Seorang wanita malang yang terusir dari rumahnya sendiri tiba-tiba saja terikat dengan sistem sang pengubah takdir setelah ditabrak mobil oleh saudari tirinya sendiri.
Mendapati dirinya tak mati dan malah terhubung dengan sistem sang pengubah takdir, akhirnya dia pun memilih untuk membuat kesepakatan dengan sistem tersebut. "Jika kau tak setuju dengan syaratku maka pergilah aku juga sudah tidak ingin hidup lagi" mendengar itu sistem yang baru pertama kali aktif pun langsung menyetujui semua syaratnya karena dia tak mau lenyap sebelum sempat menyelesaikan tugas apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae Linge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Pemimpin
"Sialan, aku memang suka mendengar gosip tentang orang lain tapi bukan berarti aku juga suka menjadi bahan gosipan orang" ucap perdana menteri kiri Hu di dalam hatinya sembari memegang kuat cangkir teh yang berada ditangannya, melihat perdana menteri kiri Hu bersikap seperti itu jenderal Su dan perdana menteri kanan Li pun tersenyum senang sembari menatap lekat ke arah perdana menteri kiri Hu, melihat itu perdana menteri kiri Hu pun meneguk ludahnya dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain karena dia tau apa yang sedang dipikirkan oleh kedua rekan kerjanya itu.
"Boleh juga, ayo ceritakan kepadaku bagaimana kondisi nona kelima itu, selain itu jangan lupa tunjukkan juga padaku kejadian yang dulu ku minta kau rekam itu, aku yakin pasti itu akan jauh lebih menarik dari pada apa yang terjadi dengan nona kelima itu" ucap Elisa Su di dalam hatinya sembari menatap Coco dengan wajah penasaran, melihat itu Coco pun segera menegakkan badannya "Baiklah karena sepertinya host sangat penasaran maka aku akan lebih dulu menunjukkan rekaman yang host minta, silahkan host lihat ke arah panggung itu" ucap Coco lalu tiba-tiba saja muncul sebuah layar tepat di atas panggung yang telah disiapkan untuk pertunjukan opera nantinya, kelima orang yang mendengar suara hati keduanya pun tanpa sadar ikut melihat ke arah yang diucapkan oleh Coco "Apakah ini ilusi" ucap perdana menteri kanan Li dan perdana menteri kiri Hu secara bersamaan karena terkejut dengan apa yang baru saja mereka saksikan, Hal itu semua terjadi karena keduanya tak ikut dalam pelelangan yang telah lewat sebab ada urusan mendesak yang perlu dibahas dengan kaisar.
Terlihat dilayar tersebut salah satu selir perdana menteri kiri Hu yang bernama Lala yang merupakan ibu dari tuan muda kedua tengah bersama dengan seorang laki-laki bertopeng di dalam kamarnya "Tuan, anak sialan itu memerlukan uang sebanyak tiga ribu tael emas lagi, bagaimana ini tuan sendiri kan tau jika aku tak memiliki uang sebanyak itu" ucap Lala sembari menyenderkan tubuhnya ke pria tersebut bahkan tangannya pun terlihat sudah menyentuh dada laki-laki tersebut "Tenanglah, masalah uang biar aku yang urus, kau hanya perlu menjalankan tugas mu dengan baik saja yaitu kau cukup jadikan anak itu menjadi anak yang tidak berguna sehingga aku bisa lebih mudah menguasai kediaman jenderal kiri Hu nantinya" ucap laki-laki tersebut sehingga membuat orang-orang yang mendengarkan percakapan keduanya pun tanpa sadar mengerutkan dahinya karena tak mengerti dengan ucapan laki-laki tersebut "Apa hubungannya kediaman perdana menteri kiri Hu dengan tuan muda kedua, bukankah seharusnya tuan muda pertama yang harus diwaspadai" ucap mereka semua di dalam hati masing-masing.
"Seperti yang aku pikirkan" ucap Elisa Su di dalam hatinya sembari kembali fokus melihat rekaman video tersebut, mendengar ucapan Elisa Su kelimanya pun semakin penasaran hingga tanpa sadar kembali memfokuskan mata juga telinga mereka ke arah layar tersebut.
"Tuan bolehkah aku bertanya, sebenarnya apa hubungan anak sialan itu dengan kediaman perdana menteri kiri ini, bukankah jika tuan ingin menguasai kediaman ini tuan seharusnya lebih mewaspadai tuan muda pertama" ucap Lala dengan suara yang manja dan kini tengah melepas pakaian laki-laki tersebut, mendengar itu laki-laki tersebut pun tersenyum miring "Karena kau telah bekerja dan setia kepadaku selama belasan tahun, maka aku pun tak akan menyembunyikannya lagi darimu, sebenarnya pemilihan penerus di klen Hu bukanlah berdasarkan urutan kelahiran tapi berdasarkan tanda pemimpin klen yang akan muncul pada saat berusia tujuh belas tahun, selain itu tanda itu hanya muncul jika anak itu merupakan anak sah dari tuan dan nyonya rumah, kau pun sendiri tau siapa sebenarnya tuan muda kedua itu kan, dia itu adalah anak kandung mereka berdua yang berhasil kita ambil disaat baru lahir lalu kita tukar dengan bayi mati, selain itu aku sudah lama mengawasi tuan muda pertama namun tanda pemimpin klen Hu selanjutnya tidak muncul padanya padahal umurnya sudah mendekati dua puluh tahun" ucap laki-laki tersebut yang berhasil membuat Lala juga kelima orang lainnya pun terkejut "Benarkah tuan, kalau begitu aku akan berusaha lebih giat lagi untuk membuat anak sialan itu menjadi orang yang tidak berguna" ucap Lala sembari melanjutkan kegiatan mereka menjadi lebih panas lagi, melihat apa yang akan terjadi selanjutnya Elisa Su pun dengan segera memerintahkan Coco untuk mematikan rekaman video tersebut.
"Benar-benar seperti yang aku duga, namun satu hal yang tak masuk dalam perhitunganku yaitu tanda pemimpin klen itu" ucap Elisa Su yang langsung diangguki oleh Coco "Benar host aku juga tak menyangka akan mendengar hal yang seperti itu" ucap Coco, berbeda dengan Elisa Su dan Coco, perdana menteri kiri Hu kini tengah mengingat kembali pada saat dimana putra keduanya lahir namun dinyatakan telah meninggal dunia oleh bidan yang membantu istrinya melahirkan, kejadian itu membuat istrinya pun merasakan kesedihan yang cukup lama bahkan hingga saat ini pun istrinya masih sering mengingat anak yang telah tiada itu, namun siapa sangka ternyata anak itu tidaklah mati melainkan ditukar oleh orang lain dan bahkan anak itu pun ingin dijadikan pion untuk menguasai kediamannya, mengingat itu membuat perdana menteri kiri Hu pun tanpa sadar mengepalkan tangannya kuat hingga wajahnya pun memerah, melihat rekan kerjanya yang sudah dikuasai amarah perdana menteri kanan Li pun menepuk pelan pundaknya "Perdana menteri Hu, tolong tenangkan diri anda setidaknya anda sudah lebih dulu mengetahui kebenarannya dan dapat mempersiapkan langkah selanjutnya" ucapnya dengan tatapan menyemangati, "Benar apa yang dikatakan perdana menteri Li, sebaiknya perdana menteri Hu mendinginkan kepala lebih dulu agar dapat menyiapkan rencana yang sempurna untuk kedepannya" ucap jenderal Su, mendengar ucapan dari kedua rekan kerjanya itu perdana menteri kiri Hu pun akhirnya menghela napas berat "Baiklah apa yang kalian katakan memang benar semuanya memang harus dilakukan secara perlahan dan disaat pikiran jernih" ucap perdana menteri kiri Hu.
"Coco lalu bagaimana kelanjutan mengenai tuan muda kedua itu, apakah dia mendapatkan hukuman setelah tidak berhasil mendapatkan pil penambah umur itu" ucap Elisa Su yang berhasil membuat jenderal Su, pangeran mahkota juga Harun Li pun menjadi penasaran dengan kelanjutannya, terutama pangeran mahkota karena dialah yang mendapatkan pil tersebut dan berhasil menjualnya kembali kepada perdana menteri kiri Hu. "Untung saja host mengingatnya, aku sendiri bahkan hampir lupa untuk mengatakannya kepada host" ucap Coco lalu langsung menceritakan semuanya kepada hostnya itu.
Sesampainya dikediaman perdana menteri kiri Hu, Dodi Hu yang merupakan tuan muda kedua kediaman itu pun pulang dalam keadaan yang dipenuhi dengan kekhawatiran di tambah lagi saat ini dia pun sedang berjalan ke arah ruang kerja ayahnya setelah orang kepercayaan ayahnya memanggilnya untuk segera bertemu dengan ayahnya "Salam hormat ayah" ucap Dodi Hu setelah berada dihadapan ayahnya, melihat anak keduanya telah datang, perdana menteri Hu pun segera berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah anaknya itu "Bagaimana apakah kau berhasil mendapatkannya" tanya perdana menteri Hu dengan penuh harap mendengar itu Dodi Hu pun meneguk ludahnya berat "Maaf ayah aku tidak berhasil mendapatkan pil tersebut" ucap Dodi Hu yang kemudian menundukkan kepalanya mendengar itu perdana menteri kiri Hu pun marah dan tanpa sadar memukul meja kerjanya dengan sangat kuat hingga membuat Dodi Hu pun menangis ketakutan.