Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NEGOISASI
Aleta melangkah keluar dari kamar Julian dengan langkah tenang.
Suasana di halaman belakang tampak sepi karena para pelayan sedang sibuk di bagian depan rumah, memberikan kesempatan sempurna bagi Aleta untuk melakukan ritual rahasianya.
Wanita itu berjalan menuju sebuah sudut tersembunyi di dekat dinding yang dikelilingi rimbunnya tanaman hias, lalu memastikan situasi di sekitar benar-benar aman dari pandangan siapapun.
"Waktunya menyiapkan stok untuk besok," gumam Aleta pelan.
Aleta mengangkat tangan kanannya, memejamkan mata sejenak.
Wush...
Dalam sekejap, sebuah botol kecil berisi air kehidupan bercahaya biru lembut serta beberapa kantong bibit buah kualitas tingkat dewa sudah berada di dalam genggamannya.
Aleta membuka tutup botol tersebut, lalu mulai menyiramkannya secara merata ke atas tanah subur di halaman belakang.
"Dengan air kehidupan ini, tanaman buah di sini akan tumbuh subur dan berbuah lebat hanya dalam waktu semalam," ucap Aleta tersenyum miring.
Tiba-tiba, suara langkah kaki seseorang yang mendekat membuat Aleta langsung menolehkan kepalanya dengan waspada.
"Marchiones?" panggil seorang pelayan perempuan dengan nada ragu-ragu.
"Ada apa? Kenapa kamu kesini?" tanya Aleta dengan suara tegas.
Pelayan itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa sangat takut beradu tatapan dengan nyonya besar nya.
"M-maafkan saya, Marchiones, saya hanya ingin memberitahu kalau Tuan Seno sedang menunggu di depan, katanya ada saudagar dari ibu kota yang ingin bertemu dengan Anda," jawab pelayan itu gugup.
Aleta mengangguk pelan, lalu melangkah melewati pelayan itu dengan dagu terangkat.
"Suruh dia tunggu di ruang tamu, saya akan kesana sekarang," perintah Aleta tanpa menoleh lagi.
"Baik, Marchiones!" jawab pelayan itu cepat, buru-buru melangkah pergi.
Aleta tersenyum tipis di sepanjang langkahnya menuju ruang tamu, merasa segalanya berjalan sesuai dengan rencana besar yang sudah dia susun demi masa depan dirinya dan Julian.
Di ruang tamu, Seno tampak berdiri gelisah sambil mondar-mandir menyambut kedatangan sang Marchiones.
"Marchiones, Anda akhirnya datang," ucap Seno buru-buru membungkuk hormat begitu melihat Aleta.
Aleta langsung mendudukkan dirinya di sofa tunggal dengan anggun, menyilangkan kaki dan melipat ke tangan di dadanya.
"Mana orang yang ingin bertemu dengan saya?Jangan buang-buang waktu saya," ucap Aleta tanpa basa-basi.
Glek
Seno menelan ludah sejenak sebelum menjawab dengan hati-hati.
"Dia adalah Tuan Retro, saudagar rempah dan buah terbesar dari pusat ibu kota, Marchiones, dia sudah menunggu di ruang sebelah sejak tadi," jelas Seno, sopan.
Aleta mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh percaya diri.
"Suruh dia masuk sekarang," perintah Aleta, tegas.
"Baik, Marchiones!" jawab Seno sigap.
Tidak butuh waktu lama, seorang pria paruh baya bertubuh agak gempal dengan pakaian mewah langsung masuk ke ruang tamu, didampingi oleh dua pengawal setianya di belakang.
"Ah, jadi Anda Marchiones Volis yang sangat hebat itu?" sapa Tuan Retro ramah sambil tersenyum lebar dan membungkuk hormat.
Aleta hanya melirik sekilas, tidak beranjak dari tempat duduknya sedikit pun.
"Langsung saja, Tuan, saya orangnya sibuk dan tidak suka basa-basi. Apa tujuan Anda datang jauh-jauh ke kediaman Marquis yang miskin ini?" tanya Aleta dingin.
"Haha, Anda benar-benar wanita yang blak-blakan, Marchiones! Kedatangan saya tentu saja untuk membahas kontrak kerja sama, pasokan buah dari kebun Anda," ucap Tuan Retro antusias.
"Buah dari kebun saya kualitasnya tidak main-main, Tuan, kalau Anda ingin membeli dalam jumlah besar, harganya juga tidak murah," ucap Aleta dengan nada santai namun penuh penekanan.
Tuan Retro mengangguk cepat, merogoh saku pakaian nya mewahnya untuk mengeluarkan sebuah perkamen.
"Saya tahu betul, Marchiones! Bahkan para bangsawan di luar sana berebut ingin mencicipi buah apel dan anggur dari wilayah Volis ini. Saya siap membayar dua kali lipat dari harga pasaran untuk kontrak satu tahun penuh!" tawaran Tuan Retro menggiurkan.
Aleta melirik gulungan permanen di tangan sang saudagar, lalu menyeringai tipis.
"Dua kali lipat? Kurang, Tuan Retro, harga segitu tidak sebanding dengan kualitas buah yang saya miliki, itu terlalu murah," ucap Aleta santai, membuat Seno yang berdiri di samping langsung terkejut mendengarnya.
Sementara Tuan Retro erperangah, matanya membelalak lebar tidak menyangka Marchiones di depannya begitu berani menawar harga setinggi itu.
"K-kurang, Marchiones? Tapi harga itu sudah jauh di atas standar pedagang lain!" protes Tuan Retro dengan nada tidak percaya.
Aleta bersandar santai di sofa, menatap tajam pria paruh baya itu tanpa rasa gentar.
"Barang langka punya harga tinggi Tuan, kalau Anda tidak mau, masih banyak saudagar lain di luar sana yang ingin kerja sama dengan saya," ucap Aleta, dingin.
Tuan Retro mengelap keringat di keningnya, berpikir keras menimbang keuntungan besar yang akan dia dapatkan jika berhasil memonopoli buah dari kebun Aleta.
"Baiklah! Tiga kali-"
"Lima kali lipat!" potong Aleta, tersenyum dingin.
"A-apa?"
Bukan hanya Tuan Retro yang terkejut dengan harga tinggi yang baru saja Aleta berikan, bahkan para pelayan yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka, ikut tersentak kaget.
"Marchiones itu terlalu tinggi," protes Tuan Retro, pucat pasi.
"Kalau begitu, silahkan pergi, karena itu artinya Anda bukan target pasar saya, seperti yang saya katakan tadi, masih banyak saudagar kaya yang ingin bekerjasama dengan saya," ucap Aleta santai, pendirian nya tidak goyah sedikitpun.
Liam yang sedari tadi diam-diam mendengar pembicaraan itu, tersenyum miring.
"Dasar," batin Liam terkekeh kecil.
Liam melanjutkan langkahnya ke ruang kerja nya, dengan senyum tipis di wajah nya.
"Benar-benar menggemaskan," batin Liam, mengingat ekspresi wajah Aleta tadi.
Kalau orang lain takut dan tertekan dengan Aura Aleta, tapi tidak dengan Liam yang merasa sangat terhibur, perubahan istri nya itu benar-benar sangat menarik perhatian nya.
Ah sial! Liam kembali teringat dengan senyum Aleta yang mengandung racun itu.
"Sadar Liam, sadar, ingat, semua wanita itu sama saja," batin Liam, menggeleng kan kepala nya.
Di ruang tamu, negosiasi antara Aleta dan Tuan Retro masih berlangsung.
"Saya tidak suka membuang waktu Tuan, setuju dengan harga yang saya tentukan, atau silahkan anda pergi dari sini, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," ucap Aleta menatap Tuan Retro dingin.
Tuan Retro tampak terlihat sangat berpikir keras, di satu sisi dia tidak ingin kehilangan kesempatan ini untuk bekerja dengan sang Marchiones yang akhir-akhir ini namanya selalu menjadi pembicaraan hangat banyak orang, tapi disisi lain, dirinya harus mengeluarkan modal yang cukup besar.
"Baiklah, saya akan bayar lima kali lipat dari harga pasaran, tapi dengan syarat pasokan untuk toko saya tidak boleh dibagi ke saudagar lain!" putus Tuan Barata akhirnya, menyerahkan dokumen kontrak itu ke meja.
Aleta tersenyum puas, meraih dokumen tersebut dan membaca isinya sekilas.
"Deal. Seno, siapkan stempel dan saksi," perintah Aleta tanpa ragu.
"Baik, Marchiones!" jawab Seno dengan mata berbinar-binar kagum melihat kelihaian wanita di hadapannya dalam berbisnis.