“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan sikap : 11
Tanpa sebab Galih meradang, Ia meninju meja, menatap nyalang sang istri yang berdiri kaku. “Mas kan sudah bilang jangan lagi membahas nama bu Desita, Hamima! Kenapa kamu gak paham-paham, sih?!’’
“Kenapa, Mas? Aku cuma ingin tau bukan untuk bahan gosip sama tetangga,’’ ia menunjukkan sikap lebih berani bukan sebagai bentuk tak menghargai, namun merasa berhak mengetahui.
“Sekali gak boleh ya jangan lagi bertanya hal sama. Apa susahnya menurut coba? Mau jadi istri tak patuh ya kamu?’’ Galih terpaksa membungkam mulut Hamima dengan membawa kata-kata jitu.
Ia pikir akan berhasil seperti yang sudah-sudah, tapi dirinya salah. Yang dihadapi kini bukan lagi wanita teramat penurut. Jiwa keibuan Hamima terusik, dia dapat merasakan bahaya yang diri sendiri tidak tahu itu tentang apa. Keinginan melindungi buah hatinya tak dapat dicegah, ditawar maupun dialihkan.
Hamima tak berniat menutup perdebatan ini sebelum mendapatkan jawaban memuaskan. “Kalau mas Galih gak mau ngasih tau, biar aku cari informasi sendiri lewat tetangga, bila perlu bertanya langsung ke juragan Sarkam atau anggota keluarganya yang lain.’’
Galih terlonjak kaget akan keberanian wanita yang sudah dinikahi belasan tahun lamanya. “Lancang kamu! Mau buat malu, menurunkan harga diriku sebagai kepala keluarga, iya?’’
“Mas, tolong jangan berpikiran negatif dulu —”
Galih menyela. “Gimana aku gak marah, kamu berani membantah bahkan jadi seorang pembangkang, Hamima!”
Kesabaran Hamima sudah diambang batas. Pujiara diturunkan dari gendongan. “Guntur, tolong jaga sebentar adikmu. Ajak main di halaman depan, tapi jangan ke jalanan.”
Guntur yang prihatin mendengar nada letih suara ibunya, mengangguk patuh. Piring baru saja dicuci, diletakkan pada rak aluminium, kemudian dia mengelap tangan, baru setelahnya menggendong Pujiara, dibawa main keluar rumah.
Tinggallah sepasang suami istri yang saling memandang dalam diam, berdori berhadapan, seolah tengah mengukur kadar kekesalan masing-masing.
“Mas, kamu sadar gak sih banyak berubah. Abai, ngomong ketus, terutama ke putra kita?” Hamima menyebutkan sifat buruk suaminya yang baru muncul setelah sekian lama mereka menikah.
“Perasaanmu saja,” tampiknya. Dia tidak merasa seperti itu.
“Bukan aku mengada-ngada, kamu memang berubah. Contoh yang mencolok yakni, kamu seakan gak peduli kala aku cerita tentang Guntur tiba-tiba dipeluk bu Desita —”
“Jangan sebut namanya!” ia kembali memotong kalimat istrinya.
“Kenapa gak boleh menyebut namanya? Jelaskan, jangan bisanya melarang tapi enggan memberi alasan masuk dinalar!” Hamima balik memotong kalimat suaminya.
“Takutnya nanti ada yang denger —”
“Siapa? Disini cuma ada kita berdua. Kamu makin aneh, Mas.” Hamima terengah, beban batinnya semakin menumpuk.
Galih tidak terima dianggap tidak masuk akal. “Nama bu Desita sudah seperti kutukan, kesialan bagi yang nekat menyebutnya. Dia dibenci seluruh warga desa bahkan sampai kecamatan. Dirinya itu seorang perebut, wanita nakal, makanya diberi karma jadi gila. Apa kamu mau bernasib sama seperti dia?”
“Gak ada hubungannya aku sama dia. Jangan asal ucap, Mas! Tinggal jawab seperti itu saja harus banget muter-muter dulu. Sekarang aku kan jadi tau, dan kedepannya bisa menjaga lisan!” Mima menyudahi perdebatan sengit ini, percuma bertanya karena dia merasa suaminya enggan berbagi cerita yang sesungguhnya. Ada sesuatu disembunyikan.
Hamima membereskan meja makan, menyimpan sisa lauk ke dalam lemari aluminium. Nanti malam keluarganya akan menyantap menu yang sama.
Galih memilih masuk ke dalam kamar, merebahkan diri di atas tilam.
“Apa yang salah? Atau memang seperti ini suasana beradaptasi?” Hamima menyandarkan bokongnya di tepian meja dapur, ia menatap ruangan luas, lalu melamun seorang diri.
Tolong jangan ganggu putraku! Lari Guntur, lari!
Akhh!
Ibu dua orang anak itu memekik, tiba-tiba ingatan entah itu mimpi atau nyata melintas cepat di kepalanya.
Ibu dan adikmu tertidur, bukannya kesurupan!
Perkataan suaminya kembali bergema, membuat debar jantung Hamima meningkat cepat, ada perasaan takut menyelinap, ia menjatuhkan lap tersampir di pundak, berlari pelan menuju depan demi memeriksa buah hatinya.
Guntur dan Pujiara tengah bermain di halaman depan. Mereka mengeruk tanah, lalu memasukkan ke dalam gelas plastik mainan anak-anak.
“Syukurlah,” katanya pelan seraya mengusap dada. Apa yang ditakutkan tak menjadi kenyataan, putra dan putrinya baik-baik saja.
“Boleh Ibu bergabung, ikut main, gak?” tanyanya, berdiri di depan Guntur dan Ara.
“Dek, itu Ibu sudah punya waktu. Kamu main sama Ibu saja ya, Mas mau belajar di kamar.” Guntur menepuk kedua tangannya, menghilangkan debu.
“Nak, apa kamu benci Ibu?” tanya Hamima gagal menutupi nada sedih. Merasa diabaikan putranya sendiri.
“Ibu ngomong apa sih? Aku memang mau belajar, biar nanti pas masuk sekolah sudah ada persiapan, bekal ilmu tambahan,” ungkap Guntur terdengar meyakinkan.
Hamima tidak lagi mencegah, perasaannya tak bisa dibohongi, paham bila sang putra menghindar, menarik diri.
Ketegangan, kecanggungan menciptakan suasana sunyi, dingin di hunian mewah yang sebelumnya sangat bergembira para penghuninya bisa memiliki rumah besar, berhalaman luas.
Guntur yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar daripada menemani ibunya, dan bermain dengan Ara.
Si sulung tidak lagi mengeluh, mengadu diganggu makhluk halus, entah memang sudah tak mengalami atau dia sengaja menutupi sesuatu enggan dibagi karena takut dianggap berbohong.
Galih juga sering keluar rumah, beralasan ada urusan sekolah meski belum mengajar.
Sementara Pujiara, bayi gemuk berkulit bersih itu seperti berada di dunia lain, memiliki banyak teman yang bisa diajaknya bercengkrama dengan kosakata tak dimengerti oleh Hamima.
Tiga hari yang dilewati Hamima terasa hampa. Hunian yang diharapkan membawa kedamaian, keceriaan, kebahagiaan, terasa kosong. Tak ada kejadian aneh, tetapi dia merasa sikap suami dan anak-anaknya berubah aneh.
Tiba waktunya bagi Guntur masuk sekolah, dan ayahnya mengajar. Pagi-pagi sekali, saat langit belum sepenuhnya terang — ibu rumah tangga sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi serta bekal putranya menyambut hari pertama masuk kelas.
Hamima menggoreng nasi sisa semalam, meracik bumbu sederhana hanya terdiri dari irisan bawang merah, putih, dan potongan cabe rawit, untuk tambahan, dia mengoreng telur Ayam.
“Dek, rebuskan ubi jalar yang kemarin Mas panen ya?”
“Kapan kamu panen ubi, Mas? Kok —” suaranya terhenti dengan mulut terbuka separuh dan mata menyipit. Tidak ada siapa-siapa di area dapur.
Teng … teng … teeng ….
Jam antik berbunyi bernada sebanyak lima kali, dan Hamima tidak lagi berhalusinasi, dia menangkap bayangan seorang pria memakai sarung sedang menggendong anak bayi melintasi ruang keluarga ke ruang santai.
Entah keberanian dari mana, seperti ada dorongan kuat yang menggerakkan kakinya berjalan pelan-pelan ke depan.
“Mas, mas Galih, Pujiara bangun, ya?”
.
.
Bersambung.
👻👻👻👻👻
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
nth apa yg ada di otak Sigalih itu