Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Malam itu Galang terpaksa menutup lapaknya lebih awal dari biasanya.
Padahal antrean pelanggan di Halte Bus Trans Utama masih cukup panjang mengular.
"Maaf ya Mbak, Mas, nasi gorengnya sudah habis terjual semua malam ini," ucap Galang kepada sepasang pelanggan yang baru saja tiba.
"Yah, padahal kami jauh-jauh datang dari seberang kota karena penasaran lihat postingan viral di sosial media itu," keluh si pelanggan wanita dengan wajah sangat kecewa.
"Mohon maaf sekali lagi Mbak, besok sore saya buka lagi kok, silakan mampir lebih awal biar tidak kehabisan," balas Galang sambil tersenyum ramah.
Pelanggan itu akhirnya pergi dengan langkah gontai menyisakan Galang yang segera membereskan peralatannya.
Ia harus segera bergegas mencari bahan rahasia aneh yang diminta oleh sistem.
"Di mana aku bisa mencari daging bekicot sawah malam-malam begini?" keluh Galang pada dirinya sendiri sambil mengelap etalase kacanya.
Ia menyalakan mesin motornya dan melaju menembus jalanan kota menuju Pasar Induk.
Pasar Induk adalah satu-satunya tempat yang beroperasi dua puluh empat jam dan menjual berbagai macam bahan mentah.
Galang memarkirkan motornya dan berjalan menyusuri lorong pasar yang becek dan berbau amis.
Ia bertanya dari satu kios ke kios lainnya, namun banyak pedagang yang menertawakannya.
"Bekicot sawah? Di sini orang jual ayam dan sapi Mas, mana ada yang jual hama sawah begitu," ejek seorang ibu penjual daging.
Galang tidak menyerah dan terus berjalan hingga ke bagian paling belakang pasar yang gelap.
Di sana, ia melihat seorang bapak tua sedang duduk merokok di depan beberapa ember plastik besar.
"Pak, kebetulan jual daging bekicot sawah tidak?" tanya Galang dengan nada penuh harap.
Bapak tua itu menoleh dan menatap Galang dari atas sampai bawah.
"Ada Mas, ini bekicot sawah segar tangkapan sore tadi," jawab bapak itu sambil menunjuk ke dalam embernya.
"Biasanya orang beli ini buat pakan bebek atau buat obat gatal kulit, Mas mau beli buat apa?"
"Saya mau pakai untuk masak nasi goreng Pak," jawab Galang dengan sangat jujur.
Bapak tua itu terbatuk karena tersedak asap rokoknya sendiri mendengar jawaban konyol pemuda di depannya.
"Masak nasi goreng pakai keong sawah? Mas ini mau meracuni orang ya?" tanyanya heran.
"Tidak Pak, ini resep khusus, harganya berapa sekilo Pak?" Galang buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Murah saja Mas, dua puluh ribu sekilo sudah bersih tanpa cangkang, tinggal dicuci ulang saja."
"Bagus, saya borong sepuluh kilo sekarang juga Pak," putus Galang tanpa ragu sedikit pun.
Setelah membayar dua ratus ribu rupiah, Galang membawa kantong plastik besar berisi daging bekicot basah itu kembali ke kosannya.
Sesampainya di kamar kos yang sempit, Galang langsung menuangkan seluruh daging bekicot itu ke dalam baskom cucian plastiknya.
Bau amis campur bau lumpur sawah yang sangat menyengat langsung memenuhi seluruh ruangan kamarnya.
"Gila, baunya busuk sekali, kalau tidak dicuci dengan benar bisa hancur reputasi nasi gorengku," gumam Galang sambil menutup hidungnya.
Ia mulai menaburkan garam kasar yang sangat banyak ke atas tumpukan daging bekicot tersebut.
Srek srek srek.
Galang menggosok daging kenyal itu dengan kuat menggunakan kedua tangannya untuk merontokkan lendir tebalnya.
"Sistem sungguh kejam, menyuruhku jualan di pelabuhan preman dan harus pakai daging bau lumpur ini pula," omel Galang sambil terus menggosok.
Setelah dibilas dengan air mengalir berkali-kali, ia memeras puluhan butir jeruk nipis untuk menghilangkan bau amisnya secara tuntas.
Daging bekicot yang tadinya kusam berlendir kini berubah menjadi bersih dan kenyal mirip seperti daging kerang.
"Akhirnya selesai juga, sekarang tinggal kumasukkan ke dalam sistem," ucap Galang mengusap keringat di dahinya.
Sring.
Layar biru transparan muncul di udara saat Galang memberikan perintah mental.
Galang memasukkan baskom berisi daging bekicot itu ke dalam salah satu kotak kosong di dimensi penyimpanannya.
"Fitur ruang penyimpanan ini benar-benar sihir yang sangat praktis, dagingnya tidak akan basi meski disimpan lama," puji Galang dengan wajah puas.
Ia kemudian melirik jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Waktunya berangkat ke kandang singa," ucap Galang memantapkan hatinya.
Brum.
Setengah jam kemudian, Galang sudah memarkirkan gerobak putih mengkilapnya di area bongkar muat Pelabuhan Kargo Tanjung Utara.
Suasana di pelabuhan itu sangat bising dan mengintimidasi.
Teng teng teng.
Suara besi kontainer yang saling beradu terdengar memekakkan telinga.
Truk-truk trailer berukuran raksasa berlalu-lalang menebarkan debu tebal ke udara malam yang dingin.
Puluhan pria bertubuh kekar, berkulit gelap, dan berwajah garang terlihat duduk-duduk bergerombol di pinggir dermaga.
Mereka adalah para kuli angkut pelabuhan yang sedang beristirahat menunggu kapal kargo selanjutnya bersandar.
Galang mendorong gerobaknya perlahan mendekati kerumunan kuli yang sedang menghisap rokok dalam-dalam tersebut.
"Permisi bapak-bapak, barangkali ada yang lapar dan mau pesan nasi goreng," sapa Galang dengan suara lantang mencoba mengalahkan suara bising mesin pelabuhan.
Beberapa kuli menoleh dan menatap Galang dengan pandangan yang sangat tidak bersahabat.
Seorang pria besar dengan kumis melintang tebal dan kaus singlet lusuh berdiri menghampiri gerobak Galang.
"Woi anak muda, siapa yang mengizinkan kau bawa gerobak mewahmu ini masuk ke wilayah kami?" bentak pria berkumis itu dengan suara berat.
"Saya cuma mau cari rezeki jualan nasi goreng Pak, tidak ada maksud mengganggu," jawab Galang tetap mempertahankan senyum sopannya.
Pria berkumis itu meludah ke tanah dan berkacak pinggang di depan etalase kaca Galang.
"Kami ini kuli panggul pelabuhan, kami butuh makan nasi padang porsi kuli, bukan makanan ringan porsi anak TK buatanmu ini!" ejek pria itu dengan nada tinggi.
Teman-teman kuli yang lain ikut tertawa keras mendengar ejekan mandor mereka.
"Nasi goreng saya beda dari yang lain Pak," balas Galang tidak gentar sedikit pun.
"Ini namanya nasi goreng pemulihan, sangat cocok untuk memulihkan tenaga kuli panggul yang sudah kelelahan bekerja seharian."
Pria berkumis itu mengerutkan dahinya mendengar klaim sombong dari penjual muda tersebut.
"Omong kosong macam apa itu, memangnya harganya berapa seporsi?" tanyanya dengan nada meremehkan.
"Tiga puluh lima ribu rupiah saja Pak," jawab Galang santai.
Brak.
Pria itu menggebrak etalase kayu gerobak Galang dengan kepalan tangannya yang besar dan kasar.
"Kau mau merampok kami ya anak gila!" teriak pria itu dengan mata melotot marah.
"Uang tiga puluh lima ribu itu bisa buat beli dua bungkus nasi rames tambah es teh manis di warung ujung jalan sana!"
Beberapa kuli lain mulai berdiri dan berjalan mendekati gerobak Galang dengan wajah mengancam seolah siap mengeroyoknya kapan saja.
Galang menelan ludah, namun ia teringat bahwa ia harus menyelesaikan misi ini malam ini juga.
"Kalau bapak-bapak makan nasi goreng saya dan rasa lelah di badan tidak hilang, kalian semua bebas pergi tanpa perlu bayar sepeser pun," tantang Galang mengambil resiko.
"Saya jamin rasa sakit di pinggang kalian akibat mengangkat kontainer akan langsung sembuh seketika."
Pria berkumis itu terdiam sejenak menimbang-nimbang tawaran gila tersebut.
"Namaku Mandor Tejo, dan kau baru saja salah memilih lawan untuk ditipu," ancam pria itu sambil menunjuk hidung Galang.
"Buatkan aku satu porsi sekarang juga, kalau rasanya tidak enak atau tenagaku tidak pulih, gerobakmu ini akan kulempar ke laut beserta dirimu!"
"Siap laksanakan Pak Mandor Tejo, mohon ditunggu sebentar," jawab Galang dengan semangat yang kembali menyala.