Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Tiga hari berlalu sejak peristiwa kelam di ruang ICU Rumah Sakit Medika Vance. Hujan gerimis yang membasahi ibu kota telah berganti menjadi cuaca kusam yang menggantung di atas langit ibu kota.

Di lantai tujuh gedung rumah sakit, ruang perawatan isolasi VIP kini tampak bagaikan sebuah benteng pertahanan yang tak tertembus. Delapan pengawal pribadi pimpinan Matteo bersiap di sepanjang koridor, memeriksa setiap staf medis yang melintas dengan pemindai logam dan verifikasi biometrik ketat.

Sienna duduk bersandar kaku di atas ranjang medisnya. Wajahnya masih pucat pasi, dan sebuah selang oksigen tipis masih terpasang di bawah hidungnya. Jemari tangannya yang terbalut perban bersih gemetar pelan saat ia berusaha memegang cangkir air hangat yang diberikan oleh perawat medis resmi.

Suara gesekan engsel pintu ganda terdengar kaku.

Nico melangkah masuk. Pria itu mengenakan setelan jas kasmir berwarna biru gelap yang terpotong rapi. Wajahnya yang tegas dipenuhi ketenangan dingin yang biasa, namun sepasang mata kelabunya menyimpan kepekatan yang tak tersembunyi tatkala menatap lurus ke arah Sienna.

Sienna tersentak pelan, secara refleks menurunkan cangkirnya hingga air di dalamnya sedikit bergoyang. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan rasa takut yang terpatri di benaknya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nico. Suaranya rendah dan kaku, bergema di seluruh ruangan steril itu.

"S-sudah jauh lebih baik, Tuan Vance," jawab Sienna pelan, suaranya masih serak dan tipis. "Dokter Leo bilang paru-paru saya mulai membaik."

Nico tidak menyahut. Ia melangkah mendekati sisi tempat tidur, berdiri menatap tubuh kurus Sienna. Tatapannya tertuju pada ruam bekas infeksi di pergelangan tangan Sienna yang mulai mengering.

"Hari ini kau kembali ke penthouse," ujar Nico tanpa celah tawar-menawar. "Mobil sudah siap di basemen."

Sienna menahan napasnya sejenak. Kembali ke penthouse berarti kembali ke dalam cengkeraman Arleen, siksaan fisik, dan ketakutan tanpa akhir. Namun Sienna paham betul, di mana pun ia berada, baik di rumah sakit ini maupun di penthouse, ia tetaplah seorang tawanan yang tak memiliki hak atas kebebasannya sendiri.

"Baik, Tuan Vance," bisik Sienna pasrah.

Dua jam kemudian, sebuah konvoi sedan hitam melaju menembus gerbang privat penthouse.

Sienna melangkah keluar dari kabin lift pribadi lantai bawah dengan tubuh yang masih lemah. Matteo berjalan di belakangnya, memastikan setiap langkah gadis itu terkendali.

Saat melangkah memasuki foyer dapur utama, Sienna membeku.

Arleen berdiri di sana seraya memegang sekeranjang lap kain. Raut wajah pelayan paruh baya itu tampak terkejut tatkala melihat Sienna berjalan masuk hidup-hidup. Matanya yang kecil berkilat penuh ketidaksukaan dan kecurigaan, namun Arleen dengan cepat menundukkan kepalanya saat melihat Nico melangkah tepat di belakang Sienna.

"Selamat datang kembali, Tuan Nicolas," sapa Arleen dengan nada sopan yang dibuat-buat. "Saya sudah merapikan seluruh area bawah seperti perintah Anda."

Nico berhenti melangkah. Sepasang mata kelabunya memaku lurus pada Arleen dengan kebekuan yang menyengat.

Nico tahu betul bahwa Arleen adalah kaki tangan yang dikirim Claudia. Meski belum ada bukti fisik langsung bahwa Arleen terlibat dalam percobaan pembunuhan di rumah sakit, kehadiran wanita ini di dalam rumahnya adalah ancaman aktif yang tidak bisa lagi dibiarkan beroperasi secara bebas.

"Arleen," panggil Nico dingin.

"Ya, Tuan Nicolas?"

"Mulai hari ini, tugasmu mengawasi area dapur utama dicabut," perintah Nico kaku. "Kau hanya diizinkan mengurus area cuci basemen dan koridor luar. Kau dilarang mendekati kamar penyimpanan linen atau ruang kerja pribadiku tanpa izin langsung dari Matteo."

Arleen tersentak kaget, wajah gempalnya memucat. "T-Tuan... tapi Nyonya Claudia merekomendasikan saya untuk-"

"Rumah ini milikku, bukan milik Claudia," potong Nico tajam, suaranya dipenuhi intimidasi murni yang membungkam Arleen seketika. "Sekali lagi kau melangkahi perintahku, aku sendiri yang akan memecatmu dan menyerahkanmu ke kepolisian atas tuduhan kelalaian kerja."

Arleen mengepalkan tangannya rapat-rapat di balik apronnya, menunduk dalam-dalam seraya menahan amarah yang membakar. "S-saya mengerti, Tuan Nicolas."

Nico memalingkan pandangannya, lalu menoleh pada Sienna yang berdiri gemetar di dekat dinding.

"Sienna kembalilah ke kamarmu," perintah Nico datar. "Leo memberi instruksi agar kau tidak melakukan pekerjaan berat sampai akhir minggu ini. Jangan membuatku menyesal telah membawamu kembali hidup-hidup."

Sienna mengangguk tipis. "Terima kasih... Tuan Vance."

Sienna menyeret langkah kakinya menuju kamar penyimpanan linen di lantai bawah. Pintu kayu sederhana itu kembali tertutup, mengurungnya di dalam kesunyian. Namun kali ini, tidak ada rantai atau kunci dari luar yang membelenggunya.

...****************...

Keesokan harinya di Vance Group Tower, atmosfer politik perusahaan mencapai titik didih.

Nico duduk di balik meja ruang kerjanya, menatap berkas-berkas pengalihan aset yang baru saja diserahkan oleh tim investigator privatnya.

Matteo berdiri di depan meja dengan raut wajah sangat serius.

"Tuan Nicolas," lapor Matteo seraya meletakkan sebuah flashdisk hitam di atas meja. "Pengakuan dari wanita penyamar yang mencoba meracuni Nona Sienna di rumah sakit telah kita rekam. Dia mengonfirmasi bahwa dana operasional kelompoknya ditransfer langsung dari rekening cangkang milik Liam Vance."

Nico menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum dingin tanpa rasa humor yang memancarkan ancaman mematikan.

"Liam terlalu amatir," desis Nico. "Dia berpikir dengan menyingkirkan Anna, konsentrasiku akan terpecah dan akuisisi PT Vance Logistik akan terbengkalai. Dia tidak sadar bahwa tindakan bodohnya justru memberikan bukti pidana murni yang kubutuhkan untuk mendepaknya dari struktur perusahaan."

"Apakah kita akan membawa bukti ini ke kepolisian sekarang, Tuan?" tanya Matteo.

"Tidak," jawab Nico tegas. "Jika kita membawanya ke kepolisian sekarang, Claudia akan menggunakan pengaruh politik keluarga Ophelia untuk memblokir kasus ini dan mengambinghitamkan orang lain. Kita akan mengeksekusinya di depan dewan komisaris dan Ayah pada rapat pleno lusa."

Nico mengepalkan tangannya di atas meja mahoni. "Aku ingin Claudia dan Liam menyaksikan sendiri bagaimana takhta yang mereka impikan hancur berkeping-keping di tangan mereka sendiri."

...****************...

Malam merayap naik di penthouse.

Pukul sebelas malam. Kesunyian begitu pekat melingkupi seluruh ruangan.

Sienna terbangun dari tidurnya di atas dipan kayu kamar penyimpanan linen. Tubuhnya terasa lebih hangat, dan rasa perih di dadanya mulai berkurang berkat obat-obatan yang diberikan Dokter Leo. Namun rasa haus yang menyengat membuat tenggorokannya terasa terbakar.

Sienna melangkah keluar dari kamarnya secara perlahan. Koridor servis tampak sepi dan remang. Ia berjalan menuju pantry kecil di lantai bawah untuk mengambil segelas air hangat.

Saat Sienna melewati koridor menuju arah tangga, ia melihat pendar cahaya lampu masih menyala dari bawah celah pintu ruang kerja pribadi Nico.

Suara langkah kaki yang terburu-buru mendadak terdengar dari arah sudut koridor utama.

Sienna refleks melangkah mundur ke balik pilar besar, menahan napasnya.

Sesosok tubuh bertubuh gempal melangkah cepat dalam kegelapan. Itu adalah Arleen. Pelayan wanita itu tampak merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebuah kunci duplikat, lalu menyelipkannya ke dalam lubang kunci pintu ruang kerja pribadi Nico.

Mata Sienna membelalak lebar. Arleen dengan sengaja melanggar perintah tegas Nico untuk tidak mendekati ruang kerja tersebut.

Klik.

Pintu ruang kerja Nico terdorong terbuka pelan. Arleen menyusup masuk ke dalam ruangan yang gelap itu seraya menyalakan lampu kilat dari ponsel genggamnya.

Sienna berdiri terpaku di balik pilar. Hatinya berdegup kencang oleh dilema yang luar biasa. Jika ia diam saja dan Arleen mencuri dokumen penting milik Nico, Nico pasti akan menyalahkan seluruh penghuni rumah, termasuk dirinya. Namun jika ia maju untuk menegur Arleen, ia berisiko diserang oleh wanita yang jauh lebih kuat darinya itu.

Dengan keberanian yang tersisa dari sisa penderitaannya, Sienna melangkah mendekati ambang pintu ruang kerja yang terbuka sedikit.

Di dalam ruangan, Arleen sedang membuka laci meja kerja Nico dengan tergesa-gesa, menggeledah tumpukan berkas laporan keuangan akuisisi logistik seraya mengambil gambar dokumen-dokumen tersebut dengan kamera ponselnya.

"Bi Arleen," bisik Sienna dari ambang pintu, suaranya bergetar hebat.

Arleen tersentak kaget setengah mati. Ponsel di tangannya hampir saja terjatuh ke atas karpet. Wanita itu memutar tubuhnya dengan raut wajah panik yang mendadak berubah menjadi kemarahan murni saat melihat Sienna berdiri di sana.

"Kau," desis Arleen seraya melangkah cepat menghampiri Sienna, mencengkeram bahu gadis itu secara kasar. "Apa yang kau lakukan di sini, Pelayan Hina?"

"Bi Arleen, Bi Arleen tidak boleh berada di sini..." bisik Sienna seraya mencoba melepaskan diri. "Tuan Vance sudah melarang Bi Arleen masuk ke ruangan ini."

"Tutup mulutmu!" gertak Arleen kejam seraya menudingkan jarinya ke wajah Sienna. "Jangan sok pahlawan di depan Tuan Nicolas. Kau itu cuma sampah di rumah ini, kalau kau berani membocorkan apa yang kau lihat malam ini pada Matteo atau Tuan Nicolas... aku sendiri yang akan memastikan nenekmu di panti jompo menderita!"

Ancaman terhadap neneknya membuat Sienna gemetar hebat, namun kali ini rasa tidak terima meledak di dalam dadanya. Ia telah cukup menderita akibat fitnah Arleen pada insiden cangkir porselen kemarin.

"Tidak, Bi!" seru Sienna dengan sisa tenaganya, mencoba mendorong tubuh Arleen ke luar ruangan. "Saya tidak akan biarkan Bi Arleen memfitnah saya lagi."

"Gadis kurang ajar!" jerit Arleen murka.

Arleen mengayunkan tangannya dengan kuat, mendorong dada Sienna hingga gadis itu terlempar ke belakang!

BRAK!

Sienna tersungkur jatuh menghantam rak buku kayu jati yang ada di dekat meja. Punggungnya menabrak susunan buku tebal, menyebabkan sebuah vas bunga kaca berukuran besar di atas rak bergoyang dan jatuh menghantam lantai marmer!

PRANG!

Suara pecahan kaca yang sangat keras memecah kesunyian malam di seluruh penthouse.

Arleen membeku total. Wajahnya seketika memucat pasi tatkala menyadari betapa kerasnya suara pecahan tersebut.

Sebelum Arleen sempat melarikan diri atau menyembunyikan ponselnya, pintu lift pribadi di lantai atas berdenting nyaring, disusul oleh langkah kaki yang berlari kencang menyusuri koridor!

"Ada apa di bawah?!" suara Matteo menggelegar dari lorong utama.

Arleen dengan cepat melemparkan ponsel genggamnya ke bawah meja, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai di dekat Sienna, berpura-pura terisak histeris.

"Tolong! Tolong Tuan Matteo!" jerit Arleen dengan suara melengking yang penuh drama. "Sienna masuk ke ruang kerja Tuan Nicolas dan mencoba mencuri dokumen dari meja."

Sienna yang terbaring kesakitan di lantai membelalakkan matanya, menahan napasnya yang sesak. "B-bohong... Bi Arleen yang..."

Langkah kaki yang tegap dan berat melangkah masuk ke dalam ruang kerja.

Nico berdiri di ambang pintu. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam tanpa jas, dan aura di sekitarnya seketika merosot ke titik paling mematikan saat melihat ruang kerjanya yang berantakan dengan pecahan kaca dan berkas yang berhamburan.

Di belakang Nico, Matteo dan James berdiri dengan senjata siap di tangan.

"Ada apa ini?" suara Nico terdengar begitu rendah dan kaku hingga terasa menembus tulang.

Arleen merangkak mendekati kaki Nico, menundukkan kepalanya seraya menangis sesenggukan. "Tuan Nicolas... ampunkan saya. Saya mendengar suara mencurigakan dari arah ruang kerja Anda saat hendak ke kamar mandi. Saat saya mengeceknya, saya melihat Sienna sedang menggeledah laci meja Anda. Ketika saya mencoba menghentikannya, dia malah mendorong saya dan menjatuhkan vas bunga itu."

Sienna menatap Nico dengan pandangan memohon, air mata keputusasaan merembes keluar dari matanya. "T-Tuan Vance bukan saya. Demi Tuhan, Bi Arleen yang membuka laci meja Tuan. Dia mengambil foto berkas Tuan dengan ponselnya."

"Bohong, Tuan!" potong Arleen terburu-buru, menunjuk Sienna dengan jarinya yang gemetar. "Ponsel saya ada di kamar pelayan, saya tidak membawa ponsel apa pun ke sini. Dia sengaja memfitnah saya agar tidak dihukum oleh Anda."

Nico tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sepasang mata kelabunya menatap pecahan kaca di lantai, lalu bergeser menatap Sienna yang bersandar lemah di dekat rak buku.

Atmosfer di dalam ruangan itu begitu mencekat hingga suara napas saja terasa seperti sebuah dosa.

Nico melangkah pelan melewati Arleen, berjalan mendekati meja kerjanya. Ia menunduk sedikit, menyapukan pandangannya ke kolong meja. Di sana, di bawah bayangan kayu tebal, tergeletak sebuah ponsel genggam dengan layar yang masih menyala, menampilkan aplikasi kamera yang sedang mengabadikan dokumen akuisisi saham PT Vance Logistik.

Nico membungkuk, memungut ponsel genggam itu dengan dua jarinya.

Arleen yang melihat ponsel itu di tangan Nico seketika membeku total. Seluruh darah di tubuhnya meluncur turun, membuat wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat.

Nico memutar tubuhnya perlahan, menatap Arleen dengan kilatan mata kelabu yang dipenuhi oleh kebekuan murni.

"Ponselmu ada di kamar, Arleen?" desis Nico, suaranya begitu tenang namun membawa ancaman eksekusi yang tak terbantahkan.

Arleen gemetar hebat, suaranya hilang di tenggorokan. "T-Tuan s-saya, itu..."

Nico mengalihkan pandangannya pada Matteo. "Matteo, periksa galeri dan riwayat panggilan di ponsel ini sekarang."

Matteo mengambil ponsel itu dari tangan Nico, menekan tombol layar, dan dalam hitungan detik raut wajah pengawal itu berubah menjadi kebekuan yang amat sangat.

"Tuan Nicolas," lapor Matteo kaku. "Ada lima belas foto dokumen rahasia akuisisi logistik di dalam galeri ini. Dan riwayat panggilan terakhirnya terhubung langsung ke nomor pribadi Nyonya Claudia Ophelia sepuluh menit yang lalu."

Bukti itu menghantam ruangan bagaikan ledakan bom.

Arleen tersungkur ke lantai, menangis histeris seraya memohon ampun. "Ampun, Tuan Nicolas. Ampunkan saya, Nyonya Claudia yang memaksa saya. Dia mengancam akan menghabisi keluarga saya kalau saya tidak memberikan informasi dari penthouse ini!"

Sienna terbaring di dekat rak buku, mendengarkan pengakuan Arleen dengan mata yang berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya di dalam sangkar emas ini, kebenaran akhirnya terungkap di hadapan sang penguasa.

Nico menatap Arleen tanpa ada sedikit pun rasa iba atau kelonggaran di wajahnya.

"Kau telah memfitnah tawanan saya, merusak properti milik ibu saya, dan menjual rahasia perusahaan saya kepada musuh," desis Nico kaku, suaranya serendah guruh di tengah malam. "James!"

"Siap, Tuan Nicolas!" sahut James tegas.

"Bawa perempuan ini ke basemen rumah sakit privat kita," perintah Nico dingin. "Kurung dia di sebelah sel perawat penyamar itu. Jangan biarkan dia menyentuh makanan atau air sampai rapat komisaris besok selesai."

"Baik, Tuan Nicolas!" James menyambar kedua lengan Arleen yang menjerit-jerit memohon ampun, menyeret wanita paruh baya itu keluar dari ruang kerja secara kasar hingga suaranya menghilang di sepanjang koridor.

Ruang kerja pribadi Nico kembali tenggelam dalam kesunyian yang tegang.

Nico berdiri di tengah ruangan, menatap pecahan kaca dan kertas-kertas yang berhamburan di atas lantai marmer. Lalu, pandangannya perlahan bergeser menuju tempat Sienna terbaring lemas.

Sienna menatap Nico dengan mata cokelatnya yang redup dan pasrah. Punggungnya terasa amat nyeri akibat benturan dengan rak buku tadi, dan napasnya terdengar patah-patah.

Nico melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Sienna. Pria bertubuh tinggi besar itu membungkuk, bertumpu pada satu lututnya di atas marmer dingin, posisi yang persis sama seperti malam insiden cangkir porselen kemarin.

Namun kali ini, tidak ada cengkeraman kasar pada rahang Sienna. Tidak ada bentakan kebencian yang mematikan.

Sepasang mata kelabu Nico menatap lurus ke dalam mata Sienna, menyelami kelelahan dan kebenaran murni yang terpancar dari jiwa gadis di hadapannya.

"Kau mencoba menghentikannya?" tanya Nico pelan, suaranya datar namun dipenuhi bobot yang asing.

Sienna menelan ludahnya yang terasa pahit, mengangguk pelan seraya berbisik serak, "Saya... saya tidak ingin Tuan Vance menyalahkan saya lagi."

Nico diam sejenak. Jemari tangannya yang besar terangkat sedikit, melayang di udara dekat pipi Sienna yang pucat, sebelum akhirnya ditarik kembali secara kaku.

Nico berdiri tegak kembali, menatap Matteo yang berdiri di pintu.

"Matteo," panggil Nico.

"Ya, Tuan Nicolas?"

"Bawa dia kembali ke kamar utama di lantai atas," perintah Nico kaku, sebuah instruksi yang membuat Matteo dan Sienna sama-sama tersentak kaget. "Biarkan Dokter Leo mengobati lukanya kembali malam ini. Dia tidak boleh berada di kamar basemen lagi."

Matteo menundukkan kepalanya rapat-rapat. "Baik, Tuan Nicolas. Segera dilaksanakan."

Nico memutar tubuhnya dan melangkah lebar keluar dari ruang kerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Sienna terbaring kaku di atas lantai marmer, menatap punggung tegap Nico yang menghilang di balik kegelapan lorong. Di dalam dadanya yang rapuh, perasaan bingung dan takut menyatu menjadi satu ikatan rumit, menyadari bahwa roda takdir di dalam sangkar emas ini telah mulai berputar menuju medan pertempuran baru yang jauh lebih besar dan berbahaya.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!