Indonesia
NovelToon NovelToon
Bulan Untuk Bintang

Bulan Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.

Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.

"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."

"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."




Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Bintang menyerahkan selembar kertas yang sudah agak kusut itu kepada Rembulan dengan wajah datar.

"Ini... tulisan tangan Mentari, dia tulis pagi tadi setelah Dokter pergi," kata Bintang selalu memanggil Rembulan Dokter, menandakan bahwa tidak ada hubungan apapun selain dokter istrinya.

Rembulan membuka kertas lalu membaca tulisan sahabatnya yang agak goyah, dari analisa saat menulis dengan sisa tenaga, tapi masih terbaca.

"Bulan sahabatku... Maafkan aku jika membebanimu dengan permintaan yang konyol. Aku takut sekali pergi meninggalkan Bintang dan Talita. Aku tahu hanya kamu yang bisa menyayangi mereka sebaik aku, yang bisa melengkapi rumah kami kembali. Bulan, tolong... kabulkan permintaanku sekali ini saja. Menikahlah dengan Bintang, jadilah ibu bagi Talita. Karena aku tahu mereka akan aman bersamamu dan aku akan pergi dengan tenang."

Lagi-lagi itu isi surat tersebut, air mata Rembulan jatuh membasahi kertas, lalu memeluk surat itu di dada.

"Bagaimana menurutmu Dok, apa yang harus saya lakukan..." suara bariton mengejutkan Rembulan hingga membuka mata.

Jelas Bulan bingung untuk menjawab. Dalam hati kecilnya ingin rasanya menyanggupi permintaan sahabatnya, tapi bagaimana dengan Bintang sendiri? Karena urusan menikah harus dilakukan berdua dan melalui pertimbangan yang matang. Sedangkan Bulan merasa tidak yakin Bintang, akan menerima.

"Rembulan... ada apa ini?" Tanya mami curiga, menatap Bulan dan Bintang bergantian.

Bintang membalas tatapan wanita paruh baya itu baru menyadari bahwa ada orang lain di tempat itu. Bintang sadar ada yang lebih berhak membuat keputusan sebelum ia berani mengatakan niatnya untuk melamar Rembulan. Orang tua mana yang membolehkan putrinya menjadi pendamping pria beristri? Lidah Bintang merasa kelu untuk sekedar menyapa.

Sementara Rembulan menoleh ke arah mami, dengan mata merah, tangannya terulur menyerahkan surat tersebut.

Bulan lantas menoleh ke atas ranjang, menatap wajah Mentari yang masih terpejam dengan bantuan alat medis. Bisa saja ia mengorbankan masa depannya demi kemanusiaan, demi sahabat, dan demi anak umur empat tahun yang membutuhkan kasih sayang yang tidak lagi bisa Mentari berikan. Namun, mami jelas akan menolak dengan tegas.

"Maafkan atas kelancangan istri saya, Ibu," ucap Bintang, setelah mami Renata selesai membaca surat, perubahan di wajah orang tua Bulan itu merupakan jawaban bahwa Renata tidak menyetujui putrinya menikah dengannya.

"Bulan... ikut Mami," tegas mami, tanpa menjawab ucapan Bintang menggandeng putrinya keluar dari ruang ICU.

Di ruang tunggu, mereka duduk. Mami Renata mengajak putrinya bicara bukan dengan emosi.

"Jadi Mentari ingin kamu menikah dengan suaminya? Begitu kan Bulan?" Tanya mami memperjelas. Wajahnya yang tadi tampak iba kini berubah menjadi keberatan yang tidak bisa dia tutupi lagi.

Bulan yang belum punya keputusan hanya mengangguk.

"Bulan, Mami mengerti betul perasaan Mentari, tapi masih lebih tahu hatimu yang terlalu lembut untuk menolaknya," ujar Renata, menatap anaknya lekat. Ia tahu perasaan putrinya saat ini sedang dilanda kebimbangan.

Bulan menyandarkan kepalanya di pundak mami, seolah ingin kembali kecil dan mami yang memutuskan segala sesuatunya, tapi mana mungkin begitu? Air mata Rembulan pun akhirnya mengalir.

"Berpikirlah sayang... pernikahan yang akan kamu jalani bukan dengan pria lajang. Menikah bukan sekadar janji menolong seseorang, tapi menyangkut perjalanan hidupmu yang masih panjang. Mami takut membayangkan itu Nak, karena kamu belum cukup mengerti bagaimana rasanya menjadi istri kedua," mami secara langsung tidak mengizinkan anak perempuan satu-satunya tidak bahagia.

"Aku tidak tahu Mami, aku pusing..." Bulan menenggelamkan wajahnya di antara dua lutut.

"Mami bukan menakuti sayang... tapi apakah kamu sudah siap berbagi suami dengan Mentari, siap menjadi ibu bagi anak yang bukan darah dagingmu secara tiba-tiba? Apakah kamu yakin perlakuan Bintang yang nantinya tidak akan adil, karena cintanya hanya kepada Mentari."

 "Mami benar, tapi aku takut ini permintaan terakhir Mentari," Bulan sebenarnya tahu apa yang akan terjadi jika ia menerima Bintang, tapi juga takut bila menolak dan akhirnya jiwa Mentari tidak bisa tenang lantas pergi meninggalkannya lebih dulu.

Renata menggeleng, tangannya melingkar di pundak anaknya. "Rasa kasihan kamu itu tidak boleh membutakan akal sehatmu, Nak. Kamu bisa menjaga mereka, menolong mereka, menjadi sahabat dan orang terdekat mereka tanpa harus mengikat janji seumur hidup dengan pria yang tidak mencintai dirimu. Mami takut pengorbanan kamu demi orang lain, justru kelak akan membuat dirimu sendiri terluka dan tidak bahagia. Itu harga yang terlalu mahal untuk kamu bayar."

"Mama... Mama di mana... huhuhuuuuu..."

Saat mami sedang menasehati Rembulan, seketika berhenti ketika mendengar tangis anak perempuan diikuti wanita yang masih muda.

"Bunda... Bunda di mana?!" teriak anak umur empat tahun itu lantang, pandangannya menyapu setiap ruangan yang ia lewati, kemudian berhenti sejenak di depan ruang rawat yang kemarin di tempati ibunya. Tangan kecil itu mendorong pintu hingga terbuka. Namun, ruangan itu kosong hanya tersisa kasur yang sudah rapi tanpa selimut dan barang-barang bundanya.

"Lita... mungkin Bunda dipindahkan ke ruangan lain sayang... kita pulang saja, ya... besok kita kembali lagi," kata Entin yang mengasuh Talita.

"Nggak mau... kita cari Bunda, sekarang," jawabnya sambil terus menangis. "Katanya Bunda di rumah sakit hanya sebentar, tapi semuanya bohong! Bunda lamaaa... nggak pulang-pulang," lanjutnya. Anak itu pandai bicara padahal sambil menangis.

Entin hanya kebingungan, bagaimana caranya menenangkan Talita, jelas tangis itu mengganggu pasien yang harus dijaga kesunyiannya.

"Eh, eh. Lihat, siapa yang datang?" Entin membungkuk merangkul pinggang Talita, tangannya menunjuk ke arah dua wanita yang berjalan ke arah mereka.

Jerit tangis Talita sedikit turun ketika melihat Rembulan.

Dia adalah, Rembulan dan mami, berjalan ke arahnya dengan perasaan sedih bercampur kasihan.

"Talita... kenapa ke sini malam-malam sayang..." Bulan segera berjongkok memeluk erat tubuh anak itu. Mendengar tangis Talita mengingatkan betapa rapuhnya hati Mentari jika saat ini melihatnya.

"Karena tidak ada kabar dari Non Mentari dan Tuan Bintang, Talita memaksa saya untuk mengantar ke sini Dokter..." jawab Entin menceritakan bahwa ia dan bibi tidak mampu menenangkan Talita.

"Talita sayang... Bunda saat ini sedang diobati oleh Dokter jaga di ruang lain. Talita tidak boleh menangis, tapi harus berdoa agar Bunda cepat sembuh dan segera pulang."

Anak itu seketika diam, tenang dalam pelukan Bulan. Sementara itu mami Renata hanya terpaku menatap mereka.

.

Di dalam keheningan ruang ICU, Bintang masih mengajak berbicara istrinya.

Tink!

Notif pesan handphone khusus untuk keluarga membuatnya berpaling sebentar, karena ingat Talita sejak kemarin tidak ia beri kabar. Ia berpikir art di rumah yang mengirim pesan.

"Pak Bintang, Talita baru saja menangis histeris, boleh tidak jika saya ajak ke rumah saya?"

Begitulah isi pesan tersebut. Tanpa berniat membalas, Bintang segera keluar.

...~Bersambung~...

1
Teh Yen
harus bagaimana memberitahu ibu mertuamu yg ngeyel itu yah ,, suruh aj mentari yg cerita semuanya bintang coba percaya engg tuh ibu mertuamu tp aku yakin mereka pasti akan menghasut mentari agar membenci rembulan
Eka ELissa
ksian Talita jadi korban... khilngan mama nya kan....
Eka ELissa
nah kan....
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Eka ELissa
mknya kmu yg tegas jgn mbut mbut aj...dong....klau gini ribett kan..🤦🤦🤦
falea sezi
kapok makanya bulan ngapain sok baik ma sahabat 🤣🤣 mau mati aja nyusain lu mentari sahabat prettt bkin bulan di hujat sana sini 😒😒 mati aja lu mentari gk tau diri amat lu
mery harwati
Belum lagi kenyataan yang harus Bulan hadapi di tempat kerja, pasti lah video itu udah viral & sebagian orang di tempat kerja Bulan udah nonton termasuk ibu kandung Bintang sendiri, di tempat kerja tekanan psikologis Bulan makin berat gegara video viral itu 🥴
Setyowati Setyowati
karakter bintang kurang tegas , terlalu plin-plan ...dan Bulan harusnya dlm perdebatan jangan mau kalah SM Serly dan ibunya ..mereka cuma mau depak kamu dan Serly yg bakal menggantikan posisi mentari ..karena jiwa pelakornya meronta "
tiara
kasihan Bulan udah nikah ga sesuai keinginan eh malah dibuat sakit hati sama mertua ibu dan adiknya mentari,udah usir aja tuh orang ga punya hati mah mereka cuma pengen harta aja tuh
Agunk Setyawan
Uda tau mertua sama ipar gitu tp gak ada tegas" nya malah lembek kaya kangkung
Teh Yen
huuh kenapa bukan dari siang blng begitu nya bintang huuh bikin kesel.dulu deh baru tegas hadeuuh 🙈
mery harwati
Noh Bintang liat di dunia nyata bagaimana kekuatan nitezen mengorek abis kisah asmara CEO & artis yang diberitakan dapat uang dari mantan suami ratusan juta tiap bulannya
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Buna Seta: 🤣🤣🤣🤣❤❤❤
total 1 replies
mery harwati
Emang semudah itu menghapis jejak digital di medsos? Mimpi Bintang ketinggian dalam menghadapi netizen di jagat maya 🤣
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
tiara
bagus Bintang usir saja mertua sama ipar yang ga ada akhlak,bikin rusuh aja
Perempuan
lelet kamu Bintang. Kamu sudah melukai bahkan mendzolimi Bulan. Bulan rugi banget nikah sama kamu, masih ditambah dgn sikap kamu yg gak jelas, lambat ngambil keputusan
Eka ELissa
Halah telat basi...ktika bulan mju baru kmu nongol bintang ⭐⭐⭐⭐😡😡😡😡😡gaje lu....🤦🤦🤦
Eka ELissa
huuu....nah kan yg jadi korban mlhn bulan... mikirin perasaan orang Mulu cih..... prasaan orang yg terdekat GK di pikirin kmu kurang tegas bintang 😏😡
Agunk Setyawan
telat
mery harwati
Sosok Bintang dibuat BODOH di novel ini
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷‍♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
Teh Yen
duh gemes deh smaa bintang malah pergi ke rmh sakit harusnya jelasin dulu sama ibu mertua mu itu biar tidak nyebar jg gosipnya skrng nama baik rembulan d RS d pertaruhkan loh dengan menyebarnya vidio itu hadeeuh
Rohmi Yatun
disini posisi bulan sangat tdk menguntungkan.. tapi itu juga salahnya sendiri sih gak dipikirkan akibatnya wktu dia menerima permintaan mentari... dia yg menjerumuskan dirinya sendiri dlm situasi yg rumit..
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!