Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.
Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
DI DEPAN ARGA
Pagi itu, Arga harus pergi lebih awal.
“Aku mungkin pulang agak malam,” katanya sambil merapikan jas.
Nadira mengangguk.
“Tidak apa-apa. Hati-hati.” ucap Nadira.
Arga mencium kening istrinya.
“Jangan terlalu capek.” kata Arga mengingatkan Nadira.
Nadira tersenyum.
“Iya.” jawab Nadira singkat.
Arga pun kemudian pergi,menuju kantor untuk bekerja.
Begitu suara mobilnya menghilang dari halaman, suasana rumah berubah.
Bu Ratih keluar dari ruang tengah.
“Nadira.” panggil bu Ratih.
“Iya, Bu?” jawab Nadira singkat.
“Belum masak?”
Nadira terdiam.
“Aku pikir nanti saja,bu.”
“Nanti?” tanya bu Ratih lagi.
Bu Ratih menunjuk dapur.
“Siapkan sarapan untuk kami.” perintah ibu Ratih.
Nadira menghela napas.
“Bukankah ada asisten rumah tangga?”
“Dia sedang tidak masuk.”
Nadira tidak membantah.
Ia masuk ke dapur.
Belum selesai memasak, Rani datang.
“Kak.” panggil Rani.
Nadira menoleh.
“Apa?” tanya Nadira.
“Kamarku belum dibersihkan.?”
Nadira mengernyit.
“Kenapa aku yang membersihkan?” tanya balik Nadira heran.
Rani tersenyum.
“Karena Ibu bilang kak Nadira yang mengerjakan pekerjaan rumah hari ini.” jelas Rani.
Nadira menatap Bu Ratih.
“Aku?”
Bu Ratih menjawab santai.
“Anggap saja membantu keluarga.”
Nadira ingin menolak.
Namun ia memilih diam.
Ia membersihkan kamar Rani.
Setelah itu, Bu Ratih kembali memanggil.
“Nadira, jemuran belum diangkat.”
Nadira menarik napas.
“Iya, Bu.”
“Nanti setelah itu tolong bersihkan ruang tamu.”
“Iya.”
“Dan makan siang.”
Nadira menatapnya.
“Untuk berapa orang?”
“Untuk semuanya.”
Nadira hanya mengangguk.
Hari itu ia terus bergerak dari dapur ke ruang tamu, dari ruang tamu ke halaman, lalu kembali ke dapur.
Tidak ada yang berterima kasih.
Bahkan ketika Nadira akhirnya duduk sebentar karena lelah, Rani datang membawa segelas air.
“Ini.”
Nadira tersenyum lega.
“Terima kasih.”
Rani justru meletakkan gelas itu di meja.
“Bukan untukmu.”
Nadira menatapnya.
“Lalu?”
“Untuk aku.”
Rani mengambilnya kembali lalu pergi.
Nadira hanya bisa menggeleng.
Sore harinya, Arga menelepon.
“Kamu sudah makan?”
Nadira yang sedang mencuci piring langsung tersenyum.
“Sudah.”
“Capek?”
“Sedikit.”
Arga terdiam.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
Dari belakang, Bu Ratih memberi isyarat agar Nadira diam.
Nadira menelan ludah.
Arga kemudian berkata,
“Kalau capek, jangan memaksakan diri.”
Nadira menjawab pelan,
“Iya.”
“Jangan lupa istirahat.”
“Baik.”
Telepon berakhir.
Rani yang berdiri di dekat pintu langsung berkata,
“Pintar juga kamu.”
Nadira menoleh.
“Maksudnya?”
“Di depan Kak Arga kamu selalu terlihat seperti istri yang baik.”
Nadira mengerutkan kening.
“Aku memang istrinya.”
Rani tersenyum sinis.
“Justru itu yang membuatku kesal.”
Nadira tidak menjawab.
Malamnya, Arga akhirnya pulang.
Begitu masuk rumah, ia melihat Nadira sedang duduk di sofa.
Wajahnya terlihat lelah.
Arga langsung menghampiri.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kelihatan capek.”
Bu Ratih segera keluar dari ruang makan.
“Nadira tadi membantu Ibu seharian.”
Arga menoleh.
“Membantu?”
“Iya.”
Arga tersenyum kepada istrinya.
“Kamu baik sekali.”
Nadira hanya tersenyum.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Arga kemudian menggenggam tangannya.
“Ayo, istirahat.”
Nadira berdiri.
Saat mereka berjalan menuju kamar, Arga tidak melihat tatapan Bu Ratih dan Rani di belakang mereka.
Tatapan yang sama-sama penuh kebencian.
Karena bagi mereka, Nadira bukan lagi menantu.
Bukan lagi kakak ipar.
Mereka mulai menganggap Nadira sebagai seseorang yang harus tunduk pada mereka.
Dan selama Arga tidak tahu…
Mereka merasa bisa melakukan apa saja.