Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Masa Lalu Sang Kepala Akademik

Ellion menatap Angel yang duduk dengan kepala tertunduk dalam, penuh kerendahan hati seolah statusnya adalah hal yang harus disembunyikan. Melihat sikap Angel itu, bayangan masa lalu perlahan kembali melintas di benaknya. Dengan suara lembut namun penuh makna, Ellion memulai ceritanya.

"Izinkan aku bercerita, Angel..."

"Aku adalah seorang anak yang lahir dan tumbuh di sebuah rumah kecil di tepi hutan. Aku tinggal bersama seorang nenek tua yang baik hati, namun hingga akhir hayatnya, aku pun tidak pernah tahu siapa sebenarnya identitas nenek itu. Kami hidup sederhana, hanya berdua di tengah keheningan hutan yang lebat. Waktu terus berjalan, dan tubuh nenek pun semakin lemah. Hingga suatu hari, saat nyawanya hampir meninggalkan tubuhnya, nenek memegang tanganku dengan tangan yang gemetar."

Ellion berhenti sejenak, menelan ludah seakan menahan rasa haru yang kembali muncul.

"Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, nenek meminta maaf kepadaku. Ia berkata bahwa ia tidak pernah mengetahui siapa orang tuaku, karena saat itu aku ditemukan sendirian di tengah hutan dan ia memungutku. Namun aku tidak peduli akan hal itu. Bagiku, nenek adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki, dan aku sudah cukup bahagia hidup bersamanya."

"Maka nenek berpesan dengan suara yang nyaris tak terdengar: 'Nak, nenek sebentar lagi akan pergi. Kamu harus tetap kuat. Jadilah pahlawan yang melindungi tempat ini, dan juga melindungi seluruh dunia.' Dan seketika itu juga, nyawa nenek melayang pergi."

Ellion menunduk, matanya menerawang jauh seakan melihat kembali masa itu.

"Aku bingung, aku takut... dan aku menangis sekencang-kencangnya. Tidak ada siapa pun di sekitarku. Hanya ada rumah kayu tua itu dan hutan yang kini terasa semakin gelap dan sunyi. Namun pesan nenek terus terngiang di telingaku. Aku berjanji akan menepatinya — aku akan menjadi pahlawan. Maka aku pun berangkat dan menjadi seorang ksatria, bertekad melindungi tempat yang pernah kutempati dan dunia ini."

"Nyataannya, menjadi ksatria tidaklah semudah yang kubayangkan. Aku sangat bodoh dan tidak becus sama sekali dalam memegang pedang atau apa pun yang berhubungan dengan senjata. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, berlatih siang dan malam, namun tidak ada satu pun yang membuahkan hasil. Aku selalu tertinggal, selalu lemah."

"Sampai pada suatu hari, perang besar untuk melindungi dunia meletus tepat di tempatku berada. Pasukan ksatria kami hampir saja dikalahkan. Satu per satu gugur, hingga akhirnya hanya tersisa aku sendirian di antara bangunan yang runtuh dan debu yang beterbangan. Aku bingung, tak tahu harus berbuat apa. Aku hampir menyerah, tahu bahwa aku akan segera mati di sana."

"Tapi tiba-tiba saja..." Suara Ellion bergetar. "Sosok itu muncul. Dengan pedang di tangan dan kekuatan sihir yang dahsyat, ia menyerang musuh-musuhku. Serangannya begitu hebat hingga mampu menghancurkan sekaligus senjata-senjata besar milik pasukan musuh. Aku merasa takut sekaligus kagum — belum pernah sebelumnya aku melihat seseorang yang begitu mengerikan, jauh lebih mengerikan daripada siapa pun yang pernah kutemui."

"Ia adalah tangan kanan dari Dewa Penghancur. Dan di tempat kejadian itu, di antara kabut pertempuran, ada sosok yang sedang menyaksikan semuanya — Dewa Penghancur itu sendiri."

Ellion menarik napas panjang, seakan beban berat kembali menghimpit dadanya.

"Pertempuran selesai dalam sekejap. Di medan perang itu seketika tidak ada lagi yang hidup... kecuali aku. Lalu sosok bernama Lazark — tangan kanan Dewa Penghancur itu — menoleh dan melihatku masih hidup. Tanpa jeda sedikit pun, ia melangkah dengan gerakan yang sangat cepat, pedang di tangannya terhunus tajam, dan seketika itu ujung pedangnya sudah tepat di leherku..."

Aku membeku di tempat, nyaris tidak berani bernapas. Ujung pedang Lazark yang tajam itu terasa begitu dekat, seolah siap membelah leherku hanya dengan satu gerakan kecil. Keringat dingin mengalir di pelipisku, tubuhku gemetar hebat. Aku takut — sangat takut — karena aku tahu, jika aku bergerak sedikit pun atau bahkan membuka mulut untuk berbicara, aku pasti akan langsung dibunuh di tempat itu.

Dalam keheningan yang mencekam itu, tiba-tiba sosok yang sejak tadi menyaksikan pertempuran itu melangkah maju. Dewa Penghancur turun menghampiriku, langkahnya terdengar begitu pelan namun berat, seakan bumi ikut bergetar setiap kali kakinya menyentuh tanah. Ia menatapku, lalu berkata dengan suara yang dalam dan menggetarkan jiwa:

"Ikutlah denganku... jika engkau ingin tetap hidup."

Seketika itu juga, rasa syukur meledak di hatiku. Namun di saat yang sama, rasa takutku tidak berkurang sedikit pun. Pemandangan yang baru saja kulihat — kekuatan yang mampu menghancurkan seluruh pasukan dalam sekejap — terus terbayang di mataku, membuatku sadar betapa kecil dan rapuhnya nyawaku di hadapan mereka.

Aku pun berdiri dengan gemetar, mengikuti mereka. Di sana, aku berjalan di antara dua sosok yang paling mengerikan di semesta ini: Lazark, tangan kanan Dewa Penghancur, dan Dewa Penghancur itu sendiri. Keduanya mengenakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuh, bahkan wajah mereka pun tersembunyi di balik kain dan bayangan, sehingga tidak ada satu pun ciri fisik yang bisa kulihat. Identitas mereka tertutup rapat, menambah rasa hormat sekaligus ketakutan yang tak terlukiskan di hatiku.

Kami berjalan bertiga menuju tempat selanjutnya, dan arah yang kami tuju ternyata melewati hutan yang dulu pernah kutempati bersama nenek. Pepohonan yang rimbun dan jalan setapak yang mulai kurekognisi membuat hatiku berdebar. Saat kami semakin dekat ke area yang kukenal, aku memberanikan diri untuk berbicara, suaranya terdengar kecil dan penuh keraguan.

"Mohon maaf..." kataku sambil menunduk dalam, takut kalimatku akan menyinggung mereka. "Apakah saya boleh mampir ke rumahku untuk terakhir kalinya? Karena jalan yang akan kita tuju melewati hutan tempatku dulu tinggal..."

Sosok berpakaian hitam itu berhenti melangkah seketika. Di dalam keheningan yang menegangkan, ia menoleh ke arahku, dan meskipun wajahnya tertutup rapat, aku bisa merasakan tatapan itu jatuh tepat ke arahku. Hati kecilku berdebar kencang, menyesal seketika — aku sadar permintaanku ini pasti sangat tidak sopan, apalagi kepada sosok yang begitu agung dan mengerikan seperti mereka. Aku hampir saja menarik kembali ucapanku.

Namun sebelum aku sempat bicara, Dewa Penghancur itu berkata dengan tenang:

"Baiklah. Kita akan bermalam di sini, dan besok baru akan berangkat."

Seketika itu juga, rasa syukur meledak di dadaku. Meski begitu, rasa takutku belum sepenuhnya hilang — tubuhku masih terasa kaku, dan aku terus menunduk dalam. Di dalam hatiku, aku kembali merenung: Aku ini siapa? Berani-beraninya aku meminta hal seperti itu kepada mereka? Ini pasti sangat tidak sopan... Namun meski dipenuhi rasa bersalah, aku tidak bisa menahan rasa haru karena diizinkan kembali ke rumah nenek untuk terakhir kalinya.

Lazark yang berdiri di samping mereka hanya diam, tidak mengeluarkan suara sedikit pun, namun aku bisa merasakan pandangannya yang tajam seakan terus mengawasi setiap gerak-gerikku. Dengan perasaan campur aduk antara syukur, takut, dan rasa malu, aku pun melangkah memimpin jalan menuju rumah kayu tua yang masih berdiri di tepi hutan itu.

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!