Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32 : Ladang Boneka
"Atur! Atur kedip! Jangan barengan!"
Bima ngatur cepet, suaranya pelan tapi tegas. Matanya udah merah semua.
"Elina kedip dulu! Cepet! 1 detik aja! Yang lain awasin boneka!"
Elina kedip. Kedip.Cepet.
Empat pasang mata lain ngawasin 16 boneka. Aman. Boneka gak maju, karena masih ada 4 orang yang melek ngeliatin mereka.
"Maira kedip!"
Maira kedip cepet. Buka lagi. Matanya perih, air matanya keluar.
Aman.
"Arga!"
Arga kedip. Pas dia buka mata, dia liat boneka yang mirip Elina, senyumnya makin lebar. Tadi senyumnya kecil, sekarang lebar, coretan arangnya meluber sampai ke pipi batok kelapanya.
"Bim... boneka Elina senyumnya makin lebar..."
Bima yang di depan, matanya udah gak kuat. Dia dari tadi belum kedip sama sekali. Air matanya udah ngalir deres, pandangan kabur.
"Gue kedip ya..."
Bima kedip. Lama. 2 detik, karena matanya perih banget.
Pas dia buka mata...
Srekk.
Boneka mirip Gilang yang tadi di belakang Gilang, yang jaraknya 2 meter, sekarang udah mepet, bahunya nempel sama bahu Gilang.
Gilang yang ngerasa ada kayu dingin nempel di bahunya, noleh pelan.
Boneka itu mukanya udah 80% mirip Gilang. Mata bulat, hidung mancung, tapi senyumnya...
Senyum kayu runcing, lebar dari telinga ke telinga, giginya kayu-kayu kecil ditusuk-tusuk kayak paku.
Boneka Gilang itu...
Kedip.
Batok kelapanya punya mata coretan arang, tapi coretannya bisa nutup buka. Kedipnya telat 1 detik dari manusia.
Krek...
Pas boneka Gilang kedip, Gilang refleks ikut kedip.
Kedip barengan.
Salah.
Aturan pantangan: Jangan kedip lama dan jangan lengah. Lengah \= kedip barengan sama boneka.
Pas Gilang kedip barengan sama kembarannya...
Boneka-boneka lain yang 15 tadi...
Maju semua 1 meter.
Srek srek srek...
Ilalang kegeser kaki kayu mereka.
Sekarang jarak kepungan cuma 2 meter. Melingkar.
Berlima makin rapat, punggung ketemu punggung di tengah ilalang.
Elina nangis, tapi nangisnya gak boleh merem. Air mata ngalir tapi mata tetep melek.
"Gimana ini Bim? Makin deket!"
Bima liat punggung boneka Gilang. Tulisan `KEDIP \= DEKAT` tadi ada tambahan tulisan baru di bawahnya, muncul sendiri, kayak diukir dari dalam:
`LENGAH \= TUKAR`
Maira yang baca, langsung merinding.
"Lengah sama dengan tukar... Lang, kalau kita lengah, kita bakal ditukar sama boneka..."
Gilang yang boneka kembarannya udah nempel di bahunya, dia ngerasa berat. Boneka itu naruh tangan ilalangnya di pundak Gilang, dingin, lembab.
Boneka Gilang bisik, suaranya persis suara Gilang, tapi serak kayu:
"Gantian ya jaga? Lo udah capek kan..."
Gilang bengong. Suaranya sama persis kayak dia.
Bima tarik Gilang dari kepungan, "Jangan dengerin!"
Tapi pas Bima tarik Gilang, dia liat kaki Gilang...
Bayangannya.
Senter lowbat mereka masih nyala, nyorot ke tanah.
Bayangan Bima ada, bayangan Maira ada, Elina ada, Arga ada.
Bayangan Gilang...
Gak ada.
Di tanah ilalang, tempat Gilang berdiri, gak ada bayangan.
Maira yang senterin tanah juga liat, dia bisik gemeter: "Lang.. bayangan lo mana?"
Gilang noleh ke tanah. Pucat.
*
Berlima masih di posisi melingkar, punggung ketemu punggung. Ilalang 2 meter di sekeliling mereka goyang pelan, padahal gak ada angin. Goyangnya telat, kayak ada jeda 2 detik setelah angin lewat, baru ilalangnya goyang.
Senter Bima udah makin redup. Baterai sisa 10%. Cahayanya kuning, kedip-kedip.
Di tanah, mereka masih liatin bayangan Gilang yang gak ada.
Gilang jongkok, ngusap tanah pakai tangan, nyari bayangannya. Gak ada. Tanah ilalang kering, cuma ada bayangan ilalang, bayangan boneka-boneka, bayangan Bima, Elina, Maira, Arga. Bayangan Gilang bener-bener hilang, kayak Gilang gak ada di situ, padahal badannya ada, napasnya ada, keringetnya ada.
"Gilang... lo dari tadi ngerasa aneh gak?" Maira bisik, matanya tetep melek ngawasin boneka depan, tapi suaranya gemetar.
Gilang diem. Dia ngerasa pundaknya berat dari tadi, sejak boneka yang mirip dia nempel di bahu. Tangan ilalang boneka itu masih nempel, dingin, lembab, kayak habis direndam lumpur.
Boneka Gilang itu sekarang tingginya sama persis kayak Gilang, 182 cm, posturnya juga sama, agak bungkuk. Bedanya cuma satu, mukanya. Coretan arang di batok kelapanya makin detail. Sekarang udah ada alis. Tapi senyumnya...
Senyumnya masih senyum kayu runcing, lebar, gak natural.
Boneka Gilang bisik lagi, mepet ke kuping Gilang. Suaranya pelan banget, cuma Gilang yang denger:
"Capek ya nahan kedip... udah, merem aja lama... gue yang jagain..."
Gilang kepalanya pusing. Matanya perih poll. Di Pohon Bermata matanya kena cairan kental,di sini harus melek terus. Air matanya udah kering, jadi perihnya perih kering, kayak kelilipan pasir.
Bima liat Gilang mulai goyang, dia teriak pelan: "Gilang! Jangan dengerin! Itu bukan lo!"
Bima tarik tangan Gilang keras, narik Gilang masuk ke tengah lingkaran. Pas ditarik, tangan ilalang boneka Gilang yang nempel di pundak Gilang lepas, tapi ninggalin bekas. Di kaos Gilang ada bekas lumpur hitam bentuk tangan, 5 jari.
Berlima napasnya ngos-ngosan. Bukan karena lari, karena nahan kedip. Nahan kedip 2 menit aja rasanya kayak nahan napas 5 menit. Kepala cenat-cenut.
Elina yang dari tadi paling jago nahan kedip, sekarang matanya juga udah merah. Dia kedip cepet, kedip kedip dua kali cepet, biar basah lagi.
Pas Elina kedip dua kali cepet itu...
Dia liat sesuatu di depan Maira.
Di depan Maira, berdiri boneka baru. Tadi gak ada. Munculnya pas Elina kedip.
Boneka itu tinggi 162 cm, rambutnya dari ijuk hitam panjang, diikat belakang. Bajunya karung goni bekas. Mukanya...
Muka Maira.
Bukan mirip lagi. Persis. 95% mirip Maira. Matanya bulat, hidungnya, alisnya. Tapi senyumnya sama kayak boneka Gilang, senyum kayu lebar, giginya kayu runcing.
Boneka Maira itu berdiri 1 meter di depan Maira, diem.
Maira yang liat kembarannya sendiri, langsung kaku. Napasnya berhenti.
"Maira... itu... lo..." Arga bisik.
Boneka Maira ngangkat tangan pelan-pelan. Tangannya dari batang ilalang diikat, tapi lentik, kayak tangan manusia. Dia ngulurin tangan ke Maira.
Maira refleks mundur selangkah.
Boneka Maira ngikut maju selangkah.
Srek..
Ilalang kegeser.
Bima langsung, "Jangan mundur! Kalau mundur kita makin kepojok ke tengah! Tahan posisi!"
Tapi Maira udah terlanjur mundur, karena takut.
Pas Maira mundur, 16 boneka lain yang ngelilingin mereka...
Maju lagi 50cm barengan.
Srek...
Kepungan makin sempit. Dari diameter 4 meter, sekarang jadi 3 meter.
Elina nangis tapi gak boleh merem. "Maira, jangan takut, liat depan aja, jangan liat matanya!"
Maira nyoba. Dia liat depan, tatap-tatapan sama boneka kembarannya.
Boneka Maira masih ngulurin tangan. Tangannya dingin, tapi di ujung jarinya ada...
Kuku. Kuku manusia. Pendek, ada kutikula.
Maira liat kuku itu, makin takut.
Boneka Maira bisik, suaranya persis suara Maira, tapi lebih pelan, kayak Maira lagi ngantuk:
"Gantian ya jaga? Lo capek kan, Mai... sini, pegang tangan aku... dingin enak..."
Maira gak tahan. Matanya perih, kepalanya pusing, ditambah liat kembaran sendiri senyum lebar.
Dia merem. Lama.
Bukan kedip. Merem. 4 detik.
1... 2... 3... 4...
"MAIRA!" Elina teriak.
Pas Maira buka mata...
Tangan boneka Maira...
Udah megang tangan Maira.
Dingin. Lembab. Kasar ilalang.
Maira kaget mau lepas, tapi genggamannya kuat. Kayu ilalang ngikat jari Maira.
Boneka Maira senyumnya makin lebar, sampai batok kelapanya retak.
Terus boneka itu ngomong lagi, masih pakai suara Maira.
"Udah dapet... satu..."
Di belakang Maira, Gilang yang bayangannya hilang, dia ngerasa kakinya berat. Dia liat ke bawah.
Di tanah, bayangannya balik. Tapi bayangannya bukan bayangan Gilang. Bayangannya bayangan boneka. Tinggi, tangan panjang sampai tanah.
Gilang mau teriak, tapi dia nahan, karena kalau teriak matanya otomatis merem.
Bima senterin kaki Maira sama kaki Gilang.
Bayangan Maira masih ada, tapi...
Bayangan Maira sekarang ada dua. Satu bayangan Maira asli, satu bayangan boneka yang megang tangan Maira, nempel.
Maira udah ketukar setengah.
Arga yang di belakang, dia dari tadi diem, dia liat ke tanah juga.
Dia cek bayangan sendiri.
Bayangan Arga... juga gak ada.
Dari tadi. Sejak awal masuk ilalang.
Arga gak sadar.
***
***