Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Setelah Pak Baskoro dan Darren pamit meninggalkan apartemen rahasia, Adrian kembali duduk di depan meja kerjanya.

Dengan ekspresi dingin tanpa beban, ia mengambil ponsel khususnya dan mengetikkan sebuah pesan singkat yang dikirimkan langsung ke nomor telepon Fitria.

“Rumah aman, kan? Proses bisnis di Kanada berjalan sangat lancar. Mungkin aku harus tinggal beberapa minggu lebih lama di sini.”

Di layar monitor CCTV, Adrian menyaksikan secara real-time reaksi di kamar utamanya.

Ponsel Fitria berdering tajam di atas nakas. Wanita itu tersenyum culas, menyambar ponselnya sambil terus membelai dada Hendrik yang berbaring santai di sampingnya.

Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Fitria menempelkan ponsel ke telinganya dan menerima panggilan dari Adrian.

"Halo, Mas Adrian?" ucap Fitria dengan nada suara manis yang dipaksakan, berakting seolah-olah ia adalah seorang istri yang setia dan merindukan suaminya.

"Kabar rumah baik-baik saja, Mas. Kamu tenang saja di sana, fokus saja sama urusan bisnismu di Kanada."

Di seberang telepon, Hendrik terkekeh tanpa suara, mengelus rambut Fitria seraya menikmati kebohongan besar yang sedang mereka mainkan bersama.

Dari layar monitor apartemen rahasianya, Adrian menatap adegan menjijikkan itu dengan tatapan datar.

Ia mendengar setiap kalimat manja dan kebohongan yang keluar dari bibir Fitria tanpa sedikit pun emosi yang terulur.

Adrian hanya melirik ke arah kamera CCTV yang tersembunyi rapi di sudut ruangan rumahnya, lalu menarik sudut bibirnya—membentuk sebuah senyum tipis yang amat dingin dan penuh kemenangan.

Kedua iblis itu benar-benar telah memakan umpan yang ia sebar, makin tenggelam dalam ilusi kemenangan sebelum perangkap hukum mencengkeram mereka sepenuhnya.

"Baguslah kalau begitu," sahut Adrian lewat telepon, suaranya terdengar begitu meyakinkan, menyembunyikan nada dingin yang membeku di dadanya.

"Jaga kesehatanmu di rumah, Fitria. Jangan sampai kamu terlalu lelah."

"Iya, Mas. Kamu juga jaga kesehatan di Kanada ya. Aku selalu mendoakan bisnismu lancar," balas Fitria mendayu-dayu sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon.

Begitu panggilan terputus, Fitria langsung melempar ponselnya ke atas kasur dan tertawa lepas bersama Hendrik.

"Dia benar-benar pria idiot paling mempercayai istrinya di dunia ini!" seru Fitria penuh nada ejekan, lalu mendaratkan ciuman di pipi Hendrik.

"Besok pagi kita langsung bawa berkas-berkas itu ke notaris dan bank, Hendrik. Setelah itu, rumah dan seluruh rekeningnya resmi atas nama kita."

"Sempurna, sayang," balas Hendrik menyeringai puas, mengacak rambut Fitria tanpa menyadari bahwa setiap desah tawa dan rencana busuk mereka tercatat rapi dalam rekaman resolusi tinggi milik tim hukum Adrian.

Di kamar apartemen rahasia, Adrian menutup laptopnya perlahan.

Pria itu menghela napas panjang, membersihkan benaknya dari bayangan memuakkan kedua orang itu, lalu melangkah pelan menuju kamar tidur utama tempat Sasi beristirahat.

Pintu dibuka tanpa suara. Di atas ranjang empuk, Sasi tampak tertidur amat lelap.

Wajahnya yang polos tak lagi menyiratkan ketakutan, napasnya teratur dan teratur di bawah hangatnya selimut tebal.

Adrian mendekat dengan langkah sangat pelan agar tidak menimbulkan kebisingan.

Ia duduk di tepi ranjang, menyanggah tubuhnya dengan satu tangan seraya menatap paras istrinya dengan binar mata yang amat teduh.

Jemari tangannya bergerak lembut, mengusap helai rambut yang jatuh menutupi dahi Sasi.

"Sebentar lagi, sayang." bisik Adrian sangat lirih di dekat telinga Sasi.

"Sebentar lagi semua iblis yang menyakiti hidupmu akan membusuk di tempat yang seharusnya."

Seolah merasakan kehadiran dan ketulusan Adrian, Sasi menggeliat pelan dalam tidurnya.

Tanpa sadar, wanita itu menyusupkan wajahnya ke arah telapak tangan Adrian yang berada di pipinya, mencari kehangatan dari pria yang kini sepenuhnya menjadi pelindungnya.

Adrian tersenyum tulus, mengusap pipi halus itu dengan rasa kasih sayang yang kian membuncah.

Ia lalu menyeburkan diri perlahan di samping Sasi, merengkuh tubuh istrinya dari belakang dengan sangat hati-hati, ikut menyambut malam dengan hati yang mantap menanti hari pembalasan.

Keesokan paginya, sinar matahari menerobos masuk dari sela-sela gorden apartemen, menghangatkan suasana kamar yang tenang.

Sasi terbangun lebih dulu. Saat membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan lengan Adrian yang masih melingkar protektif di pinggangnya.

Melihat wajah suaminya yang tertidur pulas di sampingnya—tanpa kerutan cemas atau raut tegang—Sasi menyunggingkan senyum tipis.

Perlahan dan sangat hati-hati, ia mengulurkan jari jemarinya, mengusap lembut alis dan rahang tegas Adrian.

Perhatian kecil yang tulus itu tak ayal membuat Adrian terjaga.

Adrian membuka matanya perlahan. Senyum hangat langsung terbit di bibirnya begitu melihat wajah Sasi sebagai pemandangan pertamanya pagi ini.

"Selamat pagi, sayang." bisik Adrian parau, suara khas bangun tidurnya terdengar begitu lembut. Ia mendaratkan ciuman hangat di dahi Sasi.

"Bagaimana tidurmu? Masih ada yang terasa sakit?"

"Selamat pagi, Mas," jawab Sasi dengan rona merah tipis di pipinya.

"Tidurku nyenyak sekali. Leherku juga sudah jauh lebih enak."

"Syukurlah," Adrian mengusap pipi Sasi penuh kasih sayang sebelum akhirnya bangkit duduk.

"Kamu istirahat dulu di sini, Mas siapkan sarapan hangat buat kita."

Sementara Adrian menyiapkan sarapan di dapur apartemen yang tenang, layar monitor di ruang kerjanya sudah lebih dulu aktif merekam pergerakan di rumah utama.

Di layar CCTV, tampak Fitria dan Hendrik sudah berpenampilan rapi dengan pakaian formal.

Wajah keduanya memancarkan keserakahan yang tak lagi tertutup.

Di tangan Hendrik, terdapat map cokelat tebal berisi seluruh berkas pindah tangan aset, sertifikat rumah, dan surat kuasa finansial yang tanda tangannya telah mereka palsukan kemarin.

"Pengacara kita sudah menunggu di kantor notaris, kan?" tanya Fitria seraya memoles gincunya di depan cermin.

"Sudah, sayang. Setelah dari notaris, kita langsung meluncur ke bank utama untuk mengeksekusi pemindahan dana rekening Adrian," jawab Hendrik dengan senyum kemenangan yang licik.

"Hari ini, semua kekayaan Adrian resmi jadi milik kita." ucap Fitria.

Mereka berdua tertawa puas, sama sekali tidak menyadari bahwa setiap pergerakan dan percakapan itu terpantau secara real-time oleh Pak Baskoro dan tim hukum Adrian yang sudah bersiap di luar.

Adrian, yang memantau dari ponselnya sambil membawa nampan sarapan untuk Sasi, hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin.

Ia menekan tombol panggilan cepat ke nomor Pak Baskoro.

"Pak Baskoro, mereka baru saja keluar dari rumah menuju kantor notaris dan bank," ujar Adrian tenang namun tegas.

"Diterima, Pak Adrian," sahut Pak Baskoro dari seberang telepon.

"Tim kami dan kepolisian sudah membuntut secara jarak jauh. Begitu mereka menyerahkan dokumen palsu itu di meja notaris dan pejabat bank, jebakan akan langsung ditutup. Hari ini juga, eksekusi penangkapan basah akan dilakukan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!