Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21.Gelora dan bisikan

Malam makin melarut di kediaman Danuartha. Jarum jam di dinding ruang kerja Arka sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Keheningan yang pekat menyelimuti rumah besar itu, hanya diselingi oleh deru angin malam yang menyapu pepohonan di taman belakang.

Di dalam ruang kerja, ciuman hangat yang semula berlangsung penuh kelembutan perlahan berubah makin intens. Dekapan Arka di pinggang Aira makin memikat, menarik tubuh molek gadis itu hingga tidak menyisakan jarak sedikit pun di antara mereka. Hebusan napas Arka yang serak dan memburu menyapu kulit leher Aira, memicu desiran hebat yang membakar dada gadis sembilan belas tahun itu.

Jantung Aira berdegup begitu kencang. Seluruh saraf di tubuhnya meremang hebat merasakan kehangatan dan dominasi mutlak dari pria dewasa di hadapannya. Tangan Aira yang melingkar di leher Arka sedikit gemetar, meremas kemeja pria itu demi mencari tumpuan saat rasa melayang yang asing mulai menguasai kesadarannya.

Namun, tepat ketika gelora di dalam dada Arka makin memuncak, jemari pria 39 tahun itu menyentuh bahu Aira yang terbuka sedikit dari gaun tidurnya. Kehalusan dan kerapuhan kulit Aira di bawah jemari besarnya seolah memberikan sengatan kesadaran mendadak bagi Arka.

Arka mendadak menghentikan pergerakannya.

Pria itu menarik wajahnya pelan, membiarkan napasnya yang berat dan tidak beraturan berhembus di dahi Aira. Manik mata hitam Arka yang biasanya begitu tenang dan penuh kendali, kini tampak pekat dan sarat akan dorongan naluri pria dewasa yang membara hebat—sebuah gelora biologis yang sangat kuat untuk memiliki Aira sepenuhnya sebagai seorang istri.

Namun, di saat yang sama, Arka melihat pendar mata cokelat Aira yang jernih. Ada kepasrahan dan rasa cinta yang murni di sana, tetapi Arka juga menangkap sedikit binar kebingungan dan kejenjanggalan dari seorang gadis muda yang masih sangat polos dan belum pernah mengenal keintiman sedalam ini sebelumnya.

Arka memejamkan matanya rapat-rapat. Pria itu mengepalkan tangan kirinya di samping kursi, berjuang setengah mati menahan gejolak hasrat alamiahnya yang terus mendesak untuk dilampiaskan.

Dia masih terlalu muda... dia baru sembilan belas tahun, bisik batin Arka mengingatkan dirinya sendiri. Jangan sampai dorongan biologismu justru menakutinya dan merusak rasa aman yang baru saja ia temukan di rumah ini.

Perlahan, Arka menghembuskan napas panjang yang sangat berat, berusaha meredakan detak jantungnya yang bergemuruh.

Pria itu menuntun tubuh Aira agar kembali berdiri tegak di samping kursinya, lalu Arka sendiri berdiri dan merapikan kemejanya yang sedikit kusut.

Aira terpaku di tempatnya. Wajahnya yang masih merona merah dipenuhi kebingungan. Napasnya masih agak memburu saat menatap perubahan sikap Arka yang mendadak menarik diri.

"M-mas Arka...?" bisik Aira pelan, suaranya terdengar ragu dan sedikit bergetar.

"Ada... ada yang salah sama Aira?"

Arka membalikkan badannya sedikit, membelakangi Aira sejenak untuk menetralkan raut wajahnya agar tidak tampak terlalu liar di mata gadis itu.

Arka memegang tepi meja kayu mahoninya, menahan rasa frustrasi tipis yang menyerang fisik dan pikirannya.

"Tidak ada yang salah denganmu, Aira," kata Arka dengan suara yang sangat rendah, berat, dan sedikit serak karena menahan dorongan emosi yang besar.

Arka kemudian membalikkan badan, menatap Aira dengan binar mata yang melunak, meski sisa-sisa ketegangan masih terpancar jelas di rahangnya yang mengeras. Arka melangkah mendekat, mengusap puncak kepala Aira dengan sentuhan hangat yang sangat protektif.

"Hari sudah sangat malam," lanjut Arka pelan, mencoba tersenyum tipis untuk menenangkan Aira.

"Kamu pasti lelah setelah seharian menjaga Elano dan mengurus rumah. Masuklah ke kamar dan tidur lebih dulu."

Aira menatap mata Arka, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dipikirkan suaminya. Kepolosan Aira membuat gadis itu tidak sepenuhnya paham akan pertarungan batin dan penahanan diri yang baru saja dilakukan Arka demi menghormatinya.

Yang dirasakan Aira saat ini hanyalah rasa ragu dan sedikit kecemasan: Apakah sikapnya yang kaku tadi membuat Arka merasa kecewa?

"Tapi Mas Arka... tidak masuk kamar?" tanya Aira lirih, jemarinya meremas kain gaun tidurnya di samping tubuh.

"Saya masih ada beberapa dokumen kantor yang harus saya periksa malam ini," alibi Arka tenang, meski sebenarnya pria itu hanya butuh waktu untuk mendinginkan pikiran dan menata kembali kendali dirinya.

"Saya akan menyusul nanti setelah pekerjaan selesai."

Aira menelan ludah, mengangguk pelan walau dadanya merasa agak ganjal.

"B-baik, Mas Arka. Jangan bekerja sampai terlalu larut ya..."

"Iya, Aira. Selamat tidur," jawab Arka lembut, mendaratkan satu kecupan singkat yang penuh penghormatan di dahi gadis itu.

Aira berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja dengan lambat. Sebelum pintu kayu tebal itu tertutup rapat, Aira sempat melirik ke dalam dan melihat Arka kembali mendudukkan dirinya di kursi kerja, memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam dan napas yang terengah pelan.

Di dalam kamar tidur utama yang luas, Aira berbaring di atas ranjang empuk berukuran king size. Suasana kamar sangat hening, hanya dibasahi pendar lampu tidur keemasan yang temaram.

Aira memeluk guling di dadanya, memandangi sisi ranjang yang kosong di sampingnya—tempat yang biasanya diisi oleh tubuh hangat Arka. Pikiran gadis muda itu berputar-putar, dipenuhi oleh serangkaian pertanyaan yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata.

Aira tahu Arka sangat mencintainya dan telah membuktikannya di depan seluruh dunia. Aira juga tahu bahwa dirinya sudah sepenuhnya menyerahkan hatinya untuk pria itu.

Namun, kejadian di ruang kerja tadi meninggalkan teka-teki kecil di benaknya.

Kenapa Mas Arka tiba-tiba berhenti? batin Aira bertanya-tanya polos.

Apakah Mas Arka merasa aku terlalu kaku? Atau Mas Arka sebenarnya masih menganggap aku cuma anak kecil yang belum siap jadi istri seutuhnya?

Rasa ketidakpastian itu membuat Aira merasa agak cemas. Ia ingin menjadi istri yang sempurna bagi Arka, bukan sekadar pendamping yang harus selalu dilindungi dan dikasihani karena usianya yang jauh lebih muda.

Sementara itu, di ruang kerja, Arka masih terduduk di balik mejanya. Pria berusia 39 tahun itu telah menyesap segelas air dingin untuk meredakan gejolak di tubuhnya, namun pikirannya tetap tidak bisa fokus pada berkas-berkas laporan di depannya.

Arka menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan yang tinggi.

Sebagai seorang pria dewasa berdarah panas yang telah bertahun-tahun hidup menduda dan menahan diri, kehadiran Aira di sisinya setiap malam adalah sebuah ujian ketahanan batin yang sangat berat.

Setiap kali ia menghirup aroma harum tubuh Aira, merasakan kelembutan kulitnya, atau melihat bibir merah muda gadis itu bergerak saat berbicara, naluri biologisnya sebagai laki-laki selalu mendorongnya untuk memiliki Aira secara utuh dan mendalam.

Namun, Arka sangat menghormati Aira. Usia mereka terpaut jauh—tiga belas tahun. Aira baru berusia sembilan belas tahun, baru saja lepas dari trauma kemiskinan dan pemerasan keluarganya, dan kini mendadak harus memegang peran sebagai ibu dari Elano serta istri dari seorang konglomerat.

Arka tidak ingin memaksakan keintiman fisik yang terlalu jauh sebelum ia benar-benar yakin Aira merasa nyaman, siap, dan tidak merasa terintimidasi oleh hasrat dewasanya.

"Pria bodoh..." gumam Arka pada dirinya sendiri seraya terkekeh sinis.

"Menahan diri dari istri sendiri sampai sesulit ini."

Hampir satu jam berlalu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit malam.

Arka akhirnya mematikan lampu ruang kerja dan melangkah perlahan menuju kamar tidur utama. Pria itu membuka pintu dengan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak membangunkan Aira yang ia duga sudah tertidur lelap.

Namun, saat Arka melangkah mendekati ranjang, ia tertegun.

Aira tidak tidur. Gadis itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk kedua lututnya dengan wajah yang tampak agak murung di bawah pendar lampu tidur yang remang.

Arka menghentikan langkahnya, alis tebalnya bertaut cemas. Pria itu segera berjalan mendekati sisi ranjang dan duduk di tepi kasur.

"Aira? Kenapa belum tidur?" tanya Arka lembut, mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Aira.

"Ada yang sakit? Atau kamu bermimpi buruk?"

Aira mendongak, menatap mata hitam Arka yang memancarkan rasa khawatir yang amat murni.

Sentuhan tangan Arka yang hangat di pipinya seketika meluluhkan keraguan di hati Aira.

Aira menggeleng pelan, lalu tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya dan memeluk pinggang Arka, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.

Arka tersentak pelan oleh gerakan mendadak dari istrinya, tetapi refleks tangannya merangkul punggung Aira, melingkarkan dekapan hangat yang protektif.

"Kenapa, hm?" bisik Arka di dekat telinga Aira, mengusap punggung gadis itu dengan irama yang menenangkan.

"Mas Arka..." suara Aira terdengar sangat lirih dari balik dada Arka.

"Mas Arka... kecewa ya sama Aira yang tadi di ruang kerja?"

Pertanyaan Aira yang polos dan jujur itu membuat Arka terpaku di tempatnya.

Arka menarik tubuh Aira sedikit untuk menatap wajah istrinya. Pria itu melihat binar kecemasan yang polos di mata cokelat Aira.

"Kenapa kamu berpikir seperti itu, Aira?" tanya Arka heran.

Aira menundukkan pandangannya, meremas kemeja Arka.

"Aira cuma merasa... Mas Arka tiba-tiba berhenti dan pergi. Aira takut Mas Arka merasa Aira terlalu kaku, atau... atau Mas Arka menganggap Aira masih terlalu anak-anak untuk jadi istri Mas Arka yang seutuhnya..."

Mendengar penjelasan Aira, Arka tertegun sejenak, sebelum akhirnya sebuah hembusan napas panjang bercampur senyuman hangat terukir di bibirnya.

Rasa haru dan kasih sayang yang luar biasa meluap memenuhi dada Arka. Gadis di hadapannya ini begitu polos hingga salah mengartikan pertarungan kendali dirinya sebagai sebuah penolakan.

Arka memegang kedua pipi Aira dengan kedua tangannya, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya lurus-lurus.

"Dengarkan saya baik-baik, Aira," kata Arka dengan suara yang begitu dalam, lembut, dan sarat akan ketulusan yang mutlak. "Saya berhenti tadi bukan karena saya kecewa padamu, dan sama sekali bukan karena kamu tidak menarik di mata saya."

Arka mendekatkan wajahnya, menatap mata Aira dengan binar kehangatan yang jujur. "Juara bertahan penahanan diri saya hampir hancur tadi karena kamu begitu memikat, Aira. Naluri laki-laki saya sangat menginginkanmu... setiap detik, setiap saat."

Wajah Aira seketika memerah padam mendengar pengakuan Arka yang begitu terbuka dan jujur.

"Lalu... kenapa Mas Arka berhenti?" bisik Aira dengan jantung yang kembali berdegup kencang.

Arka mengusap ibu jarinya di pipi Aira yang hangat. "Karena saya mencintaimu dan menghormatimu melebihi hasrat saya sendiri. Kamu masih sangat muda, Aira. Saya tidak ingin terburu-buru dan membuatmu merasa tertekan atau takut. Saya ingin menunggu sampai kamu benar-benar siap dan nyaman sepenuhnya."

Air mata keharuan menggenang di pelupuk mata Aira. Penjelasan Arka yang begitu dewasa, penuh pengorbanan rasa, dan sangat menghargai dirinya membuat Aira merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Pria berkuasa dan ditakuti banyak orang ini rela menahan gejolak nalurinya sendiri demi menjaga kenyamanan hatinya.

Aira melepaskan pegangannya dari kemeja Arka, lalu dengan keberanian murni dari dalam dadanya, Aira mendekatkan wajahnya sendiri dan mendaratkan kecupan lembut di bibir Arka.

Arka tersentak pelan atas inisiatif Aira yang sangat jarang terjadi ini.

Aira melepaskan ciumannya, menatap mata Arka dengan keteguhan hati yang jernih dan senyuman yang amat manis.

"Mas Arka..." bisik Aira tulus, suaranya sangat lembut. "Aira ini istri Mas Arka. Aira tidak takut pada Mas Arka... Aira percaya sepenuhnya sama Mas Arka."

Manik mata Arka menyipit pekat mendengar bisikan Aira. Kata-kata ketulusan dari bibir gadis sembilan belas tahun itu seketika meruntuhkan sisa-sisa benteng penahanan diri yang sudah dibangun Arka dengan susah payah sepanjang malam.

Arka tidak berkata apa-apa lagi.

Pria berusia 39 tahun itu melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Aira, merobohkan tubuh mereka berdua secara perlahan ke atas ranjang empuk dalam sebuah dekapan yang erat dan tak terpisahkan.

Arka berada di atas Aira, menatap mata istrinya dengan gelora cinta dan kehangatan yang kini membara tanpa batas lagi. Arka menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang amat panjang, hangat, dan penuh dengan kepasrahan keintiman sejati—membawa malam yang dingin itu menuju gerbang kebahagiaan mereka berdua yang tak terlupakan.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!