Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Langkah Pertama di Rumah Besar Perwira

BAB 11: Langkah Pertama di Rumah Besar Perwira

Senin malam pukul 18.45 WIB.

Suasana di depan rumah ber-cat krem mendadak heboh sejak satu jam lalu.

Mbak Rina sibuk merapikan lipatan kain blouse batik modern berwarna terakota yang dikenakan Mayang, sementara Mayang sendiri tak berhenti bolak-balik menatap cermin sambil membetulkan posisi kacamata tebalnya.

"Mayang, rileks aja! Kamu bolak-balik terus dari tadi, Mbak yang pusing melihatnya," tegur Mbak Rina sambil memoleskan sedikit lipstik berwarna pekat di bibir adiknya.

"Gimana mau rileks, Mbak Rina!" seru Mayang dengan nada histeris ditahan.

"Ini bukan cuma makan malam biasa! Ini ujian komando calon Ibu Persit! Kalau Ibu Mas Mayor ternyata galak seperti jenderal perang gimana? Kalau Mayang disuruh push-up di depan meja makan gimana?!"

"Ngawur kamu ini," kekeh Mbak Rina geleng-geleng kepala.

"Pak Mayor Aris kan sudah bilang, kamu disuruh jadi diri sendiri aja."

Tepat pukul 19.00 WIB, suara deru mesin mobil dinas berwarna hijau zaitun terdengar berhenti presisi di depan pagar. Mayor Aris turun dari pintu kemudi.

Malam ini sang Mayor tampil luar biasa memukau dengan Pakaian Dinas Harian (PDH) berderet tanda jasa dan pangkat dua bunga melati di bahu yang mengilap disiram cahaya lampu jalan.

Arah pandang dan pembawaannya memancarkan aura ketegasan militer yang amat pekat—dingin, berwibawa, dan sangat dominan.

Aris melangkah masuk ke halaman. Begitu melihat Mayang keluar dari pintu depan, langkah sang Mayor sempat tertahan satu detik.

Tatapan matanya yang pekat mengunci sosok Mayang yang tampak anggun namun tetap mempertahankan karakter uniknya.

"Selamat malam, Mbak Rina. Mayang," sapa Aris dengan suara bass-nya yang dalam dan mantap.

"Selamat malam, Pak Mayor. Wah, gagah sekali malam ini," puji Mbak Rina ramah.

Mayang merapikan bros perak ukiran pita pemberian Aris yang terpasang rapi di dada kirinya.

Ia melangkah mendekat dengan cengiran yang berusaha ditahan.

"Mas Mayor... aura tentaranya malam ini menyengat banget ya? Bikin jantung Mayang deg-degan seperti mendengar tembakan meriam."

Aris menatap bros perak di dada Mayang, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang teramat tampan.

"Brosnya cocok di bajumu. Sudah siap?"

"Siap, Komandan! Walau lutut Mayang agak gemetar sedikit!" sahut Mayang sambil memperagakan sikap sempurna yang agak miring.

Aris membukakan pintu mobil dinas untuk Mayang dengan gerakan yang sangat gentleman, lalu memutar mengitari kap mesin sebelum duduk di balik kemudi.

Iring-iringan mobil meluncur membelah jalanan kota menuju kawasan kediaman purnawirawan senior di pusat kota.

Rumah keluarga besar Mayor Aris berdiri megah dengan gaya arsitektur kolonial yang kokoh.

Pagar besi tempa setinggi dua meter terbuka menyambut kedatangan mobil dinas Aris.

Di halaman depan, jajaran tanaman hias tertata sangat presisi mencerminkan disiplin tinggi pemilik rumah.

Rumah ini adalah kediaman Purnawirawan Jenderal Dudung, ayah kandung Aris, dan Ibu Diah, sang mayora, keluarga yang terkenal berwibawa, tegas, serta aktif sebagai tokoh senior organisasi Persit.

Saat kaki Mayang melangkah turun dari mobil, aura ketegangan militer di rumah itu terasa sangat pekat.

Dua prajurit penjaga berpakaian lengkap memberikan hormat tegap begitu Aris melintas.

"Tetap di samping saya," bisik Aris pelan saat merasakan jemari Mayang yang agak dingin di dekatnya.

Secara refleks, Aris menyelaraskan ritme langkah kakinya agar Mayang tidak keteteran.

Pintu jati raksasa dibuka dari dalam.

Di ruang tamu berlantai marmer yang dingin, telah menunggu tiga sosok yang memancarkan aura wibawa luar biasa.

Purn. Jenderal Dudung — pria paruh baya bertubuh tegap dengan tatapan mata semerah elang dan kumis tebal yang mengintimidasi.

Ibu Diah — wanita anggun berpakaian kebaya batik halus, memegang tongkat kayu ukir, dengan pandangan mata yang sangat tajam dan analitis.

Kapten Farhan — kakak sepupu Aris dari Korps Kavaleri yang duduk tegap sambil bersedekap dada.

"Lapor. Mayor Aris tiba bersama tamu," ujar Aris memberi hormat tegap penuh kedisiplinan kepada ayahnya.

Mayang yang berdiri di samping Aris mendadak merasa ruangan ber-AC itu berubah menjadi medan latihan taktis.

Hawa dingin menguar hebat dari sosok Jenderal Dudung yang menatap Mayang dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Jadi... ini gadis yang bikin heboh di acara Korem kemarin?" suara Jenderal Dudung menggelegar bas, berat dan tanpa senyuman sedikit pun.

Mayang menelan ludah dengan susah payah.

Kacamatanya sedikit meluncur, namun ia segera membetulkannya.

Dengan kehendak nekat dan keberanian ajaibnya, Mayang justru melangkah maju satu tapak, merapikan bajunya, lalu memberi salam dengan senyum lebar yang sangat ramah.

"Selamat malam, Bapak Jenderal, Ibu Diah, dan Mas Kapten! Saya Mayang! Tetangga depan rumah dinas Mas Mayor Aris yang paling setia dan calon pendamping hidupnya di masa depan!" seru Mayang penuh percaya diri.

Hening.

Kapten Farhan yang sedang memegang cangkir teh hampir saja menyemburkan minumannya.

Ibu Diah menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan tak percaya, sementara Jenderal Dudung memicingkan matanya rapat-rapat, menatap Aris dan Mayang bergantian.

Aris berdeham keras, mencoba mengendalikan situasi mendebarkan ini.

"Ibu, Ayah... Mayang memang orang yang sangat terbuka dan jujur."

Ibu Diah berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati Mayang dengan ketukan tongkat kayunya yang berbunyi tuk... tuk... tuk... di atas lantai marmer.

Beliau berhenti tepat satu langkah di depan Mayang, meneliti kacamata tebal, gaun terakota, hingga bros perak di dada Mayang.

"Bros itu..." suara Ibu Diah terdengar dingin dan penuh selidik. "...itu buatan pengrajin perak pesanan khusus. Aris yang memintanya minggu lalu."

Mayang mengangguk mantap.

"Betul, Ibu! Ini hadiah dari Mas Mayor waktu pulang latihan dari hutan. Cantik banget kan, Bu?"

Ibu Diah menatap Aris dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Seumur hidupnya, Aris tidak pernah memikirkan perhiasan wanita. Bahkan untuk mantan tunangannya dulu pun tidak pernah."

Brak!

Suara desiran tegang mendadak menghantam dada Mayang. Mantan tunangan?!

Atmosphere di ruangan itu seketika berubah menjadi rumit dan makin menegangkan.

Aris mengepalkan tangannya di samping badan, raut wajahnya mendadak mengeras dan kaku.

"Ibu... jangan bahas masalah lalu di sini," potong Aris dengan suara bass yang sangat rendah, memancarkan aura ketegasan penuh penolakan.

Namun sebelum ketegangan itu bertambah parah, Jenderal Dudung berdiri dari kursinya, berjalan mendekati meja makan utama yang sudah ditata sangat rapi.

"Cukup. Makan malam sudah siap," tegas Sang Jenderal dengan nada komando yang tidak boleh dibantah.

"Kita lihat... apakah gadis pilihan Aris ini punya tata krama di meja makan perwira, atau hanya pandai bersuara nyaring di depan publik."

Jenderal Dudung melirik Mayang dengan tatapan menantang yang sangat dingin.

Ujian sesungguhnya bagi Mayang baru saja dimulai di atas meja makan perwira tinggi!

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!