Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bintang menyerahkan selembar kertas yang sudah agak kusut itu kepada Rembulan dengan wajah datar.
"Ini... tulisan tangan Mentari, dia tulis pagi tadi setelah Dokter pergi," kata Bintang selalu memanggil Rembulan Dokter, menandakan bahwa tidak ada hubungan apapun selain dokter istrinya.
Rembulan membuka kertas lalu membaca tulisan sahabatnya yang agak goyah, dari analisa saat menulis dengan sisa tenaga, tapi masih terbaca.
"Bulan sahabatku... Maafkan aku jika membebanimu dengan permintaan yang konyol. Aku takut sekali pergi meninggalkan Bintang dan Talita. Aku tahu hanya kamu yang bisa menyayangi mereka sebaik aku, yang bisa melengkapi rumah kami kembali. Bulan, tolong... kabulkan permintaanku sekali ini saja. Menikahlah dengan Bintang, jadilah ibu bagi Talita. Karena aku tahu mereka akan aman bersamamu dan aku akan pergi dengan tenang."
Lagi-lagi itu isi surat tersebut, air mata Rembulan jatuh membasahi kertas, lalu memeluk surat itu di dada.
"Bagaimana menurutmu Dok, apa yang harus saya lakukan..." suara bariton mengejutkan Rembulan hingga membuka mata.
Jelas Bulan bingung untuk menjawab. Dalam hati kecilnya ingin rasanya menyanggupi permintaan sahabatnya, tapi bagaimana dengan Bintang sendiri? Karena urusan menikah harus dilakukan berdua dan melalui pertimbangan yang matang. Sedangkan Bulan merasa tidak yakin Bintang, akan menerima.
"Rembulan... ada apa ini?" Tanya mami curiga, menatap Bulan dan Bintang bergantian.
Bintang membalas tatapan wanita paruh baya itu baru menyadari bahwa ada orang lain di tempat itu. Bintang sadar ada yang lebih berhak membuat keputusan sebelum ia berani mengatakan niatnya untuk melamar Rembulan. Orang tua mana yang membolehkan putrinya menjadi pendamping pria beristri? Lidah Bintang merasa kelu untuk sekedar menyapa.
Sementara Rembulan menoleh ke arah mami, dengan mata merah, tangannya terulur menyerahkan surat tersebut.
Bulan lantas menoleh ke atas ranjang, menatap wajah Mentari yang masih terpejam dengan bantuan alat medis. Bisa saja ia mengorbankan masa depannya demi kemanusiaan, demi sahabat, dan demi anak umur empat tahun yang membutuhkan kasih sayang yang tidak lagi bisa Mentari berikan. Namun, mami jelas akan menolak dengan tegas.
"Maafkan atas kelancangan istri saya, Ibu," ucap Bintang, setelah mami Renata selesai membaca surat, perubahan di wajah orang tua Bulan itu merupakan jawaban bahwa Renata tidak menyetujui putrinya menikah dengannya.
"Bulan... ikut Mami," tegas mami, tanpa menjawab ucapan Bintang menggandeng putrinya keluar dari ruang ICU.
Di ruang tunggu, mereka duduk. Mami Renata mengajak putrinya bicara bukan dengan emosi.
"Jadi Mentari ingin kamu menikah dengan suaminya? Begitu kan Bulan?" Tanya mami memperjelas. Wajahnya yang tadi tampak iba kini berubah menjadi keberatan yang tidak bisa dia tutupi lagi.
Bulan yang belum punya keputusan hanya mengangguk.
"Bulan, Mami mengerti betul perasaan Mentari, tapi masih lebih tahu hatimu yang terlalu lembut untuk menolaknya," ujar Renata, menatap anaknya lekat. Ia tahu perasaan putrinya saat ini sedang dilanda kebimbangan.
Bulan menyandarkan kepalanya di pundak mami, seolah ingin kembali kecil dan mami yang memutuskan segala sesuatunya, tapi mana mungkin begitu? Air mata Rembulan pun akhirnya mengalir.
"Berpikirlah sayang... pernikahan yang akan kamu jalani bukan dengan pria lajang. Menikah bukan sekadar janji menolong seseorang, tapi menyangkut perjalanan hidupmu yang masih panjang. Mami takut membayangkan itu Nak, karena kamu belum cukup mengerti bagaimana rasanya menjadi istri kedua," mami secara langsung tidak mengizinkan anak perempuan satu-satunya tidak bahagia.
"Aku tidak tahu Mami, aku pusing..." Bulan menenggelamkan wajahnya di antara dua lutut.
"Mami bukan menakuti sayang... tapi apakah kamu sudah siap berbagi suami dengan Mentari, siap menjadi ibu bagi anak yang bukan darah dagingmu secara tiba-tiba? Apakah kamu yakin perlakuan Bintang yang nantinya tidak akan adil, karena cintanya hanya kepada Mentari."
"Mami benar, tapi aku takut ini permintaan terakhir Mentari," Bulan sebenarnya tahu apa yang akan terjadi jika ia menerima Bintang, tapi juga takut bila menolak dan akhirnya jiwa Mentari tidak bisa tenang lantas pergi meninggalkannya lebih dulu.
Renata menggeleng, tangannya melingkar di pundak anaknya. "Rasa kasihan kamu itu tidak boleh membutakan akal sehatmu, Nak. Kamu bisa menjaga mereka, menolong mereka, menjadi sahabat dan orang terdekat mereka tanpa harus mengikat janji seumur hidup dengan pria yang tidak mencintai dirimu. Mami takut pengorbanan kamu demi orang lain, justru kelak akan membuat dirimu sendiri terluka dan tidak bahagia. Itu harga yang terlalu mahal untuk kamu bayar."
"Mama... Mama di mana... huhuhuuuuu..."
Saat mami sedang menasehati Rembulan, seketika berhenti ketika mendengar tangis anak perempuan diikuti wanita yang masih muda.
"Bunda... Bunda di mana?!" teriak anak umur empat tahun itu lantang, pandangannya menyapu setiap ruangan yang ia lewati, kemudian berhenti sejenak di depan ruang rawat yang kemarin di tempati ibunya. Tangan kecil itu mendorong pintu hingga terbuka. Namun, ruangan itu kosong hanya tersisa kasur yang sudah rapi tanpa selimut dan barang-barang bundanya.
"Lita... mungkin Bunda dipindahkan ke ruangan lain sayang... kita pulang saja, ya... besok kita kembali lagi," kata Entin yang mengasuh Talita.
"Nggak mau... kita cari Bunda, sekarang," jawabnya sambil terus menangis. "Katanya Bunda di rumah sakit hanya sebentar, tapi semuanya bohong! Bunda lamaaa... nggak pulang-pulang," lanjutnya. Anak itu pandai bicara padahal sambil menangis.
Entin hanya kebingungan, bagaimana caranya menenangkan Talita, jelas tangis itu mengganggu pasien yang harus dijaga kesunyiannya.
"Eh, eh. Lihat, siapa yang datang?" Entin membungkuk merangkul pinggang Talita, tangannya menunjuk ke arah dua wanita yang berjalan ke arah mereka.
Jerit tangis Talita sedikit turun ketika melihat Rembulan.
Dia adalah, Rembulan dan mami, berjalan ke arahnya dengan perasaan sedih bercampur kasihan.
"Talita... kenapa ke sini malam-malam sayang..." Bulan segera berjongkok memeluk erat tubuh anak itu. Mendengar tangis Talita mengingatkan betapa rapuhnya hati Mentari jika saat ini melihatnya.
"Karena tidak ada kabar dari Non Mentari dan Tuan Bintang, Talita memaksa saya untuk mengantar ke sini Dokter..." jawab Entin menceritakan bahwa ia dan bibi tidak mampu menenangkan Talita.
"Talita sayang... Bunda saat ini sedang diobati oleh Dokter jaga di ruang lain. Talita tidak boleh menangis, tapi harus berdoa agar Bunda cepat sembuh dan segera pulang."
Anak itu seketika diam, tenang dalam pelukan Bulan. Sementara itu mami Renata hanya terpaku menatap mereka.
.
Di dalam keheningan ruang ICU, Bintang masih mengajak berbicara istrinya.
Tink!
Notif pesan handphone khusus untuk keluarga membuatnya berpaling sebentar, karena ingat Talita sejak kemarin tidak ia beri kabar. Ia berpikir art di rumah yang mengirim pesan.
"Pak Bintang, Talita baru saja menangis histeris, boleh tidak jika saya ajak ke rumah saya?"
Begitulah isi pesan tersebut. Tanpa berniat membalas, Bintang segera keluar.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌