Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Bayang di Balik Ketenangan

Hari-hari berikutnya berlalu dalam keheningan yang tegang. Rumah itu kini bagaikan benteng — pengawal berdiri tegak di setiap sudut, pintu dan jendela selalu terkunci rapat, setiap tamu yang datang diperiksa dengan ketat sebelum diizinkan masuk. Arga hampir tak pernah meninggalkanku sendirian. Setiap kali aku bergerak, matanya selalu mengikutiku, penuh kewaspadaan yang tak pernah padam.

Namun, justru karena ketatnya pengawasan itu, rasa curiga mulai tumbuh di hatiku. Laras bukan orang yang mudah menyerah — dan ia tahu betul seberapa ketat penjagaan di sini. Lantas, mengapa ia tak muncul lagi? Mengapa tak ada lagi kabar, tak ada lagi ancaman?

Suatu sore, saat hujan turun perlahan, aku duduk di ruang tengah sambil menatap butiran air yang meluncur di kaca jendela. Arga sedang menelepon di sudut ruangan, suaranya rendah namun tegas, memberikan perintah kepada seseorang di seberang sana.

"Kita tidak bisa menunggu pasif," katanya lewat telepon. "Laras dan kelompok yang bersamanya harus ditemukan secepatnya. Jangan biarkan mereka berkesempatan menyusun rencana baru."

Aku menunduk, memikirkan kata-katanya. Laras tidak sendirian — Bu Siti pernah mengatakan itu. Ada orang lain bersamanya. Orang-orang yang siap melakukan apa saja demi uang atau kekuasaan. Dan pemikiran itu membuat bulu kudukku meremang.

Tak lama kemudian, Arga menutup telepon dan berjalan mendekatiku. Ia duduk di sampingku, merangkul bahuku hingga tubuhku menempel padanya.

"Kau memikirkannya lagi, ya?" bisiknya, menyadari keresahan di wajahku.

"Aku takut, Arga," akuku jujur, suaraku pelan. "Bukan untuk diriku sendiri... tapi untukmu. Semua ini terjadi karena aku ada di sini. Jika aku tidak menjadi Freya, jika aku tidak pernah masuk ke dalam hidupmu..."

Arga meletakkan jari telunjuknya di bibirku, menghentikan kalimatku. Matanya menatapku dalam, sungguh-sungguh, tanpa keraguan sedikit pun.

"Jangan pernah bicara seperti itu, Freya. Kau bukan beban bagiku. Kau adalah rumahku, tempatku pulang. Jika harus memilih antara kehilanganmu dan menghadapi seribu ancaman sekaligus, aku akan memilih menghadapi ancaman itu setiap saat. Karena tanpamu, semua ini tak ada artinya."

Hatinya bergetar mendengar ucapannya yang begitu tulus. Aku mendekat, memeluknya erat, berusaha menyimpan rasa hangat itu di dalam dadaku — agar kelak jika rasa takut datang kembali, aku bisa mengingatnya dan menjadi kuat.

Namun ketenangan itu tak bertahan lama.

Bel pintu berbunyi nyaring di tengah suasana hening. Arga langsung melepaskan pelukannya, berdiri tegak, tatapannya langsung tajam dan waspada. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam — waktu yang sangat tak wajar untuk berkunjung.

Pelayan datang dengan wajah cemas. "Tuan... ada polisi di luar. Mereka bilang ada hal penting yang harus disampaikan kepada Anda dan Nyonya."

Arga mengerutkan kening, namun mengangguk. "Suruh mereka masuk."

Dua orang polisi masuk ke ruang tamu dengan langkah tegas. Wajah mereka serius, tanpa senyum sedikit pun. Salah satu dari mereka mengeluarkan selembar kertas resmi dan menatap Arga lurus.

"Tuan Arga Pratama... kami datang untuk menangkap Nyonya Freya atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Nona Laras."

Duniaku seakan berhenti berputar.

Arga langsung berdiri di hadapanku, melindungiku dengan tubuhnya. "Itu tidak mungkin! Istriku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!"

"Kami hanya menjalankan tugas, Tuan," jawab polisi itu tegas. "Ada bukti kuat — saksi mata, serta barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian yang tertulis atas nama Nyonya Freya. Kami harap Anda tidak menyulitkan kami."

Aku mundur perlahan, tubuhku gemetar hebat. Ini bukan sekadar serangan fisik. Ini jauh lebih kejam. Laras tak hanya ingin menyakitiku — ia ingin menghancurkan namaku, memisahkan aku dari Arga, dan membiarkanku hancur sendirian.

Namun saat aku menatap Arga, ia tak terlihat goyah sedikit pun. Ia menggenggam tanganku erat, menatapku dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Jangan takut," bisiknya hanya untukku dengar. "Aku tahu kau tidak melakukannya. Dan apa pun yang terjadi, aku takkan membiarkan siapapun membawamu pergi tanpa kebenaran terungkap. Kita hadapi ini bersama — selamanya."

 

Lanjut ke Bab 16? 😱 Tuduhan keji dari Laras! Freya ditangkap polisi, dan Arga harus berjuang habis-habisan untuk membuktikan kesuciannya! Mau dilanjutkan? 🔥

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!