"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA YANG TERTINGGAL DI KANVAS MALAM
Di sudut tertinggi mansion mewahnya, ruangan kerja Haidar tenggelam dalam remang cahaya lampu dinding bernuansa hangat. Asap tipis dari cerutu premium yang tergenggam di jemarinya membumbung pelan ke udara, membingkai siluet tubuhnya yang berdiri tegap menatap kegelapan malam dari balik jendela kaca raksasa. Di luar sana, pemandangan kota tampak kusam dan hening, namun pikiran sang bos mafia justru jauh dari kata tenang.
Sepanjang hidupnya memimpin dunia bawah tanah yang keras dan berdarah, Haidar dikelilingi oleh bahaya, kebohongan, dan wanita. Banyak wanita datang dan pergi dalam orbit kehidupannya—beberapa berusaha mendekat demi harta, kekuasaan, atau sekadar berlindung di balik namanya yang ditakuti. Namun, belum pernah ada satu pun wanita yang bertindak seberani gadis muda bernama Elara itu.
Haidar menyesap cerutunya perlahan, merasakan pahitnya tembakau yang membakar tenggorokannya, persis seperti ingatan tentang sentuhan Elara malam itu. Gadis itu tidak memohon untuk diselamatkan dari jarak jauh; ia menerobos bahaya, merangkul pinggang seorang pria yang sedang menggenggam pistol berdarah dingin, dan menatap matanya tanpa rasa takut yang biasa ia lihat pada orang lain. Yang paling membakar benak Haidar adalah kepasrahan Elara—bagaimana gadis itu menyerahkan dirinya dengan sukarela, memohon penawar di tengah siksaan efek obat tanpa memedulikan siapa pria yang sedang ia hadapi.
"Elara..." gumam Haidar sangat pelan, nama itu terasa asing namun berbekas kuat di bibirnya.
Keberanian dan ketidakberdayaan yang menyatu dalam diri Elara telah meninggalkan goresan mendalam di dinding pertahanan Haidar yang biasanya tak tertembus. Pria tua kaya raya yang akan menikahi gadis itu, urusan bisnis keluarga yang hancur, serta tatapan mata Elara yang penuh luka saat berpamitan tadi pagi terus berputar di kepalanya bagai rekaman ulang yang tak bisa dihentikan.
Haidar mematikan puntung cerutunya di atas asbak porselen dengan gerakan mantap. Mata gelapnya berkilat dingin di dalam kegelapan. Baginya, apa yang telah masuk ke dalam wilayahnya—bahkan hanya untuk satu malam—tidak akan pernah bisa menjadi milik orang lain begitu saja.
Haidar memutar gelas kristal berisi cairan amber di tangannya, memperhatikan pantulan cahaya remang yang membiaskan bayangan di atas meja kerjanya. Nama itu—Elara—terus bergema di dalam benaknya sejak semalam. Ia tidak perlu menyuruh anak buahnya melacak identitas gadis itu hanya untuk mengetahui namanya, karena di tengah kepungan rasa panas dan rintihan malam itu, Elara sendirilah yang bisikan demi bisikan menyebutkan namanya sendiri seolah menegaskan keberadaannya di tengah ketakutan.
"Tolong... tolong Elara..."
Suara parau yang bergetar itu masih terekam sangat jelas di ingatan Haidar. Gadis itu menyerahkan kepasrahannya, menyebutkan namanya sendiri tanpa sadar, seolah berharap pria asing yang memeluknya akan mengingat siapa wanita yang diselamatkannya malam itu.
Namun sebaliknya, Elara sama sekali tidak mengetahui siapa pria yang telah melindunginya—sekaligus membagikan malam dengannya. Bagi Elara, Haidar hanyalah sosok pria asing yang memegang senjata api di tengah kegelapan hutan, seorang bos berdarah dingin yang memberinya perlindungan sesaat sebelum ia kembali terlempar ke dalam takdir kelam keluarganya. Elara pergi begitu saja dari mansion tanpa sempat menanyakan nama sang penyelamat, terburu-buru oleh ketakutan akan pernikahan paksa yang kian mendekat.
Haidar meletakkan gelas kristalnya hingga menimbulkan benturan pelan yang memecah hening. Sebuah senyum tipis yang penuh intrik terukir di sudut bibirnya. Gadis itu mungkin berpikir bahwa kisah mereka telah selesai saat ia melangkah keluar dari gerbang mansion. Namun bagi Haidar, fakta bahwa Elara membisikkan namanya sendiri telah menandai gadis itu sebagai milik sang bos mafia—dan Haidar tidak pernah melepaskan apa yang sudah tercatat atas namanya.