke depan, menopang siku di lutut agar sejajar dengan putranya.

Perumpamaan Serigala dan Sang Gembala

"Ini pertanyaan yang sulit, León," Dante memulai, mencari kata-kata di sudut-sudut paling jujur benaknya. "Di dunia asalmu, di San Vicente, segalanya hitam atau putih. Ada orang yang menolong dan ada orang yang menyakiti. Tapi di sini… di sini dunia berwarna kelabu, seperti matamu."

León mengernyitkan dahi, mencerna perumpamaan itu.

"Mama bilang orang yang memakai kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka mau itu jahat," bocah itu bersikeras. "Papa memakai kekerasan pada penjaga itu. Dan besok Papa akan memakainya pada anak buah Enzo."

Dante mengembuskan napas panjang. Ia tahu ia tak bisa berbohong; León terlalu cerdas untuk dongeng anak-anak.

"Bayangkan ada sebuah hutan, León. Di hutan itu ada domba-domba, yaitu orang-orang yang hanya ingin hidup damai, seperti ibumu dan Cristo. Dan ada serigala, yaitu orang-orang seperti Enzo, yang ingin memangsa segalanya karena mengira hutan itu milik mereka."

León mendengarkan dengan kesungguhan yang mutlak.

"Lalu Papa yang mana? Serigala?" tanya bocah itu.

"Papa adalah anjing gembala," jawab Dante, dan suaranya beroleh nada kesedihan. "Anjing gembala punya taring seperti taring serigala. Kadang ia harus sama ganas dan bengisnya untuk menjauhkan para serigala dari kawanan. Domba-domba takut pada anjing gembala karena ia mirip serigala, dan anjing gembala tak akan pernah bisa benar-benar menjadi seekor domba. Tapi tugasnya adalah membuat domba-domba tidur tenang. Papa telah melakukan hal-hal yang tidak Papa banggakan, León. Hal-hal yang akan membuat ibumu menangis kalau ia tahu semuanya. Itu, bagi banyak orang, membuat Papa jadi orang jahat."

León bangkit dan mendekat ke pagar balkon, menatap ke arah kegelapan tempat para penjaga berpatroli.

"Jadi, menjadi orang jahat itu perlu supaya Mama aman?" tanya León tanpa berbalik.

"Kadang begitu," Dante mengakui, merasakan kerongkongannya tercekat. "Tapi kuncinya, León, adalah jangan pernah lupa mengapa kau melakukannya. Kalau kau mulai menikmati penderitaan orang lain, kau berubah jadi serigala. Dan kalau kau berubah jadi serigala, tak ada lagi yang melindungi hutan. Papa menerima menjadi 'orang jahat' di mata dunia supaya kau dan adikmu punya kesempatan menjadi orang-orang baik."

León berbalik dan menatap ayahnya. Pada saat itu, hubungan di antara mereka menjadi sempurna. Itu bukan sekadar cinta seorang anak; itu sebuah pakta pemahaman. León mengerti bahwa kekerasan Dante bukanlah keisengan, melainkan sebuah perisai berat yang dipanggul ayahnya setiap hari.

"Aku tidak mau jadi domba, Papa," ujar León dengan kemantapan yang membekukan darah Dante. "Dan aku juga tidak mau jadi serigala. Aku mau jadi seperti Papa. Aku mau belajar memakai taring supaya tak ada lagi yang membuat Mama menangis."

Dante merasakan getar kebanggaan dan kengerian sekaligus. Ia berhasil menjelaskan dunianya, tetapi dengan begitu, ia baru saja menyegel nasib putranya. León tak lagi mendambakan kepolosan; ia mendambakan tanggung jawab sang monster pelindung.

Dante mengulurkan tangan dan mengacak rambut León. Bocah itu mendekat dan menyandarkan kepala ke bahu ayahnya. Untuk pertama kalinya di kediaman itu, tak ada ketegangan, hanya sebuah kejujuran yang telanjang yang mempersatukan mereka.

"Besok akan jadi hari yang berat, León," bisik Dante. "Papa butuh kau menjaga Cristo. Dia punya otak, tapi kau punya api. Jangan biarkan api itu membakarnya, gunakanlah untuk menerangi jalan."

"Akan kulakukan," janji León. "Besok, para serigala akan tahu bahwa kami pun punya taring."

Victoria, yang telah terbangun dan mengamati adegan itu dari bayang-bayang pintu balkon, membekap mulutnya agar tak melepaskan isak tangis. Ia mendengar seluruh percakapan itu. Ia paham bahwa Dante tak berbohong, tetapi ia juga paham bahwa Dante telah selesai menempa senjata yang begitu ia takuti. León bukan lagi bocah dari San Vicente; ia adalah anak singa dari sang Gembala, siap menggigit.

Dante dan León duduk bersama dalam keheningan, dua bayangan kelabu di sebuah kediaman marmer, menanti sinar pertama fajar hari Kamis. "Orang jahat" itu dan pewarisnya telah siap. Moralitas telah ditinggalkan di belakang; kini yang tersisa hanyalah bertahan hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!