Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Belum sempat Luna sepenuhnya pulih dari keterkejutannya, tangan Moreno kembali bergerak liar. Dengan gerakan mulus tanpa keraguan, telapak tangan hangat itu merayap kembali ke area dada Luna, lalu meremasnya dengan mantap—cukup kuat untuk membuat napas Luna seketika tercekat.

​"Gimana, Hm?" bisik Moreno tepat di depan telinga Luna, suaranya terdengar begitu rendah, menghanyutkan, sekaligus mengintimidasi.

"Apa sekarang lo udah benar-benar paham di mana posisi lo yang sebenarnya di hadapan gue?"

​Mendapat perlakuan intim yang terlampau berani itu di tempat umum—meski terlindung kaca gelap—membuat tubuh Luna meremang seketika. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa gugup dan malu yang membakar wajahnya.

​"Sshh... i-iya..." panggil Luna tertahan, mendesis pelan saat remasan itu terasa semakin menuntut.

Dengan suara bergetar dan gugup, ia terpaksa menyerah. "G-gue ngerti... gue paham, Moreno. Tolong... lepasin dulu tangan lo."

​Mendengar jawaban patuh itu, sudut bibir Moreno terangkat membentuk senyuman puas yang terlihat menawan.

Ia menarik kembali tangannya, lalu dengan santai membelai puncak kepala Luna penuh kelembutan—kontras sekali dengan sikap dominannya tadi.

​"Good girl... gadis pintar," puji Moreno dengan nada yang terdengar meledek namun tulus.

​Moreno akhirnya melepaskan cengkeramannya, memberi ruang bagi Luna untuk bernapas lega. Pria itu merapikan kemejanya sejenak sebelum menoleh ke arah pintu mobil.

​"Udah, jangan melotot terus kayak gitu," ucap Moreno santai.

"Sekarang turun. Kita sarapan di dalam, perut lo dari tadi udah protes minta diisi."

​Krucuk...

​Seolah merespons ucapan Moreno, perut Luna tiba-tiba mengeluarkan bunyi keroncongan yang cukup nyaring.

​Seketika, mata Luna membelalak lebar. Wajahnya yang tadinya merah karena malu, kini makin merona hingga menyerupai kepiting rebus. Ia menunduk, berharap lantai mobil bisa terbuka dan menelan tubuhnya detik itu juga.

​Moreno yang mendengar suara tersebut langsung menoleh. Alih-alih mengejek dengan kata-kata, pria itu justru tertawa geli.

Suara tawa bariton yang renyah dan jarang sekali didengar orang lain itu lolos begitu saja dari bibirnya.

​"Tuh kan, bahkan perut lo aja lebih jujur daripada mulut lo yang gengsian," goda Moreno sambil terkekeh pelan, mencolek dagu Luna pelan sebelum membuka pintu mobilnya dari dalam.

​"Ih, bule sialan! Nyebelin banget!" rutuk Luna pelan nyaris tidak terdengar.

​Dengan perasaan campur aduk—antara kesal, lapar, dan salah tingkah—Luna akhirnya menyusul langkah Moreno keluar dari mobil.

Setelah menghabiskan sarapan di kafe, Moreno dan Luna kembali melanjutkan perjalanan menuju kampus. Tak butuh waktu lama bagi mobil mewah itu untuk tiba di area kampus.

Namun, begitu tiba di depan gerbang utama, Luna langsung melirik jam tangannya dan mendesah berat.

​"Udah telat tiga puluh menit..." gumam Luna cemas. Pantas saja gerbang besar itu sudah tertutup rapat.

​Biasanya, mahasiswa yang terlambat akan langsung berhadapan dengan Pak Alex—satpam senior yang terkenal galak dan hobi menjemur pelanggar aturan di tengah lapangan.

​Namun, aturan ketat itu rupanya tidak berlaku bagi Moreno. Begitu mobil sport hitam itu berhenti di depan gerbang, Pak Alex yang melihat sosok di balik kemudi langsung bergegas membukakan pintu gerbang dengan senyum lebar dan gestur hormat yang dipenuhi keterpaksaan.

​Melihat pemandangan itu, Luna di kursi penumpang hanya bisa mencibir pelan.

​"Hih, mentang-mentang cucu pemilik yayasan... bisa masuk keluar seenak jidatnya sendiri!" batin Luna geram.

Ia jadi teringat beberapa hari lalu saat dirinya sendiri nyaris pingsan karena dijemur berjam-jam di depan gerbang hanya karena terlambat lima menit oleh Pak Alex yang sama.

​Tak lama kemudian, mobil melaju mulus masuk ke area parkir khusus dan terparkir rapi di tempat biasa. Sebelum Moreno mematikan mesinnya, Luna buru-buru menoleh, mencengkeram lengan kemeja pria itu dengan panik.

​"Eh, tunggu, Reno!" cegah Luna cepat. "Sebelum kita turun... gue minta satu hal."

​Moreno menaikkan sebelah alisnya, menatap tangan Luna di lengannya lalu beralih ke wajah gadis itu.

"Apa lagi?"

​"Hubungan kita... tolong rahasiakan di kampus," mohon Luna dengan wajah memelas.

"Jangan sampai ada yang tahu kalau kita tinggal bersama, apalagi sampai tahu status gue sekarang."

​Moreno mendengus pelan, raut wajahnya mendadak berubah dingin. "Kenapa? Lo malu keliatan bersama gue?"

​"Bukannya malu!" kilah Luna cepat, bergidik ngeri membayangkan risikonya.

"Lo kan tahu sendiri fans berat lo di kampus ini jumlahnya kayak serbuan semut! Kalau mereka tahu gue dekat sama lo, yang ada hidup gue gak bakal tenang, bisa-bisa dibully jadi serpihan debu sama fanbase lo!"

​Moreno terdiam sejenak, menatap keseriusan di mata Luna sebelum akhirnya menghela napas pasrah.

"Fine. Terserah lo."

​Mendengar persetujuan itu, Luna mengembuskan napas lega. "Makasih..." ucapnya tulus.

​Namun, sebelum Luna sempat membuka pintu mobil, Moreno mengulurkan tangannya.

"Mana ponsel lo?"

​Luna mengerjap bingung, tapi tetap mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Moreno.

Dengan cepat, jemari lentik Moreno mengetik sesuatu, memasukkan nomor kontaknya sendiri ke ponsel Luna, lalu mengembalikannya.

​Moreno mendekatkan wajahnya sedikit, menatap Luna dengan sorot mata penuh ancaman halus.

"Ingat... kapan pun gue manggil, di mana pun itu, termasuk di lingkungan kampus ini, lo harus datang dan melayani gue. Jangan coba-coba mangkir."

​Luna hanya bisa menelan ludahnya, memasang wajah pasrah tanpa daya.

"Iya... bawel."

​Setelah merasa situasi di sekitar area parkir cukup sepi dan aman dari pandangan mahasiswa lain, Luna langsung membuka pintu mobil dan bergegas turun. Tanpa menoleh lagi ke belakang, ia berjalan setengah berlari menuju gedung fakultasnya.

Berharap hari ini bisa berjalan lancar tanpa ada drama tambahan dari sang "tuan muda" di kampus.

​Bel tanda istirahat akhirnya berbunyi, memecah kesunyian koridor. Dita, sahabat Luna, dengan penuh semangat langsung menyambar lengan Luna dan menyeretnya menuju kantin utama untuk mengisi perut yang sudah demonstrasi sejak tadi.

​Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan menyusuri koridor...

​SSTT!

​Sebuah cengkeraman tiba-tiba mendarat di pergelangan tangan Luna. Tubuh Luna terhempas dan nyaris terhuyung ke belakang karena tarikan yang lumayan kuat itu.

Refleks, sang penarik tangan memajukan tubuhnya dan menangkap pinggang Luna dengan cepat—membuat posisi mereka berada dalam jarak yang teramat dekat, nyaris berpelukan di tengah koridor.

​Luna membelalakkan matanya kaget. Begitu mendongak, tatapannya beradu dengan sepasang mata teduh milik Adrian.

​"Eh, Luna! Maaf, maaf banget!" seru Adrian panik. Ia buru-buru menegakkan tubuh Luna dan melepaskan cengkeramannya dengan raut wajah penuh penyesalan.

"Gue nggak sengaja, serius! Gue cuma kaget liat lo tadi."

​Dita yang berdiri di samping mereka langsung berdehem canggung. Melihat tensi aneh di antara keduanya, Dita melempar kode mata pada Luna.

​"Na, gue... gue duluan ke kantin ya! Gue cari meja dulu," bisik Dita buru-buru sebelum akhirnya ngacir meninggalkan mereka berdua.

​Luna merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, berusaha menetralkan rasa gugupnya.

"Ada apa, kak? Kenapa nyariin gue? "

​Adrian tidak langsung menjawab. Ia refleks kembali meraih tangan Luna, membawanya menepi ke sudut koridor yang lebih sepi agar tidak menghalangi jalan mahasiswa lain.

​"Gue khawatir banget sama lo, Na," ucap Adrian tulus, menatap lurus mata Luna.

"Dari semalam gue telepon sama chat lo, tapi gak ada jawaban sama sekali. Lo ke mana aja?"

​Luna menelan ludahnya, buru-buru merangkai kebohongan. "A-oh, itu... ponsel gue mati semalam, lupa di-charge."

​Luna meringis di dalam hati. Padahal tadi pagi ia sempat melihat tumpukan notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab dari Adrian, tapi ia sama sekali tak berani membukanya gara-gara Moreno duduk tepat di sampingnya.

​Adrian menghela napas lega, namun binar cemas di matanya belum sepenuhnya padam. Ia mengusap bahu Luna pelan.

​"Gue cuma mau mastiin kalau lo baik-baik aja, Na. Kalau ada masalah apa pun, tolong cerita ke gue... lo gak sendirian," bisik Adrian lembut.

Ia menatap Luna lebih dalam, menyuarakan pertanyaan yang mengganjal pikirannya sejak kemarin. "Gue masih penasaran... sebenarnya kenapa lo melarikan diri dari rumah lo?" ujar Adrian dalam hati.

​Mendengar perhatian yang begitu hangat dan tulus dari Adrian, perasaan Luna yang tadinya dipenuhi ketegangan perlahan melunak.

Senyum manis terukir di bibirnya. Hatinya terasa begitu tenang dan tersentuh—merasakan ada seseorang yang benar-benar peduli pada keselamatannya di tengah kekacauan hidupnya saat ini.

​Namun, Luna sama sekali tidak menyadari...

​Di lantai dua gedung fakultas yang berseberangan dengan koridor tersebut, seorang pria berdiri bersandar di balik pilar.

Moreno, dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya, menatap lurus ke arah koridor bawah.

​Sepasang mata abu-abu milik Moreno mengunci pemandangan di bawah sana dengan raut wajah yang menggelap seketika.

Tatapan dinginnya terfokus tepat pada jemari Adrian yang masih menggenggam lembut tangan Luna—dan senyuman manis Luna yang ditujukan pada pria lain.

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!