Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Romeo meletakkan mangkuk bubur di atas meja kecil, lalu menatap layar televisi seraya mendesah pelan. "Hayden itu bukan sekadar pengusaha atau pelukis biasa, Aluna. Dia bukan cuma pewaris tunggal Mahendra Group. Di dunia seni, dia seniman muda jenius yang lukisannya dihargai miliaran oleh kolektor luar negeri. Dan bukan cuma itu... jaringan media hiburan besar, sebagian besar saham utamanya milik Hayden. Pasti banyak yang tak suka dengan prestasi Hayden. karna itu banyak yang ingin menjatuhkan Hayden."
Aluna tertegun mendengar penjelasan kakaknya. Matanya terpaku kaku pada layar kaca. Seketika ingatan kelam melintas di benaknya—saat ia masih menjadi model lukis di studio pribadi Hayden. Ia ingat betul bagaimana aktris-aktris papan atas dan wanita dari kalangan atas rela mengantre, bahkan merendahkan harga diri mereka di hadapan Hayden hanya demi mendapatkan perhatian pria itu atau sekadar dilirik agar karier mereka melesat naik. Hayden adalah pemegang kendali mutlak di dunia hiburan dan bisnis.
Cklek.
Pintu kamar dibuka dari luar. Hayden melangkah masuk dengan gaya tegap dan penuh keangkuhan. Jas hitamnya terpasang rapi, menyembunyikan rapat-rapat aura kepanikan yang sempat meruntuhkan harga dirinya semalam.
Romeo langsung memutar kursi rodanya menghadap Hayden dengan raut wajah tidak enak hati. "Hayden... maafkan kami. Karena menolong Aluna dan keluarga kami, namamu jadi terseret berita seperti ini. Semua stasiun TV membicarakanmu."
Hayden menyunggingkan senyum tipis yang dingin, melipat kedua tangannya di depan dada. "Tidak perlu minta maaf, Romeo. Berita seperti ini cuma angin lalu bagiku. Makanan sehari-hari. Aku sudah biasa jadi sorotan media."
"Tapi aku tahu kamu sudah bertunangan dengan Valerie," potong Romeo cepat, nampak merasa bersalah. "Aku bersedia keluar dan melakukan klarifikasi di depan media kalau perlu. Aku bisa jelaskan bahwa kamu dan Aluna tidak ada hubungan spesial apa pun. Kamu hanya menolong adik sahabatmu yang sedang sakit. Supaya nama baikmu dan pertunanganmu tidak terganggu."
Aluna yang mendengar tawaran kakaknya hanya memalingkan wajah, mendengus kaku dalam hati. Rasa malas dan muak memenuhi dadanya. Jika saja kakaknya tahu bahwa iblis yang dipujinya itu adalah orang yang merenggut segalanya dari Aluna, Romeo pasti tidak akan sudi merendahkan diri seperti ini.
Hayden terkekeh pelan, tawa pendek yang sarat akan dominasi. "Klarifikasi? Jangan berlebihan, Romeo. Aku bisa membereskan berita sampah seperti ini hanya dengan satu telepon tanpa perlu klarifikasi dari siapa pun. Media akan menutup mulut mereka sendiri besok pagi."
Hayden lalu mengalihkan pandangannya pada jam tangan mewahnya, sebelum menatap Romeo. "Sebaiknya kamu pulang sekarang. Sore ini kamu ada jadwal terapi saraf di klinik khusus, bukan? Rendra sudah menunggu di luar untuk mengantarmu pulang."
"Tapi... Aluna bagaimana? Kasihan kalau ditinggal sendirian di sini," ujar Romeo ragu, menatap adiknya dengan khawatir.
"Untuk Aluna, kamu tidak perlu cemas. Aku sudah menyiagakan dua penjaga dan suster di sini," jawab Hayden datar namun tak terbantahkan. "Kamu harus fokus pada pemulihan kakimu dulu."
Aluna sebenarnya sangat ingin memohon agar Romeo tetap di sana. Kehadiran kakaknya adalah satu-satunya benteng perlindungan mental baginya dari intimidasi Hayden. Namun, melihat raut wajah Hayden dan mengingat ancamannya semalam, Aluna memilih bungkam. Ia terlalu malas dan lelah untuk berdebat, apalagi di hadapan kakaknya yang sangat mempercayai Hayden.
"Baiklah kalau begitu..." Romeo mengangguk pasrah. Ia mengusap lembut kepala Aluna. "Kakak pulang dulu ya, Dik. Nanti sore setelah terapi Kakak usahakan mampir lagi. Kamu istirahat ya."
"Iya, Kak... hati-hati di jalan," bisik Aluna pelan.
Romeo mengangguk pada Hayden. "Terima kasih banyak, Hayden. Aku titip Aluna."
"Hm," sahut Hayden singkat.
Asisten Hayden melangkah masuk dan membimbing kursi roda Romeo keluar dari ruangan. Pintu kayu tebal itu kembali tertutup rapat.
Klik.
Suara kunci pintu yang berputar kaku seketika mengubah atmosfer di dalam kamar VIP. Kehangatan yang dibawa Romeo mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang.
Aluna langsung memiringkan tubuhnya, membelakangi posisi tempat Hayden berdiri. Ia menarik selimut hingga ke dada, memejamkan mata rapat-rapat seolah berharap keberadaan pria itu menghilang dari pandangannya.
Langkah kaki tegap Hayden terdengar mendekati ranjang. Pria itu berdiri tepat di samping tempat tidur Aluna, menatap punggung rapuh gadis itu dengan iris mata kelam yang sukar diartikan.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Hayden rendah, suaranya memecah keheningan yang mencekat.
Aluna tidak menyahut. Ia membisu kaku, menulikan telinganya rapat-rapat.
Hayden tidak marah atas pengabaian itu. Ia menarik napas panjang, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Tatapannya tertuju pada profil wajah Aluna yang terlihat dari samping.
"Dokter bilang kamu butuh pemeriksaan darah lanjutan," ucap Hayden datar, sebelum jeda sejenak menyelimuti udara. "Apakah kamu keberatan jika aku meminta mereka sekaligus melakukan pemeriksaan tanda kehamilan?"
Deg!
Kata-kata itu menghantam Aluna bagai petir di siang bolong. Seketika seluruh tubuh Aluna membeku. Tubuhnya kaku, napasnya tercekat di tenggorokan, dan ketakutan luar biasa yang paling ia hindari kembali melintas cepat memotong seluruh jalan pikirannya.
*
*
*