Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. Langkah Awal Sebuah Permainan
Di hari itu di pagi yang cerah, kediaman utama Jenderal Besar Kerajaan, Jenderal Ling Guojin tampak begitu sibuk dari hari-hari biasanya.
Para pelayan berlalu-lalang melakukan tugas masing-masing; menata hiasan dengan rapi, menata meja perjamuan dengan penuh presisi.
Memastikan semuanya telah sempurna sesuai pengaturan Su Yinfei. Demi apa...? Demi untuk menyambut kedatangan Jenderal Besar Ling Guojin.
Tampak Nyonya Su Yinfei yang selalu tampil mewah nan elegan, memerintah dengan angkuh, mengatur para pelayan, demi agar semuanya berjalan sesuai pengaturannya.
Sedangkan Ling Yaofei juga sok menyibukkan diri di hari itu. Gadis cantik namun penuh kepura-puraan itu kini tengah sibuk di dapur, sibuk membuat sesuatu dengan tangannya sendiri.
Ingin memberi kesan kepada Jenderal Ling, ingin menunjukkan kalau dirinya adalah anak yang berbakti dan amat memperhatikan sang ayah. Ingin menarik perhatian agar sang ayah lebih fokus kepadanya, tidak sedetik pun berbagi pada Ling Qingxue.
Namun jangan harap perbuatan licik Ling Yaofei dalam berebut perhatian Jenderal Ling akan berefek, dia tidak sadar jika dia sekarang hanya berkompetisi dengan dirinya sendiri.
Sebab di tengah kegigihan Ling Yaofei ingin menarik perhatian, di tengah kesibukan semua orang, ada pemandangan aneh di hari itu juga.
Itu tidak biasa bukan?
Tampak cukup jauh di kediaman Jenderal Ling sebelah belakang, Ling Qingxue hanya sibuk dengan dirinya sendiri, hanya fokus berlatih, fokus meningkatkan kekuatan tempur dan teknik sihirnya.
Tangan kanan Ling Qingxue tampak begitu luwes dan lunak, memainkan pedang spiritual yang berwarna merah bara begitu cepat begitu lincah, penuh energi spiritual elemen api.
Puas mengasah kehebatan elemen apinya, kejap berikut seketika gelombang hawa dingin langsung berputar-putar di sekelilingnya saat elemen es diaktifkan. Pedang energi spiritual segera dirubah menjadi pedang es.
Langsung memainkan jurus-jurus pedang berikutnya yang kini memperlihatkan hasil yang cukup memuaskan. Gerakan tangannya dalam memainkan pedang spiritual itu, kadang lambat, namun seketika cepat tanpa terduga.
Sementara itu Liu Xui yang baru saja datang dari dapur, berlari kecil mendekati areal latihan nona mudanya yang cukup jauh dari halaman belakang rumahnya.
"Shao jie!" panggil Liu begitu sudah dekat.
Mendengar panggilan sang pelayan setia, Ling Qingxue langsung menghentikan latihannya. Seketika itu juga gelombang hawa dingin langsung menguap, berikut pedang es spiritual seketika lenyap seperti masuk ke dalam telapak tangan tuannya.
Sejurus kemudian, Ling Qingxue segera menoleh pada Liu Xui, lalu melangkah seolah menuju ke arahnya. Sedangkan sang pelayan setia menghampiri lebih mendekat.
"Shao jie, apa kamu tidak ingin membuat sesuatu demi menyambut Ling Da Jiang jun?" tanyanya seakan menguji, ikut melangkah di sisi Ling Qingxue.
"Bahkan aku tidak perduli, apakah orang tua itu sudah kembali atau tidak," tanggap Ling Qingxue bernada dingin penuh ketenangan.
Liu Xui sempat tertegun sejenak mendengar ucapan Ling Qingxue yang begitu santai begitu tenang tapi dingin. Benar-benar shao jie-nya ini tidak menghiraukan lagi tentang Jenderal Ling.
"Aku ingat, setiap kali Da Jiang jun kembali dari medan perang," tutur Liu Xui lagi, "shao jie selalu bersemangat membuat sesuatu agar Da Jiang jun memperhatikanmu."
"Aku masih ingat, tahun lalu kamu membuat sapu tangan bersulam naga emas," lanjut Liu Xui terus berceloteh. "Shao jie rela begadang berhari-hari demi agar sapu tangan itu terbuat dengan sempurna. Dan kamu memang berhasil...."
"Tapi...."
"Tapi sayangnya sapu tangan itu bahkan tidak disentuh sama sekali oleh orang tua itu," kata Ling Qingxue dengan cepat, memotong penuturan Liu Xui.
"Sama seperti dengan semua yang telah aku hadiahkan kepadanya," lanjutnya bernada dingin, "tidak sekalipun perjuanganku dilirik olehnya.
Liu Xui menggigit bibir menahan kegetiran mendengar ucapan memilukan itu. Kepalanya langsung tertunduk, seakan enggan berkata lagi saat mengingat semua itu, perjuangan Ling Qingxue demi menarik perhatian sang ayah, selalu berujung dengan kesia-siaan.
Semua hadiah yang dibuat oleh Ling Qingxue untuk sang ayah yang penuh ketulusan dan perjuangan, selalu saja cuma sampai ke tempat sampah, tidak pernah sampai ke depan mata Jenderal Besar Ling.
"Sekarang... aku tidak akan membuang waktuku lagi dengan percuma, demi melakukan hal-hal bodoh dan sia-sia seperti itu...."
Liu Xui menoleh, menatap Ling Qingxue lekat-lekat. Dia semakin yakin jika majikan mudanya ini memang sudah berubah, bukan seperti Ling Qingxue yang dulu lagi.
Kalau dulu Ling Qingxue tetap bersikeras membuatkan hadiah untuk Jenderal Ling, namun sekarang sikap tidak perduli yang absolut benar-benar terpancar pada diri sang nona muda. Dia kini telah menanggalkan semua harapan kosong yang pernah ada di masa lalu.
★☆★☆
Sementara itu Ling Yujian berjalan ringan menuju aula utama kediaman Jenderal Ling. Langkahnya begitu tenang, tapi siapa sangka jika benaknya masih saja diusik oleh perubahan yang begitu aneh pada Ling Qingxue.
Dia tidak bisa memungkiri kalau itu cukup mengganggu pikirannya, meski sudah berkali-kali dia menganggapnya biasa saja, hanya ingin menarik perhatian dengan trik baru.
"Jian Gege, apa die di sudah sampai di gerbang kota?" Ling Yaofei yang sudah berada di aula utama tersenyum ceria saat melihat sang kakak pertama datang.
Pikiran Ling Yujian segera berantakan saat mendengar suara merdu adik kesayangannya itu. Dia segera tersenyum lembut sebelum menjawab pertanyaan Ling Yaofei.
"Sudah sampai di pusat kotaraja. Setelah menghadap Huang Di Xia, beliau akan datang ke kediaman. Mungkin satu jam lagi, atau lebih."
Mendengar kabar yang menggembirakan itu, Ling Yaofei tersenyum semakin lebar, semakin ceria.
Ling Yaofei merasa jika hari ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk meraih perhatian dan kasih sayang penuh dari Jenderal Ling Guojin.
Sedangkan Ling Qingxue hanya diam saja di paviliun kecilnya dalam ketenangan batinnya, tetap tidak membuat atau melakukan apa pun untuk menyambut kedatangan Jenderal Ling Guojin.
Baginya kepulangan kembali Jenderal Ling Guojin kali ini merupakan langkah awal dari sebuah permainan yang segera disaksikan banyak orang.
Ketika Ling Qingxue selesai membersihkan dirinya, dan telah mengenakan gaun sederhana namun bersih, seketika terdengar pintu paviliunnya diketuk dari luar.
Dengan sigap dan cepat Ling Qingxue mengenakan cadar dengan rapi, sebelum menyuruh Liu Xui untuk menemui orang yang mengetuk itu.
Dengan patuh Liu Xui segera keluar kamar. Kemudian membuka pintu dengan perlahan begitu sampai di pintu paviliun.
"Ada apa?" tanyanya bernada datar kepada seorang lelaki, pelayan kediaman utama yang tadi mengetuk pintu.
Pelayan laki-laki itu tampak bersikap segan. Semenjak peristiwa di hari itu, di mana Ling Qingxue berhasil membuat dua pelayan setia Ling Yaofei dihukum cambuk hingga mati, tidak ada lagi pelayan yang bertingkah sembarangan terhadap Ling Qingxue, termasuk pelayan kediaman utama ini.
"Ling Qingxue Shao jie diminta untuk segera hadir di gerbang utama kediaman," jawab pelayan itu sedikit takut-takut. "Ling Da Jiang jun akan segera tiba."
"Ya sudah," tanggap Liu Xui tetap bersikap datar. "Nanti aku akan sampaikan ke shao jie-ku."
"Pesan sudah saya sampaikan, saya permisi."
Setelah pelayan tadi berlalu, Liu Xui segera menemui Ling Qingxue yang masih duduk anggun di tepi pembaringannya. Begitu sudah berada di hadapan sang nona muda, dia segera menyampaikan pesan pelayan tadi kepadanya. Lalu menyambungnya.
"Apa kamu... akan ikut menyambut kepulangan Ling Da Jiang jun, Shao jie?"
"Adalah tidak sopan jika aku melewatkan pertunjukkan menarik, kalau sampai aku tidak ikut menyambut Ling Jiang jun Da ren...," tutur Ling Qingxue bernada kalem, tapi tersenyum dingin.
Pada kehidupannya yang pertama, sebenarnya momen seperti ini adalah momen yang amat dia tunggu-tunggu, di mana dia berdiri bersisian dengan kedua kakaknya dengan penuh harap, meskipun pada akhirnya dia hanya mendapatkan kekecewaan di atas luka dan sakit hati yang masih ada.
Tapi sekarang, dia tidak akan mengemis kasih sayang dan perhatian lagi kepada sang ayah, tidak akan pernah.
"Ayo, Liu Xui, kita sambut kedatangan orang tua itu!"
Ling Qingxue segera melangkah anggun penuh ketegasan dan tekad, menuju kediaman utama. Liu Xui segera menyusul di belakangnya sambil menatap sang nona muda dengan sedikit merasakan tegang.
Sekali lagi dia melihat dan tetap ada di situ, sebuah ekspresi dan aura yang begitu lain, semakin membuatnya merasa yakin, Ling Qingxue memang telah berubah.
★☆★☆★
kumpulkan kekuatan byk2 ,,
biar gx perlu pake byk tenaga buat ngebalas perbuatan mereka ,,
dan buat mereka menyesal ,,