Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

~​Selasa sore, Markas Unit Manajemen Krisis (Kamar Bella)~

​Suasana di kamar Bella terasa sangat tegang. Di atas whiteboard yang biasanya digunakan untuk membahas jadwal piket dan target nilai rapor, kini terpampang sebuah peta satelit area Pelabuhan Lama yang dicetak dari internet. Terdapat beberapa titik silang merah yang digambar Bella menggunakan spidol.

​Dion, Rindi, Tono, dan Bono duduk bersila di atas karpet dengan wajah pucat. Undangan dari Geng Serigala itu terasa seperti surat vonis mati bagi mereka.

​"Bos," Dion angkat bicara, memecah kesunyian. "Gue udah ngecek ke anak-anak SMA luar, pelabuhan lama itu zona mati. Nggak ada CCTV kota dan juga nggak ada patroli satpam, kalau kita dibantai di sana, mayat kita baru ketemu minggu depan. Kita beneran harus datang?"

​Bella yang sedang berdiri membelakangi mereka sambil menatap peta, memutar tubuhnya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan jejak ketakutan.

​"Dion, dalam dunia bisnis, menolak undangan mediasi dari kompetitor agresif adalah tanda kelemahan (Sign of Weakness). Jika kita tidak datang, Leo akan menganggap kita sebagai pengecut dan dia akan menargetkan siswa-siswa Garuda yang lemah sebagai pelampiasan. Kita tidak bisa membiarkan aset sekolah kita disabotase," jelas Bella tenang.

​"Tapi Bos, rasio tenaga kerja kita adalah lima berbanding tiga puluh!" protes Rindi. "Itu bukan mediasi, itu namanya likuidasi massal!"

​Bella tersenyum tipis. "Rindi, peperangan modern tidak lagi dimenangkan oleh jumlah infanteri, melainkan oleh keunggulan data dan manajemen risiko. Kita tidak akan bertarung, tetapi kita akan melakukan Negosiasi Bertenggat Waktu (Time-Bound Negotiation). Dan untuk memastikan keselamatan kita, saya telah menyusun Contingency Plan (Rencana Darurat)."

​Bella menunjuk titik merah di peta. "Tono dan Bono, tugas kalian yang paling krusial. Kalian tidak akan ikut masuk ke dalam gudang bersama saya, Dion, dan Rindi."

​Tono dan Bononmenghela napas lega seketika, namun instruksi Bella selanjutnya langsung membuat mereka menegang kembali.

​"Pada hari Jumat pukul 18:00, dua jam sebelum jadwal pertemuan, kalian berdua akan menyusup ke area pelabuhan. Tono, kamu akan memanjat crane (derek) pengangkut peti kemas yang tidak terpakai di sektor utara. Bono, kamu akan bersembunyi di balik tumpukan kontainer sektor selatan. Saya butuh kalian memasang dua buah kamera ponsel resolusi tinggi dengan lensa zoom, terhubung langsung (live streaming) ke server rahasia yang telah saya sewa."

​"L-live streaming, Bos?" Bono tergagap.

​"Tepat. Jika terjadi kontak fisik setitik pun terhadap kami, rekaman itu tidak hanya akan tersimpan di awan (cloud), tetapi tautannya akan otomatis terkirim ke hotline WhatsApp Kepolisian Resor Pelabuhan. Ini disebut Dead Man’s Switch (Tombol Orang Mati) dalam manajemen keamanan."

​Dion membelalakkan matanya. "Bos... lo mau ngerekam tawuran buat dikasih ke polisi? Tapi kan kita preman juga!"

​"Koreksi, Dion. Kita adalah siswa teladan SMA Garuda yang sedang diculik dan diintimidasi," Bella merapikan kerah seragamnya. "Kita tidak akan membawa senjata apa pun. Tidak ada rantai, tidak ada besi, tidak ada pemukul bisbol. Kita akan datang dengan tangan kosong dan berseragam rapi. Dengan begitu, secara hukum (De Jure) kita adalah murni korban tindak pidana penganiayaan terencana."

​Keempat mantan preman itu menelan ludah serempak, bos mereka tidak sedang merencanakan perkelahian. Ia sedang menyusun sebuah jebakan hukum (Legal Trap) yang sangat presisi untuk memenjarakan seluruh Geng Serigala jika mereka berani macam-macam.

​"Lalu tugas gue apa, Bos?" tanya Rindi sambil memeluk buku kasnya.

​"Kamu bertugas membawa koper asuransi kita," jawab Bella, mengambil sebuah koper hardcase hitam elegan dari bawah tempat tidurnya. "Di dalam sini ada dokumen hasil Due Diligence (Uji Tuntas) yang aku kumpulkan mengenai rekam jejak kriminal beberapa anggota inti Geng Serigala. Jika Leo adalah pemimpin yang rasional, koper ini akan cukup untuk memaksanya menandatangani MoU (Nota Kesepahaman) gencatan senjata."

​Bella menatap pasukannya satu per satu, menyuntikkan keberanian manajerial ke dalam nadi mereka.

​"Ingat SOP eksekusi hari Jumat nanti. Jangan panik, jangan terpancing provokasi, dan jangan bertindak sebelum saya berikan instruksi verbal. Kita akan masuk ke sarang serigala, dan kita akan keluar sebagai pemegang saham mayoritas atas wilayah ini. Rapat bubar."

~Beberapa hari berlalu~

Jumat malam, pukul 20:00 WIB. Di Pelabuhan Lama​, angin laut bertiup kencang membawa aroma garam, karat besi, dan ikan busuk. Gudang nomor 4 yang terbengkalai diterangi oleh lampu-lampu sorot kuning yang disambungkan secara ilegal ke tiang listrik terdekat. ​Di dalam gudang yang luas dan berdebu itu, Geng Serigala telah bersiap. Sekitar tiga puluh remaja tanggung dengan jaket denim, rantai anjing, tongkat besi, dan tongkat bisbol berdiri membentuk setengah lingkaran. Di tengah mereka, duduk di atas sebuah sofa usang yang entah dari mana asalnya, Leo sang pimpinan geng. Toni berdiri di sebelahnya sambil memainkan pisau lipat dengan seringai lapar.

​"Jam delapan pas. Mereka nggak datang Bos," Toni meludah ke tanah. "Udah gue tebak, si Bella itu cuma cewek berisik yang sembunyi di balik rok guru. Pengecut!"

​Leo melirik jam tangannya, matanya tetap tenang. "Tunggu. Orang yang mengirimkan somasi seformal itu tidak akan lari dari tenggat waktu."

​Tepat saat kalimat Leo berakhir, terdengar suara langkah kaki yang teratur dari arah pintu utama gudang yang terbuka lebar. Bukan deru knalpot bising yang biasanya menjadi tanda kedatangan geng musuh, melainkan suara langkah kaki yang...em...terlalu tenang.

​Semua anggota Geng Serigala sontak menoleh. ​Dari balik kegelapan malam, muncullah tiga sosok yang membuat seluruh preman di gudang itu mengernyitkan dahi kebingungan. ​Di depan, berjalan Bella Anastasia. Ia tidak memakai jaket kulit atau celana robek. Ia mengenakan setelan blazer kasual berwarna biru tua (navy) yang dijahit rapi, celana bahan panjang, dan sepatu pantofel wanita. Rambut hitam bobnya tertiup angin laut namun tetap terlihat elegan. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah stop map merah. Di belakangnya, tepat setengah langkah di sisi kiri dan kanan, berjalan Dion dan Rindi. Mereka berdua memakai kemeja hitam polos yang dimasukkan rapi ke dalam celana jeans gelap, tanpa senjata apa pun. Rindi sendiri membawa sebuah koper hitam di tangan kanannya. Penampilan mereka tidak terlihat seperti geng yang mau tawuran, mereka bertiga lebih terlihat seperti tim auditor bank yang akan mengeksekusi penyitaan aset.

​"Wah, wah, wah..." Toni tertawa keras, tawanya menggema di seluruh gudang. "Lihat siapa yang datang! Sales asuransi nyasar! Cuma bertiga, Bel? Berani banget lo!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!