Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam Atau Ku Pukul?
Mentari pagi baru saja merayap naik, memancarkan bias keemasan di atas jajaran atap rumah penduduk Desa Caiyun. Udara pagi yang masih segar berbalut kabut tipis menyelimuti pekarangan rumah Xia Qinglan. Di saat sebagian besar orang masih menikmati kehangatan selimut mereka, Qinglan sudah terbangun lebih awal untuk bersiap menjalani rutinitas hariannya.
Ia melangkah keluar dari kamarnya dengan langkah pasti, mengenakan pakaian ringkas yang nyaman untuk bergerak leluasa. Tangan terampilnya langsung meraih sebuah keranjang bambu anyaman besar yang biasa ia gunakan untuk mengangkut hasil buruan kayu bakar dari dalam hutan. Hari ini ada banyak hal yang harus ia selesaikan, mulai dari mengisi kembali lumbung kayu bakar yang kian menipis hingga turun ke pasar ibukota untuk membeli persediaan bahan makanan pokok yang hampir habis di dapur.
Belum sempat Qinglan melangkahkan kaki keluar pekarangan, suara langkah kaki berderit di lantai kayu menghentikannya. Dari arah dalam rumah, Feng Huang muncul dengan mengenakan pakaian rakyat biasa berwarna gelap yang tampak kontras dengan pembawaannya yang arogan. Pemuda berambut merah itu merapikan kerah jubahnya, lalu menatap Qinglan dengan sorot mata penuh minat.
“Kau ingin pergi ke hutan?” tanya Feng Huang sambil melipat tangan di dada, memperhatikan keranjang bambu di punggung gadis itu.
Qinglan menghentikan gerakannya sejenak, menoleh sekilas ke arah sang pangeran. “Benar, aku harus pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar sebelum nanti melanjutkan perjalanan turun ke ibukota. Lagi pula, persediaan bahan makanan di dapur sudah hampir habis total,” jawab Qinglan tenang sambil mengencangkan ikatan tali keranjangnya.
Mendengar rencana perjalanan itu, suasana di ambang pintu mendadak menjadi riuh. Dari dalam rumah, Xiao Mingye berlari kecil keluar dengan tergesa-gesa, merapikan ikatan rambutnya yang masih agak berantakan.
“Aku ikut!” seru Mingye tanpa pikir panjang, berdiri tepat di samping Feng Huang dengan mata berbinar-binar penuh harap.
Qinglan langsung memutar bola matanya malas. Tanpa ragu, ia menggelengkan kepalanya tegas. “Tidak. Kalian berdua tetap di rumah saja. Aku bisa pergi sendiri dengan cepat dan aman.”
“Mana bisa begitu! Kami tidak mau ditinggal sendirian di rumah ini, rasanya membosankan setengah mati,” cerca Feng Huang langsung, melangkah mendekat dengan gestur memaksa. “Lagi pula, hutan di perbatasan ibukota itu berbahaya. Bagaimana kalau nanti ada bandit atau sisa-sisa anak buah pangeran ketiga yang menyergapmu?”
“Benar kata Feng Huang, Lanlan! Anggap saja kami ikut untuk membantumu mengangkat kayu bakar agar bebanmu lebih ringan,” timpal Mingye, memberikan alasan klasik agar tidak ditinggal sendirian.
Qinglan terdiam sesaat. Ia menatap kedua pria di hadapannya bergantian. Alih-alih merasa tersentuh dengan niat baik mereka, urat di pelipis Qinglan justru berdenyut kencang membayangkan betapa kacaunya perjalanan ke hutan nanti jika dua pangeran tukang debat ini ikut campur dalam urusannya. Bisa dipastikan hutan yang tenang itu akan berubah menjadi medan perang verbal yang memusingkan kepala.
“Sudah kubilang, tidak perlu,” ulang Qinglan dengan penekanan di setiap kata-katanya. “Kalian berdua baru saja pulih total dari luka-luka serius. Tugas kalian sekarang adalah diam di rumah, beristirahat dengan benar, dan menjaga rumah agar tidak runtuh.”
“Tapi, Lan—”
Sebelum Feng Huang sempat melanjutkan protesnya, Qinglan perlahan menolehkan kepalanya. Ia tidak lagi berbicara dengan nada lembut seorang gadis desa. Sebaliknya, ia menyipitkan matanya tajam, memancarkan aura membunuh tingkat tinggi yang pernah ia tunjukkan saat mengusir Nyonya Liu tempo hari. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.
“Diam di rumah, atau kupukul hingga pingsan kalian berdua sekarang juga?” ancam Qinglan dengan suara rendah, dingin, dan penuh mutlak.
Kalimat pendek yang diucapkan dengan tatapan mematikan itu sukses membuat udara di sekitar pekarangan membeku seketika. Feng Huang dan Mingye, yang sedianya masih ingin melayangkan segudang argumen protes, mendadak menutup rapat mulut mereka. Nyali dua pangeran besar itu langsung ciut seketika di bawah ancaman nyata sang gadis. Mereka tahu persis bahwa Xia Qinglan tidak pernah main-main dengan ucapannya—jika ia berkata akan memukul hingga pingsan, maka ia benar-benar akan melakukannya tanpa ragu.
Mingye menelan ludahnya yang terasa kelu, lalu mundur perlahan selangkah ke belakang sambil tersenyum kaku. “Eum... baiklah, sepertinya menjaga rumah adalah ide yang jauh lebih mulia dan menenangkan.”
Feng Huang berdehem canggung, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang hampir runtuh di hadapan sang gadis. “B-benar. Kami... kami hanya berniat mengujimu tadi. Pergilah dengan tenang, kami akan menjadi anak yang baik dan menjaga rumah ini dengan aman.”
Qinglan mendengus pelan, melipat tangan di dada sesaat sebelum akhirnya melunak. “Bagus jika kalian masih punya akal sehat. Ingat, jangan membuat kekacauan selama aku pergi.”
Tanpa membuang waktu lagi, Qinglan membalikkan tubuhnya, menggendong keranjang bambunya, dan mulai melangkah pasti meninggalkan pekarangan menuju ke arah jalur setapak yang mengarah langsung ke lebatnya hutan pegunungan Desa Caiyun.
Di ambang pintu rumah, Feng Huang dan Mingye berdiri berdampingan secara kaku, memperhatikan punggung Qinglan yang kian menjauh dan akhirnya hilang tertelan rimbunnya pepohonan hijau.
Mingye menghela napas panjang, melirik ke arah Feng Huang di sampingnya. “Tuan Muda Arogan... kurasa gadis itu benar-benar berniat memukul kita sampai babak belur jika kita tadi nekat membantah.”
Feng Huang merinding sejenak, namun ia segera memasang wajah angkuh untuk menutupi rasa malunya. “Hmph! Siapa juga yang takut? Aku hanya... sedang berbaik hati membiarkannya menikmati perjalanan sendiri!” elak Feng Huang cepat, meski dalam hatinya ia mengakui bahwa kemarahan Xia Qinglan adalah hal paling mengerikan yang tidak ingin ia uji lagi untuk kedua kalinya hari itu.