Indonesia
NovelToon NovelToon
Veterinary Love

Veterinary Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Idola sekolah
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Inayusrina

Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).

​Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.

​Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Gelora gairah di kamar Presidential Suite itu berlangsung terus menerus tanpa henti. Berulang kali Barra membawa Farra menuju puncak penyatuan yang intens hingga akhirnya mereka berdua terkulai lelap dalam dekapan erat satu sama lain, kelelahan membalut tubuh yang dipenuhi keringat tipis di balik selimut sutra.

​Sinar matahari pagi yang menusuk tajam melalui celah gorden membuat Farra terbangun mendadak. Dengan mata yang masih berat dan tubuh yang terasa pegal luar biasa, Farra menyipitkan mata menatap jam dinding di atas meja. Angka menunjukkan pukul 06.45 WIB.

​"Barra! Bangun, Barra!" pekik Farra panik setengah mati. Ia langsung melempar selimut, berniat meloncat dari ranjang. "Kita terlambat! Ujian praktik pukul delapan pagi dan kita belum ke apartemen ambil seragam!"

​Dalam kepanikannya, Farra yang hendak berdiri malah meringis keras karena rasa lemas di kakinya. Barra yang terbangun gara-gara jeritan Farra hanya menggeliat santai, merangkul pinggang Farra dari belakang lalu menarik istrinya kembali jatuh ke dalam dekapan hangat di atas kasur.

​"Barra, lepas! Kita bisa dihukum Pak Guru kalau terlambat!" seru Farra sembari memukul pelan lengan tegap suaminya.

​Barra menyunggingkan senyum tipis dengan mata yang masih terpejam, lalu berbisik malas di leher Farra. "Farra sayang... lihat kalender di ponsel kamu. Hari ini hari Minggu. Kita libur."

​Farra terpaku seketika. Ia meraba meja nakas, menyalakan layar ponselnya, dan benar saja: Minggu. Seluruh kepanikan yang sempat melanda langsung menguap, berganti rasa malu yang membuncah.

​"Tidur lagi, Istriku," gumam Barra serak sembari makin merapatkan tubuh Farra ke dadanya, menyelimuti mereka berdua rapat-rapat hingga akhirnya mereka kembali terlelap pulas sampai menjelang siang.

​Usai check-out dari hotel pada siang harinya dengan kondisi tubuh yang sudah segar, Barra dan Farra memulai agenda rutin mereka untuk berkunjung ke rumah orang tua. Tujuan pertama adalah kedokteran keluarga Aurelie—kediaman Farra.

​Kedatangan mereka disambut hangat oleh Aghnia dan Fendi. Di ruang tamu bergaya Eropa tempat perjodohan mereka pertama kali dibicarakan, Farra menikmati masakan rumahan ibunya sembari bercerita mengenai perkembangan persiapan simulasi UN. Fendi yang memperhatikan gestur protektif Barra pada putri tunggalnya itu hanya tersenyum puas, menyadari bahwa keputusan perjodohan ini adalah langkah yang sangat tepat.

​Malam harinya, perjalanan berlanjut ke kediaman keluarga Saputra. Tasya dan Byan menyambut anak dan menantu mereka dengan perjamuan makan malam yang tak kalah mewah. Di sela-sela santap malam, Tasya tak henti-hentinya menggoda Barra yang terus-terusan perhatian menyuapkan lauk ke piring Farra.

​"Lihat tuh Byan, anak kamu yang dulu dingin banget kalau diajak ngobrol soal cewek, sekarang udah pintar melayani istri," goda Tasya sembari terkekeh pelan.

​Barra hanya menanggapi godaan mamanya dengan senyum miring santai, sementara Farra menunduk malu sembari memegang jemari Barra di bawah meja. Kunjungan hangat ke kedua rumah orang tua mereka malam itu menyegel akhir pekan yang sempurna, mengisi kembali energi mereka sebelum esok hari kembali bertarung dengan persiapan ujian dan menyembunyikan status pernikahan di sekolah.

Usai berpamitan dari rumah orang tua Barra, mobil SUV hitam mereka melaju tenang di bawah pendar lampu kota. Namun, sebelum mengarahkan kendaraan menuju apartemen, Farra menepuk pelan lengan Barra.

​"Barra, mampir ke supermarket sebentar ya? Stok bahan makanan di kulkas udah mau habis, Cia sama Rexy juga butuh snack tambahan," pintanya.

​Barra mengangguk dan langsung membelokkan kemudi menuju sebuah supermarket 24 jam. Di dalam ruangan bersuhu dingin itu, kebersamaan mereka tampak begitu alami. Farra fokus memilih sayuran segar, daging sapi, dan beberapa bumbu dapur, sementara Barra dengan setia mendorong troli di sampingnya. Sekali-kali Barra merangkul pinggang Farra atau mengacak pelan rambut istrinya, membuat Farra tertawa kecil.

​Tanpa mereka sadari, dari balik deretan rak bumbu impor, berdiri sosok Vanessa. Matanya membelalak tak percaya menyaksikan pemandangan di hadapannya. Tatapan iri dan dengki membakar dadanya saat melihat Barra—cowok yang selama ini tak tersentuh—tampak begitu manis dan protektif mendampingi Farra belanja kebutuhan dapur layaknya sepasang suami istri.

​"Nggak mungkin... mereka belanja bahan dapur malam-malam gini?" bisik Vanessa sinis dengan jemari mengepal kuat.

​Tanpa memedulikan tatapan rahasia dari kejauhan, Barra dan Farra menyelesaikan belanjaan mereka lalu kembali ke apartemen.

​Sesampainya di hunian lantai dua puluh itu, Farra langsung memakai celemek untuk memasak menu makan malam sederhana. Namun, proses memasak sama sekali tidak berjalan tenang. Barra yang masih dipenuhi energi manja terus menyusul ke area dapur. Tangannya yang "nakal" tak henti melingkar di pinggang Farra, meremas pelan, atau menyapu lembut leher belakang Farra saat istrinya sedang memotong bumbu.

​"Barra, ih! Nanti irisannya nggak rapi kalau diserang terus!" protes Farra dengan wajah merona merah, meski tak sungguh-sungguh menolak.

​Barra justru terkekeh pelan dan mendaratkan kecupan hangat di pipi Farra sebelum akhirnya membiarkan istrinya menyajikan makanan.

​Makan malam berlangsung hangat dan dipenuhi canda tawa. Usai membereskan meja dan mencuci piring bersama, mereka beralih ke karpet empuk di ruang tengah untuk bermain bersama Cia dan Rexy. Farra mengayunkan mainan bulu untuk Cia yang meloncat lincah, sementara Barra mengelus lembut Rexy yang tertidur di pangkuannya.

​Rasa lelah setelah akhir pekan yang padat akhirnya menyapa. Barra membawa Cia dan Rexy ikut naik ke atas tempat tidur berukuran king-size di kamar utama. Di bawah selimut tebal yang hangat, Farra berbaring meringkuk di dada bidang Barra, sementara Cia dan Rexy meringkuk nyaman di sisi kaki dan samping tubuh mereka. Dalam dekapan suami dan dengkuran halus kedua kucing kesayangan, Farra pun terlelap dengan tenang menyambut esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!