Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
.
Malam telah larut dan Aisyah masih menunggu suaminya pulang. Jam dinding di ruang tengah telah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika suara motor yang sangat dikenalnya akhirnya terdengar dari depan rumah. Perempuan yang sejak tadi duduk di sofa itu langsung menoleh ke arah pintu. Ada rasa lega yang muncul begitu saja.
Sejak menikah dengan Raka lima belas tahun lalu, Aisyah sudah terbiasa menunggu kepulangan suaminya. Sesibuk apa pun Raka di luar, sesering apapun lelaki itu pulang larut, Aisyah selalu berusaha memastikan ada makanan hangat di meja dan segelas air untuknya. Dan malam itu pun tidak berbeda.
Aisyah baru saja bangkit dari sofa ketika pintu depan terbuka. Terlihat olehnya Raka masuk dengan langkah pelan. Namun, senyum yang semula menghiasi wajah Aisyah perlahan menghilang saat melihat wajah Raka yang sedikit berbeda dari biasanya.
Biasanya, sepulang bekerja Raka akan langsung menggodanya, bertanya apakah anak-anak sudah tidur atau mengeluh tentang pekerjaannya hari itu. Kadang lelaki itu akan duduk di sampingnya sambil memijat tengkuk dan bercerita panjang tentang pelanggan, pemasok, atau toko mereka yang semakin ramai.
Tetapi malam ini tidak. Raka hanya menutup pintu, meletakkan kunci motor di atas meja, kemudian berdiri diam.
Aisyah berjalan mendekat sambil mengerutkan kening. "Mas?"
Raka mengangkat wajah dan tatapan mereka bertemu. Entah mengapa, Aisyah merasa tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat.
"Ada apa?"
Raka tidak langsung menjawab. Pria itu hanya berjalan ke arah sofa lalu duduk dengan gerakan yang oleh Aisyah dianggap terlalu hati-hati.
“Ada apa sih, Mas?” tanya Aisyah yang masih berdiri di hadapan Raka. Wanita itu bahkan lupa untuk mengambilkan air minum untuk suaminya.
"Duduklah."
Aisyah akhirnya duduk di sofa di samping Raka. Matanya menatap wajah sang suami yang hanya tampak dari samping. "Kenapa?”
Raka duduk dengan kedua tangannya bertaut di atas lutut. Dari caranya menundukkan kepala, Aisyah tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Sesuatu yang berat. Perasaan tidak enak mulai memenuhi dada Aisyah.
"Mas sakit?"
Raka menggeleng.
"Ada masalah di toko?"
“Tidak."
“Lalu?”
Aisyah semakin bingung melihat suaminya yang tampak tidak baik-baik saja. "Kenapa wajahmu seperti itu? Kalau ada masalah, kita bisa cari solusinya bersama. Itu gunanya kita menikah."
Raka masih saja terdiam dan Aisyah yang tak tahu harus bertanya apa lagi membuat suasana malam semakin hening. Hingga beberapa menit kemudian Raka mengangkat wajahnya perlahan.
"Aisyah..."
"Ya?"
"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan."
Nada suara Raka membuat tengkuk Aisyah terasa dingin. Wanita itu menatap suaminya lekat-lekat. "Ngomong saja."
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana." Raka menarik napas panjang.
Aisyah mencoba tersenyum kecil. "Kalau begitu mulai dari yang paling penting."
Raka mengangguk pelan. Lalu kalimat yang sama sekali tak terduga keluar dari mulut lelaki itu. "Aku ingin menikah lagi."
Senyum yang semula menghiasi wajah Aisyah seketika lenyap. Ia tidak paham apa yang baru saja didengarnya. Rasanya seperti ada suara keras yang tiba-tiba meledak di dalam kepalanya, sementara seluruh ruangan mendadak menjadi sunyi.
Aisyah menatap Raka, berharap lelaki itu tidak bercanda. Tetapi wajah pria itu tampak serius.
"Apa?" tanya Aisyah lirih. Ingin memastikan pendengarannya salah.
"Aku ingin menikah lagi."
Tapi ternyata kalimat yang ia dengar dari Raka tidak berubah. Kalimat sederhana yang terasa seperti pukulan keras menghantam dadanya. Tangan Aisyah yang semula menyentuh bahu suaminya perlahan jatuh di atas pahanya sendiri lalu mengepal.
Wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah. "Menikah... lagi?"
Raka mengangguk tanpa menoleh. Seakan pria itu takut melihat wajah istrinya.
Aisyah tertawa kecil bukan karena lucu. Melainkan karena ia tidak tahu harus menjawab apa. "Mas pasti bercanda, kan?"
Kali ini Raka menoleh, dan Aisyah masih berharap ia salah mendengar atau suaminya yang salah bicara. Namun…
"Tidak."
Jawaban tegas dari Raka membuat senyum Aisyah benar-benar hilang. Ia menatap lelaki di depannya seolah sedang melihat orang asing. Padahal, ia mengenalnya selama hampir separuh hidupnya.
Lima belas tahun. Lima belas tahun Aisyah hidup bersama Raka. Ia tahu bagaimana Raka suka minum kopi, suaminya tidak menyukai makanan terlalu asin, Raka biasa memeriksa pintu dua kali sebelum tidur, ketika sedang marah, Raka akan lebih banyak diam, dan jika sedang sedih, lelaki itu akan duduk sendirian di teras rumah. Aisyah bahkan hafal suara langkah kaki suaminya.
Tetapi malam ini, baru kali ini Aisyah merasa tidak mengenal lelaki yang sedang duduk di hadapannya.
"Siapa?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Aisyah.
Raka terdiam. Tetapi diamnya membuat dada Aisyah semakin sesak.
"Siapa perempuan itu, Mas?"
"Aisyah…” Raka menatapnya dengan raut bersalah.
"Siapa?" Aisyah mengulang pertanyaannya dengan suara yang lebih tegas. Wajahnya yang biasa penuh senyum kini terlihat datar dan penuh luka.
Raka menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab.
"Nabila."
Dunia seolah berhenti berputar di sekeliling Aisyah. Tubuh wanita itu bagai membeku mendengar nama yang disebut oleh suaminya.
Nabila. Itu sama sekali bukan nama yang asing baginya. Karena terlalu dikenal olehnya, dan itu terasa jauh lebih menyakitkan baginya.
Nabila adalah sahabatnya. Perempuan yang sering datang ke rumah. Perempuan yang selalu membantunya saat dirinya sedang sibuk di dapur. Perempuan yang pernah membantunya menjaga anak-anak ketika Aisyah sedang sakit. Perempuan yang dulu dia sendiri yang memperkenalkannya pada Raka.
Aisyah menatap Raka dengan sorot matanya yang nanar. "Nabila?" tanya Aisyah seakan masihbtak percaya. Masih berharap telinganya sendiri yang tidak beres.
Namun, Raka mengangguk.
Aisyah menggelengkan kepala seraya mengusap wajahnya perlahan. Ia ingin marah. Ingin berteriak. Tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Yang ada hanya rasa sakit yang perlahan menyebar dari dada hingga seluruh tubuhnya.
Raka bergerak memutar posisi duduknya hingga menyamping menghadap wanita itu, lalu menggeser pinggulnya untuk lebih mendekat. “Maafkan aku, Syah,” ucapnya hendak meraih tangan istrinya.
Namun, Aisyah beringsut mundur dan langsung mengangkat tangannya. Memberi isyarat agar Raka tidak menyentuhnya.
Raka berhenti, kedua matanya menatap wajah istrinya yang terlihat begitu kecewa.
Aisyah menarik napas panjang yang terasa begitu berat. Kedua tangannya yang berada di samping pahanya masih terkepal erat.
"Sejak kapan?"
"Sudah beberapa waktu,” jawab Raka sambil menundukkan kepala.
"Beberapa waktu itu berapa lama?"
Namun Raka terdiam. Mungkin pria itu juga tak tahu harus menjawab apa.
Aisyah tersenyum pahit. "Ternyata selama ini aku benar-benar tidak tahu apa-apa," gumamnya menertawakan dirinya sendiri.
Raka mengusap wajahnya kasar. "Aku tahu ini akan menyakitimu. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri.”
Aisyah terdiam. Wanita itu bahkan tidak tahu harus menyahuti seperti apa.
“Aku tidak mau berbuat zina,” lanjut Raka. “Tapi aku juga tidak mau menikah diam-diam di belakangmu. Karena itu aku berkata jujur padamu. Aku berjanji akan bersikap adil pada kalian.”
Aisyah menatap wajah Raka lama. Ada banyak hal yang ingin dikatakannya. Namun, lidahnya terasa kelu. Lima belas tahun. Tiba-tiba terasa seperti angka yang begitu mudah dihancurkan hanya dengan satu kalimat. Wanita mengambil nafas dalam sebelum kemudian bertanya,
"Apa kamu masih mencintaiku?"
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...