"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Penangguhan Penahanan yang Ditolak
Hujan deras mengguyur wilayah Jakarta Selatan sejak Selasa pagi. Gemuruh petir sesekali bersahut-sahut di balik awan mendung yang pekat, membasahi kaca-kaca jendela ruang kerja lantai tiga Kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.
Di dalam salah satu ruang konsultasi hukum yang dingin, Pak Hendra—pengacara yang disewa Rian—duduk di balik meja kayu bersama seorang jaksa penuntut umum senior. Di samping Pak Hendra, Bu Rini duduk membungkuk dengan wajah sembap dan mata bengkak. Pakaian yang dikenakannya adalah kebaya katun lusuh yang sudah memudar warnanya, jauh dari kesan mentereng saat ia masih dipanggil sebagai ibu dari seorang Manager.
Di atas meja, terhampar berkas permohonan Penangguhan Penahanan atas nama tersangka Rian Hidayat.
"Bapak Jaksa yang terhormat," panggil Bu Rini dengan suara gemetaran bercampur isak tangis yang memelas. Tangannya yang keriput menangkup di atas meja. "Tolonglah anak saya, Pak ... Rian itu anak baik-baik. Dia cuma khilaf ... Rian itu tulang punggung keluarga kami satu-satunya. Kalau Rian ditahan terus, saya sama adiknya mau makan apa, Pak? Kami ini tidak punya tempat tinggal lagi."
Jaksa penuntut umum yang mengenakan seragam dinas cokelat rapi itu menatap Bu Rini dengan pandangan datar tanpa ekspresi. Ia membolak-balik lembar demi lembar surat permohonan tersebut sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Ibu Rini," tegur Jaksa tersebut dengan suaranya yang tegas dan berwibawa. "Surat penangguhan penahanan yang diajukan oleh pengacara Anda ini mensyaratkan jaminan uang tunai dan jaminan orang. Apakah Anda memiliki dana jaminan sebesar lima ratus juta rupiah yang diminta oleh Pengadilan?"
Bu Rini membeku. Lidahnya mendadak terasa kelat. "L-lima ratus juta ...?" Bu Rini tergagap, matanya membelalak ketakutan. "Pak, uang dari mana kami punya sebanyak itu? Tempat tinggal kami saja cuma kontrakan sempit di gang."
Pak Hendra buru-buru memotong, menyodorkan lembar penjaminan lain. "Bapak Jaksa, klien kami bersedia menyerahkan jaminan berupa jaminan moral dari sang ibu, serta jaminan bahwa Rian Hidayat tidak akan melarikan diri atau menghilangkan barang bukti. Klien kami berjanji akan bersikap kooperatif dan siap menjadi tahanan kota."
Sebelum Jaksa sempat memberikan tanggapan, pintu ruang konsultasi mendadak terbuka dari luar.
Pak Danu, melangkah masuk dengan langkah kaki yang tenang dan penuh percaya diri. Pria paruh baya bersetelan jas hitam itu membawa sebuah koper dokumen kulit di tangan kanannya. Di belakangnya, dua orang staf dari tim hukum Vantara Group mengikutinya dengan raut wajah sangat serius.
"Selamat pagi, Bapak Jaksa," sapa Pak Danu penuh penghormatan.
"Selamat pagi, Pak Danu. Silakan duduk," jawab Jaksa tersebut.
Kehadiran Pak Danu seketika membuat suasana di ruangan ber-AC itu terasa sangat menekan bagi Bu Rini. Bu Rini merapatkan tubuhnya ke kursi, memandangi pengacara kepercayaan keluarga Al Ghazali itu dengan tatapan penuh rasa takut dan dendam yang tak berdaya.
Pak Danu membuka koper kulitnya, mengeluarkan satu bendel dokumen tebal bermaterai dengan stempel resmi dari auditor independen internasional.
"Sehubungan dengan adanya permohonan penangguhan penahanan yang diajukan oleh pihak tersangka Rian Hidayat," ucap Pak Danu dengan nada suara yang amat tenang namun sangat dingin, "kami dari tim hukum Vantara Group, atas nama Komisaris Utama Mbak Annisa Septiani, secara resmi menyerahkan Sanggahan Pidana dan Bukti Tambahan Kasus Penggelapan."
Pak Hendra mengerutkan keningnya, mukanya memerah menahan gusar. "Pak Danu! Klien kami sedang mengajukan hak hukumnya untuk penangguhan penahanan! Kenapa pihak Vantara selalu menutup jalan kemanusiaan untuk klien kami?!"
Pak Danu menoleh perlahan ke arah Pak Hendra, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat merendahkan.
"Kemanusiaan, Pak Hendra?" tanya Pak Danu dengan nada menyengat. "Apakah ada rasa kemanusiaan dari Saudara Rian ketika selama dua tahun berturut-turut merekayasa laporan keuangan divisi pemasaran dan mencairkan dana taktis operasional senilai total dua koma tiga miliar rupiah demi membiayai gaya hidup mewahnya bersama selingkuhannya?"
Pak Danu menyodorkan salinan dokumen tambahan itu ke hadapan Jaksa.
"Hasil audit investigatif terbaru yang diselesaikan oleh tim independen pagi ini menemukan bukti bahwa tersangka Rian Hidayat secara terencana membuat lima buah perusahaan cangkang (fictitious suppliers) untuk menampung aliran dana hasil korupsi," lanjut Pak Danu tegas. "Artinya, ini bukan sekadar penggelapan biasa, melainkan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang terstruktur dan masif."
Jaksa penuntut umum membaca deretan angka, mutasi rekening, dan alur transaksi yang tercantum di dokumen tersebut. Raut wajah Jaksa makin mengeras.
"Selain itu," tambah Pak Danu seraya menatap Pak Hendra lurus-lurus, "kami mendeteksi adanya indikasi bahwa tersangka Rian Hidayat mencoba menghubungi beberapa saksi kunci dari staf divisi pemasaran untuk mengubah keterangan di Kepolisian. Alasan ini sangat cukup secara hukum untuk memastikan tersangka TIDAK BISA diberikan penangguhan penahanan maupun status tahanan kota."
Jleb!
Pak Hendra membisu. Seluruh pembelaannya rontok tak berbekas di depan timbunan bukti otentik yang dihadirkan oleh tim hukum Vantara Group.
Bu Rini yang mendengarnya langsung histeris. Ia melompat dari kursinya dan mencoba mencengkeram lengan baju Pak Danu.
"Pak Danu! Kamu jahat sekali, Pak!" jerit Bu Rini dengan suara melengking bercampur tangis yang pecah. "Kalian keluarga kaya raya tapi kelakuannya seperti iblis! Masa anak saya tidak dikasih ampun sedikit pun?! Rian itu cuma khilaf! Kenapa kalian begitu dendam sama Rian?!"
Pak Danu berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu menatap Bu Rini dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang amat dingin.
"Ibu Rini," bisik Pak Danu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Bu Rini dan pengacaranya. "Dendam? Tidak ada dendam di sini. Ini adalah hukum. Mbak Annisa Septiani hanya menagih apa yang menjadi hak perusahaan dan menegakkan keadilan atas harga dirinya yang sudah kalian injak-injak selama tiga tahun."
Jaksa penuntut umum memukul mejanya pelan dengan telapak tangan, menghentikan histeria Bu Rini.
"Cukup!" tegur Jaksa itu dengan nada tegas. "Berdasarkan bukti-bukti baru terkait adanya potensi penghilangan barang bukti dan indikasi pencucian uang yang sangat kuat, Kepolisian dan Kejaksaan secara resmi MENOLAK PERMOHONAN PENANGGUHAN PENAHANAN atas nama tersangka Rian Hidayat."
"Nggaaaakkk!" jerit Bu Rini histeris seraya memegangi dadanya yang mendadak terasa nyeri luar biasa. Tubuhnya yang renta rubuh ke lantai marmer ruang konsultasi.
Pak Hendra dan staf kejaksaan buru-buru memapah wanita tua itu, sementara Pak Danu hanya menatap pemandangan itu dengan wajah datar, lalu membalikkan badan meninggalkan ruangan tanpa sedikit pun rasa kasihan.
Bersambung...
Ada karya terbaru nih dari Mommy Ghina. Mampir ya, masih ada di sini kok, mau test ombak lagi 😅
Bagaimana jadinya jika seorang Sersan Mayor TNI AD yang super disiplin, kaku, bermuka galak, dan hobi pasang tampang menyeramkan mendadak harus hidup serumah dengan seorang gadis polos, oneng, dan hobi berdaster motif bunga matahari?
Guntur Wibowo tidak pernah menyangka pernikahan kilat demi menghindari teror perjodohan sang ibu akan menjerumuskannya ke dalam hari-hari paling absurd. Istri barunya, Tika Nurani, sama sekali jauh dari kata anggun. Gadis itu hobi bikin kopi asin bergaram, ceplas-ceplos tanpa filter, dan memiliki portofolio keahlian ajaib: jago mengejar maling pakai sapu lidi di tengah malam!
Awalnya, Guntur menganggap Tika hanya beban kontrak yang menguji batas kesabarannya sebagai seorang prajurit. Namun, perlahan-lahan, pertahanan dingin sang Sersan Mayor mulai runtuh. Mulai dari merawat luka gores Tika dengan hati-hati, terhibur oleh tingkah konyolnya, hingga mendidih darah militernya saat tahu masa lalu kelam dan luka lebam di punggung istrinya akibat ulah keluarga tiri yang kejam.
Guntur yang tadinya berniat menjaga jarak aman, mendadak berubah haluan menjadi pelindung garis depan. Julukan "istri oneng" yang awalnya diucapkannya dengan nada gemas, berubah menjadi panggilan sayang paling posesif saat ia bertekad meratakan siapa saja yang berani menyakiti Tika.
Di balik tawa polos dan kepolosan tanpa bebannya, Tika berhasil menyusup masuk dan meruntuhkan benteng es di hati sang prajurit.
Ketika seorang Sersan Mayor galak mendadak bucin pada istri onengnya, sanggupkah ia tetap menjaga wibawa, atau justru ikhlas tunduk di bawah kendali daster bunga matahari?
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu