Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Menjadi Saksi

Mobil mewah melaju membelah malam kota yang berkilau oleh lampu-lampu pencakar langit. Di dalam kabin yang senyap dan nyaman, Amara duduk di kursi penumpang, menatap pemandangan luar dengan sorot mata yang masih menyimpan sisa-sisa keterkejutan.

Gabriel melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya. Melihat kerutan halus di dahi Amara, pria itu tersenyum tipis.

"Kenapa kamu terlihat bingung? Kamu pasti bertanya ke mana kita pergi?" tanya Gabriel dengan suara baritonnya yang lembut.

Amara menoleh, lalu menganggukkan kepalanya pelan sambil menatap Gabriel penuh tanya.

Gabriel meraih satu tangan Amara, menggenggamnya erat di atas konsol tengah sebelum kembali fokus menyetir.

"Malam ini, aku akan meresmikanmu menjadi istriku, Amara."

Jantung Amara seolah berhenti berdetak sesaat mendengar kalimat itu. Ia mengerjap berkali-kali, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Gabriel dengan bantuan alat pendengarnya.

‘S-secepat ini?’ tulis Amara terburu-buru di buku catatannya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu memperlihatkannya pada Gabriel. ‘Kita baru saja membicarakannya tadi siang...’

Gabriel melirik sekilas ke arah buku catatan itu, lalu tersenyum penuh keyakinan.

"Untuk hal yang paling berharga, tidak ada kata terlalu cepat," jawab Gabriel mantap. "Semua berkas sudah diurus oleh Reno. Malam ini, di sebuah tempat privat milik keluargaku, di hadapan saksi tepercaya, ikatan itu akan diresmikan."

Amara menunduk, meremas buku catatannya erat-erat. Perasaan haru, takut, dan tak percaya bergemuruh di dalam dadanya. Gadis yang selama belasan tahun hidup di bawah bayang-bayang penyiksaan dan dianggap sebagai beban keluarga, kini justru akan dinikahi oleh pria paling berkuasa di kota ini.

"Amara," panggil Gabriel lembut, menyadari keheningan di sampingnya. Pria itu menghentikan mobilnya di pelataran sebuah bangunan privat berarsitektur klasik modern yang dikelilingi taman mawar hitam.

Gabriel mematikan mesin, lalu melepaskan sabuk pengamannya dan bergeser menghadap Amara. Ia mengangkat dagu gadis itu perlahan agar menatap matanya.

"Tidak ada lagi rasa takut,"bisik Gabriel tulus. "Mulai malam ini, namamu bersanding dengan namaku. Kau aman."

Amara menatap manik mata hitam Gabriel yang memancarkan ketulusan mutlak. Perlahan, keraguan di hatinya meleleh. Ia menganggukkan kepalanya, lalu memberanikan diri tersenyum tipis.

"Ga-briel..." bisik Amara terbata, melatih suaranya sendiri.

Gabriel tersenyum puas, lalu mengecup sekilas jemari Amara. "Anak pintar. Ayo, istriku. Kita mulai lembaran baru hidupmu malam ini."

Lima belas menit kemudian, langkah kaki mereka berdampingan memasuki aula privat berarsitektur klasik modern yang diterangi cahaya temaram lampu kristal gantung.

Ruangan itu tampak begitu anggun, sunyi, dan sakral, dihiasi ribuan tangkai mawar putih yang berpadu sempurna dengan karpet merah marun di sepanjang lorong altar.

Di hadapan altar kecil yang beralaskan kain brokat emas, berdiri seorang pendeta paruh baya berwajah tenang bersama Reno dan Bik Sum yang tersenyum hangat menyambut kedatangan mereka.

Amara meremas ujung gaun putih sederhana namun elegan yang dikenakannya. Napasnya tercekat, kakinya mendadak terasa berat saat menyadari apa yang akan segera terjadi.

Gabriel langsung merasakan ketegangan di tangan Amara yang berada dalam genggamannya. Pria itu menghentikan langkah sejenak, lalu menoleh dengan tatapan menenangkan.

"Hei, rileks," bisik Gabriel lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Amara yang dingin. "Ada aku di sini. Tidak ada yang perlu kau takutkan."

Amara mendongak, menatap manik mata hitam Gabriel yang memancarkan keyakinan mutlak. Perlahan, debaran panik di dadanya mereda, digantikan rasa hangat yang mengalir ke seluruh tubuh.

Ia mengangguk pelan, membiarkan Gabriel menuntunnya melangkah hingga berdiri tepat di hadapan sang pendeta.

"Selamat malam, Tuan Gabriel, Nona Amara," sapa pendeta paruh baya itu dengan senyuman tulus. "Apakah kita bisa mulai prosesinya?"

Gabriel melirik sekilas ke arah Amara sebelum memberikan jawaban tegas.

"Ya, silakan mulai, Father."

Suasana aula berubah semakin khidmat. Pendeta mulai membacakan doa pemberkatan dengan artikulasi yang sangat jelas, memastikan setiap kata dapat diterima dengan sempurna oleh alat bantu dengar Amara.

Gadis itu mendengarkan setiap kalimat suci tersebut dengan mata berkaca-kaca, merasa tak percaya bahwa takdir kelam yang selama ini menghimpitnya kini berbalik menjadi sebuah keajaiban yang teramat indah.

Hingga akhirnya, tibalah pada inti dari prosesi sakral tersebut.

"Gabriel Vance, apakah engkau bersedia menerima Amara Valerie sebagai istri sahmu, untuk mencintai, melindungi, dan menjaganya dalam suka maupun duka, seumur hidupmu?"

Gabriel menatap lurus ke dalam manik mata Amara tanpa sedikit pun keraguan di matanya.

"Saya bersedia," jawab Gabriel tegas, suaranya yang bariton menggema mantap di dalam ruangan yang sunyi itu.

Pendeta kemudian mengalihkan pandangannya kepada gadis di sebelah sang pengantin pria.

"Amara Valerie, apakah engkau bersedia menerima Gabriel Vance sebagai suami sahmu, untuk mendampingi, menghormati, dan hidup bersamanya, seumur hidupmu?"

Amara menelan ludahnya susah payah. Jantungnya berdegup kencang, namun ia tahu ini adalah keputusan paling benar dalam hidupnya.

Dengan segenap keberanian yang tersisa, ia mengangkat dagunya perlahan dan menatap Gabriel lekat-lekat.

"S-saya... bersedia," ucap Amara terbata. Suaranya serak dan pelan, namun terdengar sangat jelas dan penuh ketulusan di telinga setiap orang yang berdiri di sana.

Sebuah senyuman paling hangat terukir di bibir Gabriel.

Pria itu tidak menunggu lama untuk meraih tangan kecil Amara, lalu menyematkan sebuah cincin berlian berukir mawar hitam yang berkilau indah di jari manis gadis itu.

Amara membalasnya dengan menyematkan cincin perak yang sederhana namun kokoh di jari Gabriel.

"Dengan kuasa yang diberikan kepadaku," ucap pendeta dengan senyuman lebar, "saya sahkan kalian sebagai suami istri. Tuan Gabriel, Anda boleh mencium istri Anda."

Tanpa menunggu aba-aba kedua, Gabriel langsung menangkup kedua sisi wajah Amara dengan sangat lembut. Pria itu mendekatkan wajahnya, lalu mendaratkan sebuah ciuman yang penuh kelembutan, cinta, dan klaim kepemilikan di bibir Amara.

Di kursi undangan, Bik Sum tampak menyeka sudut matanya yang basah karena terharu, sementara Reno tersenyum simpul sambil bertepuk tangan pelan merayakan awal lembaran baru kehidupan bos mereka.

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!