Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Cindy melangkah mundur dari hadapan lukisan itu, lalu menghempaskan tubuhnya dengan santai di atas sofa beledru merah marun yang berada di ruang tamu. Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya, memberi isyarat agar Damian ikut duduk bersamanya.
Damian menurut. Ia berjalan tanpa suara dan mendudukkan tubuh tingginya di samping Cindy. Meskipun ia duduk tegak dengan sopan, lengan kirinya dengan posesif bersandar di sandaran sofa tepat di belakang bahu Cindy, seolah siap mendekap gadis itu kapan saja.
“Sebenarnya, ada cerita panjang kenapa keluargaku bisa punya rumah kolonial sebagus ini, Damian,” buka Cindy, matanya menerawang menatap langit-langit ruang tamu yang tinggi dengan lampu gantung kristal yang agak berdebu. “Semua ini berawal dari kakekku.”
Damian memiringkan kepalanya sedikit, menunjukkan ketertarikan yang mendalam. “Kakekmu? Ceritakan pada saya, Cindy. Saya ingin tahu segalanya tentang keluargamu.”
“Kakekku itu... umurnya panjang banget, Damian. Hampir seratus tahun lebih. Di kampung halamannya dulu, dia itu orang tertua yang paling dihormati karena menyaksikan banyak sejarah,” Cindy terkekeh pelan, mengingat sosok sang kakek. “Beliau baru meninggal dua tahun yang lalu, tepat beberapa bulan setelah kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku. Seolah-olah, beliau sengaja bertahan hidup selama itu hanya untuk memastikan rumah ini jatuh ke tangan yang tepat.”
Damian terdiam. Jemarinya yang berada di sandaran sofa bergerak pelan, menahan gejolak gaib di dalam dadanya. 'Seratus tahun lebih...' Berarti kakek Cindy kemungkinan besar adalah salah satu anak laki-laki pribumi yang dulu sekali sering berlarian di sekitar perkebunan milik keluarganya dan akhirnya di angkat jadi salah satu orang kepercayaan keluarganya.
“Dulu waktu aku masih kecil, Kakek sering banget mendongeng sebelum tidur,” lanjut Cindy, senyumnya menyiratkan kerinduan. “Tapi dongengnya bukan tentang kancil atau bawang merah, melainkan tentang majikan Belandanya. Kakek selalu bilang kalau dia dulu mengabdi pada keluarga bangsawan Belanda yang sangat baik dan kaya raya. Pemilik asli dari rumah megah yang sekarang kamu tempati di sebelah.”
Damian menatap lekat-lekat profil samping wajah Cindy. “Lalu... apa yang kakekmu ceritakan tentang mereka?”
“Kakek bilang, keluarga Belanda itu memperlakukannya seperti keluarga sendiri. Nah, rumah yang aku tinggali sekarang ini... ternyata dibangun khusus oleh majikan Belandanya itu sebagai hadiah untuk Kakek atas kesetiaannya. Tanah dan bangunannya diberikan cuma-cuma,” Cindy menoleh ke arah Damian, matanya berbinar. “Anehnya, anak Kakek itu banyak banget, ada delapan orang. Tapi dalam surat wasiat lama yang ditulis Kakek, rumah kolonial ini secara khusus diwariskan hanya untuk ayahku, anak bungsunya.”
“Kenapa harus ayahmu?” tanya Damian dengan suara rendah, mengabaikan fakta bahwa ia sebenarnya tahu persis alasan di balik ikatan emosional tersebut.
“Mungkin karena dari semua anaknya, cuma Ayah yang mewarisi kecintaan Kakek pada tempat ini. Ayahku itu seorang pakar kesenian dan kurator benda antik, Damian. Jadi pas tahu dia dapat warisan rumah sekuno ini, Ayah senang luar biasa. Makanya Ayah merawat rumah ini dengan sangat baik. Ubin tegelnya, pintu jatinya, bahkan lukisan keluarga Belanda tadi, semua dirawat sama Ayah tanpa mengubah bentuk aslinya sedikit pun.”
Cindy tertawa kecil atas salah ucapnya, sementara Damian hanya terpaku. Pikiran Damian berputar cepat. Takdir ini terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Keluarga Cindy tidak hanya merawat aset fisiknya, tetapi juga menjaga memori tentang dirinya tetap hidup selama ratusan tahun melintasi generasi.
“Ayahmu... melakukan pekerjaan yang luar biasa,” ujar Damian lirih. Ia memberanikan diri meraih jemari hangat Cindy, menggenggamnya dengan tangan pucatnya yang sedingin malam. “Rumah ini terasa sangat hidup karena dirawat dengan cinta. Kakekmu pasti sangat menghormati majikannya, sampai-sampai rasa hormat itu menurun pada ayahmu... dan sekarang, kepadamu.”
Cindy merasakan ketulusan yang pekat dari genggaman tangan Damian. Ia tersenyum manis, membiarkan jemarinya tenggelam dalam rasa dingin yang kini terasa begitu protektif. “Iya. Aku merasa punya tanggung jawab buat menjaga rumah ini. Makanya, pas kamu datang dan bilang kamu pemilik rumah sebelah, aku merasa... seperti ada potongan puzzle yang akhirnya kembali ke tempatnya.”
Damian menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman lebar yang penuh misteri sekaligus kepuasan yang mutlak. Mata birunya berkilat tajam di bawah remang cahaya ruang tamu.
“Kamu benar, Cindy. Potongan puzzle-nya sudah lengkap sekarang,” bisik Damian, merapatkan tubuhnya hingga Cindy bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari kemejanya. “Kamu, saya, dan rumah ini... kita semua sudah berada di tempat yang semestinya. Dan tidak akan ada yang bisa merusaknya lagi.”
»»»»
Cindy bersandar di bahu Damian. Ia merasa kelelahan yang aneh, seolah energi tubuhnya sedikit tersedot usai menceritakan masa lalu keluarganya yang panjang. Jari jemarinya yang lentik bergerak pelan, memainkan ujung kemeja rajut abu-abu yang dikenakan Damian, memelintir kain tebal itu dengan gerakan kecil yang manja, persis seperti seorang kekasih yang sedang mendamba perhatian lebih.
Hawa dingin yang menguar dari tubuh Damian tidak lagi membuat Cindy menjaga jarak. Alih-alih menjauh, rasa dingin itu justru terasa seperti candu yang menenangkan detak jantungnya yang tadi sempat menggebu-gebu.
“Setelah ini kamu mau melakukan apa?” tanya Damian. Suara beratnya terdengar begitu dekat, bergetar lembut di dada bidangnya yang menjadi sandaran kepala Cindy.
Cindy mendongak sedikit, menatap dagu kokoh Damian dari bawah. “Gak tahu. Hari ini kan jadwalku kosong. Mahen gak ke sini, dan kontenku untuk minggu ini sudah aman semua. Paling… aku cuma mau malas-malasan saja di sofa. Menemanimu.”
Damian menurunkan pandangannya, menatap langsung ke dalam manik mata cokelat terang Cindy yang tampak sayu dan penuh binar asmara. “Menemani saya? Kamu tidak bosan jika hanya duduk diam bersama pria kaku seperti saya, hmm?” tanya Damian lagi, jemari tangannya yang panjang dan pucat perlahan naik, mengelus puncak kepala Cindy dengan gerakan yang teramat lembut dan konstan.
Cindy terkekeh pelan, merapatkan tubuhnya hingga tidak ada celah tersisa di antara mereka. “Sama sekali gak bosan. Malah, beberapa bulan ini aku selalu menunggu sore hari cuma buat melihatmu duduk di teras belakang. Kamu itu… misterius, tapi entah kenapa bikin aku merasa aman.”
Mendengar pengakuan jujur yang begitu polos dari bibir Cindy, mata biru Damian perlahan menggelap. Ada kepuasan yang begitu pekat merayapi jiwanya yang telah lama mati. Tangan Damian yang berada di kepala Cindy perlahan turun ke pipi gadis itu, menangkup wajah mungilnya dengan ibu jari yang mengelus bibir bawah Cindy yang kemerahan.
“Kamu terlalu mempercayai saya, Cindy,” bisik Damian, wajahnya perlahan merendah, memotong jarak di antara mereka hingga deru napas hangat Cindy menyapu permukaan kulit pucatnya. “Bagaimana jika saya adalah orang yang berbahaya? Seperti yang dikatakan sahabatmu siang itu?”
“Mahen cuma terlalu protektif,” sahut Cindy lirih, matanya mulai terpejam perlahan saat merasakan sentuhan dingin tangan Damian di lehernya, merayap ke tengkuknya yang hangat, memberikan sensasi kontras yang membuat seluruh tubuhnya meremang pasrah. “Tapi aku tahu… kamu gak akan pernah menyakitiku.”
“Benar. Saya tidak akan pernah menyakitimu,” janji Damian dengan suara serak yang begitu dalam, terdengar seperti sebuah sumpah yang mengikat. “Saya hanya akan menjagamu. Memastikan kamu menjadi milik saya seutuhnya.”
Detik berikutnya, Damian memiringkan wajahnya dan membungkam bibir Cindy dengan ciuman yang lambat namun penuh penekanan.
Cindy melenguh pelan di sela ciuman mereka, kedua tangannya yang tadi memainkan ujung kemeja Damian kini naik, mengalung pasrah di leher kokoh pria itu. Rasa mint yang kuat dan dingin yang familier dari bibir Damian kembali menjajah indra perasanya. Kali ini, ciuman Damian terasa jauh lebih posesif daripada tadi pagi di teras. Pria itu sedikit memutar tubuh Cindy agar menghadap sepenuhnya ke arahnya, menarik pinggang gadis itu hingga Cindy setengah berlutut di atas sofa, bersandar sepenuhnya pada tubuh besar Damian.
Sentuhan tangan Damian yang merayap di sepanjang punggungnya mengirimkan gelombang getaran yang membuat lutut Cindy benar-benar lemas. Setiap lumatan yang diberikan Damian terasa begitu nyata, menuntut, seolah pria itu sedang menyeduh seluruh rasa sepi yang selama dua tahun ini menyiksa Cindy, dan menggantinya dengan obsesi yang tak bertepi.
Ketika tautan bibir mereka terlepas demi memberi Cindy kesempatan menghirup oksigen, Damian tidak menjauhkan wajahnya. Ia membenamkan wajah tampannya di ceruk leher Cindy, mengecup kulit hangat di sana dengan lembut namun posesif, meninggalkan sensasi dingin yang menggelitik.
“Damian… ah,” desis Cindy pelan, jemarinya meremas rambut hitam lebat Damian. Hawa dingin di lehernya membuat jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya naik turun dengan tidak beraturan. “Kamu… dingin banget. Tapi kenapa rasanya nyaman sekali?”
Damian terkekeh rendah di ceruk leher Cindy, suara tawa gaibnya bergetar menggelitik kulit gadis itu. Ia mendongak kembali, menatap wajah Cindy yang sudah merah padam dengan napas yang memburu.
“Karena jiwamu yang hangat telah memilih saya, Cindy,” bisik Damian, menyatukan kening mereka yang kontras suhunya. Ia tersenyum sangat lebar, memperlihatkan ketampanan klasiknya yang mematikan. “Dan mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun, termasuk sahabatmu itu, yang bisa memisahkan kita lagi.”
“Ya, tidak ada yang bisa memisahkan kita.“