Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Badai Bernama Caremel

​Gemerlap lampu kristal ballroom terasa begitu megah saat gaun merah menyala milik Caremel menyapu lantai dansa.

​Wanita itu menjadi pusat perhatian seketika. Setiap pergerakannya memancarkan keangkuhan absolut seorang sosialita kelas atas. Deretan perhiasan berlian yang melingkar di leher dan pergelangan tangannya berkilau menyilaukan, menegaskan status kekayaan keluarganya yang tak tersentuh.

​Aku melangkah masuk ke dalam ballroom dengan tangan bertaut ringan di lengan Sakti.

​Kehadiran kami berdua langsung membelah keramaian. Para tamu VIP yang terdiri dari miliarder, menteri, dan eksekutif puncak menyingkir, memberikan jalan bagi sang CEO Vanguard Corp.

​Tatapanku menyapu seluruh penjuru ruangan.

​[Mengaktifkan Mode Pemindaian Massa.]

[Mengidentifikasi 142 Subjek VIP. Menyelaraskan Data Latar Belakang Finansial.]

[Peringatan: Terdeteksi Fokus Permusuhan dari Kuadran Kanan.]

​Aku tidak perlu melihat panah merah yang berkedip di retinaku untuk menyadari dari mana ancaman itu berasal.

​Dari arah meja bundar paling strategis, Caremel menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi kebencian murni. Tangan wanita itu mencengkeram gelas sampanye dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Jangan lepaskan peganganmu," bisik Sakti pelan di sebelahku, merasakan sedikit ketegangan pada otot lenganku.

​"Saya tidak merasa terintimidasi, Pak Sakti," balasku lugas, tetap mempertahankan postur tegak dan ekspresi netral.

​Sakti tidak membalas. Ia menuntunku menuju area tengah ballroom, tempat para dewan komisaris dan rekanan bisnis terpenting berkumpul.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Acara pembukaan berlangsung dengan pidato singkat mengenai lelang amal karya seni. Sebuah lukisan raksasa yang diklaim sebagai artefak bersejarah dari abad ke-18 dipajang di tengah ruangan, dikelilingi tali pembatas beludru.

​Para tamu mulai mengerumuni lukisan tersebut, memamerkan wawasan seni mereka untuk meningkatkan status sosial.

​Sakti membawaku mendekati kerumunan itu. Namun, langkah kami langsung dicegat oleh figur bergaun merah menyala.

​Caremel melangkah maju, memotong jalur kami dengan senyum miring yang sangat tajam. Beberapa pengusaha senior di sekitarnya menoleh, mencium adanya ketegangan yang siap meledak.

​"Sakti," sapa Caremel dengan nada suara melengking yang dibuat-buat. "Aku terkejut melihatmu membawa... karyawan staf ke acara sepenting ini."

​Mata Caremel menyapu penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Meskipun gaun biru tuaku tampak sempurna, Caremel tahu persis latar belakang kemiskinanku.

​"Dan siapa namamu tadi?" tanyanya padaku dengan nada merendahkan, berpura-pura lupa. "Tara? Tira? Ah, wanita dari distrik pinggiran yang ibunya dirawat menggunakan uang perusahaan."

​Sakti mengeras. Rahangnya mengatup rapat. Pria itu baru saja hendak membuka mulut untuk menghancurkan Caremel secara verbal, namun aku menekan lengannya sedikit lebih kuat, memberikan isyarat agar ia menahan diri.

​Aku tidak membutuhkan perlindungan untuk menghadapi perundungan dangkal seperti ini.

​"Tera," jawabku dengan suara sangat tenang dan stabil. "Asisten Khusus CEO Vanguard Corp. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Nona Caremel."

​Caremel mendengus pelan. Ia melipat tangannya di depan dada, menatap lukisan abad ke-18 di sebelah kami.

​"Asisten Khusus," cibir Caremel dengan volume yang cukup keras agar para tamu di sekitar kami mendengarnya. "Jabatan yang sangat bagus untuk menutupi kurangnya kelas sosial. Orang-orang sepertimu mungkin pandai mengetik, tapi kalian tidak akan pernah mengerti nilai dari sebuah mahakarya."

​Caremel menunjuk lukisan di hadapan kami dengan gerakan anggun yang terpelajar.

​"Ini adalah lukisan asli era renaisans akhir dari pelukis legendaris Eropa," jelas Caremel, menatap para pengusaha senior di sekelilingnya untuk mencari validasi. "Teknik sapuan kuasnya menggunakan metode sfumato yang sempurna. Hanya mata yang terlatih dari keluarga bangsawan yang bisa memahami kedalaman emosi di balik warna-warna pudar ini."

​Para pengusaha senior mengangguk setuju, menggumamkan pujian atas wawasan Caremel.

​Wanita bergaun merah itu kembali menatapku dengan senyum kemenangan. "Bagaimana menurutmu, Nona Asisten? Apakah matamu yang terbiasa melihat tagihan hutang bisa melihat nilai seni di sana?"

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Keheningan seketika menyelimuti area tersebut. Semua mata tertuju padaku, menunggu aku mempermalukan diriku sendiri karena ketidaktahuan.

​Sakti menatapku dari samping. Matanya memancarkan keyakinan absolut bahwa aku mampu menguasai situasi ini.

​Aku menoleh ke arah lukisan raksasa itu.

​[Mengaktifkan Pemindaian Objek Resolusi Tinggi.]

[Menganalisis Pigmen Warna, Teknik Sapuan, dan Pola Kanvas.]

[Mencocokkan dengan Pangkalan Data Sejarah Seni Global.]

[Peringatan: Terdeteksi Anomali Sejarah. Menyiapkan Skrip Sanggahan Akurat.]

​Teks hijau menyala berjejer cepat di dalam pandanganku. Fakta-fakta sejarah membanjiri saraf otakku dalam hitungan detik.

​Aku mengukir senyum tipis di wajahku, menatap langsung ke mata Caremel.

​"Penjelasan Anda sangat puitis, Nona Caremel," suaraku memecah keheningan dengan intonasi yang sangat elegan. "Namun sayangnya, itu adalah penjelasan yang sangat keliru."

​Dahi Caremel berkerut tajam. "Apa maksudmu?"

​Aku melepaskan tanganku dari lengan Sakti dan melangkah maju satu langkah mendekati tali pembatas beludru.

​"Anda menyebutkan bahwa ini adalah lukisan era renaisans akhir dengan teknik sfumato," aku memulai analisisku, suaraku menggema jernih. "Namun, jika Anda benar-benar memiliki mata yang terlatih, Anda akan menyadari anomali pada pigmen birunya."

​Aku menunjuk ke arah sudut kanan atas lukisan.

​"Warna biru yang digunakan pada area langit itu mengandung senyawa Phthalocyanine Blue," tegasku tanpa ragu. Sistem menyuplai rumus kimia itu tepat di retinaku. "Senyawa sintetis itu baru ditemukan pada tahun sembilan belas tiga puluh lima."

​Beberapa pengusaha senior tersentak. Bisik-bisik keterkejutan mulai terdengar.

​Caremel memucat. Matanya melebar panik. "Itu tidak mungkin! Kurator lelang ini mengatakan—"

​"Kurator Anda kemungkinan besar berbohong untuk menaikkan harga lelang," potongku cepat dan mematikan.

​Aku memutar tubuhku, menatap para miliarder yang kini memperhatikanku dengan takjub.

​"Lukisan ini bukan mahakarya abad kedelapan belas. Ini adalah karya reproduksi dari awal abad kedua puluh. Tekniknya sangat bagus, namun menilainya sebagai seni renaisans murni adalah sebuah kebutaan sejarah."

​Aku kembali menatap Caremel yang kini gemetar menahan amarah dan rasa malu.

​"Anda benar, Nona Caremel," ucapku dengan nada merendahkan yang kubalikkan sepenuhnya ke arahnya. "Saya memang terbiasa menganalisis data dan fakta, bukan mengarang cerita puitis untuk menutupi ketidaktahuan."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Keheningan mutlak kembali terjadi.

​Tak ada satu pun orang yang berani membantah fakta spesifik yang baru saja kulontarkan dengan penuh keyakinan.

​Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan setelan jas putih—seorang kolektor seni ternama di kalangan elit—bertepuk tangan pelan.

​"Analisis yang sangat brilian," puji pria itu dengan wajah penuh kekaguman. "Wanita muda ini benar. Saya sudah mencurigai pigmen warnanya sejak awal, namun tidak ada yang berani mengungkapkannya secara terbuka."

​Tepuk tangan itu segera menjalar.

​Para pengusaha senior justru memberikan tepuk tangan kekaguman atas ulasanku, meninggalkan Caremel dengan wajah memerah menahan malu.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!