Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU
Sinar matahari siang yang terik menyinari kota Singapura. Setelah menyelesaikan lari pagi yang penuh kesan hangat bersama Ko Felix, jadwal hari ini diisi dengan kesibukan persiapan akhir pernikahan Valerie.
Sebuah mobil van mewah membawa kami aku, Valerie, dan Mama Felix menuju salah satu butik gaun pengantin papan atas di kawasan Orchard Road. Kak Olan dan Papa Felix ada urusan lain terkait berkas pernikahan di kedutaan, sementara Ko Felix bertugas menjadi pengemudi sekaligus 'pengawal' kami bertiga hari ini.
Di dalam butik yang sangat anggun dan serba putih itu, Valerie tampak memukau dengan gaun pengantin bergaya ballgown berenda Prancis yang mekar indah.
"Tita, gimana? Anggun banget kan adiknya Ko Felix?" puji Mama Felix berbinar-binar saat melihat Valerie keluar dari ruang ganti.
"Bagus dan anggun banget, Tante. Valerie kelihatan cantik sekali," puji tulusku.
Valerie memutar tubuhnya di depan cermin raksasa, lalu menatapku dari pantulan cermin. "Tita, kamu juga harus coba gaun yang udah aku pilihkan khusus buat kamu! Nanti malam kan ada acara welcome dinner keluarga besar sebelum besok pemberkatan!"
Sebelum aku sempat menolak, dua staf butik sudah membawa sebuah gaun malam berwarna dusty rose yang sangat cantik. Potongannya simpel namun sangat elegan, dengan bagian lengan transparan berhias payet halus.
Ketika aku keluar dari ruang ganti mengenakan gaun tersebut, suasana butik mendadak hening sejenak.
"Wah... Tita, kamu cantik banget!" puji Valerie heboh. "Ma, lihat deh! Cocok banget kan sama Tita?"
"Aduh, menawan sekali, Tita!" timpal Mama Felix tersenyum lebar.
Aku merasa malu-malu, menunduk merapikan gaun itu. Saat mengangkat wajah, mataku tak sengaja beradu dengan pandangan Ko Felix yang berdiri agak jauh dekat pintu masuk butik. Pria itu terpaku menatapku. Binar matanya yang pekat tampak terpesona tanpa kedip, hingga membuat dadaku berdesir hebat.
Namun, momen manis itu terinterupsi ketika seorang pria muda berwajah tampan dengan setelan jas rapi yang ternyata adalah manajer utama butik tersebut melangkah mendekatiku dengan senyuman sangat ramah.
"Nona, gaun ini terlihat sangat luar biasa saat Anda mengenakannya," puji desainer/manajer bernama Darren itu dengan nada manis. Pria itu bahkan membungkuk sedikit dan dengan sopan meraih pergelangan tangan kiriku untuk menyesuaikan lipatan lengan gaun. "Siluetnya sangat pas dengan postur tubuh Anda yang anggun."
Sentuhan ringan dan perhatian berlebihan dari pria asing itu membuatku agak canggung. Saat Darren hendak membetulkan posisi bagian bahu gaunku, sebuah langkah kaki yang mantap dan tegas tiba-tiba terdengar mendekat.
Dalam hitungan detik, sosok tegap Ko Felix sudah berdiri di sampingku. Dengan gerakan yang sangat alami namun tegas, Ko Felix menarik lembut pergelangan tanganku tempat gelang melati itu melingkar sehingga genggaman pria butik itu terlepas.
"Terima kasih atas pujiannya. Gaun ini sudah sangat pas, tidak perlu ada penyesuaian lagi di bagian bahu," kata Ko Felix dengan suara berat, dingin, dan penuh penekanan yang menuntut.
Aura intimidasi yang keluar dari diri Ko Felix seketika membuat Darren tersenyum kaku dan mundur selangkah penuh rasa hormat. "A-ah, baik, Tuan Tan. Maksud saya hanya ingin memastikan ukurannya sempurna."
Valerie yang melihat kejadian itu langsung menutup mulutnya, menahan tawa geli yang hampir meledak, sementara Mama Felix hanya tersenyum-senyum penuh arti.
Ko Felix tidak melepas genggaman tangannya di pergelangan tanganku selama beberapa detik. Tatapannya yang tajam sempat mengintai pria butik itu sebelum berpaling menatapku. Suasana dingin di matanya mencair seketika begitu pandangannya bertemu denganku, digantikan oleh kehangatan dan rasa posesif yang tersembunyi halus.
"Kamu sangat cantik, Tita," bisik Ko Felix pelan, cukup dekat hingga hanya aku yang bisa mendengarnya.
Pipiku mendadak terasa terbakar. Sikap cemburu tipis dari Ko Felix yang biasanya selalu tenang dan terkontrol ini terasa begitu manis dan menggemaskan di mataku.
Sore harinya, kami melanjutkan agenda ke salah satu restoran mewah di tepi pantai Sentosa untuk menghadiri welcome dinner terbatas bersama keluarga inti calon suami Valerie.
Suasana acara berlangsung penuh kekeluargaan. Gelak tawa dan obrolan hangat memenuhi ruangan VIP bernuansa kayu hangat itu. Di sela-sela jamuan makan, aku berdiri di area balkon restoran untuk menikmati angin laut sore dan pemandangan matahari terbenam.
Ko Felix melangkah mendekat, berdiri di sisiku sembari membawa dua gelas minuman dingin. Ia menyerahkan satu gelas padaku.
"Terima kasih, Ko," ucapku pelan, menyesap minuman buah yang segar itu.
"Soal kejadian di butik tadi..." buka Ko Felix pelan, berdehem kaku untuk menutupi rasa canggungnya. "Maaf kalau tindakanku tadi membuatmu kaget atau tidak nyaman."
Aku menoleh menatap Ko Felix. Wajah tegasnya memperlihatkan sedikit rasa bersalah, membuat sosoknya tampak makin manusiawi di mataku.
Aku tersenyum tipis, menggelengkan kepala. "Enggak kok, Ko. Tita sama sekali enggak merasa risih. Justru... Tita kaget aja melihat Ko Felix bisa bersikap seperti itu."
Ko Felix menatap lurus ke arah laut lepas yang mulai memerah tertimpa cahaya senja. "Aku hanya tidak suka melihat pria lain menyentuhmu atau menatapmu terlalu lama, Tita."
Pengakuan jujur yang meluncur tanpa ragu dari bibirnya membuat jantungku berdetak tak karuan. Tidak ada lagi kiasan atau prasangka. Ko Felix kini benar-benar menunjukkan perasaannya secara terbuka.
"Ko Felix..." bisikku pelan.
"Dulu aku harus menahan diri dan pura-pura tidak peduli saat melihat orang lain menyakitimu atau berada di dekatmu," lanjut Ko Felix, beralih menatapku dengan ketulusan yang mendalam. "Tapi sekarang, di tempat ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu lagi."
Aku menatap pergelangan tanganku, di mana gelang emas putih pemberiannya berkilau indah di bawah sinar senja. Rasa hangat membuncah di dalam dada, mengikis sisa-sisa trauma masa lalu hingga tak berbekas.
"Terima kasih ya, Ko... karena selalu ada buat menjaga Tita," ucapku tulus dengan binar mata bahagia.
Ko Felix menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pucuk kepalaku sebuah sentuhan penuh kasih sayang yang membuat malam menjelang pernikahan Valerie ini terasa kian sempurna.
boleh laa bonchap ny kak ,,
aku sll merasa dapat kejutan tamat 😥
ko udh tmat aja....krain msh puanjanggg crtanya....tp msih ada bonchap kn kk???
untng d sbelah ga ada orang....🤭🤭🤭
pepet trs ko,jgn smp d tkung cwok lain lg....😁😁😁