Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dark Romance / Psikopat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Lucian menatap kartu hitam yang masih berada di dekat mesin EDC, lalu matanya beralih menatap wajah Sena yang tersenyum lebar tanpa rasa canggung sedikit pun. Tidak ada keterkejutan, ketakutan, atau kecemasan yang biasa ditunjukkan orang-orang di sekitarnya. Yang ada di hadapannya hanyalah seorang gadis yang menatapnya dengan binar mata terlalu terang dan ekspresi yang sulit dicerna.

Tanpa merespons sapaan ceria itu, Lucian merogoh saku dalam jasnya. Jemari panjangnya yang rapi menarik beberapa lembar uang kertas bernominal tinggi, lalu meletakkannya di atas meja kasir tepat di samping jemari Sena yang masih memegang Black Card.

Gerakannya begitu tenang dan mulus, namun memancarkan penolakan yang tegas tanpa perlu diucapkan.

Melihat tumpukan uang kertas itu, Sena justru tersenyum makin lebar. Ia sengaja mengedipkan satu matanya dengan genit ke arah Lucian, lalu mendorong kembali tumpukan uang itu mendekati sang pemuda.

"Gak usah, Ganteng!" ujar Sena dengan suara yang dibuat-buat manja, membuat barista di balik kasir sampai menahan napas canggung. "Anggap aja ini investasi masa depan. Lagian, ditraktir cewek cantik kayak aku itu kesempatan langka, lho! Uangnya disimpan aja buat beli obat luka yang kemarin."

Sena mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengabaikan hawa dingin yang terpancar kuat dari tubuh Lucian. "Ngomong-ngomong, kamu sering ke sini? Sukanya minum apa? Kalau aku sih tadi pesen ice caramel macchiato, tapi kalau kamu suka yang manis-manis, mending ngeliatin aku aja, dijamin manisnya alami tanpa pemanis buatan!"

Gombalan murahan itu meluncur mulus dari mulut Sena tanpa beban.

Lucian sama sekali tidak tersenyum. Iris matanya yang sehitam malam hanya menatap Sena secara mendalam selama dua detik tatapan mengimbal yang biasa ia gunakan untuk menandai calon korbannya. Tepat saat barista menyerahkan secangkir black coffee hangat dalam cangkir kertas, Lucian meraihnya.

Tanpa membalas satu pun pertanyaan basa-basi Sena, Lucian memutar tubuhnya dan melangkah pergi menuju pintu keluar kafe dengan gerakan yang sangat tenang.

"Eh, eh! Jangan main kabur gitu dong!" seru Sena heboh.

Dengan gerakan sergap, Sena berlari kecil menyusul langkah jangkung Lucian hingga berhasil berdiri di sampingnya, sejajar saat mereka melangkah keluar dari pintu kaca kafe.

"Kututup hari ini dengan kenalan yang benar, dong! Nama aku Estella, tapi kamu boleh panggil aku Sayang," celetuk Sena setengah bercanda sambil memamerkan cengiran terbaiknya. "Kamu nama aslinya siapa? Terus... minta nomor WhatsApp-nya dong! Buat mempermudah silaturahmi antar umat manusia yang saling menyelamatkan!"

Sena menyodorkan layar ponsel mewahnya yang sudah terbuka di menu kontak baru, menghalangi sedikit jalan Lucian.

Lucian menghentikan langkahnya di trotoar depan kafe. Ia memiringkan kepala sedikit, menatap lurus ke arah layar ponsel yang disodorkan Sena, lalu menatap iris abu-abu milik gadis itu secara bergantian. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa makin menghimpit dan membekukan.

Dengan suara deep voice-nya yang datar, dingin, dan tanpa intonasi sedikit pun, Lucian membuka suara:

"Tidak."

Satu kata singkat itu terucap bagaikan vonis mati yang memotong semua rentetan kalimat heboh Sena dalam sekejap. Tanpa menunggu tanggapan lagi, Lucian melanjutkan langkahnya, memasuki sebuah mobil sedan hitam bermewah yang pintu kemudinya sudah dibukakan oleh Edwin asisten pribadinya yang sempat melirik Sena sekilas dari balik kacamata.

Pintu mobil tertutup dengan bunyi klek yang berat, lalu sedan hitam itu melaju tenang menyatu dengan arus lalu lintas.

Sena berdiri mematung di tepi trotoar dengan tangan masih memegang ponsel. Ia melongo menatap kepergian mobil mewah itu.

"Anjir..." gumam Sena, lalu mendengus kesal seraya menurunkan ponselnya. "Cuma jawab 'Tidak' doang?! Judes amat buset! Padahal di novel digambarkan jenius berwibawa, ternyata aslinya kulkas dua pintu yang dicolok ke freezer!"

Sepulang dari kafe, Sena langsung mengurung diri di dalam kamar mandi mewahnya di lantai tiga. Ia menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtub marmer berukuran raksasa yang terisi air hangat beraroma terapi lavender. Busa-busa putih halus mengepul di permukaan air, namun kehangatan itu sama sekali tidak sanggup mengusir rasa dingin yang perlahan merayap di dadanya.

Sena menopang dagunya di tepi bathtub, menatap kosong ke arah pantulan air yang bergoyang pelan.

"Harusnya dia udah tahu siapa gue..." gumam Sena dengan raut wajah berkerut pusing. "Buktinya jelas-jelas dia yang neror gue pakai bangkai tikus sama pisau di mobil tadi siang! Tapi aneh banget... Pas gue ajak ngobrol langsung dan coba pendekatan, kok responnya dingin banget kayak es batu? Dijawab 'Tidak' doang, buset!"

Sena mendengus kasar, memercikkan air ke udara dengan jemarinya. "Jual mahal banget sih jadi cowok! Ya walau diakui dia emang gantengnya kebangetan, kaya raya, punya harta berlimpah di mana-mana... minusnya cuma satu: dia psikopat gila darah!"

Sena menghela napas panjang, mencoba merilekskan otot-otot tubuhnya yang tegang. Ia menyambar tablet pintar berlayar tipis yang diletakkan di atas rak kayu khusus di samping bathtub. Jemarinya menggeser layar, memutar saluran berita lokal untuk mengisi kesunyian ruangan.

Namun, baru saja saluran berita berputar, suara pembawa berita perempuan bertada serius langsung memenuhi kamar mandi:

“Berita utama malam ini. Kepolisian setempat kembali digemparkan dengan penemuan sebuah koper hitam di pinggir sungai kawasan utara kota. Di dalam koper tersebut, ditemukan jasad seorang mahasiswi universitas ternama yang diketahui merupakan Ketua BEM Fakultas Hukum. Korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa tanpa menunjukkan tanda-tanda perlawanan, sementara pelaku tidak menyisakan satu pun jejak di lokasi kejadian—”

PRANG!

Tablet di tangan Sena hampir saja merosot masuk ke dalam air.

Mata abu-abunya membelalak lebar menatap layar tablet yang menampilkan foto koper hitam dan garis polisi di lokasi kejadian. Darah di seluruh tubuh Sena serasa berhenti mengalir seketika. Peluh dingin mulai menetes dari pelipisnya, bercampur dengan uap air hangat di dalam ruangan.

Sena menelan ludahnya yang terasa teramat pahit dan mengganjal di tenggorokan.

Memory ingatan dari alur novel thriller yang pernah dibacanya mendadak berputar cepat di kepalanya, saling menyambung bagaikan teka-teki mengerikan.

"Kasus koper... Ketua BEM..." bisik Sena dengan suara bergetar hebat.

Sena mengingatnya dengan sangat jelas! Kasus pembunuhan Ketua BEM adalah salah satu 'karya' terhebat Vex Noir yang memicu keributan besar di kalangan kepolisian pada awal cerita. Dan yang paling membuat jantung Sena berdegup kencang hingga dadanya terasa sesak adalah alur setelah kasus tersebut.

Di dalam novel, tepat satu bulan setelah kematian Ketua BEM itu, Vex Noir kembali beraksi. Target berikutnya yang ditemukan tewas dengan kondisi terpotong-potong adalah seorang mahasiswi kaya raya yang bernama... Estella Aurora.

Yaitu dirinya saat ini!

"T-tunggu..." jerit Sena dengan nada tertahan, menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan yang gemetaran hebat.

Mata Sena bergerak liar memandangi dinding kamar mandi. Keringat dingin makin deras mengucur membasahi leher dan punggungnya.

"Satu bulan... Berarti waktu hidup gue di dunia ini cuma tinggal satu bulan lagi?!" pekik Sena tertahan dengan napas yang memburu ketakutan. "Gue cuma punya waktu tiga puluh hari buat naklukin itu psikopat atau bikin dia batal ngebunuh gue?! Kalau kagak... pala gue beneran melayang dijadiin bola!"

1
putmelyana
bodoh banget ceweknya orang MH ngejauh dari kematian malah ngedeketin udah tau dia psikopat malah deketin. orang mh kabur nikmati karena transmigrasi jadi kaya malah jadi babu
putmelyana
apasih karakter ceweknya sikapnya berlebihan banget gajelas.
Alissia
up thor🤭🤭
Alia Chans
Hadir Thor, saling support💪/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!