Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

‎Pesawat baru saja mendarat mulus di landasan pacu bandara. Langit malam itu tampak pekat diselimuti awan tebal, seakan menggambarkan suasana hati yang masih berat dan kelam di antara keduanya. Sepanjang perjalanan udara sejak sore tadi, mereka duduk berjauhan, masing-masing tenggelam dalam diam dan pikirannya sendiri. Percakapan hanya terjadi seperlunya, sebatas urusan pekerjaan, tidak ada satu pun kata yang menyentuh apa yang terjadi semalam di kamar hotel. Keheningan di antara mereka terasa canggung dan menekan, seakan ada tembok tak kasat mata yang kini berdiri tegak memisahkan keduanya.

‎‎Mereka berdiri di area penjemputan, menunggu kedatangan Hansen yang seharusnya menjemput mereka. Anindya menggenggam tali tas dokumennya erat-erat, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia tahu keheningan ini tidak akan selamanya berlanjut, dan rasa bersalah yang sejak semalam ia pendam akhirnya mendorongnya untuk berbicara.

‎‎"Ehm... Pak..." suaranya terdengar pelan dan ragu, memecah keheningan yang membeku di antara mereka.

‎‎Reynand menoleh perlahan, menatapnya sekilas dengan tatapan yang sulit dibaca.

‎‎"Ada apa?"

‎‎Anindya menelan ludah, lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan, matanya menunduk menatap ujung sepatunya sendiri.

‎‎"Soal kejadian semalam... saya benar-benar minta maaf sebesar-besarnya. Saya menyadari sikap saya saat itu sangat tidak sopan dan tidak pantas, memeluk Bapak secara tiba-tiba begitu. Itu murni reaksi ketakutan saya terhadap petir, bukan maksud saya untuk melanggar batas profesionalitas maupun membuat Bapak merasa tidak nyaman. Saya sungguh-sungguh minta maaf, Pak."

‎‎Suaranya bergetar di akhir kalimat, menanti dengan hati berdebar apa yang akan dikatakan pria itu.

‎‎Reynand terdiam sejenak, menatap wanita itu yang tampak begitu menyesal dan cemas menanti putusan. Ia menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya di depan sana, seakan mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

‎‎"Anindya..." panggilnya pelan. "Tidak perlu meminta maaf berlebihan seperti itu. Aku tahu kamu ketakutan. Itu reaksi manusiawi. Aku tidak menyalahkanmu, dan aku tidak merasa tersinggung."

‎‎"Tapi tetap saja, Pak... saya tahu itu tidak seharusnya terjadi di antara atasan dan bawahan," potong Anindya cepat, matanya berkaca-kaca. "Saya tidak ingin Bapak berpikir saya wanita yang tidak tahu diri atau memanfaatkan situasi."

‎‎Reynand menatapnya lekat-lekat, sorot matanya melembut sedikit meski nadanya tetap terkendali.

‎‎"Aku tidak berpikir begitu. Jadi jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. Yang penting... kita tetap profesional ke depannya, bukan? Biarkan kejadian semalam tetap menjadi hal yang berlalu."

‎‎Anindya mengangguk pelan, namun rasa lega yang ia harapkan datang ternyata belum sepenuhnya terasa.

‎‎"Baik, Pak. Terima kasih banyak atas pengertian Bapak."

‎‎Belum sempat suasana kembali hening sepenuhnya, mobil sedan hitam melaju pelan dan berhenti tepat di depan mereka. Hansen keluar dari sisi pengemudi, membukakan pintu belakang dengan senyum sopan seperti biasa.

‎"Selamat kembali, Tuan Reynand, Anindya. Perjalanan pulang lancar?"

‎‎"Lancar, Hansen. Terima kasih," jawab Reynand singkat.

‎‎Setelah memasukkan barang dan menutup pintu bagasi, Hansen berjalan mendekat dengan wajah yang tetap sopan namun terlihat sedikit sungkan.

‎‎"Maaf mengganggu, Tuan Reynand... sebelum kita berangkat, ada pesan dari Nyonya Gisella yang tadi pagi saya janjikan untuk disampaikan."

‎‎Reynand berhenti melangkah, tangannya yang hendak membuka pintu belakang pun terhenti di udara. Ia menatap Hansen sekilas.

‎"Katakan."

‎‎"Nyonya meminta agar Anda segera menuju kediaman utama malam ini. Beliau menyampaikan ada hal penting yang ingin dibahas secara berdua, dan memohon agar Tuan tidak menunda kedatangan ke sana."

‎‎Reynand menghela napas pelan, menutup mata sejenak seakan menahan beban yang tak terlihat di pundaknya. Hening sesaat, sebelum ia kembali membuka mata dan menatap ke arah Anindya yang berdiri menunggu tidak jauh di sampingnya.

‎"Hansen," ucapnya tegas namun tenang. "Kamu antar Anindya pulang ke tempat tinggalnya. Bawakan juga barangku dan antar ke apartemen."

‎‎Hansen mengangguk patuh. "Baik, Tuan."

‎‎Reynand kembali menatap Anindya, sorot matanya lembut namun tetap menjaga jarak yang profesional.

‎‎"Kamu ikut Hansen pulang. Jangan khawatir soal dokumen, aku akan memeriksanya di kantor besok pagi."

‎‎"Lalu Bapak bagaimana? Bapak tidak ikut bersama kami?" tanya Anindya dengan sedikit cemas.

‎‎"Aku akan naik taksi saja," jawabnya singkat, lalu menoleh kembali ke arah Hansen. "Pastikan Anindya sampai dengan selamat ke rumahnya."

‎‎"Baik, Tuan. Akan saya pastikan," sahut Hansen.

‎‎Anindya masih berdiri terpaku sejenak, hatinya terasa berat namun ia tahu tidak pantas baginya untuk membantah keputusan tersebut.

‎‎"Baik, Pak. Hati-hati di jalan," ucapnya pelan, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.

‎‎Reynand hanya mengangguk sekali, lalu melangkah mundur menjauh dari mobil. "Masuklah, pulang dengan Hansen."

‎‎Hansen membukakan pintu belakang untuk Anindya. Anindya melangkah masuk, duduk di kursi yang sama dengan perjalanan ke luar kota kemarin, namun kali ini terasa jauh lebih sepi. Saat mobil mulai melaju meninggalkan area penjemputan, Anindya menoleh ke belakang melalui kaca jendela. Sosok Reynand masih berdiri di sana, menatap ke arah mobil yang menjauh, sampai akhirnya mobil berbelok dan sosok itu hilang dari pandangan.

-

-

-

‎Di dalam kamar yang luas dan remang cahayanya, Gisella berbaring miring di sofa kulit yang besar dan empuk. Hanya mengenakan set pakaian dalam berwarna merah menyala yang terbuat dari bahan renda tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Di tangannya, sebuah gelas berisi anggur merah digoyangkan perlahan, memperhatikan cairan itu berputar lembut di dalam wadah kaca bening. Sesekali matanya melirik gelas anggur kedua yang masih utuh dan belum tersentuh, tergeletak rapi di atas meja rendah tepat di hadapannya.

‎‎Suasana yang tenang itu seketika terpecah saat terdengar ketukan halus di pintu utama.

‎‎"Nyonya... Tuan Reynand telah kembali," terdengar suara pelayan dari balik pintu, sopan dan tertahan.

‎‎Senyum tipis langsung terukir di bibir Gisella. Ia segera bangkit dan duduk dengan tegak, meletakkan gelas anggur di tangannya ke atas meja dengan gerakan anggun dan tenang.

‎‎Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan.

‎‎Reynand melangkah masuk. Penampilannya masih rapi dengan kemeja putih dan celana bahan, namun tatapannya terlihat lelah dan berat. Ia berdiri sejenak di ambang pintu, menatap pemandangan di hadapannya tanpa ada perubahan ekspresi di wajahnya. Langkahnya pun terhenti, seakan butuh waktu sejenak untuk menyadari apa yang sedang terjadi di ruangan itu.

‎‎"Kau pulang..." ucap Gisella pelan, suaranya terdengar lembut dan penuh kelembutan yang sengaja ia atur sedemikian rupa. "Aku sudah menunggumu cukup lama, Sayang. Ayo duduk. Anggur ini masih segar."

‎‎Reynand tetap berdiri di tempatnya, tidak melangkah mendekat maupun menjauh. Matanya menatap lurus ke arah istrinya, namun tidak ada kilat kekaguman atau keinginan yang terlihat di sana.

‎‎"Gisella..." panggilnya singkat, "Katakan saja ada apa kau menyuruhku datang. Aku tidak punya banyak waktu."

‎‎Gisella menepuk permukaan sofa di sebelahnya, "Duduklah, Reynand. Kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh."

‎‎Reynand menghela napas panjang, lalu memutar tombol kunci pintu di belakangnya hingga terdengar bunyi klik. Namun ia tetap berdiri pada jarak sekitar tiga meter dari sofa, menjaga jarak yang aman dan terjaga.

‎‎"Aku bertanya sekali lagi. Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan?" Nadanya terdengar datar dan tertutup, seakan ada tembok tebal yang berdiri di antara mereka.

‎‎Gisella tersenyum tipis. Ia mengangkat gelas anggur yang masih tersisa di tangannya, lalu menyodorkan gelas kedua yang telah disiapkan tadi ke arah suaminya.

‎‎"Tidak ada hal khusus yang ingin kubahas. Aku hanya merindukan suamiku."

‎‎"Sudah sebulan lebih kau tidak pulang ke sini." Ia meneguk anggur di gelasnya perlahan, bibir merahnya terlihat basah menyisakan jejak cairan itu. "Aku pikir... kita perlu berbicara."

‎‎Suasana seketika menjadi hening. Hanya detak jarum jam dinding yang terdengar berirama di ruangan yang luas itu.

‎‎Reynand melirik sekilas ke arah gelas anggur yang disodorkan kepadanya, namun tidak menjangkaunya. Kedua tangannya justru masuk ke dalam saku celana, jemari mengepal erat menahan kekesalan yang mulai tumbuh.

‎‎"Jika apa yang ingin kau bicarakan itu berkaitan dengan surat perceraian..." potongnya cepat, terlalu cepat seakan tidak ingin memberi kesempatan bagi istrinya untuk memutarbalikkan fakta. "Katakan saja sekarang. Keputusanku tidak akan berubah. Kita akan tetap bercerai, Gisella."

‎‎Gisella tertawa pelan. Bukan tawa yang lahir dari kebahagiaan, melainkan tawa yang terdengar patah dan getir.

‎‎"Bercerai, ya..." Ia berdiri perlahan dari duduknya. Lingerie yang ia kenakan jatuh mengikuti lekuk tubuhnya yang bergerak mendekat, hingga akhirnya ia berhenti tepat satu meter di hadapan Reynand.

‎‎"Tapi sampai detik ini berlalu, kita masih sah sebagai suami dan istri, Reynand," bisiknya dengan penekanan yang tegas.

‎‎"Dan kau pun tahu betul apa konsekuensinya jika kau tetap bersikeras ingin melepaskan ikatan ini denganku. Reynand Group tidak akan mampu berdiri tegak seperti saat ini tanpa dukungan penuh dari keluarga Wijaya."

‎‎Gisella berbalik perlahan, melangkah kembali menuju meja rendah di tengah ruangan untuk mengambil gelas anggur yang masih utuh dan belum tersentuh itu. Ia kembali mendekat ke arah Reynand, menyodorkan gelas itu dengan senyum yang terlihat manis namun menyembunyikan niat terselubung.

‎‎"Minumlah dulu, Sayang... baru kemudian kita duduk bersama dan mencari jalan keluar terbaik dari semua masalah yang sedang membelenggu kita ini. Aku tidak akan menuntut apa pun, ayo kita bicarakan masalah ini dengan kepala tenang."

‎‎Reynand menatap gelas bening itu sejenak, keraguan sempat melintas di benaknya. Namun mengingat beban pembicaraan yang masih panjang di hadapan mereka, ia akhirnya menerima gelas itu dari tangan istrinya. Dengan satu tegukan cepat, ia menghabiskan seluruh isi cairan di dalamnya hingga tandas, lalu meletakkan gelas kosong itu ke meja di sampingnya dengan bunyi pelan.

‎‎Gisella tersenyum lebar, matanya berkilat tampak puas melihat hal yang baru saja terjadi.

‎‎Lima menit berlalu dalam keheningan yang menegangkan.

‎‎Reynand mengusap tengkuknya dengan gerakan yang terasa berat. Ada sensasi aneh yang menjalar di sepanjang lehernya. Udara di ruangan yang luas itu seketika terasa pengap dan menyesakkan, seakan oksigen perlahan berkurang.

‎‎"Gisella..." suaranya terdengar serak dan berat, jauh berbeda dari nada bicaranya yang biasanya tegas dan tenang. "Apa yang telah kau campurkan ke dalam minuman tadi—"

‎‎Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Gisella sudah berdiri tepat di belakangnya. Jari-jemari wanita itu perlahan menyentuh kerah kemeja yang dikenakannya, dengan gerakan lembut namun penuh maksud tersirat.

‎‎"Sstt..." bisiknya tepat di samping telinga suaminya, nadanya terdengar membujuk dan memikat. "Jangan menahan dirimu sendiri, Reynand. Aku ini istrimu yang sah. Ayo... sentuh aku."

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!