Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 Langkah Nekat di Bawah Lampu Kristal

Tangan Liora gemetar hebat ketika meraih gaun malam sederhana berwarna abu-abu gelap dari dalam lemarinya.

Kain lembut itu terasa dingin di jemarinya, tetapi tidak sedingin kegelisahan yang sejak tadi menggerogoti dadanya.

Kata-kata pria misterius itu terus terngiang di kepalanya, berulang-ulang seperti dentang lonceng kematian.

'Kunci kematian kakaknya...’

'Membocorkan rekaman suara malam tragedi itu kepada seluruh wartawan.’

Liora memejamkan mata sejenak. Ia tahu ini berbahaya. Sangat berbahaya.

Ravian sudah melarangnya dengan tegas untuk tidak datang ke acara malam ini. Bahkan nada suara pria itu masih terbayang jelas di telinganya, dingin, keras, dan penuh peringatan.

Akan tetapi, ada satu hal yang jauh lebih menakutkan bagi Liora.

Membayangkan Ravian menghadapi semuanya seorang diri.

Elara dan pria misterius itu jelas sedang menyusun jebakan. Liora menyadarinya. Ia juga tahu bahwa kedatangannya ke Hotel Grand Hyatt mungkin justru merupakan bagian dari rencana mereka.

Tetapi bagaimana mungkin ia hanya berdiam diri ketika Ravian sedang berjalan menuju kehancuran karier, nama baik, bahkan mungkin masa depannya sendiri?

Bagaimana mungkin ia membiarkan pria yang selama ini selalu melindunginya menghadapi semuanya sendirian?

"Maafkan saya, Pak Ravian..." Liora berbisik lirih pada bayangannya sendiri di depan cermin.

Matanya tampak gelisah. Bibirnya bergetar tipis.

Ia lalu memoleskan sedikit lipstik, bukan untuk terlihat cantik, melainkan sekadar agar wajah pucatnya tidak terlalu menunjukkan ketakutan.

Setelah menarik napas panjang, Liora mengambil tas kecilnya. Tak ada perhiasan mencolok. Tak ada aksesori mahal. Hanya gaun abu-abu sederhana, sepatu hak tinggi, dan keberanian yang sebenarnya bahkan tidak ia miliki.

Malam itu, Liora memilih untuk melangkah menuju bahaya.

***

Pukul delapan lewat empat puluh lima menit.

Ballroom Hotel Grand Hyatt bergemuruh oleh denting gelas kristal dan alunan musik instrumen klasik yang mengalun elegan di antara ratusan tamu.

Lampu-lampu kristal raksasa menggantung dari langit-langit, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan. Para pengusaha papan atas, investor, politikus, serta pewaris keluarga konglomerat bercampur dalam balutan jas hitam dan gaun malam mewah.

Tawa kecil, bisikan politik, dan jepretan kamera wartawan berpadu menjadi satu kebisingan yang terasa mewah sekaligus menyesakkan.

Sesekali, kilatan blitz menerangi wajah-wajah penting yang tengah menjadi pusat perhatian.

Liora berdiri beberapa meter dari pintu masuk utama.

Ia menelan ludah. Untuk sesaat, ia hampir berbalik. Namun bayangan wajah Ravian muncul di pikirannya.

'Kalau aku tidak datang, apa yang akan terjadi padanya'

Liora menggenggam tali tasnya lebih erat. Kemudian melangkah.

Ia masuk melalui pintu samping, memanfaatkan celah ketika beberapa penjaga keamanan tengah sibuk mengarahkan tamu VIP menuju area utama. Gaun polos tanpa perhiasan mencolok membuatnya mudah berbaur dengan staf acara.

Kepalanya sedikit menunduk. Langkahnya dipercepat.

Satu lorong.

Kemudian lorong berikutnya.

Hingga akhirnya suasana riuh ballroom perlahan menghilang di belakangnya.

Area belakang hotel jauh lebih sepi. Karpet tebal meredam suara langkah kaki, sementara lampu dinding berwarna kuning redup menciptakan bayang-bayang panjang di sepanjang lorong.

Sesuai instruksi pria misterius di telepon, Liora mencari sebuah pintu dengan tulisan:

VIP Lounge 1.

Ia menemukannya.

Tapi, ketika baru beberapa langkah mendekat, Liora berhenti.

Pintu kayu jati itu sedikit terbuka. Dari balik celahnya terdengar suara percakapan.

Tegang.

Dingin.

Dan terdengar sangat mengancam.

Liora menahan napas. Ia bergerak perlahan, lalu bersembunyi di balik sebuah pilar besar yang berada tidak jauh dari pintu.

Suara seorang pria terdengar dari dalam.

"Lima tahun kamu bersembunyi di London, Damian."

Suara itu begitu familiar.

Ravian.

Kali ini tidak ada kelembutan sedikit pun di dalamnya. Hanya kebencian yang begitu dalam seolah mampu membekukan udara di sekitarnya.

"Dan sekarang kamu kembali hanya untuk menjadi anjing suruhan keluarga Arabelle?"

Liora membelalakkan mata.

‘Damian?’

Jadi, nama pria misterius itu Damian.

"Aku kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, Ravian," suara pria itu terdengar tenang. Terlalu tenang.

Suara yang sama persis dengan pria yang beberapa jam lalu menelepon Liora.

"Kematian kakakmu lima tahun lalu bukan kecelakaan murni, dan kamu tahu itu."

Hening sesaat.

Liora merasakan tengkuknya meremang.

"Publik dan dewan komisaris Evander Corp pasti akan sangat tertarik mendengar rekaman asli dari sistem navigasi mobilnya sebelum menghantam pembatas jalan malam itu."

Jantung Liora bertalu semakin keras.

Rekaman itu benar-benar ada. Pria itu tidak berbohong.

"Jangan pernah membawa nama mendiang kakak saya ke dalam permainan politik kotor ini!" Suara Ravian meledak.

Terdengar suara gesekan kain jas, disusul bunyi benda berat bergeser.

Liora memberanikan diri mengintip dari balik pilar.

Ravian berdiri di tengah ruangan dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram kerah pria bernama Damian itu.

Damian sama sekali tidak tampak gentar. Bekas luka panjang di pelipisnya semakin terlihat jelas di bawah cahaya lampu.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan stiletto.

Tak... tak... tak...

Seseorang berjalan mendekat dari sisi lain ruangan.

Liora langsung mengenali suara itu.

Elara.

"Tenang, Ravian," suara Elara terdengar manis. Terlalu manis.

Sayangnya, di balik kelembutannya tersimpan racun yang membuat Liora merasa mual.

“Kami tidak berniat merusak nama baik keluarga Evander,” Elara berhenti di dekat mereka.

"Kami hanya ingin kerja sama konsorsium Arabell Group dan Evander Corp disahkan malam ini..."

Elara tersenyum. "...beserta pengumuman pertunangan kita di depan seluruh media lima belas menit lagi."

Ravian melepaskan cengkeramannya dari kerah Damian, lantas tertawa pendek.

Dingin.

Sinis.

Hampir tanpa emosi.

"Pertunangan?" Tatapannya mengarah kepada Elara. "Kamu bermimpi, Elara."

Elara justru tersenyum semakin lebar. "Aku tidak bermimpi, Sayang."

Tangannya perlahan menyentuh lengan Ravian.

Ravian segera menepisnya.

Elara tidak tersinggung. Sorot matanya justru berubah semakin tajam.

"Pilihanmu sangat sederhana," ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. "Umumkan pertunangan kita malam ini di depan media..."

Elara berhenti sejenak. "...atau rekaman tragedi lima tahun lalu, yang membuktikan keterlibatan rahasia keluargamu dalam penutupan kasus itu akan diputar di layar utama ballroom dalam waktu lima menit."

Liora terperangah, merasa seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak surut.

Jadi itulah rencananya.

Bukan sekadar menjatuhkan Ravian.

Mereka ingin menjebaknya sedemikian rupa hingga tidak memiliki jalan keluar.

Jika Ravian menolak, rahasia keluarganya akan terbongkar.

Jika Ravian menerima, Elara akan mendapatkan pernikahan sekaligus jalan untuk menguasai sebagian besar kepentingan bisnis Evander Corp.

Sebuah jebakan sempurna.

Sebelum Liora sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba sebuah tangan besar menyergap dari belakang.

Bau parfum menyengat langsung memenuhi hidungnya.

Sebuah telapak tangan membekap mulutnya.

"Mmmpphh!" Liora memberontak panik.

Tubuhnya meronta sekuat tenaga, tetapi pria di belakangnya jauh lebih kuat. Tangannya mencengkeram lengan Liora dengan kasar. Kaki Liora sempat menendang lantai. Namun semuanya sia-sia.

Pintu VIP Lounge 1 mendadak terbuka lebar.

Liora diseret masuk.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhempas ke atas karpet tebal. Tas kecilnya terjatuh. Lipstik yang tadi ia gunakan menggelinding ke sudut ruangan.

"Liora?!" Suara Ravian tiba-tiba berubah.

Wajah sang CEO yang biasanya tenang mendadak pucat pasi. Matanya membelalak ketika melihat Liora terduduk di lantai dalam cengkeraman seorang pengawal.

Untuk beberapa detik, Ravian hanya diam.

Seolah otaknya menolak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.

"Lepaskan dia," suara Ravian terdengar rendah.

Namun justru karena itulah ancamannya terasa semakin mengerikan.

Elara tersenyum lebar. Senyuman puas yang membuat wajah cantiknya tampak mengerikan.

"Ah..." ia melangkah mendekati Liora. "Akhirnya gadis kecil ini datang tepat waktu."

"Lepaskan dia, Elara!" Ravian membentak. Ia melangkah maju.

Hanya saja Damian segera mengangkat sebuah remote kecil dengan lampu merah yang berkedip di bagian atasnya.

"Satu langkah lagi, Ravian," tatapan Damian menusuk. "Dan tombol ini akan mengunggah file rekaman itu ke seluruh server media nasional."

Langkah Ravian terhenti. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Liora menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Pak Ravian..." suaranya nyaris tidak terdengar.

Elara berjalan perlahan ke arah Liora.

Lantas ia membungkuk dan menatap gadis itu dari atas ke bawah dengan tatapan menghina.

“Menarik sekali,” Elara berdiri kembali.

Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah map berwarna hitam. Ia membukanya di depan Ravian.

Di dalamnya terdapat dokumen kesepakatan pertunangan dan pengalihan saham.

"Jadi sekarang pilihanmu semakin menarik, Ravian."

Elara mengangkat dokumen yang ada di tangannya. "Tanda tangani surat ini."

Ia tersenyum. "Umumkan pertunangan kita di ballroom sekarang..."

Tatapannya beralih kepada Liora. "...atau aku pastikan malam ini juga anak magang kesayanganmu ini dijadikan tersangka utama atas bocornya dokumen rahasia perusahaan ke media."

Liora menggeleng cepat. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Jangan..." Liora menatap Ravian. “Jangan turuti mereka, Pak Ravian,” suaranya bergetar. "Jangan hancurkan hidup Bapak demi saya."

Ravian tidak menjawab. Ia hanya menatap Liora.

Tatapan mereka bertemu di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa begitu sunyi.

Di luar sana, musik klasik masih mengalun. Para tamu masih tertawa. Gelas-gelas kristal masih berdenting.

Ratusan kamera masih menunggu di bawah cahaya lampu kristal ballroom.

Tidak seorang pun tahu bahwa beberapa meter dari tempat mereka berpesta, sebuah keputusan sedang menentukan nasib salah satu perusahaan terbesar di negeri itu.

Ravian melihat dokumen di tangan Elara sebelum melihat remote merah di tangan Damian.

Lalu kembali menatap Liora.

Gadis itu menggeleng lagi, air matanya akhirnya jatuh. "Jangan, Pak..."

Belum pernah sekalipun dalam hidupnya, Ravian merasa semua jalan telah ditutup.

Sebagai seorang CEO, ia terbiasa mengambil keputusan dalam hitungan detik.

Ia terbiasa menghadapi krisis.

Terbiasa mengendalikan pasar.

Terbiasa membuat lawan-lawannya bertekuk lutut.

Akan tetapi, malam ini berbeda. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar perusahaan.

Bukan sekadar saham.

Bukan pula sekadar nama baik keluarganya.

Di hadapannya berdiri seorang gadis yang telah diam-diam menjadi bagian paling berharga dalam hidupnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Ravian menyadari sesuatu yang selama ini selalu ia hindari.

Ia mungkin sanggup kehilangan perusahaan.

Ia mungkin sanggup kehilangan reputasi.

Bahkan mungkin sanggup menghancurkan seluruh warisan keluarganya.

Tetapi ia tidak sanggup kehilangan Liora.

Ravian perlahan mengangkat wajah. Tatapannya berubah. Tidak lagi seperti seorang pria yang sedang terpojok.

Ada sesuatu yang lain di sana.

Sesuatu yang membuat Elara perlahan kehilangan senyumnya.

"Elara," suara Ravian terdengar sangat tenang. Terlalu tenang.

"Apa?"

Ravian melangkah maju satu langkah.

Damian langsung mengangkat remote lebih tinggi. Meskipun begitu, Ravian tidak berhenti.

"Kalau malam ini kamu ingin membuatku memilih..." ia menatap lurus ke mata Elara. "...maka pastikan kamu siap menerima konsekuensi dari pilihanku."

Elara mengerutkan kening. "Ravian, jangan coba-coba mengancamku."

Ravian tersenyum tipis. Senyuman yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Aku tidak mengancammu."

Ia melirik dokumen pertunangan di tangan Elara. "Aku hanya sedang memberitahumu..."

Ravian berhenti.

Di luar pintu, terdengar suara pembawa acara dari ballroom. "Lima belas menit menuju pengumuman utama malam ini!"

Suara tepuk tangan dan sorak-sorai langsung terdengar dari kejauhan.

Lampu-lampu kristal memantulkan kilauan keemasan di balik celah pintu. Dan di tengah gemerlap pesta itu, sebuah perang baru saja dimulai.

Ravian mengulurkan tangannya.

Bukan untuk mengambil pena.

Bukan untuk menandatangani dokumen.

Melainkan untuk meraih sesuatu yang tersembunyi di balik jasnya.

Wajah Elara mendadak berubah.

Damian menegang.

Liora menahan napas.

Apa yang sebenarnya hendak dilakukan Ravian?

Apakah ia akan menghancurkan dirinya sendiri demi menyelamatkan Liora?

Ataukah, sang CEO akan mengambil langkah paling nekat dalam hidupnya, mengorbankan sesuatu yang jauh lebih besar daripada reputasi demi merebut kembali kendali atas permainan mereka?

Lima belas menit.

Ratusan wartawan.

Satu pengumuman pertunangan.

Dan sebuah rahasia kematian yang telah terkubur selama lima tahun.

Malam itu, di bawah gemerlap lampu kristal, nasib Ravian dan Liora akan ditentukan oleh satu keputusan gila.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!