Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
TAMU YANG TIDAK DIUNDANG
Pagi itu, Nadira terbangun karena suara ibunya dari lantai bawah.
“Nadira! Bangun, Nak!”
Nadira membuka mata dengan malas.
“Iya, Bu…”
Ia turun beberapa menit kemudian dan mendapati Arga sudah duduk di meja makan.
Pria itu sedang menikmati sarapan dengan santai.
Nadira mengerutkan kening.
“Kamu bangun jam berapa?”
“Jam enam.”
“Terus?”
“Bantu Ibumu.”
Nadira menatap ibunya.
“Ibu menyuruh dia?”
Ibunya tersenyum.
“Dia yang menawarkan.”
Nadira langsung menatap Arga.
“Kamu kenapa tiba-tiba rajin?”
Arga mengangkat bahu.
“Pengen dapat nilai bagus dari ibu mertua.”
Ibunya tertawa.
“Tidak perlu cari muka.”
“Aku serius, Bu.”
Nadira duduk sambil tersenyum kecil.
“Dasar.”
Suasana pagi itu terasa jauh lebih hangat dibandingkan beberapa hari terakhir.
Sampai suara bel rumah berbunyi.
Ting tong.
Ibunya segera berdiri.
“Siapa pagi-pagi begini?”
Ayah Nadira yang sedang membaca koran bangkit untuk membuka pintu.
Namun baru beberapa langkah, terdengar suara yang membuat Nadira dan Arga sama-sama menoleh.
“Selamat pagi.”
Nadira membeku.
Suara itu sangat ia kenal.
Rani.
Adik Arga berdiri di depan pintu bersama Bu Ratih.
Nadira langsung menatap Arga.
Arga terlihat sama terkejutnya.
“Ibu?”
Bu Ratih tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kami mau menjemput kalian.”
Nadira mengerutkan kening.
“Menjemput?”
“Iya,Arga harus kembali ke rumah.”
Arga menghela napas.
“Bu, aku belum mau pulang.”
Bu Ratih langsung melihat Nadira.
“Kalau begitu Nadira saja yang pulang dulu.”
Nadira hampir tersedak.
Arga menatap ibunya.
“Kenapa Nadira?”
“Karena rumah itu juga rumahmu.”
Arga berdiri.
“Kalau Nadira pulang, aku pulang.”
Rani yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
“Kak, aku sebenarnya cuma ingin meminta maaf.”
Nadira menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena waktu itu aku masuk ke kamar Kak Nadira.”
Nadira tidak langsung menjawab.
Rani maju satu langkah.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Arga menatap adiknya.
“Kamu sudah bilang begitu kemarin.”
“Aku tahu.”
Rani tersenyum canggung.
“Tapi aku belum benar-benar minta maaf kepada Kak Nadira.”
Nadira akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Rani terlihat lega.
Namun kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah kotak kecil.
“Aku juga mau mengembalikan ini.”
Nadira melihat benda itu.
“Gelang?”
Rani menggeleng.
“Bukan.”
Ia membuka kotaknya.
Di dalamnya ada sebuah kalung.
Nadira mengerutkan kening.
“Ini punya siapa?”
Rani menatap Arga.
“Punya Kak Arga.”
Arga langsung heran.
“Punyaku?”
Rani mengangguk.
“Aku menemukannya di kamar lama.”
Arga mengambil kalung tersebut.
Ia memperhatikannya sebentar.
“Aku bahkan lupa pernah punya ini.”
Rani tertawa kecil.
“Makanya aku bawa.”
Nadira ikut tersenyum.
Untuk beberapa saat, semuanya terasa normal.
Namun saat Rani hendak menutup kotak itu, sebuah kertas kecil jatuh ke lantai.
Nadira membungkuk dan mengambilnya.
Tulisan di kertas itu hanya satu kalimat.
Jangan percaya Rani.
Nadira menatap tulisan tersebut.
Kemudian melihat Rani.
Rani juga melihat kertas itu.
Wajahnya langsung berubah.
“Kak…”
Nadira menyerahkan kertas itu kepadanya.
“Ini apa?”
Rani menelan ludah.
“Aku tidak tahu.”
Arga mengambil kertas tersebut.
Ia membacanya.
Lalu menghela napas.
“Sudah.”
Nadira menatapnya.
“Kamu nggak penasaran?”
“Penasaran.”
Arga melipat kertas itu.
“Tapi kita tidak akan bertengkar hanya karena secarik kertas.”
Nadira tersenyum.
“Untuk sekali ini, aku setuju.”
Rani menghela napas lega.
Namun Nadira sempat melihat sesuatu.
Sebelum memasukkan kertas itu ke sakunya, tangan Rani gemetar.
Dan Nadira tahu,meskipun masalah ini terlihat kecil,Rani pasti tahu siapa yang menulisnya.