Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: tamat
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:890.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Pintu kamar VVIP berderit pelan saat Dokter Maura melangkah masuk dengan jubah putihnya. Di tangannya terdapat papan klip medis untuk memeriksa kondisi kesehatan Baby Ziva yang ternyata sudah semakin membaik dan stabil. Namun, begitu pandangannya beralih pada Shanum yang sedang duduk dengan setia menemani Ziva di samping ranjang, sorot mata Dokter Maura langsung berubah sinis dan penuh permusuhan.

Setelah menyelesaikan pemeriksaan formalnya pada Ziva, Dokter Maura sengaja melangkah mendekati Shanum, memanfaatkan situasi kamar yang sedang sepi tanpa kehadiran Dokter Daniel. Ia menatap Shanum dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.

"Kau dibayar berapa untuk menjadi ibu susunya Ziva?" tanya Dokter Maura dengan nada ketus dan berbisik tajam. "Kau jangan macam-macam ya. Jangan pernah mencoba merayu Dokter Daniel! Dia milikku, dan kau... kau tidak selevel dengannya!"

Mendengar intimidasi dan tuduhan tak berdasar itu, Shanum menarik napas dalam-dalam. Ia mengulas senyum getir, mencoba tetap tenang meski hatinya sedikit tergores oleh keangkuhan dokter di hadapannya.

"Anda tidak usah khawatir, Dok," jawab Shanum tenang, sambil mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam mata Dokter Maura. "Niat saya di sini hanya murni ingin membalas budi atas kebaikan Dokter Daniel yang sudah menolong Nenek saya. Dan saya juga sangat sadar diri siapa saya."

Dokter Maura mendengus sinis, tidak sepenuhnya percaya. "Bagus! Awas saja kalau sampai kau berani merayunya. Hidupmu tidak akan tenang!" ancamnya dengan tatapan mata yang tidak main-main.

Ceklek.

Belum sempat ketegangan itu berlanjut, pintu ruangan terbuka lebar. Dokter Daniel masuk ke dalam kamar setelah selesai melakukan visit dan pemeriksaan terhadap pasien-pasiennya, termasuk memastikan kondisi Bu Siti yang berada di ruang rawat kelas tiga.

"Bagaimana kondisi Ziva, Dokter Maura?" tanya Daniel langsung, suaranya yang tegas mengalihkan seluruh perhatian.

Dokter Maura seketika mengubah raut wajahnya menjadi manis dan ramah, seolah-olah obrolan penuh ancaman tadi tidak pernah terjadi. "Kondisi Ziva sudah sangat baik, Dok. Demamnya sudah turun total dan pencernaannya normal. Hari ini Ziva sudah bisa pulang ke rumah."

"Syukurlah kalau begitu," Daniel menghela napas lega, guratan cemas di wajah tampannya menguap seketika.

Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Shanum yang sejak tadi berdiri diam di sudut ranjang.

"Dan kau, Shanum... mulai hari ini, kamu tinggal di rumahku," ucap Daniel dengan nada santai namun terdengar seperti keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

"Apa?!"

Suara Dokter Maura memekik pelan, refleks memotong ucapan Daniel. Wajahnya seketika memucat karena syok dan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana bisa wanita yang dianggapnya kampungan itu akan tinggal satu atap dengan pria idamannya?

Dokter Maura menyembunyikan kedua tangannya di balik saku jas putihnya, mengepalkan jemarinya kuat-kuat demi menahan gejolak emosi dan kekesalan yang siap meledak di dalam dadanya. Sementara itu, Shanum hanya bisa terpaku, tak menyangka takdir akan membawanya masuk sedalam ini ke dalam kehidupan sang dokter.

Sebelum melangkah keluar dari Rumah Sakit Citra Medika, Shanum menyempatkan diri kembali ke ruang rawat kelas tiga untuk berpamitan kepada Bu Siti. Wanita tua itu tersenyum lebar dan menggenggam erat tangan cucunya dengan penuh kelegaan.

"Pergilah, Nduk. Jaga putri Dokter Daniel dengan baik. Kamu tidak usah memikirkan Nenek di sini, kan ada suster-suster yang galak tapi baik itu," kelakar Bu Siti, berusaha mencairkan suasana. Beliau memang masih harus menjalani perawatan medis beberapa hari lagi sampai kondisinya benar-benar pulih, namun hatinya kini jauh lebih tenang.

Shanum kemudian melangkah menuju parkiran sambil menggendong Baby Ziva yang sudah terlelap nyaman di pelukannya. Saat hendak membuka pintu baris kedua, Daniel yang sudah berada di kursi kemudi langsung bersuara.

"Shanum, duduk di depan saja. Jangan di belakang," ucap Daniel tenang namun tegas. "Aku bukan sopir mu, dan aku ingin memastikan Ziva terpantau dengan baik selama perjalanan."

Shanum sempat ragu, namun akhirnya ia menurut dan duduk di jok depan, tepat di samping sang dokter.

Dari lantai atas, di balik celah gorden jendela ruang kerjanya, Dokter Maura mengintip dengan napas memburu. Matanya menyipit tajam, memancarkan api cemburu yang membakar dada. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih melihat bagaimana Daniel membukakan pintu depan untuk Shanum, sebuah perlakuan hangat yang tidak pernah Daniel berikan pada wanita lain setelah perceraiannya. Dari kejauhan, dengan Shanum yang menggendong bayi di samping Daniel, siapa pun yang melihat pasti akan mengira mereka adalah sepasang suami istri yang serasi dan bahagia.

"Dasar brengsek! Aku harus mencari cara agar si wanita kampungan itu segera dipecat oleh Dokter Daniel," bisik Maura penuh dendam sambil memukul tembok dekat jendela dengan kesal.

*

*

Mobil mewah itu telah membelah jalanan kota yang mulai padat. Di dalam kabin yang sejuk, Baby Ziva terbangun. Bukannya rewel, bayi bermata bulat itu justru mulai mengoceh riang sepanjang jalan sambil menatap kaca jendela di sampingnya.

"Sepertinya Ziva senang sekali diajak jalan-jalan ya, Pak," ujar Shanum memecah keheningan, matanya berbinar menatap interaksi menggemaskan sang bayi.

"Bu... Baa... Ba.. agu...!" celoteh Ziva heboh dengan bahasa bayi yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri, tangannya sesekali memukul pelan kaca mobil.

Daniel sempat menoleh sejenak ke arah Shanum, lalu melempar pandangan hangat ke arah putrinya melalui spion tengah. "Ziva paling suka diajak jalan-jalan, Num. Biasanya kalau di rumah terus, dia gampang bosan."

"Iya, Pak Dokter. Semua anak kecil pasti sangat suka diajak melihat suasana baru di luar," jawab Shanum sambil melemparkan senyum tulusnya ke arah Daniel.

Tak berselang lama, laju mobil perlahan melambat hingga akhirnya benar-benar terhenti total. Mereka terjebak kemacetan parah di salah satu lampu merah utama. Di antara sela-sela kendaraan yang padat, muncul seorang penjual balon yang mengenakan kostum badut Teddy Bear yang lucu.

Ziva yang melihat sosok berbulu cokelat memegang puluhan balon warna-warni langsung bergerak aktif. Bukannya takut seperti kebanyakan bayi seusianya, Ziva malah tertawa kegirangan sambil bertepuk tangan, tubuh mungilnya melonjak-lonjak di pangkuan Shanum seolah ingin menggapai balon tersebut.

"Kamu mau balon, Ziva?" tanya Daniel menangkap kode dari putrinya.

Daniel kemudian menurunkan kaca jendela otomatis di samping Shanum hingga udara luar berembus masuk. "Mas, boleh beli balonnya satu?" panggil Daniel pada si penjual.

Si badut Teddy Bear itu menoleh dan langsung melangkah riang menghampiri mobil Daniel. "Wah, Adek cantik mau balon ya?" ucap si badut dengan suara yang sedikit teredam topeng, lalu mengulurkan sebuah balon berbentuk lumba-lumba berwarna merah muda.

Saat menerima uang pembayaran, si badut tanpa sengaja memperhatikan wajah Shanum dan Daniel bergantian.

"Wah, pantas saja anaknya sangat cantik. Mamanya sangat cantik dan Papanya sangat tampan! Pasangan yang serasi sekali," puji si badut polos sebelum akhirnya pamit mundur untuk menjajakan balonnya lagi.

Deg!

Kata-kata itu bak petir di siang bolong. Shanum langsung terdiam membeku, wajahnya seketika merona merah hingga ke telinga. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, berpura-pura sibuk membetulkan letak balon Ziva.

Di sampingnya, Daniel juga mendadak salah tingkah. Cengkeraman tangannya pada kemudi mobil sempat mengencang sebelum akhirnya ia berdehem pelan untuk menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menyergap di antara mereka berdua. Keheningan yang intens seketika memenuhi kabin mobil, menyisakan suara tawa renyah Baby Ziva yang sama sekali tidak mengerti arti dari ucapan si badut tadi.

Bersambung...

1
Rahma Inaya
lnjut seasen 2 pak doktr modus
Rahma Inaya
bntr lg ziva bakl punya adik 🤭🤭
Rahma Inaya
spt pak dokter sembuh krn meraskan cnt sesungguh nya dr shanum intinya krn saling mencintai
Rahma Inaya
untung daniek sdh siap siaga pasang jebakan gk bs ngelak lagi yg km di viral kam bukannya shanum
Lina Suwanti
ternyata kisah Shanum saat bayi sama dgn kisah Ziva hanya beda sebab
Lina Suwanti
jgn² Shanum itu Arumi?
Rahma Inaya
bagus shanum terbuka dan tdk ada yg di tutupi dr daniel biar daniel dan orng2 nya menyelesaikan mantan suami shanum
Rahma Inaya
pasti yg nyuruh mantan suamu shanum adlalah klara mantan istri daniel
Rahma Inaya
ada baik km cerita pada daniel .klu daniel turun tangan semua beres blm tau aja mantan mu siapa suami mu sekrg
Rahma Inaya
setlh selesai sidang hak asuh ziva kamu hrs selseikan maslh yg slah faham daniel atu km jujur km sdh jatuh cnt pd shanum bgtu pun juga dgn shanum tp kalian saling slh faham
Asmawati Wati
apakah shanum itu arumi adeknya nathan yg hilang🤣🤣🤣
Rahma Inaya
akiabt slah faham yg mp mlm penganrin bukan shanum dan daniel tp sang pengantin lawas 🤭🤭🤭
Lina Suwanti
nama pengacaranya mirip jd suka keder😁
Rahma Inaya
akhrnya sah dan si jalang akan kalh di pengadilan banding nya akan di tolak dan tnp dia tau akan berbalik padnya tuduhn perselingkhn
Rahma Inaya
memdinga kampungan tp punya harga dr sr pada km wanita murahan punya suamu tp selingh dgn orng lain
Rahma Inaya
mkn shanum ibu asi yg cocok utk ank pak dokter
Rahma Inaya
lniut thor
Kembarr Kembaarr
klara sebegitu rendah ahlaq. harga diri. dn martabatnya sbg seorang wanita dn sbg seorang ibu. saking rendahnya hingga diapun menghalalkn segala cara untuk mencapai tujuannya. heran msh ada laki2 mau sama model wanita srt klara
Asmawati Wati
semoga cepat jatuh cinta, dan MP shanum dg dhaniel,tapi dhanielnya sdh sembuh dari penyakitnya, dan perkasa😍😍😍
Asmawati Wati
sepertinya susu buatan mommy thania itu sdh dicampur obat peransang, biar dannyl bisa perkasa di MP nya👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!