Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Armand dengan teliti mulai menjahit seragam para karyawan.

Kelima tim juga bekerja dengan serius saat memotong dan membuat pola.

Suara adzan Dzuhur berkumandang, Armand meminta mereka untuk istirahat.

Armand bangkit dari duduknya menunggu kedatangan istrinya.

Nadya keluar dari ruangan kerjanya dan masuk kedalam lift.

Ting!

Pintu lift terbuka dan Nadya berjalan ke arah ruang produksi.

Disana ia melihat suaminya yang sudah berdiri menunggunya.

"Sudah menunggu dari tadi?" tanya Nadya sambil memeluk tubuh suaminya.

"Nggak, sayang. Mas, baru saja menunggu kamu disini." jawab Armand.

"Ayo, Mas. Kita beli mie ayam." ajak Nadya

Armand menganggukkan kepalanya sambil menggandeng tangan istrinya.

Mereka berjalan keluar menuju ke penjual mie ayam yang ada di dekat kantor.

Di sepanjang perjalanan, Armand tidak melepaskan tangan istrinya.

Sesampainya di sana, Nadya memesan dua mie ayam ceker bakso, dan dua es jeruk.

Sambil menunggu pesanan, mereka duduk di ujung.

Armand membuka plastik krupuk yang tersedia disana.

"Dek, apa di kantor tadi semuanya lancar?" tanya Armand.

"Alhamdulillah, iya Mas. Semuanya lancar. Aku tadi sempat melakukan meeting sebentar membahas pekerjaan baru."

Armand mendengar perkataan dari istrinya dengan serius.

"Alhamdulillah, baguslah kalau semuanya lancar," ucap Armand sambil tersenyum lega.

Ia mengambil satu kerupuk dari dalam plastik, lalu mematahkannya menjadi dua dan menyodorkannya pada Nadya.

"Nih, coba rasakan kerupuknya. Kayaknya renyah banget."

Nadya menerima potongan kerupuk itu dengan senang hati dan menggigitnya kecil.

"Hmm, benar, Mas. Renyah dan gurih," pujinya sambil tersenyum manis.

Tak lama kemudian, aroma harum kaldu ayam yang menggugah selera mengepul di udara.

Penjual mie ayam berjalan menghampiri meja mereka dengan membawa dua mangkuk besar mie ayam lengkap dengan ceker empuk dan bakso kenyal di atasnya, disusul dua gelas es jeruk segar yang berembun dingin.

"Silakan, Mas, Mbak," ucap sang penjual ramah sebelum kembali ke gerobaknya.

"Wah, kelihatannya enak sekali," ucap Armand antusias.

Sebelum menyantap makanannya, ia terlebih dahulu meracik sedikit sambal dan kecap manis ke dalam mangkuk Nadya, memastikan rasa mie ayam itu pas sesuai selera istrinya.

Nadya memperhatikan perhatian kecil yang selalu diberikan suaminya itu dengan tatapan penuh cinta.

Hatinya menghangat, merasa sangat beruntung memiliki pendamping hidup yang begitu telaten dan menyayanginya dengan tulus.

Mereka pun menikmati makan siang sederhana itu dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan, sejenak melupakan penatnya rutinitas kantor dan bayang-bayang gangguan dari masa lalu.

Selesai makan dan membayar pesanan, Armand kembali menggandeng tangan Nadya erat-erat saat mereka berjalan kaki santai kembali menuju gedung perkantoran di bawah terik matahari siang yang hangat.

Namun, di tengah perjalanan singkat itu, langkah Armand mendadak melambat.

Sudut matanya menangkap siluet seseorang yang berdiri cukup jauh di seberang jalan, mengawasi mereka dengan sorot mata penuh kebencian dari balik kaca sebuah mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan.

"Dek, kamu masuk ke kantor dulu. Mas, masih ada urusan." ucap Armand yang akan menghampiri Sarah.

Nadya menggenggam erat tangan suaminya yang akan menghampiri Sarah.

"Mas, nggak usah menghampiri Sarah. Dia, memancing kamu, Mas. Sarah, orang yang sangat licik.'" ucap Nadya.

Armand menoleh ke arah istrinya. Tatapan mata Nadya menyiratkan kecemasan yang mendalam.

Jari-jemari wanita itu menggenggam pergelangan tangan Armand dengan erat, seolah tak ingin melepaskan suaminya sedetik pun ke dalam perangkap yang mungkin sedang ditebar oleh mantan istrinya.

Armand menarik napas dalam-dalam, lalu menatap lembut ke dalam mata Nadya.

Ia mengangkat tangan satunya untuk menangkup punggung tangan istrinya, mengusapnya pelan guna menyalurkan ketenangan.

"Dek, jangan khawatir," ucap Armand dengan suara yang tenang namun tegas.

"Mas bukan lagi pria yang dulu, yang bisa diinjak-injak atau terpancing emosinya begitu saja. Tapi Mas harus menyelesaikan ini sekarang. Kalau dibiarkan terus membayangi kita, perempuan itu tidak akan pernah jera dan akan terus mencari celah untuk mengganggu hidup kita."

Nadya menggigit bibirnya ragu. Ia tahu betul karakter Sarah yang penuh tipu muslihat dan tidak punya rasa malu.

Namun, melihat sorot mata Armand yang begitu mantap dan penuh perlindungan, perlahan-lahan cengkeraman tangan Nadya di lengan suaminya melonggar.

"Tapi, Mas harus tetap hati-hati," bisik Nadya dengan nada khawatir yang masih kentara.

"Jangan terpancing emosi."

"Iya, Dek. Janji," balas Armand sambil tersenyum meyakinkan.

Ia lantas mengecup punggung tangan istrinya sekilas sebelum melangkah pelan meninggalkan trotoar tempat mereka berdiri.

Nadya terpaksa menuruti perkataan suaminya; ia melangkah mundur beberapa langkah mendekati gerbang lobi kantor, namun matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik Armand dari kejauhan dengan jantung yang berdegup kencang.

Di seberang jalan, mobil hitam ber-AC itu masih terparkir rapi.

Kaca jendela bagian pengemudi perlahan turun, menampakkan wajah Sarah yang mengenakan kacamata hitam.

Bibir wanita itu menyunggingkan sebuah senyuman sinis penuh kemenangan saat melihat Armand berjalan menyeberang mendekatinya.

Armand berhenti tepat di samping pintu pengemudi mobil tersebut.

Tanpa ragu, ia membungkuk sedikit untuk menyamakan pandangan dengan wanita yang pernah menjadi bagian kelam dalam hidupnya itu.

Wajah Armand dingin, tanpa ekspresi, kontras dengan seringai tipis yang terpatri di wajah Sarah.

"Keluar dari mobil, Sarah. Atau, aku pastikan urusan kita kali ini melibatkan pihak berwajib atas tuduhan menguntit."

Sarah dengan penuh percaya diri membuka pintu dan turun dari mobilnya.

"Mau apa lagi, kamu? Belum cukup tamparan yang aku berikan?"

Sarah tersenyum sinis saat mendengar perkataan dari mantan suaminya.

"Mas, apa kamu tidak merindukan aku? Aku tahu kalau sebenarnya kamu masih mencintai aku."

"Mencintai kamu? Sepertinya kamu mengalami gangguan jiwa," ucap Armand.

Sarah mendekat ke arah Armand dan mencoba untuk menggodanya.

"Lebih baik kita rujuk, Mas. Dan, kita bisa bekerja sama mengambil harta Nadya." ucap Sarah yang serakah.

Armand langsung menoleh ke arah mantan istrinya.

Sorot mata Armand berubah begitu dingin hingga sanggup membekukan udara di antara mereka.

Senyum sinis di wajah Sarah tak sedikit pun mengoyak pertahanan jiwanya yang kini telah kokoh.

Tanpa ragu, Armand mundur satu langkah menjauh, menepis tangan Sarah yang mencoba menyentuh lengan kemejanya dengan gerakan yang sangat berjarak dan penuh rasa jijik.

"Otakmu benar-benar sudah rusak oleh ketamakan, Sarah," ucap Armand.

"Kamu pikir aku sudi menyentuhmu lagi? Bahkan mendengar namamu saja membuatku mual. Jangan pernah samakan aku dengan pria lemah yang dulu bisa kamu bodohi dan kamu peras!"

Sarah langsung terkejut ketika mendengar perkataan dari Armand.

Seketika senyum percaya dirinya goyah sesaat sebelum digantikan oleh kernyihan kesal.

"Mas! Buka matamu! Nadya itu cuma memanfaatkan keahlianmu! Tanpa dia, kamu itu bukan siapa-siapa! Kita bisa miliki semuanya kalau kamu mau kembali padaku!"

"Nadya memberikan aku kehormatan, cinta, dan kepercayaan—hal yang sama sekali tidak pernah ada dalam kamus hidupmu," potong Armand tegas, memangkas habis kalimat racun mantan istrinya.

Armand lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.

Layar ponsel itu menyala, menampilkan rekaman suara yang sedang berjalan sejak pertama kali ia melangkah mendekati mobil Sarah.

Mata Sarah membelalak sempurna begitu menyadari benda di tangan Armand. Wajahnya seketika pucat pasasi.

"Semua tawaran licikmu untuk merebut harta Nadya sudah terekam sempurna di sini," ujar Armand sambil menyunggingkan senyum tipis yang sarat kemenangan.

"Satu langkah saja kamu mencoba mengusik hidupku atau menyentuh Nadya, rekaman ini akan langsung berpindah ke tangan kepolisian dan tim hukum perusahaan Nadya. Kamu tahu betul berapa tahun ancaman penjara untuk kasus pemerasan dan perencanaan tindak kejahatan?"

"Kamu, berani menjebakku?!" teriak Sarah dengan suara melengking, kehilangan seluruh topeng keangkuhannya.

"Ini bukan jebakan, Sarah. Ini peringatan terakhir," pungkas Armand dingin.

Ia berbalik tanpa sudi menatap Sarah lagi, melangkah mantap menyeberangi jalan menuju gedung kantor.

Di seberang jalan, Nadya yang menyaksikan dari jauh bernapas lega melihat suaminya kembali dengan selamat.

Begitu Armand sampai di trotoar, Nadya langsung menyambutnya dan menggenggam erat tangan suaminya.

Armand tersenyum hangat, mengusap lembut kepala istrinya, meninggalkan Sarah yang berdiri mematung di samping mobilnya dengan tubuh gemetar menahan malu, amarah, dan ketakutan yang luar biasa.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!