Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 PEREMPUAN YANG KEMBALI DEMI HARTA

Berita itu muncul sebelum Kaluna sempat memasuki ruang rapat Salindri. Judulnya memenuhi layar telepon.

PEREMPUAN YANG DINYATAKAN MATI KEMBALI SETELAH TIGA TAHUN: IDENTITAS ASLI ATAU PEREBUTAN HARTA KELUARGA MAHARDIKA?

Di bawah judul tersebut terdapat foto Kaluna ketika meninggalkan kantor pusat Mahardika Medika. Wajahnya tampak jelas. Foto itu diambil sehari sebelumnya.

Artinya, seseorang sudah mengikuti pergerakannya, bukan sekadar menggali arsip lama.

Kaluna membuka berita tersebut. Tulisan itu menyebut hasil DNA yang membuktikan hubungan biologisnya dengan Elara, tetapi hampir tidak membahas luka atau hilangnya ingatan Kaluna. Sebaliknya, artikel lebih banyak mengulang tuduhan lama.

Tiket satu arah ke Singapura.

Dugaan penggelapan dana.

Foto Kaluna di hotel dekat bandara.

Dokumen pengalihan saham.

Penulis berita juga menyebut bahwa Kaluna baru kembali setelah asetnya dikelola keluarga Mahardika selama tiga tahun.

“Cepat sekali,” kata Naren.

Ia berdiri di dekat jendela ruang rapat sambil membaca artikel melalui tabletnya.

“Keberatan baru diajukan semalam,” kata Kaluna. “Berita ini sudah memuat isinya.”

Salindri mengambil telepon Kaluna dan memeriksa nama media yang menerbitkan tulisan tersebut.

“Tidak semua bagian berasal dari dokumen keberatan,” katanya. “Ada informasi yang seharusnya hanya diketahui keluarga dan bagian hukum perusahaan.”

“Berarti ada yang membocorkannya.”

“Itu sudah jelas.”

Kaluna menggulir halaman sampai menemukan foto hotel lama. Gambar yang digunakan masih versi yang telah dipotong. Papan bertuliskan pertemuan internal Mahardika Medika tidak tampak.

Di bawah foto tertulis bahwa Kaluna pernah terlihat di hotel dekat bandara sebelum menghilang dan diduga sedang menyiapkan pelarian ke luar negeri.

“Mereka tahu foto aslinya punya konteks lain,” kata Kaluna.

“Belum tentu media ini tahu,” jawab Salindri. “Mereka mungkin hanya menerima bahan lama.”

“Dari orang yang tahu foto itu sudah menyesatkan.”

Naren meletakkan tabletnya.

“Kita bisa mengirim bantahan dengan foto lengkap dan data pertemuan hotel.”

“Belum,” kata Salindri.

Kaluna langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Karena daftar peserta pertemuan masih bermasalah. Kalau kita menyebarkan foto lengkap sekarang, mereka akan bertanya siapa saja yang hadir. Kita belum siap menjawab.”

“Membiarkan berita ini tetap beredar juga merugikanku.”

“Saya tidak bilang kita diam. Kita akan membantah bagian yang bisa dibuktikan. Hasil DNA, keberadaanmu dalam perawatan, dan fakta bahwa foto hotel dipotong.”

“Bagaimana dengan tiket?”

“Masih diperiksa.”

“Penggelapan?”

“Kita belum memiliki laporan asli yang membuktikan aliran uang itu tidak menuju kepadamu.”

Kaluna menarik kursi dan duduk.

“Jadi mereka bisa melempar semua tuduhan lama, sementara aku harus menunggu semuanya diperiksa?”

“Begitulah cara perkara berjalan.”

“Dan selama menunggu, orang akan menganggap tulisan itu benar.”

Salindri duduk di seberangnya.

“Makanya kita harus pilih jawaban yang besok masih bisa dipertanggungjawabkan.”

Kaluna memahami maksudnya, tetapi tetap sulit menerima.

Tiga tahun lalu, seseorang membangun cerita tentang dirinya ketika ia tidak mampu membantah.

Sekarang ia sudah kembali. Kebohongan itu tetap bergerak lebih cepat daripada bukti.

Telepon Naren berdering. Ia membaca pesan yang masuk, lalu memperlihatkannya kepada Kaluna.

Beberapa media lain mulai mengangkat berita serupa. Judulnya berbeda, tetapi isinya hampir sama.

KALUNA ADISWARA KEMBALI MENUNTUT SAHAM SETELAH TIGA TAHUN MENGHILANG.

IBU KANDUNG ELARA MAHARDIKA MUNCUL DAN MEMINTA HAKNYA KEMBALI.

KELUARGA MAHARDIKA PERTANYAKAN ALASAN KALUNA BARU PULANG.

“Tidak ada satu pun yang menulis aku mengalami cedera dan kehilangan ingatan,” kata Kaluna.

“Ada,” jawab Naren. “Di paragraf kedelapan.”

Kaluna tertawa kecil tanpa rasa lucu.

“Tentu. Setelah semua tuduhan selesai ditulis.”

Salindri mulai menyusun pernyataan resmi. Ia meminta Kaluna tidak berbicara langsung kepada media. Tidak membuat unggahan pribadi. Tidak membalas komentar. Tidak juga menyebut nama Bramasta, Revan, atau perusahaan rekanan yang sedang mereka periksa.

“Kita hanya menegaskan bahwa identitasmu telah didukung hasil DNA dan catatan medis,” katanya. “Kemudian membantah bahwa kedatanganmu ke hotel merupakan bagian dari rencana pelarian.”

“Foto lengkapnya disertakan?”

“Iya. Tanpa daftar peserta.”

Kaluna mengangguk.

Setidaknya satu kebohongan bisa dipatahkan hari itu.

Menjelang siang, Arsen menelepon.

“Berita itu bukan dariku.”

Kaluna belum sempat menyapa, tetapi lelaki itu langsung membela diri.

“Aku juga belum menuduhmu.”

“Bagian hukum perusahaan mengajukan keberatan atas namaku sebagai direktur.”

“Aku baru tahu setelah dokumennya dikirim.”

“Kamu masih memimpin perusahaan. Jangan bicara seolah keputusan itu dibuat tanpa bisa kamu hentikan.”

“Itu diajukan kuasa hukum berdasarkan keputusan dewan.”

“Dan kamu anggota dewan.”

“Aku tidak hadir saat keputusan itu dibuat.”

Kaluna memejamkan mata sebentar.

“Kamu terlalu sering nggak ada waktu keputusan penting soal hidupku dibuat.”

Arsen tak menjawab. Di belakang suaranya terdengar langkah orang berjalan dan pintu ditutup.

“Aku sedang di kantor,” katanya kemudian. “Paman Bramasta bilang perusahaan cuma mau memastikan kepulanganmu nggak dipakai buat membatalkan semua keputusan selama tiga tahun ini.”

“Keputusan yang dibuat setelah aku dianggap mati terlalu cepat.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, cabut keberatannya.”

“Aku tidak bisa melakukannya sendiri.”

“Dulu kamu bisa menandatangani perubahan sahamku tanpa membacanya. Sekarang satu keberatan saja kamu tidak bisa hentikan?”

“Kaluna, jangan mulai.”

“Aku tidak memulai apa pun. Keluargamu yang membawa namaku ke media.”

“Aku sedang mencari siapa yang membocorkan dokumen itu.”

“Kamu akan menemukan seorang pegawai, lalu semua orang berpura-pura masalah selesai.”

“Apa yang kau inginkan dariku?”

Kaluna menatap berita di layar laptop.

“Aku cuma mau kamu berhenti berdiri di tengah terus. Seolah semuanya masih bisa dibenarkan.”

“Aku belum bisa bilang kamu nggak bersalah sebelum pemeriksaannya selesai.”

“Tapi selama tiga tahun kamu membiarkan semua orang menyatakan aku bersalah tanpa pemeriksaan yang benar.”

Tidak ada jawaban dari seberang.

Kaluna menutup panggilan.

Naren tidak berkomentar. Ia hanya mendorong segelas air ke arah Kaluna.

“Aku tidak butuh dikasihani.”

“Aku memberimu air.”

Kaluna mengambil gelas itu dan minum.

Setelah pernyataan Salindri dikirim, foto lengkap dari hotel mulai beredar. Beberapa media mengubah judul. Ada yang menambahkan keterangan bahwa Kaluna menghadiri kegiatan perusahaan, bukan tercatat sebagai tamu hotel.

Berita pertama sudah telanjur dibaca banyak orang.

Komentar-komentar bermunculan.

Sebagian percaya Kaluna dijebak.

Sebagian lain menuduhnya kembali karena kehabisan uang.

Ada pula yang mengatakan hasil DNA hanya membuktikan Kaluna adalah ibu Elara, bukan membuktikan ia tidak pernah melakukan penggelapan.

Kaluna berhenti membaca setelah beberapa menit.

Ia pernah menghadapi rapat pemegang saham yang penuh tekanan. Pernah mengambil keputusan tentang kontrak bernilai besar.

Menghadapi ribuan orang yang merasa berhak menilai hidupnya berdasarkan satu judul terasa berbeda.

Mereka tidak mengenalnya, tetapi menulis seolah tahu kenapa ia kembali.

Sore hari, Kaluna pergi ke rumah Mahardika sesuai janjinya kepada Elara.

Salindri sebenarnya menyarankan agar kunjungan ditunda. Media mungkin menunggu di sekitar rumah.

Kaluna menolak.

Ia tidak ingin kebohongan di luar rumah mengubah satu-satunya hubungan yang baru mulai tumbuh.

Dua wartawan memang berdiri tidak jauh dari gerbang. Petugas keamanan mencegah mereka mendekat.

Kaluna masuk tanpa memberikan pernyataan.

Di dalam rumah, suasananya lebih sunyi dari biasanya.

Mbok Rini menyambut Kaluna di ruang depan. Perempuan tua itu tampak cemas.

“Nona Elara di kamar.”

“Dia sakit?”

Mbok Rini ragu menjawab.

“Tidak. Tapi tadi sempat menangis.”

Kaluna langsung mengarah ke tangga.

“Kenapa?”

Sebelum Mbok Rini sempat menjelaskan, Veyra turun dari lantai atas. Wajahnya terlihat letih. Telepon berada di tangannya.

“Elara melihat berita,” katanya.

“Siapa yang menunjukkan?”

“Tidak ada. Salah satu teman sekolahnya mengirim tangkapan layar melalui grup.”

Napas Kaluna tertahan.

“Dia membaca semuanya?”

“Tidak. Aku mengambil tabletnya sebelum dia membuka seluruh artikel.”

“Tapi dia melihat judulnya.”

Veyra mengangguk.

Kaluna berjalan menuju tangga, tetapi Veyra menghalangi satu langkah.

“Jangan langsung membahas saham atau perusahaan.”

“Aku tahu cara bicara dengan anakku.”

“Aku tidak bilang kamu tidak tahu. Aku cuma...”

“Kamu cuma apa?”

Veyra menurunkan suara.

“Aku cuma tidak ingin dia merasa harus memilih siapa yang benar.”

Kaluna diam.

Dalam keadaan lain, Kaluna mungkin akan menganggap itu cara Veyra mempertahankan posisinya.

Kali ini Veyra benar.

Elara tidak seharusnya menjadi hakim bagi orang-orang dewasa di sekelilingnya.

“Aku tidak akan memaksanya memilih,” kata Kaluna.

Veyra menyingkir.

Kaluna naik menuju kamar Elara.

Pintunya tidak tertutup rapat.

Ia mengetuk pelan.

“Elara?”

Tak ada jawaban.

Kaluna mendorong pintu sedikit.

Elara duduk di atas tempat tidur sambil memeluk Momo. Tablet tergeletak di meja, jauh dari jangkauannya.

Elara tidak menyadari Kaluna sudah masuk.

“Aku boleh duduk?” tanya Kaluna.

Elara mengangkat bahu.

Kaluna duduk di tepi tempat tidur, menyisakan jarak.

Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.

“Aku lihat fotomu di berita,” kata Elara akhirnya.

Kaluna menunggu.

“Mereka bilang kamu datang untuk mengambil uang Papa.”

“Itu tidak benar.”

“Mereka juga bilang kamu dulu pergi karena bawa uang kantor.”

“Aku tidak membawa uang perusahaan.”

“Papa tahu?”

“Papa sedang memeriksa semuanya.”

Elara menunduk kepada bonekanya.

“Kenapa semua orang selalu bilang masih diperiksa?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi Kaluna tidak punya jawaban yang mudah.

“Karena banyak hal terjadi saat aku tidak bisa menjelaskan.”

“Kamu benar-benar lupa tiga tahun?”

“Tidak semuanya. Tapi aku tidak ingat banyak hal setelah kecelakaan.”

“Kalau lupa, kamu tahu dari mana kamu tidak mengambil uang?”

Kaluna terdiam.

Ia tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari anak berusia tujuh tahun.

Mungkin Elara mendengarnya dari berita.

Mungkin dari percakapan orang dewasa.

“Aku masih ingat cara aku bekerja. Aku tahu aku nggak akan ninggalin kamu demi uang.”

“Tapi kamu mau mengambil saham.”

“Saham itu bagian perusahaan yang dulu kubangun.”

“Kalau kamu ambil, Papa kehilangan semuanya?”

“Tidak.”

“Mama bilang perusahaan sedang ada masalah.”

Kaluna sempat melirik ke arah pintu. Veyra tidak tampak di sana.

“Aku tidak datang untuk membuat Papa kehilangan rumah atau pekerjaan,” kata Kaluna. “Aku datang karena ada hakku yang dipindahkan waktu semua orang mengira aku sudah meninggal.”

Elara mengusap telinga Momo.

“Kalau sahamnya kembali, kamu pergi lagi?”

“Tidak.”

“Kalau pengadilan bilang kamu mamaku, aku harus tinggal sama kamu?”

Dada Kaluna menegang.

“Tidak ada yang akan menyeretmu dari rumah ini.”

“Terus kenapa orang bilang kamu mau ambil aku?”

“Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu. Tapi aku tidak ingin membuatmu takut.”

Elara akhirnya memandangnya.

Matanya tampak merah.

“Temanku bilang ibu kandung yang kembali pasti mau ambil anak dan hartanya.”

Kaluna menahan rasa marah kepada siapa pun yang membiarkan anak-anak mengulang kalimat seperti itu.

“Apa yang dikatakan temanmu belum tentu benar.”

“Tapi kamu memang mau saham dan mau jadi mamaku.”

Kaluna mengangguk pelan.

“Aku mau mengambil kembali yang memang jadi hakku. Aku juga mau kamu mengenalku sebagai ibumu. Tapi itu tidak berarti aku datang untuk merusak hidupmu.”

Elara menggenggam Momo lebih erat.

“Kalau begitu, kenapa semua orang bertengkar setelah kamu datang?”

Kaluna diam.

Jawaban itu sempat muncul di kepala Kaluna, lalu ia mengurungkannya.

Terlalu berat untuk Elara.

“Karena orang dewasa kadang menyimpan masalah terlalu lama,” jawabnya. “Saat masalah itu muncul lagi, mereka tidak tahu cara menghadapinya tanpa bertengkar.”

“Elara tidak suka.”

“Aku juga tidak.”

Anak itu menunduk kembali.

Kaluna tidak menyentuhnya.

Ia tahu ada saat ketika pelukan dapat menenangkan. Ada juga saat ketika sentuhan dari orang yang belum sepenuhnya dipercaya terasa seperti paksaan.

Beberapa menit berlalu.

Kemudian Elara bertanya dengan suara sangat pelan.

“Kamu balik karena aku atau karena uang?”

Kaluna menatap wajah putrinya.

“Ingatanku tentang banyak hal belum kembali,” katanya. “Sejak aku tahu kamu masih ada, aku ingin kembali kepadamu.”

“Itu bukan jawaban.”

Kaluna menarik napas.

“Aku balik karena aku mau hidupku kembali. Kamu bagian terbesar dari hidup itu. Saham dan namaku juga bagian darinya. Aku tidak akan berbohong dan bilang uang tidak penting, karena perusahaan itu kubangun. Tapi aku tidak pernah menganggap kamu sama seperti harta yang bisa direbut.”

Elara memperhatikannya cukup lama.

“Jadi kamu mau dua-duanya?”

“Aku mau namaku kembali. Pekerjaanku juga. Dan aku mau kesempatan buat jadi ibumu.”

“Kalau aku belum mau?”

Ada rasa nyeri kecil di dada Kaluna.

Kaluna tetap menjawab jujur.

“Aku akan menunggu.”

“Berapa lama?”

“Selama yang kamu butuhkan.”

Elara tidak mengatakan apa-apa lagi.

Ketika Kaluna berdiri untuk pergi, tangan kecil itu tiba-tiba menarik ujung bajunya.

Kaluna berhenti.

Elara masih tidak memandangnya.

“Besok kamu datang ke pengadilan?”

“Iya.”

“Kalau pengadilan bilang kamu hidup, berarti berita itu salah?”

“Pengadilan hanya akan memastikan bahwa aku memang Kaluna dan masih hidup. Tuduhan lain tetap harus dibuktikan.”

Elara akhirnya mengangkat wajah.

“Kalau kamu memang tidak kabur, buktikan.”

Kaluna terdiam sesaat.

Nada anak itu tidak terdengar marah.

Ia terdengar takut berharap kepada orang yang mungkin mengecewakannya lagi.

Kaluna mengangguk.

“Aku akan membuktikannya.”

Saat keluar dari kamar, Kaluna menemukan Arsen berdiri di ujung lorong.

Ia mungkin telah mendengar sebagian percakapan mereka.

“Dia seharusnya tidak melihat berita itu,” kata Arsen.

“Dia juga seharusnya tidak tumbuh dengan cerita bahwa ibunya pencuri.”

Arsen tidak membalas.

Kaluna berjalan melewatinya.

Sebelum menuruni tangga, Arsen memanggil.

“Kaluna.”

Ia berhenti tanpa menoleh.

“Besok aku tetap datang ke pengadilan.”

“Untuk mendukung permohonanku?”

“Aku akan bilang aku menerima hasil DNA itu. Aku nggak menolak kalau kamu memang Kaluna.”

Kaluna berbalik.

“Bagaimana dengan keberatan perusahaan?”

“Aku belum bisa menariknya malam ini.”

“Jadi kamu akan berdiri di pengadilan dan mengakui aku istrimu yang masih hidup, sementara perusahaanmu tetap mengatakan aku mungkin sengaja menghilang.”

Arsen terdiam.

“Seperti biasa,” kata Kaluna. “Kamu cuma berani mengakui bagian yang nggak memaksamu memilih.”

Ia meninggalkan rumah sebelum Arsen sempat menjawab.

Di luar gerbang, kilatan kamera langsung menyambutnya.

Salah satu wartawan berteriak dari seberang jalan.

“Bu Kaluna, apakah benar Anda kembali untuk menuntut saham dan hak asuh anak?”

Kaluna berhenti sesaat.

Salindri sudah melarangnya memberi pernyataan.

Pertanyaan Elara masih terdengar di kepalanya.

Kamu balik karena aku atau karena uang?

Kaluna menatap para wartawan, lalu berkata singkat sebelum masuk ke mobil.

“Selama tiga tahun, nama dan hak saya digunakan orang lain karena semua orang mengira saya sudah mati. Besok saya akan mulai menuntut semuanya lewat jalur hukum.”

Pintu mobil ditutup.

Ketika kendaraan bergerak meninggalkan rumah, Naren memperlihatkan layar teleponnya.

Ucapan Kaluna sudah direkam dan tersebar.

Bukan video itu yang membuat wajah Naren tegang.

Sebuah dokumen baru telah dikirim kepada beberapa media.

Dokumen tersebut berupa salinan laporan transaksi lama atas nama Kaluna.

Di bagian bawah terdapat persetujuan pemindahan dana dalam jumlah besar ke rekening luar negeri.

Tanda tangannya terlihat sah.

Tanggalnya satu hari sebelum kecelakaan.

Kaluna membaca nomor rekening tujuan.

Nama pemiliknya tercantum jelas.

Kaluna Adiswara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!